“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...
Cerita Pendek “Di Antara Kita, Ada Darah yang Jatuh” Angin malam mengusap lembut kulitku ketika aku menatapmu dari jarak beberapa langkah. Kau berdiri di pinggir danau kecil itu—tempat di mana semua cerita kita dulu dimulai. Wajahmu tampak pucat diterpa rembulan, dan entah mengapa, malam ini tatapanmu tak lagi meneduhkan. Ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya… sesuatu yang tak pernah berhasil kau akui. “Aku datang,” kataku pelan. Kau menoleh, dan suara napasmu terdengar retak. “Terima kasih… Aku pikir kamu tidak akan mau bertemu lagi.” Aku mendekat, tapi tidak terlalu dekat. Ada jarak panjang yang tak terlihat di antara kita. Jarak yang dibangun oleh seseorang yang sama-sama kita kenal—dia yang pernah merusak semuanya. “Bukan aku yang menghilang,” bisikku. “Kau yang memilih pergi bersama dia.” Kau menunduk. “Aku tahu, dan aku salah. Tapi tolong dengarkan aku dulu.” Sebelum kau sempat melanjutkan, bayangannya muncul dari kegelapan. Wajahnya—wajah yang dulu kuanggap saha...