Tampilkan postingan dengan label pui. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pui. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2026

Bayangan yang Tak Ikut Pergi

 

Bayangan yang Tak Ikut Pergi
https://www.instagram.com/p/B6-cpS9gVC3/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi: menundukkan kepala dalam doa, menyebut namamu tanpa suara, dan menahan rindu agar tak berubah menjadi dosa. Namun cinta yang kuanggap suci itu tak pernah benar-benar sendiri. Ia selalu dibayangi wajah yang tak lagi ingin kuingat—mantanku, masa lalu yang belum mau mati.

Kamu datang dalam hidupku saat aku sedang belajar menyembuhkan diri. Kau bukan cinta yang berisik. Kau hadir seperti cahaya subuh—pelan, jujur, dan tidak memaksa. Kau tidak menanyakan masa laluku secara rinci, seolah kau tahu ada luka yang belum siap dibuka.

Namun justru karena itulah ketegangan itu tumbuh. Semakin kau diam, semakin masa laluku berteriak.

Malam itu hujan turun tanpa jeda. Aku dan kamu duduk berhadapan di ruang tamu yang sempit, hanya ditemani lampu kuning dan suara air yang menghantam atap.

“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.

Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku tahu kamu mencintaiku dengan cara yang berbeda,” lanjutmu. “Seperti ada yang kamu jaga mati-matian.”

Aku tersenyum kecil. “Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan.”

Kamu menatapku lama. Lalu kau berkata pelan, hampir seperti membaca puisi:


“Aku tak ingin jadi luka yang baru,

tapi aku juga lelah menjadi jeda.

Jika hatimu masih rumah bagi yang lama,

di mana aku harus meletakkan namaku?”


Kata-katamu menikam. Karena kau benar.

Mantan kekasihku—dia—adalah cinta pertama yang gagal total. Kami berpisah bukan karena tak saling cinta, tapi karena cinta kami tumbuh liar, melampaui batas, melupakan Tuhan, melupakan diri sendiri. Ketika semua runtuh, yang tersisa hanya rasa bersalah dan bayangan.

Dan bayangan itu masih sering datang.

Kadang saat aku tertidur, aku terbangun dengan namanya masih menggantung di ujung lidah. Kadang saat aku sholat, wajahnya muncul sebagai gangguan yang tak kuundang. Aku membencinya, tapi juga takut jika suatu hari aku berhenti mengingat—karena itu berarti luka itu benar-benar membekas.

“Kamu masih memikirkannya?” tanyamu malam itu.

Aku terdiam lama. Kejujuran terasa seperti pisau bermata dua.

“Tidak dengan cara mencintai,” jawabku akhirnya. “Tapi dengan cara dihantui.”

Kamu mengangguk, seolah telah menduga. Kau berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang semakin deras.

“Aku mencintaimu dengan cara yang ingin membawa kita ke arah yang halal,” katamu. “Tapi aku tidak ingin bersaing dengan kenangan.”

Aku bangkit mendekatimu. Tanganku gemetar.

“Aku tidak ingin kembali ke masa lalu,” kataku. “Aku ingin masa depan bersamamu.”

Kamu tersenyum pahit. Lalu kau berbisik, seperti doa yang nyaris patah:


“Jika aku adalah doa,

jangan sebut nama orang lain

saat kau mengaminkannya.”


Malam itu berakhir tanpa pelukan. Tanpa janji. Hanya jarak yang semakin terasa nyata.

Hari-hari setelahnya menjadi medan perang sunyi. Kamu menjauh, bukan dengan kasar, tapi dengan sopan yang menyakitkan. Pesanmu singkat. Sapaanmu dingin. Dan aku tahu, kamu sedang menimbang sesuatu yang besar.

Sementara itu, bayangan mantanku justru semakin sering muncul—seolah tahu aku sedang goyah. Aku membencinya karena muncul saat aku lemah.

Aku berusaha melawan. Aku memperbanyak doa. Aku menulis namamu di halaman terakhir buku harianku, berharap Tuhan membacanya. Aku memohon agar cinta ini disucikan, agar masa lalu dilepaskan sepenuhnya.

Namun ketegangan mencapai puncaknya ketika mantanku benar-benar datang—bukan dalam mimpi, tapi nyata.

Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah toko buku. Ia tersenyum seolah waktu tak pernah merenggut apa pun.

“Kamu terlihat tenang,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Aku dengar kamu akan menikah,” lanjutnya.

Dadaku sesak. Aku tidak tahu dari mana ia tahu.

“Aku bahagia untukmu,” katanya, tapi matanya berkata sebaliknya. “Aku hanya ingin bilang… aku masih sering mengingatmu.”

Aku menatapnya dingin. “Tolong jangan.”

Ia tertawa kecil. “Kamu berubah.”

“Karena aku ingin selamat,” jawabku.

Malam itu aku menangis. Bukan karena rindu, tapi karena marah. Masa lalu itu seperti hantu yang tak mau diusir.

Aku menemui kamu keesokan harinya. Aku tidak ingin menunda lagi.

“Aku ingin kamu tahu segalanya,” kataku. “Aku bertemu dia.”

Wajahmu menegang.

“Tapi aku memilih datang ke sini,” lanjutku cepat. “Karena aku ingin memutus semua bayangan itu.”

Kamu terdiam lama. Lalu kau berkata lirih:

 

“Cinta suci bukan tentang tak punya masa lalu,

tapi tentang keberanian menutup pintunya.

Pertanyaannya…

apakah kau sudah menguncinya,

atau hanya menutupnya pelan-pelan?”


Air mataku jatuh. Aku berlutut di hadapanmu, bukan sebagai drama, tapi sebagai kejujuran.

“Aku ingin menguncinya,” kataku. “Tapi aku butuh waktu.”

Kamu menghela napas panjang. Ketegangan di udara seperti tali yang siap putus.

“Aku tidak takut terluka,” katamu akhirnya. “Aku hanya takut menjadi pelarian.”

Aku menggeleng keras. “Kamu bukan pelarian. Kamu tujuan.”

Hari itu tidak langsung berakhir bahagia. Kamu tidak serta-merta memelukku. Tapi kamu juga tidak pergi.

“Kita berjalan pelan,” katamu. “Jika suatu hari bayangan itu datang lagi, jangan sembunyikan dariku.”

Aku mengangguk. “Aku ingin mencintaimu tanpa bayang-bayang.”

Kamu tersenyum, kali ini lebih hangat.


“Jika suatu hari kau ragu,

pegang tanganku,

bukan kenanganmu.

Karena aku di sini,

bukan untuk menghapus masa lalu,

tapi menemanimu menatap masa depan.”

Aku tahu, cinta suci bukan berarti tanpa ujian. Justru ia diuji oleh bayangan yang ingin menyeret kita kembali. Dan mungkin, kesucian itu terletak pada pilihan—untuk tetap melangkah ke depan, meski masa lalu terus memanggil.

Dan hari itu, aku memilihmu. Bukan karena aku telah sembuh sepenuhnya, tapi karena aku ingin sembuh bersamamu.

Rabu, 18 Februari 2026

Cinta Suci dalam Diam

Cinta Suci dalam Diam
Cinta Suci dalam Diam


Aku mencintaimu tanpa suara,
seperti fajar yang datang
 tanpa mengetuk jendela malam.
Tak ada janji yang diucapkan,
tak ada sumpah yang digantungkan di udara,
hanya doa-doa yang kusembunyikan
di sela napas dan sujud paling sunyi.

Aku menyebut namamu bukan dengan bibir,
melainkan dengan sabar.
Karena cinta ini bukan tentang memiliki,
melainkan tentang menjaga jarak
agar perasaan tetap suci
dan tak ternoda oleh nafsu yang tergesa.

Kau hadir dalam hidupku
seperti cahaya yang tidak menyilaukan,
cukup hangat untuk menguatkan,
cukup jauh untuk tidak melukai.
Aku belajar mencintaimu
dengan cara menahan diri,
sebab tidak semua rindu
harus sampai di pelukan.

Di setiap malam yang panjang,
aku berbicara pada Tuhan tentangmu.
Kupinta bukan agar kau menjadi milikku,
melainkan agar kau bahagia,
meski kelak kebahagiaan itu
tidak bernama aku.
Bukankah cinta paling ikhlas
adalah yang rela kalah demi ketenangan jiwa?

Jika suatu hari kita bertemu kembali
di persimpangan takdir yang berbeda,
aku ingin kau tahu:
pernah ada seseorang
yang mencintaimu sepenuh iman,
tanpa sentuhan, tanpa rayuan,
tanpa menuntut balasan.

Dan bila takdir tetap memisahkan kita,
biarlah cinta ini menjadi amal yang diam,
mengalir pelan seperti sungai rahasia,
hingga kelak di hadapan-Nya
aku bisa berkata dengan tenang:
“Aku pernah mencintai,
dan cintaku tidak melukai siapa pun.”

Jumat, 06 Februari 2026

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”


Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam.

Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati.

“Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku.

Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.”

Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati.

Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam.

Namanya Arman.

Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuka pintu neraka dengan tanganku sendiri.

Hari-hari menjadi aneh sejak itu.

Kau mulai sering menyebut namanya dalam percakapan kita. Tentang bagaimana ia menertawakan kesedihanmu, bagaimana ia menggenggam tanganmu saat kau gemetar. Aku mendengarkan, pura-pura kuat, sementara hatiku mulai retak seperti kaca tua.

Suatu malam, di bawah lampu jalan yang berkedip, kau berkata pelan,
“Aku takut mencintai dua orang.”

Kalimat itu jatuh seperti hujan batu di dadaku.

Aku menjawab dengan puisi—karena hanya itu yang tersisa dariku.

“Jika cintamu adalah sungai,
aku rela tenggelam sendirian.
Asal bukan kau yang menenggelamkanku
dengan dua tangan.”

Kau menangis. Tapi tangismu tak memilih siapa yang akan kau peluk setelahnya.

Ketegangan tumbuh. Arman mulai menjauh dariku, tapi mendekatimu. Tatapannya kepadaku berubah: bukan lagi saudara, melainkan pesaing. Setiap pertemuan menjadi arena sunyi penuh pisau tak terlihat.

Hingga malam itu datang.

Kau mengirim pesan singkat:
Temui aku di rumah lama ayahku. Aku tak sanggup menunda pilihan.

Rumah itu kosong, lembap, dan berbau kayu lapuk. Lampu redup menggantung seperti saksi yang lelah. Kau berdiri di tengah ruang tamu, wajahmu pucat, matamu merah.

“Aku mencintaimu,” katamu padaku.
“Dan aku juga mencintainya.”

Aku menutup mata. Dalam gelap, aku membaca puisi untuk diriku sendiri:

“Cinta yang dibagi
adalah luka yang dipelihara.
Ia tumbuh, bernapas,
dan suatu hari akan meminta darah.”

Pintu terbuka. Arman masuk. Hujan mengalir di rambutnya seperti air mata yang terlambat. Ia menatapmu, lalu menatapku.

“Kau tak bisa memilikinya sendiri,” katanya padaku. “Ia bukan milik siapa pun.”

Aku tertawa—tawa patah orang yang sudah kehilangan segalanya.
“Dan kau lupa,” balasku, “bahwa pengkhianatan juga memilih.”

Kata-kata berubah menjadi teriakan. Masa lalu kami—tawa, janji, persaudaraan—runtuh satu per satu. Kau berusaha menengahi, tapi cinta yang terluka tak pernah mau mendengar.

Di atas meja tua itu, pisau berkilat redup. Entah siapa yang lebih dulu menyentuhnya. Entah kapan logika meninggalkanku. Yang kutahu hanya satu: amarah akhirnya menemukan bentuk.

Ada dorongan. Ada perlawanan. Ada jerit namaku dari bibirmu.

Dan kemudian—darah.

Bukan percikan yang kujelaskan. Bukan detail yang kupuja. Hanya warna merah yang mengotori lantai, seperti mawar yang mekar di tempat yang salah. Arman terhuyung, matanya menatapku dengan keheranan yang lebih menyakitkan daripada kebencian.

Ia jatuh.

Sunyi menyergap ruangan, lebih keras dari teriakan mana pun.

Kau berlutut, tangismu pecah. Tanganmu gemetar menyentuh tubuh yang tak lagi bernapas. Kau menoleh padaku, dan di matamu aku melihat sesuatu mati untuk selamanya.

“Kau membunuhnya,” bisikmu.
“Dan kau membunuh cintaku.”

Aku menjatuhkan pisau. Tanganku merah. Dadaku kosong.

Aku ingin berkata aku mencintaimu. Tapi cinta tak lagi punya bahasa di ruangan itu.

Kini aku menulis ini dari tempat yang tak punya jendela. Setiap malam, aku mendengar hujan dalam kepalaku. Setiap malam, puisimu kembali, menusuk seperti doa yang gagal:

“Aku adalah cinta
yang tak belajar memilih.
Maka manusia lain
yang memilih untuk berdarah.”

Aku mencintaimu.
Dan karena cinta itu, aku menjadi kisah yang tak boleh diulang.


Senin, 22 September 2025

Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini

Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini
freepik.com
 

Kau pernah datang dengan senyum sederhana,
membawa hangat yang tak mampu dilawan oleh dinginnya malam.
Aku menaruh percaya, menaruh cinta,
di sela detik yang perlahan berubah jadi harapan.

Namun kini, langkahmu menjauh.
Suaramu hanya gema yang tersisa di sudut ingatan.
Aku menatap jalan yang pernah kita lalui,
dan setiap bayanganmu masih menempel di dinding hatiku.

Kau pergi, tapi namamu tak pernah ikut bersama langkahmu.
Ia tertinggal di dadaku,
berdenyut bersama setiap helaan napas,
menjadi luka yang indah, sekaligus doa yang tak selesai.

Jika suatu hari kau kembali membaca mataku,
kau akan tahu,
aku masih menyebut namamu
meski hanya dalam diam yang bergetar.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...