Postingan

Menampilkan postingan dengan label pui

Cinta Suci dalam Diam

Gambar
Cinta Suci dalam Diam Aku mencintaimu tanpa suara, seperti fajar yang datang  tanpa mengetuk jendela malam. Tak ada janji yang diucapkan, tak ada sumpah yang digantungkan di udara, hanya doa-doa yang kusembunyikan di sela napas dan sujud paling sunyi. Aku menyebut namamu bukan dengan bibir, melainkan dengan sabar. Karena cinta ini bukan tentang memiliki, melainkan tentang menjaga jarak agar perasaan tetap suci dan tak ternoda oleh nafsu yang tergesa. Kau hadir dalam hidupku seperti cahaya yang tidak menyilaukan, cukup hangat untuk menguatkan, cukup jauh untuk tidak melukai. Aku belajar mencintaimu dengan cara menahan diri, sebab tidak semua rindu harus sampai di pelukan. Di setiap malam yang panjang, aku berbicara pada Tuhan tentangmu. Kupinta bukan agar kau menjadi milikku, melainkan agar kau bahagia, meski kelak kebahagiaan itu tidak bernama aku. Bukankah cinta paling ikhlas adalah yang rela kalah demi ketenangan jiwa? Jika suatu hari kita bertemu kembali di persimpangan takdir y...

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”

Gambar
“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...

Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini

Gambar
Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini freepik.com   Kau pernah datang dengan senyum sederhana, membawa hangat yang tak mampu dilawan oleh dinginnya malam. Aku menaruh percaya, menaruh cinta, di sela detik yang perlahan berubah jadi harapan. Namun kini, langkahmu menjauh. Suaramu hanya gema yang tersisa di sudut ingatan. Aku menatap jalan yang pernah kita lalui, dan setiap bayanganmu masih menempel di dinding hatiku. Kau pergi, tapi namamu tak pernah ikut bersama langkahmu. Ia tertinggal di dadaku, berdenyut bersama setiap helaan napas, menjadi luka yang indah, sekaligus doa yang tak selesai. Jika suatu hari kau kembali membaca mataku, kau akan tahu, aku masih menyebut namamu meski hanya dalam diam yang bergetar.