Tampilkan postingan dengan label puisikenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisikenangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2026

Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota


Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota
https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari


Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak selalu tinggal,
kadang ia hanya singgah—
seperti senja yang berhenti sebentar
lalu pulang tanpa pamit.

Di sini, di batas antara lampu
 jalan dan gelap ladang kosong,
aku pernah menyebut namamu
dengan suara paling pelan
agar angin saja yang mendengarnya.
Kota terlalu sibuk untuk tahu
bahwa dua manusia 
pernah saling menggenggam
tanpa janji, tanpa saksi,
selain waktu yang diam-diam 
menertawakan kita.

Aku ingat langkah kita
menyusuri trotoar retak
di mana rumput kecil tumbuh keras kepala.
Katamu,
“Lihat, bahkan kota yang lelah
pun masih ingin hidup.”
Aku tersenyum,
karena saat itu aku merasa
akulah kota itu,
dan kaulah rumput kecil yang
 memaksaku bertahan.

Lampu kendaraan berlarian seperti ingatan—
datang, menyilaukan, lalu hilang.
Kita berjalan bersebelahan,
tak selalu saling menatap,
tapi tahu keberadaan satu sama lain
lebih nyata daripada cahaya neon
yang berteriak minta diperhatikan.

Aku mencintaimu
dengan cara yang sederhana:
menyimpan tawamu di saku jaket,
menghafal caramu diam saat lelah,
dan menuliskan namamu
di sudut-sudut hati
yang tak pernah kuserahkan pada siapa pun.

Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak harus megah.
Ia cukup duduk di bangku halte tua,
berbagi minuman murah,
dan saling bercerita tentang masa depan
yang bahkan kita sendiri ragu mempercayainya.

Kau pernah berkata,
“Jika suatu hari kita berpisah,
ingatlah aku di tempat ini.”
Aku tertawa waktu itu,
mengira perpisahan adalah 
cerita orang lain.
Ternyata, cinta paling jujur
selalu tahu bagaimana cara berpamitan
jauh sebelum kita siap.

Malam-malam di tepi kota
tidak pernah benar-benar sunyi.
Ada deru mesin,
ada gonggongan anjing jauh,
ada suara rel kereta
yang bergetar seperti dada
saat kau menggenggam
 tanganku lebih erat
karena udara terlalu dingin.

Aku ingat bahumu—
tempat kepalaku pulang
setelah seharian menjadi kuat.
Di sana, aku boleh rapuh,
boleh diam,
boleh menjadi seseorang
yang tidak harus menjelaskan apa pun.

Kita berbicara tentang hal-hal kecil:
kopi yang terlalu pahit,
hujan yang selalu datang tiba-tiba,
dan orang-orang kota
yang berjalan cepat
seolah dikejar waktu.
Namun di balik percakapan
sederhana itu,
aku menyimpan doa:
semoga waktu lupa mengejar kita.

Tapi waktu tidak pernah lupa.
Ia hanya pura-pura ramah
sebelum mencuri segalanya.

Hari ketika kau pergi,
tepi kota menjadi asing.
Trotoar yang sama
terasa lebih panjang,
lampu jalan lebih dingin,
dan angin membawa aroma kehilangan
yang tak bisa kusebutkan namanya.

Aku kembali ke tempat kita biasa duduk.
Bangku itu masih ada,
namun tawa kita sudah pergi.
Aku duduk sendirian,
berusaha mendengar suaramu
di antara bising kendaraan,
namun yang kudapat
hanya gema pikiranku sendiri.

Di tepi kota ini,
aku belajar merindukan
tanpa alamat tujuan.
Sebab kau bukan lagi seseorang
yang bisa kutemui,
melainkan kenangan
yang datang saat aku lengah.

Aku mencintaimu
dalam bentuk yang paling sunyi:
tidak memanggil,
tidak menuntut,
hanya mengingat.
Seperti kota yang tetap berdiri
meski banyak orang datang dan pergi.

Kadang aku melihat bayanganmu
di kaca toko yang tutup,
di halte bus,
di ujung jalan tempat kita dulu berpisah
tanpa pelukan panjang,
tanpa air mata berlebihan—
seolah kita ingin terlihat kuat
di hadapan dunia
yang tak pernah peduli.

Jika cinta adalah kota,
maka kita adalah tepinya:
tidak sepenuhnya masuk,
tidak benar-benar pergi.
Selalu di batas,
selalu menggantung,
selalu menjadi kemungkinan
yang tidak pernah terwujud.

Aku menulis namamu
di udara malam,
biar angin yang membawanya.
Jika suatu saat kau lewat di kota ini,
mungkin kau akan merasa
ada sesuatu yang memanggilmu pulang
tanpa suara.

Di tepi kota ini,
aku berdamai dengan kehilangan.
Aku belajar bahwa mencintai
tidak selalu berarti memiliki.
Kadang, cinta hanya ingin dikenang
agar ia tidak mati sia-sia.

Dan jika suatu hari nanti
aku jatuh cinta lagi,
aku harap ia tahu:
ada bagian dari hatiku
yang akan selalu tinggal di sini—
di trotoar retak,
di bangku halte tua,
di tepi kota
tempat aku pernah menjadi
versi diriku yang paling jujur
saat mencintaimu.

Karena cinta,
meski pergi,
selalu meninggalkan alamat
bagi kenangan untuk pulang.

Dan aku,
masih berdiri di tepi kota,
menunggumu
dalam bentuk yang paling abadi:
sebuah ingatan
yang tidak pernah meminta
untuk dilupakan.

Minggu, 29 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang

 

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang
https://www.rumah123.com/panduan-properti/jenis-bunga-mawar/


bukan dengan suara,
melainkan dengan detak
yang kupeluk diam-diam di dada.
Karena tak semua rindu
pantas diperdengarkan,
ada yang harus tinggal
sebagai rahasia paling setia.

Setiap malam,
aku belajar menyebutmu
tanpa memanggil,
mencintaimu tanpa memiliki,
dan menunggu tanpa berharap pulang.
Diam menjadi rumah
bagi perasaan yang tak tahu
harus ke mana lagi bersembunyi.

Aku pernah percaya,
bahwa cinta tak selalu meminta jawaban.
Ia cukup hidup
dalam doa-doa yang kusebut pelan,
agar Tuhan saja yang mendengarnya.
Sebab jika aku mengucap namamu keras-keras,
takut hatiku sendiri yang runtuh.

Di sela napas yang tertahan,
aku merapalkan namamu
seperti ayat yang tak selesai.
Ada getar yang tak berani jatuh,
ada luka yang memilih bertahan
karena takut kehilangan sisa kenangan.

Aku menyebut namamu
saat senja menggigil di ujung langit,
saat hujan turun tanpa alasan,
dan saat dunia terasa terlalu ramai
untuk sebuah perasaan yang sendirian.

Jika suatu hari
kau merasa dadamu hangat tanpa sebab,
mungkin itu rinduku
yang tak sengaja menemukanmu.
Bukan untuk dimiliki,
hanya untuk memastikan
bahwa aku pernah mencintaimu
dengan sepenuh diam
dan sepanjang waktu yang kupunya.

Karena mencintaimu
tak pernah butuh pengakuan,
cukup kesetiaan
untuk terus menyebut namamu
dalam diam yang paling panjang.

Rabu, 18 Februari 2026

Cinta Suci dalam Diam

Cinta Suci dalam Diam
Cinta Suci dalam Diam


Aku mencintaimu tanpa suara,
seperti fajar yang datang
 tanpa mengetuk jendela malam.
Tak ada janji yang diucapkan,
tak ada sumpah yang digantungkan di udara,
hanya doa-doa yang kusembunyikan
di sela napas dan sujud paling sunyi.

Aku menyebut namamu bukan dengan bibir,
melainkan dengan sabar.
Karena cinta ini bukan tentang memiliki,
melainkan tentang menjaga jarak
agar perasaan tetap suci
dan tak ternoda oleh nafsu yang tergesa.

Kau hadir dalam hidupku
seperti cahaya yang tidak menyilaukan,
cukup hangat untuk menguatkan,
cukup jauh untuk tidak melukai.
Aku belajar mencintaimu
dengan cara menahan diri,
sebab tidak semua rindu
harus sampai di pelukan.

Di setiap malam yang panjang,
aku berbicara pada Tuhan tentangmu.
Kupinta bukan agar kau menjadi milikku,
melainkan agar kau bahagia,
meski kelak kebahagiaan itu
tidak bernama aku.
Bukankah cinta paling ikhlas
adalah yang rela kalah demi ketenangan jiwa?

Jika suatu hari kita bertemu kembali
di persimpangan takdir yang berbeda,
aku ingin kau tahu:
pernah ada seseorang
yang mencintaimu sepenuh iman,
tanpa sentuhan, tanpa rayuan,
tanpa menuntut balasan.

Dan bila takdir tetap memisahkan kita,
biarlah cinta ini menjadi amal yang diam,
mengalir pelan seperti sungai rahasia,
hingga kelak di hadapan-Nya
aku bisa berkata dengan tenang:
“Aku pernah mencintai,
dan cintaku tidak melukai siapa pun.”

Sabtu, 12 Juli 2025

Rinjani, Ketika Langit Jatuh di Pelukan Bumi

rinjani
Rinjani, Ketika Langit Jatuh di Pelukan Bumi_
ilustrsi foto by Triptrus.com


Catatan Kritis Tentang Keindahan yang Terluka

Gunung Rinjani bukan sekadar gunung bagi masyarakat Lombok—ia adalah napas, marwah, dan cermin kehidupan. Dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, Rinjani berdiri gagah sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia. Ia bukan hanya tujuan pendakian, tetapi juga destinasi rohani, tempat suci bagi umat Hindu, dan bentang alami yang membawa siapapun yang melihatnya pada perenungan yang dalam.

Namun, di balik keelokan panorama sabana, danau Segara Anak yang biru kehijauan, serta cahaya mentari yang menyentuh lembut punggung gunung, ada luka-luka yang tak terlihat. Luka karena keserakahan manusia, luka karena keindahan yang terlalu sering dimanfaatkan tanpa tanggung jawab.

"Kau bukan sekadar tanah tinggi, Rinjani.
Kau adalah puisi yang mengalir di dahi pagi.
Namun kini, langitmu mengabur oleh jejak-jejak tamak,
dan bisik anginmu tercekik aroma plastik dan kerak."


 

Keindahan yang Dikhianati

Setiap tahun, ribuan wisatawan datang untuk menaklukkan puncak Rinjani. Mereka mendaki dengan semangat, mengabadikan keindahan alam dengan kamera mereka, dan meninggalkan… jejak yang tak seharusnya: sampah, coretan batu, puntung rokok, hingga suara gaduh yang memekakkan sunyi hutan.

Fakta yang miris: pada 2018, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat lebih dari 7 ton sampah di jalur pendakian. Jumlah ini bertambah setiap tahun, menandakan bahwa manusia lebih cepat meninggalkan kotoran daripada meninggalkan kesadaran.

"Jika kau cinta, kau akan jaga,
bukan merusak di balik tawa.
Rinjani tak butuh pendaki sombong,
ia butuh penyair yang diam dan menyerap getar ombak daun."


 

Segara Anak: Keindahan yang Terkikis

Danau Segara Anak, yang artinya "laut anak", berada di kaldera Rinjani. Airnya tenang, pantulan langit di permukaannya menciptakan efek cermin yang memesona. Tapi ironis, beberapa titik di danau mulai tercemar oleh aktivitas liar para pendaki: dari memasak dengan peralatan sekali pakai, mencuci peralatan dengan sabun kimia, hingga mandi dengan deterjen.

Keanekaragaman hayati di sekitar danau pun mulai terancam. Ikan mujair yang semula diperkenalkan sebagai sumber protein, justru mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.

"Segara Anak, engkau bening dulu,
tempat aku bercermin dalam diam.
Kini airmu membawa sisa-sisa manusia yang lupa menghormat,
dan kau diam, karena diam adalah caramu menjerit."


 

Antara Romantisme dan Realisme

Banyak orang datang ke Rinjani untuk mencari romantisme: senja jingga di pelataran Plawangan Sembalun, malam berbintang yang nyaris tanpa polusi, atau pemandangan matahari terbit di atas awan. Semua itu nyata, namun tak abadi. Jika pengelolaan tidak diperketat, jika kesadaran tidak tumbuh bersama langkah kaki, maka semua keindahan itu hanya akan tinggal di foto dan cerita usang.

"Aku memetik matahari dari puncakmu, Rinjani,
lalu kubisikkan pada kekasih: inilah surga.
Tapi jika surga ditinggali tanpa cinta,
maka ia hanya akan jadi padang tak bertuan."


 

Kritik: Wisata atau Eksploitasi?

Banyak pihak kini mendorong Rinjani sebagai ikon wisata nasional, bahkan internasional. Tapi apakah semua itu dilakukan demi kelestarian atau semata laba? Pembangunan infrastruktur yang serampangan, promosi wisata masif tanpa edukasi konservasi, serta minimnya pengawasan petugas lapangan, semua menandakan bahwa Rinjani sedang diperah, bukan dicinta.

Haruskah keindahan selalu dijual demi pendapatan daerah? Haruskah alam tunduk pada logika ekonomi?

"Rinjani, kau tubuh yang dijual tanpa persetujuan.
Di mataku, kau adalah perempuan yang disolek paksa.
Dipamerkan, diabadikan, lalu ditinggalkan.
Tanpa peluk, tanpa janji perlindungan."


 

Harapan: Menulis Ulang Cinta untuk Rinjani

Semua belum terlambat. Cinta untuk Rinjani bisa ditulis ulang. Lewat edukasi bagi pendaki pemula, pembatasan jumlah pengunjung, pemberdayaan masyarakat lokal sebagai penjaga ekosistem, dan penegakan hukum yang tegas bagi pelanggar konservasi.

Dan lebih dari itu, dibutuhkan rasa malu—malu kepada alam yang telah memberikan pemandangan, udara, dan kesejukan, namun dibalas dengan ketamakan.

"Mari kita cintai Rinjani dalam diam yang menjaga,
dalam langkah yang tak meninggalkan luka,
dalam jejak yang tak harus terlihat manusia,
tapi terasa oleh bumi yang terjaga."


Gunung Rinjani bukan hanya tempat, ia adalah guru. Ia mengajarkan kesabaran lewat jalur terjal, keteguhan lewat angin dingin, dan keindahan lewat keheningan. Tapi jika kita tak belajar, maka Rinjani akan pergi, pelan-pelan, dihabisi oleh tangan yang katanya ‘pecinta alam’.

Dan saat itu tiba, hanya puisi yang tersisa—puisi yang tak lagi mengagungkan, tapi meratap.

"Aku mencintaimu, Rinjani,
bukan dari puncakmu, tapi dari nadimu.
Dan jika kau harus hilang,
biarkan aku yang pertama menangis untukmu."


Sabtu, 07 Juni 2025

Nona Manis Berambut Merah Muda

Nona Manis Berambut Merah Muda



Nona manis berambut merah muda,
warna rambutmu seperti fajar pertama—
menyala lembut, menghapus gelap di dada.
Kau berjalan di antara bayang-bayang keraguan,
namun keyakinanmu selalu lebih terang dari cahaya pagi.

Wajahmu elok seperti lukisan yang belum selesai,
karena setiap hari kau terus melukis dirimu sendiri,
dengan warna-warna impian,
dan garis-garis penuh keberanian.
Kecantikanmu bukan hanya soal rupa,
tapi tentang bagaimana kau menantang dunia
tanpa kehilangan senyum.

Ada kekuatan dalam cara kau tertawa,
seolah hidup tak pernah bisa menundukkanmu.
Kau bangkit setiap kali jatuh,
seperti bunga sakura yang tak pernah takut musim.
Kau percaya bahwa luka hanyalah jeda,
dan kegagalan adalah anak tangga
menuju keberhasilan yang lebih tinggi.

Berambut merah muda,
kau hadir bak musim semi dalam hidupku—
menghidupkan, menyegarkan,
dan membuatku percaya bahwa cinta tak pernah mati.

Kau punya sejuta motivasi di balik matamu,
dan aku jatuh cinta,
bukan hanya pada cantikmu yang memesona,
tapi pada jiwamu yang tak pernah lelah bermimpi.

Nona manis,
di dunia yang sering meremehkan tekad wanita,
kau berdiri seperti nyala,
menerangi jalanmu sendiri
dan menghangatkan langkahku yang pernah beku.










(puisi untuk dia yang ada di dalam do'a namun hilang di dunia nyata,
untukmu yang gelap tapi menjadi terang dalam setiap perjalanan
terima kasih telah hadir aku harap kau tak pergi seperti mimpi)


Selasa, 20 Mei 2025

Puisi Romantis:Untukmu yang Lahir pada 21 Mei

 

Ilustrasi Foto Puisi Romantis:Untukmu yang Lahir pada 21 Mei


Pada tanggal dua puluh satu bulan kelima,
Langit seolah tahu, bahwa bumi akan kedatangan cahaya.
Bukan dari bintang, bukan pula dari matahari,
Tapi dari seorang wanita—
Yang lahir dengan rahim kekuatan, 
dan hati seluas samudra yang tak pernah surut memberi.

Hari ini, aku tidak hanya mengucap “selamat ulang tahun”
Tapi aku ingin menyampaikan lebih dari sekadar ucapan,
Karena kamu bukan sekadar wanita, bukan sekadar nama,
Kamu adalah rumah, tempat aku pulang dari segala lelah dan luka.

Selamat ulang tahun, wanita tangguh yang kusebut cahaya,
Yang mampu berdiri ketika dunia pun rasanya tak berpihak.
Yang tak menangis di hadapan dunia, 
tapi diam-diam menghapus air mata
Lalu melanjutkan hidup dengan senyum yang membuatku
 ingin percaya lagi pada segalanya.

Kau hebat, sayang.
Lebih dari yang mungkin sempat kuucap dalam keseharian.
Kau kuat, bahkan ketika aku yang seharusnya jadi tempatmu bersandar
Malah kadang jadi alasan bebanmu bertambah.

Maka hari ini, di tanggal kelahiranmu,
Aku tak hanya membawa doa dan cinta,
Tapi juga maaf yang tulus dari hati 
yang selama ini mungkin terlalu sering lalai.

Maaf…
Untuk malam-malam ketika aku memilih
diam daripada mendengarkan.
Untuk detik-detik saat aku lupa bahwa kamu pun butuh dipeluk,
Bukan hanya diminta untuk kuat
 tapi juga dipahami meski tak berkata-kata.

Maaf jika aku belum bisa jadi lelaki sepenuhnya untukmu.
Tapi aku berjanji, aku belajar—dan akan terus belajar—
Agar hari-hari ke depan tak lagi kamu lalui sendiri,
Agar senyummu tak lagi menjadi kamuflase
dari lelah yang kamu telan diam-diam.

Hari ini, aku ingin kau tahu…
Tak ada satu pun versi dirimu yang tak layak dicintai.
Dengan luka, dengan tangis, dengan tawa,
Kau tetap wanita paling luar biasa
yang pernah hadir dalam hidupku.

Dan jika semesta mengizinkan,
Aku ingin menua bersamamu,
Menjadikan tanggal 21 Mei 
bukan hanya hari ulang tahunmu,
Tapi juga hari di mana aku mengulang sumpah:
Untuk mencintaimu lebih baik dari kemarin,
Dengan lebih banyak sabar, lebih banyak pelukan,
dan lebih banyak kata "terima kasih".

Selamat ulang tahun, cinta.
Hari ini, dunia merayakan kelahiran
seseorang yang tak hanya kuat,
Tapi juga layak untuk dicintai, dihargai, dan dijaga…
Seumur hidup.







.........................


puisi ini saya dedifikasikan untuk dia seseorang yang pernah menjadi yang paling spesial dalam hidupku,terima kasih dulu pernah hadir,terima kasih dimanapun kini kau berada ,kau tetap menjadi satu satunya inpirasi di setiap puisiku.

Kamis, 08 Mei 2025

Puisi Romantis:Kau Dilahirkan untuk Kucintai

Puisi Romantis:Kau Dilahirkan untuk Kucintai photo by https://www.google.com/search?q=wanita+berhijab+cantik+hitam


Pada bulan Mei,
ketika hujan menggoda daun muda dan matahari mencumbu pagi,
kau lahir—diam-diam alam bersorak,
seolah semesta tahu,
ada jiwa lembut yang akan tumbuh jadi puisi.

Aku tak tahu persis bagaimana dunia sebelum kau hadir,
tapi sejak mengenalmu,
waktu serasa bersyair,
dan hariku menari dalam wangi namamu.

Hari ini ulang tahunmu,
dan aku ingin mengucapkannya bukan sekadar lewat kata—
tapi lewat getar jantung yang tak pernah berdusta
sejak pertama kau hadir dalam hidupku
bagai musim semi dalam dada yang lama beku.

Selamat ulang tahun, kekasihku,
dengan setiap hela napas yang kusematkan dalam doa,
aku merayakanmu—
bukan hanya karena usiamu bertambah,
tapi karena dunia kembali disirami cahaya lembut matamu.

Kau adalah alasan kenapa aku menunggu bulan Mei
bukan karena bunga mekar,
tapi karena kau—
bunga itu sendiri,
yang mekar dalam setiap kalimat rindu yang tak sempat kukatakan.

Hari ini,
aku ingin mengganti kue ulang tahunmu dengan kecupan di kening,
menggantikan lilin dengan hangat genggaman tangan kita
yang tak pernah lelah menyalakan harapan.

Kau adalah hari istimewa yang berjalan di antara hari-hari biasa.
Dan untukmu, aku bersedia menjadi hujan
yang turun pelan-pelan ke dadamu,
membisikkan bahwa kau layak dicintai
dengan cara paling manusiawi,
paling tulus,
paling tak bisa dijelaskan dengan logika.

Ulang tahunmu adalah puisi yang ditulis langit,
dengan tinta rindu dan pena waktu.
Dan aku,
adalah pembaca setiamu,
yang akan selalu mengeja namamu dengan mata berbinar,
dan mencintaimu dalam diam yang penuh gema.

Selamat ulang tahun, cintaku di bulan Mei—
Semoga setiap detik dalam hidupmu
dipeluk bahagia
seperti aku memelukmu dalam kata-kata ini.


Jumat, 02 Mei 2025

Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian

 

Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian
ilustrasi Foto Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian 
https://pixabay.com/id/photos/gadis-kesepian-matahari-terbenam-5560212/


Di bawah langit senja yang perlahan redup,
kutemukan lagi warna jingga yang menelusup
di sela-sela daun gugur dan angin yang letih.
Setiap lembarnya seakan menyebut namamu—kamu,
yang entah di mana, entah dengan siapa kini berdiri.

Aku duduk di antara bayang dan harap,
menghitung waktu dengan denyut rindu yang tak henti.
Kupikir waktu akan membuatku lupa,
tapi nyatanya setiap detik justru menoreh lebih dalam.
Cintamu belum datang, namun rinduku tak pernah absen.

Penantian ini bukan sekadar waktu yang berlalu,
tapi jiwa yang bertahan di dalam kesunyian,
menyimpan sejuta harap pada yang mungkin tak pernah datang.
Namun tetap saja kutunggu, seperti laut menanti hujan,
seperti malam merindukan pendar bulan.

Kamu—satu kata yang terus terpatri dalam doaku,
meski langit berganti warna, dan dunia terus berlari.
Dalam setiap langkah, bayangmu menjelma
menjadi luka yang lembut, indah namun mengiris.

Dan saat jingga kembali melukis langit senja,
aku masih di sini,
menyulam harapan di antara rerintik sepi,
memanggil namamu dalam diam yang panjang—
cinta yang tak pernah tiba,
namun tetap kutunggu tanpa lelah.



puisi ini saya dedifikasikan untuk dia yang ada dalam setiap langka,namun tak ada dalam kehidupan nyata.

@faiqnada_


Rabu, 20 November 2024

Puisi:Kenangan di Tepi Meja



Ilusi foto puisi
Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja



Di sudut meja, aroma manis melingkari,

Bango kecap manis menemani memori,

Di setiap tetes, ada cinta yang menari,

Mengingatkan kita pada cerita sejati.


Malam itu, rembulan menjadi saksi,

Tatapanmu hangat, membalut sunyi,

Kecap manis melumuri daging hati,

Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti."


Kamu selalu tahu, rahasia rasa,

Manisnya cinta, bumbu setiap masa,

Bango hadir, bagai janji tak sirna,

Mengikat kenangan yang tak mudah lupa.


Tanganmu mengaduk, aku memandang,

Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang,

Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang,

Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang.


Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup,

Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur,

Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu,

Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu.


Di setiap rasa, ada kisah kita terselip,

Cinta yang manis, tak pernah tergelincir,

Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang,

Dalam kenangan, kita abadi dikenang.


Senin, 28 Oktober 2024

Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu

 

Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu
Ilustrasi gambar Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu (pixabay.com)

Di balik tirai hujan yang menderu  

ada kisah yang tak pernah berlalu.  

Rintik-rintik itu mengetuk hati,  

mengingatkanku pada sepi yang tak henti.  


Kau hadir dalam tiap tetes yang jatuh,  

seperti embun di pagi yang penuh jenuh.  

Kala hujan turun, aku kembali merindu,  

pada hadirmu yang kini entah di mana berlalu.  


Hujan adalah pertemuan kita yang abadi,  

suara gemericiknya seperti suara hati,  

yang pelan-pelan mengalirkan luka,  

namun juga menyembuhkan rindu yang ada.  


Setiap deras, setiap titik,  

membawaku jauh ke masa lalu yang klasik,  

saat kita duduk di bawah langit kelabu,  

berbagi tawa, cerita, dan rindu.  


Kini hujan datang tanpa tawamu,  

namun kenangan itu masih kerap menghibur pilu.  

Kau yang pernah memeluk dalam keheningan,  

meninggalkan jejak yang takkan hilang dalam ingatan.  


Rinainya mengaburkan batas antara realita dan mimpi,  

di dalamnya, aku menemukanmu kembali.  

Mengulang kisah yang pernah kita rajut,  

meski kini kau hanya bayang di sudut kalbu yang larut.  


Andai bisa, ingin kurengkuh dirimu di antara butiran ini,  

menghapus jarak dan waktu yang kini menghampiri.  

Namun takdir tak bisa kuhentikan,  

kau pergi membawa bagian hatiku yang takkan tergantikan.  


Dalam derasnya, kuucapkan selamat tinggal,  

pada kenangan yang kini berangsur pudar,  

tapi tetap tinggal dalam relung yang teramat dalam,  

seperti hujan, kau abadi dalam ingatan yang takkan tenggelam.  


Maka biarlah hujan jadi saksiku malam ini,  

menyampaikan rinduku yang tak bertepi.  

Di tiap rintiknya, kusisipkan namamu,  

sebagai pesan cinta yang tak pernah berlalu.  


---


Semoga puisi ini bisa mewakili tema yang diinginkan.

Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam

Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam Aku tidak pernah benar-benar keluar dari pesantren itu. Tubuhku memang pulang, tapi pikiranku masih dudu...