
Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota
https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari

https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari
Setiap langka adalah kisah,Setiap kisah adalah cinta,dan setiap cinta adalah luka.di setiap luka yang ada pasti ada cerita,yang akan menjelma menjadi karya indah yang pernah tercipta. terima kasih @AD bismilah selamat membaca ~suaralukaa~
![]() |
| Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari |
![]() |
| Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang https://www.rumah123.com/panduan-properti/jenis-bunga-mawar/ |
![]() |
| Rinjani, Ketika Langit Jatuh di Pelukan Bumi_ ilustrsi foto by Triptrus.com |
Catatan Kritis Tentang Keindahan yang Terluka
Gunung Rinjani bukan sekadar gunung bagi masyarakat Lombok—ia adalah napas, marwah, dan cermin kehidupan. Dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, Rinjani berdiri gagah sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia. Ia bukan hanya tujuan pendakian, tetapi juga destinasi rohani, tempat suci bagi umat Hindu, dan bentang alami yang membawa siapapun yang melihatnya pada perenungan yang dalam.
Namun, di balik keelokan panorama sabana, danau Segara Anak yang biru kehijauan, serta cahaya mentari yang menyentuh lembut punggung gunung, ada luka-luka yang tak terlihat. Luka karena keserakahan manusia, luka karena keindahan yang terlalu sering dimanfaatkan tanpa tanggung jawab.
"Kau bukan sekadar tanah tinggi, Rinjani.Kau adalah puisi yang mengalir di dahi pagi.Namun kini, langitmu mengabur oleh jejak-jejak tamak,dan bisik anginmu tercekik aroma plastik dan kerak."
Setiap tahun, ribuan wisatawan datang untuk menaklukkan puncak Rinjani. Mereka mendaki dengan semangat, mengabadikan keindahan alam dengan kamera mereka, dan meninggalkan… jejak yang tak seharusnya: sampah, coretan batu, puntung rokok, hingga suara gaduh yang memekakkan sunyi hutan.
Fakta yang miris: pada 2018, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat lebih dari 7 ton sampah di jalur pendakian. Jumlah ini bertambah setiap tahun, menandakan bahwa manusia lebih cepat meninggalkan kotoran daripada meninggalkan kesadaran.
"Jika kau cinta, kau akan jaga,bukan merusak di balik tawa.Rinjani tak butuh pendaki sombong,ia butuh penyair yang diam dan menyerap getar ombak daun."
Danau Segara Anak, yang artinya "laut anak", berada di kaldera Rinjani. Airnya tenang, pantulan langit di permukaannya menciptakan efek cermin yang memesona. Tapi ironis, beberapa titik di danau mulai tercemar oleh aktivitas liar para pendaki: dari memasak dengan peralatan sekali pakai, mencuci peralatan dengan sabun kimia, hingga mandi dengan deterjen.
Keanekaragaman hayati di sekitar danau pun mulai terancam. Ikan mujair yang semula diperkenalkan sebagai sumber protein, justru mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.
"Segara Anak, engkau bening dulu,tempat aku bercermin dalam diam.Kini airmu membawa sisa-sisa manusia yang lupa menghormat,dan kau diam, karena diam adalah caramu menjerit."
Banyak orang datang ke Rinjani untuk mencari romantisme: senja jingga di pelataran Plawangan Sembalun, malam berbintang yang nyaris tanpa polusi, atau pemandangan matahari terbit di atas awan. Semua itu nyata, namun tak abadi. Jika pengelolaan tidak diperketat, jika kesadaran tidak tumbuh bersama langkah kaki, maka semua keindahan itu hanya akan tinggal di foto dan cerita usang.
"Aku memetik matahari dari puncakmu, Rinjani,lalu kubisikkan pada kekasih: inilah surga.Tapi jika surga ditinggali tanpa cinta,maka ia hanya akan jadi padang tak bertuan."
Banyak pihak kini mendorong Rinjani sebagai ikon wisata nasional, bahkan internasional. Tapi apakah semua itu dilakukan demi kelestarian atau semata laba? Pembangunan infrastruktur yang serampangan, promosi wisata masif tanpa edukasi konservasi, serta minimnya pengawasan petugas lapangan, semua menandakan bahwa Rinjani sedang diperah, bukan dicinta.
Haruskah keindahan selalu dijual demi pendapatan daerah? Haruskah alam tunduk pada logika ekonomi?
"Rinjani, kau tubuh yang dijual tanpa persetujuan.Di mataku, kau adalah perempuan yang disolek paksa.Dipamerkan, diabadikan, lalu ditinggalkan.Tanpa peluk, tanpa janji perlindungan."
Semua belum terlambat. Cinta untuk Rinjani bisa ditulis ulang. Lewat edukasi bagi pendaki pemula, pembatasan jumlah pengunjung, pemberdayaan masyarakat lokal sebagai penjaga ekosistem, dan penegakan hukum yang tegas bagi pelanggar konservasi.
Dan lebih dari itu, dibutuhkan rasa malu—malu kepada alam yang telah memberikan pemandangan, udara, dan kesejukan, namun dibalas dengan ketamakan.
"Mari kita cintai Rinjani dalam diam yang menjaga,dalam langkah yang tak meninggalkan luka,dalam jejak yang tak harus terlihat manusia,tapi terasa oleh bumi yang terjaga."
Gunung Rinjani bukan hanya tempat, ia adalah guru. Ia mengajarkan kesabaran lewat jalur terjal, keteguhan lewat angin dingin, dan keindahan lewat keheningan. Tapi jika kita tak belajar, maka Rinjani akan pergi, pelan-pelan, dihabisi oleh tangan yang katanya ‘pecinta alam’.
Dan saat itu tiba, hanya puisi yang tersisa—puisi yang tak lagi mengagungkan, tapi meratap.
"Aku mencintaimu, Rinjani,bukan dari puncakmu, tapi dari nadimu.Dan jika kau harus hilang,biarkan aku yang pertama menangis untukmu."
![]() |
| Ilustrasi Foto Puisi Romantis:Untukmu yang Lahir pada 21 Mei |
![]() |
| Puisi Romantis:Kau Dilahirkan untuk Kucintai photo by https://www.google.com/search?q=wanita+berhijab+cantik+hitam |

ilustrasi Foto Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian
https://pixabay.com/id/photos/gadis-kesepian-matahari-terbenam-5560212/

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja
Di sudut meja, aroma manis melingkari,
Bango kecap manis menemani memori,
Di setiap tetes, ada cinta yang menari,
Mengingatkan kita pada cerita sejati.
Malam itu, rembulan menjadi saksi,
Tatapanmu hangat, membalut sunyi,
Kecap manis melumuri daging hati,
Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti."
Kamu selalu tahu, rahasia rasa,
Manisnya cinta, bumbu setiap masa,
Bango hadir, bagai janji tak sirna,
Mengikat kenangan yang tak mudah lupa.
Tanganmu mengaduk, aku memandang,
Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang,
Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang,
Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang.
Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup,
Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur,
Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu,
Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu.
Di setiap rasa, ada kisah kita terselip,
Cinta yang manis, tak pernah tergelincir,
Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang,
Dalam kenangan, kita abadi dikenang.

Ilustrasi gambar Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu (pixabay.com)
Di balik tirai hujan yang menderu
ada kisah yang tak pernah berlalu.
Rintik-rintik itu mengetuk hati,
mengingatkanku pada sepi yang tak henti.
Kau hadir dalam tiap tetes yang jatuh,
seperti embun di pagi yang penuh jenuh.
Kala hujan turun, aku kembali merindu,
pada hadirmu yang kini entah di mana berlalu.
Hujan adalah pertemuan kita yang abadi,
suara gemericiknya seperti suara hati,
yang pelan-pelan mengalirkan luka,
namun juga menyembuhkan rindu yang ada.
Setiap deras, setiap titik,
membawaku jauh ke masa lalu yang klasik,
saat kita duduk di bawah langit kelabu,
berbagi tawa, cerita, dan rindu.
Kini hujan datang tanpa tawamu,
namun kenangan itu masih kerap menghibur pilu.
Kau yang pernah memeluk dalam keheningan,
meninggalkan jejak yang takkan hilang dalam ingatan.
Rinainya mengaburkan batas antara realita dan mimpi,
di dalamnya, aku menemukanmu kembali.
Mengulang kisah yang pernah kita rajut,
meski kini kau hanya bayang di sudut kalbu yang larut.
Andai bisa, ingin kurengkuh dirimu di antara butiran ini,
menghapus jarak dan waktu yang kini menghampiri.
Namun takdir tak bisa kuhentikan,
kau pergi membawa bagian hatiku yang takkan tergantikan.
Dalam derasnya, kuucapkan selamat tinggal,
pada kenangan yang kini berangsur pudar,
tapi tetap tinggal dalam relung yang teramat dalam,
seperti hujan, kau abadi dalam ingatan yang takkan tenggelam.
Maka biarlah hujan jadi saksiku malam ini,
menyampaikan rinduku yang tak bertepi.
Di tiap rintiknya, kusisipkan namamu,
sebagai pesan cinta yang tak pernah berlalu.
---
Semoga puisi ini bisa mewakili tema yang diinginkan.
Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam Aku tidak pernah benar-benar keluar dari pesantren itu. Tubuhku memang pulang, tapi pikiranku masih dudu...