Tampilkan postingan dengan label puisibaber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisibaber. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2026

Aku Membunuhmu Dalam Doa,

 

Aku Membunuhmu Dalam Doa,
https://www.magnific.com/idn/gambar-ai-premium/sepasang-kekasih-duduk-di-dekat-api-unggun-di-pantai-pada-malam-hari-menatap-langit-berbintang_234459587.htm

Aku mencintaimu dengan cara yang membuat kepalaku sering sakit.
Bukan karena bahagia—
melainkan karena terlalu banyak hal yang harus kutahan agar cintaku tetap terlihat suci.

Aku menahan sentuhan.
Aku menahan cemburu.
Aku menahan keinginan paling manusiawi: memiliki.

Dan yang paling menyakitkan—aku menahan kecurigaan.

Kau selalu berkata,
“Jika cinta ini benar, ia tak akan meminta apa pun selain kesabaran.”

Aku mempercayaimu seperti orang bodoh yang mengira luka bisa sembuh hanya dengan doa.

Kau datang ke hidupku seperti bisikan yang terlalu pelan untuk ditolak. Wajahmu tenang, tutur katamu lembut, tapi matamu… matamu seperti ruangan terkunci yang tak pernah sepenuhnya terbuka. Aku mencintaimu justru karena itu—karena aku ingin menjadi orang pertama yang kau izinkan masuk.

“Kau percaya padaku?” tanyamu suatu malam.

“Dengan seluruh hidupku,” jawabku.

Kau tersenyum. Terlalu singkat.
Seolah senyum itu hanya kebiasaan, bukan perasaan.

Setiap malam aku menyebut namamu dalam doa, sementara kau menyebut namaku hanya ketika kita bertemu. Aku tak pernah menuntut lebih. Cinta suci, kataku pada diriku sendiri, memang harus menyakitkan.

Namun ada hal-hal kecil yang mengganggu pikiranku.

Pesanmu sering terlambat dibalas.
Tatapanmu sering kosong.
Dan kau selalu menghindari satu pertanyaan:
tentang masa lalumu.

“Ada hal-hal yang tak perlu dibuka,” katamu.
“Tak semua luka ingin disembuhkan.”

Kalimat itu menempel di kepalaku seperti paku.

Suatu hari, aku melihat bekas lebam di pergelangan tanganmu. Kau menariknya cepat-cepat ke balik lengan baju.

“Itu apa?”
“Tak sengaja.”

Kau berbohong terlalu rapi.

Sejak hari itu, aku mulai kehilangan tidur. Bukan karena rindu—melainkan karena pikiranku dipenuhi bayangan: siapa yang menyentuhmu sebelum aku, dan dengan cara apa?

Aku membenci diriku sendiri karena berpikir seperti itu. Aku memukul dinding, memaki cermin, memohon ampun dalam sujud panjang.

“Aku ingin mencintainya tanpa curiga,” tangisku.
Tapi Tuhan diam.

Malam itu kau mengajakku ke rumah kosong di pinggir kota. Katamu, kita perlu bicara tanpa gangguan. Aku datang dengan dada penuh doa dan kepala penuh ketakutan.

Rumah itu berbau lembap dan tua. Lampunya redup. Bayangan menempel di dinding seperti kenangan yang tak mau pergi.

“Kau kelihatan pucat,” katamu.
“Aku hanya lelah,” jawabku.

Kau duduk berhadapan denganku. Jarak kita hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma ketakutan dari napasmu.

“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.

Kalimat itu seharusnya melegakan.
Tapi justru membuat dadaku sesak.

“Ada seseorang,” lanjutmu.
“Dia tak pernah benar-benar pergi.”

Aku tertawa kecil. Histeris.
“Kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Kau terlalu mencintaiku,” jawabmu lirih.
“Aku takut kau hancur.”

Aku ingin menamparmu.
Aku ingin memelukmu.
Aku ingin mati.

“Kau mencintaiku?” tanyaku.
“Ya.”
“Seperti apa?”

Kau terdiam lama. Lalu berkata,

“Seperti seseorang yang ingin selamat.”

Jawaban itu membunuhku perlahan.

Aku mencintaimu dengan cara orang tenggelam,
menggenggam apa pun meski itu batu.
Jika kau hanya ingin berenang,
aku akan mati lebih dulu.

Tiba-tiba suara langkah terdengar. Pintu berderit. Seorang lelaki masuk—wajahnya dingin, matanya tajam, tangannya membawa pisau kecil yang bersih, terlalu bersih.

“Jadi ini dia,” katanya.
“Orang yang kau doakan setiap malam.”

Aku berdiri. Tubuhku gemetar.
“Kau siapa?”

Dia tertawa.
“Aku yang membuatnya seperti ini.”

Kau menangis. Tapi tangismu aneh—tanpa usaha melawan. Seperti orang yang sudah lama menyerah.

“Dia tak bisa pergi dariku,” katamu padaku.
“Jika aku pergi, dia akan membunuhku.”

“Dan kau pikir aku tidak akan mati?” teriakku.

Lelaki itu melangkah mendekat.
“Dia milikku. Tapi aku tak keberatan berbagi penderitaan.”

Aku menoleh padamu.
“Kenapa kau membawaku ke sini?”

Kau menatapku dengan mata kosong.
“Aku ingin kau melihat.”

Melihat apa?

Bahwa cintaku hanyalah alat.
Bahwa kesucianku hanyalah dalih.
Bahwa aku dipilih bukan untuk dicintai—
melainkan untuk dikorbankan.

Pisau itu menusuk perutku. Pelan. Sengaja. Dia ingin aku merasakannya. Darah mengalir, hangat, lengket. Aku terjatuh berlutut.

Kau menjerit. Tapi tidak menghentikannya.

“Maaf,” katamu.
“Ini satu-satunya cara.”

Aku tertawa dalam darahku sendiri.
“Jadi… aku doa yang kau sembelih?”

Jika cinta harus mati,
mengapa harus aku yang dibunuh?
Bukankah aku sudah cukup suci,
untuk dibiarkan hidup?

Pisau itu menusuk lagi. Dadaku.
Pandangan kabur. Suara menjauh.

Aku menatapmu untuk terakhir kali.
“Kau akan hidup,” bisikku.
“Dengan darahku.”

Aku mati tidak sebagai pahlawan.
Tidak sebagai kekasih.
Tidak sebagai martir.

Aku mati sebagai kesalahan.

Dan cinta suci—
ternyata hanya nama lain dari pengorbanan yang dipaksakan.


Senin, 27 April 2026

Sepertiga Malam: Ketika Doa Menjadi Alibi Dosa

 

Sepertiga Malam: Ketika Doa Menjadi Alibi Dosa


Aku selalu percaya sepertiga malam adalah waktu paling jujur.
Saat dunia berhenti berdusta, dan manusia tak lagi bisa bersembunyi dari Tuhannya sendiri.

Di waktu itu, aku dan kau pernah berdiri sejajar—bukan sebagai kekasih, bukan pula sebagai yang halal—melainkan dua hamba yang sama-sama rapuh, menggenggam cinta seperti pisau yang berkilat di balik sajadah.

“Jika Allah Maha Mengetahui,” katamu suatu malam,
“mengapa Dia masih membiarkan hatiku terbelah?”

Aku tak menjawab. Karena aku tahu:
Allah tidak membiarkan—kitalah yang memelihara luka itu.


Kau datang ke hidupku dengan zikir di bibirmu dan tangis di matamu. Kau menyebut namaku setelah menyebut nama-Nya. Itulah kesalahan pertama yang tak pernah kita akui sebagai dosa.

Dia—lelaki yang lebih dahulu kau kenal—adalah orang yang membimbingmu menuju malam. Mengajarimu tahajud. Mengajarimu ikhlas.
Dan aku…
aku adalah ujian yang datang setelah doa-doamu dikabulkan setengah.

Cinta segitiga tidak selalu lahir dari nafsu.
Kadang ia lahir dari iman yang sombong—merasa mampu menampung dua rasa sekaligus.

“Aku mencintaimu karena Allah,” katamu padaku.
Kalimat itu lebih tajam dari pisau mana pun.

Aku menjawab lirih,
“Jangan jadikan nama-Nya tameng untuk luka yang kau rawat sendiri.”

Kau menunduk, lalu berbisik seperti syair duka:

Jika cinta adalah amanah,

mengapa aku membaginya?

Jika cinta adalah ibadah,

mengapa aku berbohong di hadapan-Nya?


Aku mulai takut pada sepertiga malam.
Karena setiap sujud, bayanganmu muncul di antara aku dan kiblat.

Doaku berubah.
Bukan lagi memohon petunjuk,
melainkan pembenaran.

“Ya Allah,” bisikku suatu malam,
“jika dia bukan jodohku, cabutlah rasa ini.”
Namun yang tercabut justru akalku.

Dia menemuiku setelah salat. Wajahnya tenang, tapi matanya lelah.
“Kau tahu,” katanya,
“Allah menguji kita dengan yang kita cintai.”

Aku tersenyum pahit.
“Atau kita menguji Allah dengan keserakahan kita.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan, dengan suara yang hampir seperti doa:


Aku tak takut kehilangan cinta,

aku takut kehilangan iman,

karena ternyata iman bisa runtuh

hanya oleh satu nama perempuan.


Kau akhirnya memilih.
Bukan aku.

Kau berkata keputusan itu lahir dari istikharah.
Aku ingin percaya.
Namun hatiku berbisik: istikharahmu dibimbing oleh rasa yang lebih dulu kau pelihara.

“Aku ingin selamat di akhirat,” katamu.
“Maafkan aku.”

Aku mengangguk.
Karena seorang mukmin harus pandai menyembunyikan amarahnya—bahkan dari dirinya sendiri.

Tapi malam itu, aku tidak tidur.
Aku bangun bukan untuk tahajud,
melainkan untuk mengubur sesuatu dalam dadaku.


Aku menemui dia di musala tua, dekat kuburan.
Tempat di mana semua doa terdengar lebih jujur, karena kematian mendengarkan.

“Kau beruntung,” kataku.
Ia menjawab,
“Tidak. Aku hanya lebih dipilih.”

Kalimat itu menutup pintu terakhir dalam diriku.

Tanganku bergerak saat hujan menutup suara.
Pisau kecil—yang seharusnya hanya alat—menjadi saksi betapa tipisnya batas antara iman dan iblis.

Dia tersungkur.
Darah bercampur air wudhu.

“Astaghfirullah…” ucapnya, sebelum matanya kosong.

Aku menangis.
Aku sujud.
Di atas tanah basah dan darah.

Tuhanku,

aku membunuh bukan karena benci,

tetapi karena aku gagal mengalahkan nafsu

yang kusebut cinta suci.


Kini aku di balik jeruji.
Sepertiga malam tetap datang.
Namun tak ada lagi kau, tak ada lagi dia—
hanya aku dan dosa yang terlalu sadar untuk dilupakan.

Aku berdoa, tapi langit terasa bisu.

Ternyata tidak semua doa naik,

sebagian jatuh kembali ke dada,

dan berubah menjadi hukuman yang hidup.


Jika kau membaca ini, jangan tangisi aku.
Tangisilah iman yang kita rusak bersama,
karena kita terlalu berani menyebut cinta
di tempat yang seharusnya hanya ada Tuhan.


Kamis, 23 April 2026

Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota


Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota
https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari


Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak selalu tinggal,
kadang ia hanya singgah—
seperti senja yang berhenti sebentar
lalu pulang tanpa pamit.

Di sini, di batas antara lampu
 jalan dan gelap ladang kosong,
aku pernah menyebut namamu
dengan suara paling pelan
agar angin saja yang mendengarnya.
Kota terlalu sibuk untuk tahu
bahwa dua manusia 
pernah saling menggenggam
tanpa janji, tanpa saksi,
selain waktu yang diam-diam 
menertawakan kita.

Aku ingat langkah kita
menyusuri trotoar retak
di mana rumput kecil tumbuh keras kepala.
Katamu,
“Lihat, bahkan kota yang lelah
pun masih ingin hidup.”
Aku tersenyum,
karena saat itu aku merasa
akulah kota itu,
dan kaulah rumput kecil yang
 memaksaku bertahan.

Lampu kendaraan berlarian seperti ingatan—
datang, menyilaukan, lalu hilang.
Kita berjalan bersebelahan,
tak selalu saling menatap,
tapi tahu keberadaan satu sama lain
lebih nyata daripada cahaya neon
yang berteriak minta diperhatikan.

Aku mencintaimu
dengan cara yang sederhana:
menyimpan tawamu di saku jaket,
menghafal caramu diam saat lelah,
dan menuliskan namamu
di sudut-sudut hati
yang tak pernah kuserahkan pada siapa pun.

Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak harus megah.
Ia cukup duduk di bangku halte tua,
berbagi minuman murah,
dan saling bercerita tentang masa depan
yang bahkan kita sendiri ragu mempercayainya.

Kau pernah berkata,
“Jika suatu hari kita berpisah,
ingatlah aku di tempat ini.”
Aku tertawa waktu itu,
mengira perpisahan adalah 
cerita orang lain.
Ternyata, cinta paling jujur
selalu tahu bagaimana cara berpamitan
jauh sebelum kita siap.

Malam-malam di tepi kota
tidak pernah benar-benar sunyi.
Ada deru mesin,
ada gonggongan anjing jauh,
ada suara rel kereta
yang bergetar seperti dada
saat kau menggenggam
 tanganku lebih erat
karena udara terlalu dingin.

Aku ingat bahumu—
tempat kepalaku pulang
setelah seharian menjadi kuat.
Di sana, aku boleh rapuh,
boleh diam,
boleh menjadi seseorang
yang tidak harus menjelaskan apa pun.

Kita berbicara tentang hal-hal kecil:
kopi yang terlalu pahit,
hujan yang selalu datang tiba-tiba,
dan orang-orang kota
yang berjalan cepat
seolah dikejar waktu.
Namun di balik percakapan
sederhana itu,
aku menyimpan doa:
semoga waktu lupa mengejar kita.

Tapi waktu tidak pernah lupa.
Ia hanya pura-pura ramah
sebelum mencuri segalanya.

Hari ketika kau pergi,
tepi kota menjadi asing.
Trotoar yang sama
terasa lebih panjang,
lampu jalan lebih dingin,
dan angin membawa aroma kehilangan
yang tak bisa kusebutkan namanya.

Aku kembali ke tempat kita biasa duduk.
Bangku itu masih ada,
namun tawa kita sudah pergi.
Aku duduk sendirian,
berusaha mendengar suaramu
di antara bising kendaraan,
namun yang kudapat
hanya gema pikiranku sendiri.

Di tepi kota ini,
aku belajar merindukan
tanpa alamat tujuan.
Sebab kau bukan lagi seseorang
yang bisa kutemui,
melainkan kenangan
yang datang saat aku lengah.

Aku mencintaimu
dalam bentuk yang paling sunyi:
tidak memanggil,
tidak menuntut,
hanya mengingat.
Seperti kota yang tetap berdiri
meski banyak orang datang dan pergi.

Kadang aku melihat bayanganmu
di kaca toko yang tutup,
di halte bus,
di ujung jalan tempat kita dulu berpisah
tanpa pelukan panjang,
tanpa air mata berlebihan—
seolah kita ingin terlihat kuat
di hadapan dunia
yang tak pernah peduli.

Jika cinta adalah kota,
maka kita adalah tepinya:
tidak sepenuhnya masuk,
tidak benar-benar pergi.
Selalu di batas,
selalu menggantung,
selalu menjadi kemungkinan
yang tidak pernah terwujud.

Aku menulis namamu
di udara malam,
biar angin yang membawanya.
Jika suatu saat kau lewat di kota ini,
mungkin kau akan merasa
ada sesuatu yang memanggilmu pulang
tanpa suara.

Di tepi kota ini,
aku berdamai dengan kehilangan.
Aku belajar bahwa mencintai
tidak selalu berarti memiliki.
Kadang, cinta hanya ingin dikenang
agar ia tidak mati sia-sia.

Dan jika suatu hari nanti
aku jatuh cinta lagi,
aku harap ia tahu:
ada bagian dari hatiku
yang akan selalu tinggal di sini—
di trotoar retak,
di bangku halte tua,
di tepi kota
tempat aku pernah menjadi
versi diriku yang paling jujur
saat mencintaimu.

Karena cinta,
meski pergi,
selalu meninggalkan alamat
bagi kenangan untuk pulang.

Dan aku,
masih berdiri di tepi kota,
menunggumu
dalam bentuk yang paling abadi:
sebuah ingatan
yang tidak pernah meminta
untuk dilupakan.

Sabtu, 04 April 2026

Bayangan yang Tak Ikut Pergi

 

Bayangan yang Tak Ikut Pergi
https://www.instagram.com/p/B6-cpS9gVC3/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi: menundukkan kepala dalam doa, menyebut namamu tanpa suara, dan menahan rindu agar tak berubah menjadi dosa. Namun cinta yang kuanggap suci itu tak pernah benar-benar sendiri. Ia selalu dibayangi wajah yang tak lagi ingin kuingat—mantanku, masa lalu yang belum mau mati.

Kamu datang dalam hidupku saat aku sedang belajar menyembuhkan diri. Kau bukan cinta yang berisik. Kau hadir seperti cahaya subuh—pelan, jujur, dan tidak memaksa. Kau tidak menanyakan masa laluku secara rinci, seolah kau tahu ada luka yang belum siap dibuka.

Namun justru karena itulah ketegangan itu tumbuh. Semakin kau diam, semakin masa laluku berteriak.

Malam itu hujan turun tanpa jeda. Aku dan kamu duduk berhadapan di ruang tamu yang sempit, hanya ditemani lampu kuning dan suara air yang menghantam atap.

“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.

Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku tahu kamu mencintaiku dengan cara yang berbeda,” lanjutmu. “Seperti ada yang kamu jaga mati-matian.”

Aku tersenyum kecil. “Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan.”

Kamu menatapku lama. Lalu kau berkata pelan, hampir seperti membaca puisi:


“Aku tak ingin jadi luka yang baru,

tapi aku juga lelah menjadi jeda.

Jika hatimu masih rumah bagi yang lama,

di mana aku harus meletakkan namaku?”


Kata-katamu menikam. Karena kau benar.

Mantan kekasihku—dia—adalah cinta pertama yang gagal total. Kami berpisah bukan karena tak saling cinta, tapi karena cinta kami tumbuh liar, melampaui batas, melupakan Tuhan, melupakan diri sendiri. Ketika semua runtuh, yang tersisa hanya rasa bersalah dan bayangan.

Dan bayangan itu masih sering datang.

Kadang saat aku tertidur, aku terbangun dengan namanya masih menggantung di ujung lidah. Kadang saat aku sholat, wajahnya muncul sebagai gangguan yang tak kuundang. Aku membencinya, tapi juga takut jika suatu hari aku berhenti mengingat—karena itu berarti luka itu benar-benar membekas.

“Kamu masih memikirkannya?” tanyamu malam itu.

Aku terdiam lama. Kejujuran terasa seperti pisau bermata dua.

“Tidak dengan cara mencintai,” jawabku akhirnya. “Tapi dengan cara dihantui.”

Kamu mengangguk, seolah telah menduga. Kau berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang semakin deras.

“Aku mencintaimu dengan cara yang ingin membawa kita ke arah yang halal,” katamu. “Tapi aku tidak ingin bersaing dengan kenangan.”

Aku bangkit mendekatimu. Tanganku gemetar.

“Aku tidak ingin kembali ke masa lalu,” kataku. “Aku ingin masa depan bersamamu.”

Kamu tersenyum pahit. Lalu kau berbisik, seperti doa yang nyaris patah:


“Jika aku adalah doa,

jangan sebut nama orang lain

saat kau mengaminkannya.”


Malam itu berakhir tanpa pelukan. Tanpa janji. Hanya jarak yang semakin terasa nyata.

Hari-hari setelahnya menjadi medan perang sunyi. Kamu menjauh, bukan dengan kasar, tapi dengan sopan yang menyakitkan. Pesanmu singkat. Sapaanmu dingin. Dan aku tahu, kamu sedang menimbang sesuatu yang besar.

Sementara itu, bayangan mantanku justru semakin sering muncul—seolah tahu aku sedang goyah. Aku membencinya karena muncul saat aku lemah.

Aku berusaha melawan. Aku memperbanyak doa. Aku menulis namamu di halaman terakhir buku harianku, berharap Tuhan membacanya. Aku memohon agar cinta ini disucikan, agar masa lalu dilepaskan sepenuhnya.

Namun ketegangan mencapai puncaknya ketika mantanku benar-benar datang—bukan dalam mimpi, tapi nyata.

Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah toko buku. Ia tersenyum seolah waktu tak pernah merenggut apa pun.

“Kamu terlihat tenang,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Aku dengar kamu akan menikah,” lanjutnya.

Dadaku sesak. Aku tidak tahu dari mana ia tahu.

“Aku bahagia untukmu,” katanya, tapi matanya berkata sebaliknya. “Aku hanya ingin bilang… aku masih sering mengingatmu.”

Aku menatapnya dingin. “Tolong jangan.”

Ia tertawa kecil. “Kamu berubah.”

“Karena aku ingin selamat,” jawabku.

Malam itu aku menangis. Bukan karena rindu, tapi karena marah. Masa lalu itu seperti hantu yang tak mau diusir.

Aku menemui kamu keesokan harinya. Aku tidak ingin menunda lagi.

“Aku ingin kamu tahu segalanya,” kataku. “Aku bertemu dia.”

Wajahmu menegang.

“Tapi aku memilih datang ke sini,” lanjutku cepat. “Karena aku ingin memutus semua bayangan itu.”

Kamu terdiam lama. Lalu kau berkata lirih:

 

“Cinta suci bukan tentang tak punya masa lalu,

tapi tentang keberanian menutup pintunya.

Pertanyaannya…

apakah kau sudah menguncinya,

atau hanya menutupnya pelan-pelan?”


Air mataku jatuh. Aku berlutut di hadapanmu, bukan sebagai drama, tapi sebagai kejujuran.

“Aku ingin menguncinya,” kataku. “Tapi aku butuh waktu.”

Kamu menghela napas panjang. Ketegangan di udara seperti tali yang siap putus.

“Aku tidak takut terluka,” katamu akhirnya. “Aku hanya takut menjadi pelarian.”

Aku menggeleng keras. “Kamu bukan pelarian. Kamu tujuan.”

Hari itu tidak langsung berakhir bahagia. Kamu tidak serta-merta memelukku. Tapi kamu juga tidak pergi.

“Kita berjalan pelan,” katamu. “Jika suatu hari bayangan itu datang lagi, jangan sembunyikan dariku.”

Aku mengangguk. “Aku ingin mencintaimu tanpa bayang-bayang.”

Kamu tersenyum, kali ini lebih hangat.


“Jika suatu hari kau ragu,

pegang tanganku,

bukan kenanganmu.

Karena aku di sini,

bukan untuk menghapus masa lalu,

tapi menemanimu menatap masa depan.”

Aku tahu, cinta suci bukan berarti tanpa ujian. Justru ia diuji oleh bayangan yang ingin menyeret kita kembali. Dan mungkin, kesucian itu terletak pada pilihan—untuk tetap melangkah ke depan, meski masa lalu terus memanggil.

Dan hari itu, aku memilihmu. Bukan karena aku telah sembuh sepenuhnya, tapi karena aku ingin sembuh bersamamu.

Minggu, 29 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang

 

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang
https://www.rumah123.com/panduan-properti/jenis-bunga-mawar/


bukan dengan suara,
melainkan dengan detak
yang kupeluk diam-diam di dada.
Karena tak semua rindu
pantas diperdengarkan,
ada yang harus tinggal
sebagai rahasia paling setia.

Setiap malam,
aku belajar menyebutmu
tanpa memanggil,
mencintaimu tanpa memiliki,
dan menunggu tanpa berharap pulang.
Diam menjadi rumah
bagi perasaan yang tak tahu
harus ke mana lagi bersembunyi.

Aku pernah percaya,
bahwa cinta tak selalu meminta jawaban.
Ia cukup hidup
dalam doa-doa yang kusebut pelan,
agar Tuhan saja yang mendengarnya.
Sebab jika aku mengucap namamu keras-keras,
takut hatiku sendiri yang runtuh.

Di sela napas yang tertahan,
aku merapalkan namamu
seperti ayat yang tak selesai.
Ada getar yang tak berani jatuh,
ada luka yang memilih bertahan
karena takut kehilangan sisa kenangan.

Aku menyebut namamu
saat senja menggigil di ujung langit,
saat hujan turun tanpa alasan,
dan saat dunia terasa terlalu ramai
untuk sebuah perasaan yang sendirian.

Jika suatu hari
kau merasa dadamu hangat tanpa sebab,
mungkin itu rinduku
yang tak sengaja menemukanmu.
Bukan untuk dimiliki,
hanya untuk memastikan
bahwa aku pernah mencintaimu
dengan sepenuh diam
dan sepanjang waktu yang kupunya.

Karena mencintaimu
tak pernah butuh pengakuan,
cukup kesetiaan
untuk terus menyebut namamu
dalam diam yang paling panjang.

Selasa, 17 Maret 2026

BUAVITA DI TEPI KENANGAN

 




Di tepi hujan, kita duduk diam,

asap napas menyatu dengan gerimis.

Gelas dingin Buavita kau genggam,

manisnya mengalir seperti tawa kecil.

Aku menghafal detak waktu,

bangku basah, lampu senja,

dan caramu menatap langit runtuh.

Hujan menulis ulang janji,

membasuh luka yang belum bernama.

Setiap teguk menyimpan musim,

mengingatkanku pada rumah

yang tumbuh di antara bahu kita.

Jika hujan kembali,

biarlah kenangan ini

menjadi payung paling setia.

Di bawah payung patah,

kita belajar percaya,

bahwa sederhana bisa abadi,

bahwa hujan memilih saksi,

dan kenangan tak pernah menua.

namamu kusebut perlahan, menenangkan malam, memeluk rindu, hingga esok tersenyum

dalam hujan yang setia

Rabu, 18 Februari 2026

Cinta Suci dalam Diam

Cinta Suci dalam Diam
Cinta Suci dalam Diam


Aku mencintaimu tanpa suara,
seperti fajar yang datang
 tanpa mengetuk jendela malam.
Tak ada janji yang diucapkan,
tak ada sumpah yang digantungkan di udara,
hanya doa-doa yang kusembunyikan
di sela napas dan sujud paling sunyi.

Aku menyebut namamu bukan dengan bibir,
melainkan dengan sabar.
Karena cinta ini bukan tentang memiliki,
melainkan tentang menjaga jarak
agar perasaan tetap suci
dan tak ternoda oleh nafsu yang tergesa.

Kau hadir dalam hidupku
seperti cahaya yang tidak menyilaukan,
cukup hangat untuk menguatkan,
cukup jauh untuk tidak melukai.
Aku belajar mencintaimu
dengan cara menahan diri,
sebab tidak semua rindu
harus sampai di pelukan.

Di setiap malam yang panjang,
aku berbicara pada Tuhan tentangmu.
Kupinta bukan agar kau menjadi milikku,
melainkan agar kau bahagia,
meski kelak kebahagiaan itu
tidak bernama aku.
Bukankah cinta paling ikhlas
adalah yang rela kalah demi ketenangan jiwa?

Jika suatu hari kita bertemu kembali
di persimpangan takdir yang berbeda,
aku ingin kau tahu:
pernah ada seseorang
yang mencintaimu sepenuh iman,
tanpa sentuhan, tanpa rayuan,
tanpa menuntut balasan.

Dan bila takdir tetap memisahkan kita,
biarlah cinta ini menjadi amal yang diam,
mengalir pelan seperti sungai rahasia,
hingga kelak di hadapan-Nya
aku bisa berkata dengan tenang:
“Aku pernah mencintai,
dan cintaku tidak melukai siapa pun.”

Senin, 22 September 2025

Puisi:Aku Menunggu di Senja, Tapi Kau Pulang Bersama Namanya

 

Puisi:Aku Menunggu di Senja, Tapi Kau Pulang Bersama Namanya


Senja kembali meneteskan jingga di langit,
dan aku masih duduk di bangku yang sama,
menunggu bayanganmu yang pernah berjanji
akan kembali membawa cinta.

Aku menatap lurus pada jalan yang lengang,
membayangkan langkahmu menghampiriku.
Tapi yang datang hanyalah kabar pahit:
kau pulang, bukan padaku,
melainkan pada namanya yang kau sebut di bibir.

Hatiku retak, tapi tetap berharap,
seolah menunggu hujan yang tak pernah tiba.
Setiap warna senja kini terasa asing,
karena di dalamnya aku hanya menemukan kehilangan.

Aku menunggumu dengan seluruh rindu,
namun rinduku tak kau bawa pulang.
Kau pilih senja lain,
kau pilih nama lain,
dan aku tertinggal sebagai bayangan
yang perlahan hilang ditelan malam.


Puisi:Cinta yang Kutabur, Hanya Menjadi Luka di Pelukanmu

 

Puisi:Cinta yang Kutabur, Hanya Menjadi Luka di Pelukanmu
pngtree.com


Aku pernah menanam cinta di matamu,
dengan harapan ia tumbuh menjadi taman bahagia.
Setiap senyumku, setiap pelukanku,
adalah benih yang kutabur dengan sepenuh jiwa.

Namun yang lahir bukan bunga,
melainkan duri yang melukai tanganku sendiri.
Kau genggam hatiku seolah merawatnya,
padahal diam-diam kau sisipkan luka di antara jemari kita.

Aku mencintaimu dengan sepenuh keyakinan,
tapi cintaku hanya menjadi air mata
yang mengalir di pelukanmu,
pelukan yang tak lagi hangat,
pelukan yang hanya menyisakan perih.

Kini aku tahu,
tak semua yang kita tanam akan berbunga.
Ada yang layu,
ada yang berubah jadi luka,
meski ditumbuhkan dengan cinta paling tulus.


Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini

Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini
freepik.com
 

Kau pernah datang dengan senyum sederhana,
membawa hangat yang tak mampu dilawan oleh dinginnya malam.
Aku menaruh percaya, menaruh cinta,
di sela detik yang perlahan berubah jadi harapan.

Namun kini, langkahmu menjauh.
Suaramu hanya gema yang tersisa di sudut ingatan.
Aku menatap jalan yang pernah kita lalui,
dan setiap bayanganmu masih menempel di dinding hatiku.

Kau pergi, tapi namamu tak pernah ikut bersama langkahmu.
Ia tertinggal di dadaku,
berdenyut bersama setiap helaan napas,
menjadi luka yang indah, sekaligus doa yang tak selesai.

Jika suatu hari kau kembali membaca mataku,
kau akan tahu,
aku masih menyebut namamu
meski hanya dalam diam yang bergetar.


Sabtu, 23 Agustus 2025

Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik

ilustrasi Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik_xni


Di tepi senja yang merona jingga,
kulihat engkau, Siti Puji Astutik,
berdiri dengan tatapan yang dalam,
seolah mencari jejak cinta sejati
yang masih tersembunyi di antara awan.

Langkahmu lembut, tapi hatimu gelisah,
kau menanti seseorang yang belum tentu tiba,
seperti burung yang terus terbang
mengejar cahaya terakhir sebelum malam.

Aku ingin berkata padamu,
bahwa dunia ini memang panas, terlalu terik,
namun untukmu yang terlalu cantik,
setiap keringat menjadi puisi,
setiap luka berubah menjadi rindu.

Siti, gadis senja yang menawan,
biarlah aku yang menemanimu mencari,
agar cinta sejati tak lagi hanya mimpi,
tapi nyata dalam dekap yang abadi.

Minggu, 03 Agustus 2025

"Senja dan Kerudung Merahmu"

 

puisi romantis_"Senja dan Kerudung Merahmu"

Di ujung langit, mentari menggantung malu-malu,
melukis jingga di permukaan langit yang berdoa,
dan di sanalah aku pertama kali melihatmu—
Siti Puji Astukik, gadis berkerudung merah
yang datang seperti doa yang tak pernah
selesai kusebutkan namanya.

Langkahmu lembut seperti desir angin sore,
dan matamu, ah matamu…
merekah teduh seperti langit yang tak ingin gelap.
Kerudung merahmu menari pelan
menjadi bendera sunyi yang menggetarkan dada.

Siti, tahukah kau,
senja menjadi tempat paling setia kutitipkan rindu?
Pada setiap langit merahnya,
ada namamu yang kusisipkan dalam bait-bait puisi,
ada wajahmu yang kupahat dalam detak jantung
yang tak tahu caranya berhenti saat kau tersenyum.

Aku mencintaimu dengan tenang,
seperti laut mencintai langit,
tak pernah bersentuhan, tapi saling menunggu senja.
Aku mencintaimu diam-diam,
seperti bayangan mencintai cahaya,
selalu ada, tapi tak pernah bisa mengakuinya.

Siti Puji Astukik,
engkau bukan sekadar nama yang kupanggil dalam doa,
kau adalah alasan mengapa senja begitu indah,
mengapa aku rela menua dalam penantian,
jika akhirnya adalah genggaman tanganmu
di bawah langit yang bersaksi pada cinta yang tak pernah redup.

Dan jika senja suatu saat tak datang lagi,
aku akan mencarimu di antara bintang-bintang,
sebab cinta seperti ini tak lahir dari mata—
tapi dari jiwa yang telah lama setia.


Kamis, 31 Juli 2025

"Gadis Senja: Peluk yang Tak Pernah Usai"

"Gadis Senja: Peluk yang Tak Pernah Usai"
gadis senja puisi ini tercipta dari ilustrasi siti yang sedng bersanding
di antara gelapnya malam


Kau datang bersama jingga
yang jatuh pelan di langit barat,
membawa wajah yang lebih indah 
dari segala yang pernah kulihat.
Langkahmu lembut menapak tanah,
seakan bumi pun bersyukur kau hadir,
dan aku, lelaki yang hanyut dalam detik,
hanya bisa menatap—gemetar, tanpa kendali.

Kau gadis senja,
yang membuat matahari rela perlahan turun
demi menatapmu lebih lama.
Angin berhenti berhembus,
burung-burung pun memilih diam,
karena tak ada nyanyian yang bisa menyaingi bisikanmu.

Kata-katamu tak pernah keluar dari bibir,
tapi getarnya sampai ke dasar dadaku.
Tiap lirikanmu membuat detak jantungku menjadi gila,
dan senyummu—astaga, senyummu itu seperti jampi,
yang membuatku tak tahu mana nyata, mana mimpi.

Dalam warna langit yang mulai kelam,
akulah lelaki yang rela menjadi bayang-bayangmu,
menemanimu meski tanpa sentuhan,
menyayangimu meski tanpa suara.

Gadis senja,
kau bukan sekadar perempuan dalam dongeng tua,
kau nyala yang pelan-pelan membakar jiwaku,
membuat aku menginginkan satu hal yang belum pernah kupinta:
untuk tetap hidup,
hanya agar bisa mencintaimu lebih lama.

Jika nanti malam datang dan menelanmu dari pandanganku,
izinkan aku tetap jadi puisi di bibirmu—yang tak pernah habis dibaca
dan tak pernah kau tulis,
karena cinta seperti ini…
cukup abadi dalam diam.

Senin, 28 Juli 2025

Puisi:"Langkah dan Rindumu di Punggungan Cinta"



Langkah-langkahmu menapaki jalur tanah basah,
di antara akar-akar yang menggeliat
 seperti rindu yang tak pernah patah.
Kau di depan, membawa tas berisi logistik dan mimpi,
aku di belakang, membawa hati yang sejak 
awal ingin tinggal di dekapanmu lagi.

Angin menyapu rambutmu pelan,
seperti alam tahu bahwa aku diam-diam
sedang jatuh perlahan.
Kabut turun, menyelimuti jalur pendakian,
namun 
tak pernah bisa menyelimuti perasaanku 
yang kian terang dalam keremangan.

Kita duduk di sebuah batu besar,
melepas lelah sambil berbagi coklat 
dan cerita yang hambar jadi mekar.
Kau tertawa, dan di sela-sela 
napasmu yang lelah,
ada doa yang tak kau ucapkan tapi aku 
tangkap dengan indra 
yang lebih peka dari telinga.

Mencintaimu
 di jalur pendakian seperti mencintai semesta,
penuh tantangan, tapi aku ingin terus naik ke puncaknya.
Meski kadang langkahmu lebih cepat,
aku selalu tahu, kau akan berhenti 
dan menungguku di tikungan
 yang sunyi itu—tempat rindu beristirahat.

Di puncak nanti,
kita tidak hanya melihat lautan awan atau matahari pagi,
tapi juga melihat masa depan yang kita daki dengan hati,
dengan cinta yang tak takut pada terjalnya tebing
atau dinginnya malam di tenda kecil itu nanti.

Karena pendakian ini 
bukan hanya tentang menaklukkan gunung,
tapi tentang menyatu 
dalam peluh dan pelukan,
tentang merindu dalam dingin,
dan mencinta dalam diam yang saling menguatkan.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...