Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa pernah mengatakannya. Bukan karena aku takut ditolak, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan cara paling suci untuk menyebut namamu: dalam doa . Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud. Kau tak pernah tahu. Dan aku berharap, kau tak perlu tahu. — Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri. “Cinta itu ujian,” katamu suatu malam. “Ujian yang bagaimana?” tanyaku. “Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.” Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali. Aku menyembunyikan namamu di antara tasbih d...
![]() |
| Puisi:Aku Menunggu di Senja, Tapi Kau Pulang Bersama Namanya |
Senja kembali meneteskan jingga di langit,
dan aku masih duduk di bangku yang sama,
menunggu bayanganmu yang pernah berjanji
akan kembali membawa cinta.
Aku menatap lurus pada jalan yang lengang,
membayangkan langkahmu menghampiriku.
Tapi yang datang hanyalah kabar pahit:
kau pulang, bukan padaku,
melainkan pada namanya yang kau sebut di bibir.
Hatiku retak, tapi tetap berharap,
seolah menunggu hujan yang tak pernah tiba.
Setiap warna senja kini terasa asing,
karena di dalamnya aku hanya menemukan kehilangan.
Aku menunggumu dengan seluruh rindu,
namun rinduku tak kau bawa pulang.
Kau pilih senja lain,
kau pilih nama lain,
dan aku tertinggal sebagai bayangan
yang perlahan hilang ditelan malam.

Komentar
Posting Komentar