Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Bayangan yang Tak Ikut Pergi

Gambar
  Bayangan yang Tak Ikut Pergi https://www.instagram.com/p/B6-cpS9gVC3/ Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi: menundukkan kepala dalam doa, menyebut namamu tanpa suara, dan menahan rindu agar tak berubah menjadi dosa. Namun cinta yang kuanggap suci itu tak pernah benar-benar sendiri. Ia selalu dibayangi wajah yang tak lagi ingin kuingat—mantanku, masa lalu yang belum mau mati. Kamu datang dalam hidupku saat aku sedang belajar menyembuhkan diri. Kau bukan cinta yang berisik. Kau hadir seperti cahaya subuh—pelan, jujur, dan tidak memaksa. Kau tidak menanyakan masa laluku secara rinci, seolah kau tahu ada luka yang belum siap dibuka. Namun justru karena itulah ketegangan itu tumbuh. Semakin kau diam, semakin masa laluku berteriak. Malam itu hujan turun tanpa jeda. Aku dan kamu duduk berhadapan di ruang tamu yang sempit, hanya ditemani lampu kuning dan suara air yang menghantam atap. “Aku ingin jujur,” katamu akhirnya. Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak lebih cepat dari bia...

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang

Gambar
  Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang https://www.rumah123.com/panduan-properti/jenis-bunga-mawar/ bukan dengan suara, melainkan dengan detak yang kupeluk diam-diam di dada. Karena tak semua rindu pantas diperdengarkan, ada yang harus tinggal sebagai rahasia paling setia. Setiap malam, aku belajar menyebutmu tanpa memanggil, mencintaimu tanpa memiliki, dan menunggu tanpa berharap pulang. Diam menjadi rumah bagi perasaan yang tak tahu harus ke mana lagi bersembunyi. Aku pernah percaya, bahwa cinta tak selalu meminta jawaban. Ia cukup hidup dalam doa-doa yang kusebut pelan, agar Tuhan saja yang mendengarnya. Sebab jika aku mengucap namamu keras-keras, takut hatiku sendiri yang runtuh. Di sela napas yang tertahan, aku merapalkan namamu seperti ayat yang tak selesai. Ada getar yang tak berani jatuh, ada luka yang memilih bertahan karena takut kehilangan sisa kenangan. Aku menyebut namamu saat senja menggigil di ujung langit, saat hujan turun tanpa alasan, dan saat dunia ...

Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain

Gambar
  Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain https://www.shutterstock.com/id/search/couple-in-love-dark-background Hujan turun tanpa aba-aba, seperti perasaan yang selama ini kutahan diam-diam. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, dan jalanan di depanku memantulkan cahaya lampu seperti kenangan yang tak mau padam. Aku berdiri di bawah kanopi halte tua, memeluk tas kecil berisi payung yang sengaja tak kubuka. Aku ingin basah. Aku ingin hujan ikut merasakan apa yang sedang kupikul. Kau berjanji datang sebelum magrib. Kau bilang hanya sebentar, hanya ingin memastikan aku baik-baik saja. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dari sanalah aku kembali berharap—hal paling berbahaya yang bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah kau tinggalkan. Aku menunggumu. Setiap tetes hujan yang jatuh adalah detik yang berjalan lambat. Aku menghafal pola air yang mengalir di aspal, seolah dengan begitu aku bisa mengalihkan pikiranku dari wajahmu. Tapi sia-sia. Kau selal...

BUAVITA DI TEPI KENANGAN

Gambar
  Di tepi hujan, kita duduk diam, asap napas menyatu dengan gerimis. Gelas dingin Buavita kau genggam, manisnya mengalir seperti tawa kecil. Aku menghafal detak waktu, bangku basah, lampu senja, dan caramu menatap langit runtuh. Hujan menulis ulang janji, membasuh luka yang belum bernama. Setiap teguk menyimpan musim, mengingatkanku pada rumah yang tumbuh di antara bahu kita. Jika hujan kembali, biarlah kenangan ini menjadi payung paling setia. Di bawah payung patah, kita belajar percaya, bahwa sederhana bisa abadi, bahwa hujan memilih saksi, dan kenangan tak pernah menua. namamu kusebut perlahan, menenangkan malam, memeluk rindu, hingga esok tersenyum dalam hujan yang setia

Cinta Suci dalam Diam

Gambar
Cinta Suci dalam Diam Aku mencintaimu tanpa suara, seperti fajar yang datang  tanpa mengetuk jendela malam. Tak ada janji yang diucapkan, tak ada sumpah yang digantungkan di udara, hanya doa-doa yang kusembunyikan di sela napas dan sujud paling sunyi. Aku menyebut namamu bukan dengan bibir, melainkan dengan sabar. Karena cinta ini bukan tentang memiliki, melainkan tentang menjaga jarak agar perasaan tetap suci dan tak ternoda oleh nafsu yang tergesa. Kau hadir dalam hidupku seperti cahaya yang tidak menyilaukan, cukup hangat untuk menguatkan, cukup jauh untuk tidak melukai. Aku belajar mencintaimu dengan cara menahan diri, sebab tidak semua rindu harus sampai di pelukan. Di setiap malam yang panjang, aku berbicara pada Tuhan tentangmu. Kupinta bukan agar kau menjadi milikku, melainkan agar kau bahagia, meski kelak kebahagiaan itu tidak bernama aku. Bukankah cinta paling ikhlas adalah yang rela kalah demi ketenangan jiwa? Jika suatu hari kita bertemu kembali di persimpangan takdir y...

Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Gambar
Ilustrasi foto  Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan Malam selalu punya cara sendiri untuk membuka rahasia. Terutama malam ketika masjid sunyi, lampu diredupkan, dan manusia berdiri menghadap Tuhan dengan luka yang tak sempat diceritakan. Aku berdiri di saf ketiga, sajadahku sudah basah sebelum takbir pertama dikumandangkan. Bukan karena air wudu, tapi karena dadaku terlalu penuh. Malam itu adalah malam qiyamul lail ke tujuh di bulan Ramadhan, dan aku tahu—doaku malam ini bukan hanya tentang dosa, tapi tentang cinta yang terjepit di antara iman dan perasaan. Namanya Alya . Ia berdiri di saf perempuan, dibatasi hijab hijab panjang dan tembok tipis masjid. Tapi aku mengenalnya dari suaranya. Doanya selalu lirih, seolah takut didengar manusia, tapi ingin didengar langit. Dan satu hal yang membuat dadaku semakin sesak: Alya bukan hanya milikku untuk didoakan. Ia juga didoakan oleh sahabatku sendiri— Rizal . Imam mengangkat tangan. “Allahu Akbar.” Aku ikut mengangkat tangan, ta...

Puisi Romantis:Puisi:“Doa yang Percaya pada Dusta”

Gambar
Puisi:“Doa yang Percaya pada Dusta”   Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi, seperti malam yang setia menunggu fajar tanpa pernah menuntut matahari untuk berjanji. Kau datang membawa kata-kata manis yang kuterima seperti doa, kugenggam seperti kebenaran, tanpa kusadari sebagian darinya adalah dusta yang dibungkus rindu. Aku percaya pada matamu, pada jeda napasmu saat menyebut namaku, pada tanganmu yang seolah tahu cara menenangkan dunia di dadaku. Namun cinta rupanya tak selalu jujur, kadang ia menyamar sebagai harapan hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh keyakinan sendiri. Kau bersumpah tinggal, namun diam-diam menyiapkan perpisahan. Kau menanam janji di hatiku lalu membiarkannya mati tanpa air kejujuran. Aku bertanya pada diriku: apakah aku terlalu mencinta, atau kau terlalu pandai berpura-pura? Kini aku belajar mencintaimu dari kejauhan, bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai kenangan yang pernah kuanggap masa depan. Aku merapikan luka tanpa berh...

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”

Gambar
“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...

untukmu_Gadis Berkerudung Hitam

Gambar
untukmu_Gadis Berkerudung Hitam  ilustrasi foto chatgpt.com   Di tepian kayu gunung itu aku melihatmu duduk dalam diam yang anggun, kerudung hitam memeluk kepalamu seperti malam yang setia menjaga bintang. Angin menyisir ujung kainmu pelan, seakan takut mengganggu ketenangan yang kau simpan di dada. Wajahmu manis, bukan karena senyum semata, melainkan karena caramu menunduk seolah dunia terlalu gaduh untuk ditatap terlalu lama. Matamu memandang jauh ke lembah, namun aku tahu, ada rindu yang lebih dalam dari jurang mana pun. Kayu tempatmu duduk berderit pelan, menjadi saksi bisu bahwa kesendirian kadang begitu indah jika ditemani doa dan harapan. Gunung berdiri kokoh di belakangmu, namun kau tak kalah kuat— dengan lembutmu, kau mengajarkan arti keteguhan. Aku ingin duduk di sampingmu, tanpa kata, tanpa janji berlebihan. Biarlah hening menjadi bahasa kita, biarlah alam menerjemahkan perasaan yang tak berani kuucapkan. Sebab mencintaimu tak harus selalu gaduh oleh pengakuan, cuku...

Puisi:Aku Menunggu di Senja, Tapi Kau Pulang Bersama Namanya

Gambar
  Puisi:Aku Menunggu di Senja, Tapi Kau Pulang Bersama Namanya Senja kembali meneteskan jingga di langit, dan aku masih duduk di bangku yang sama, menunggu bayanganmu yang pernah berjanji akan kembali membawa cinta. Aku menatap lurus pada jalan yang lengang, membayangkan langkahmu menghampiriku. Tapi yang datang hanyalah kabar pahit: kau pulang, bukan padaku, melainkan pada namanya yang kau sebut di bibir. Hatiku retak, tapi tetap berharap, seolah menunggu hujan yang tak pernah tiba. Setiap warna senja kini terasa asing, karena di dalamnya aku hanya menemukan kehilangan. Aku menunggumu dengan seluruh rindu, namun rinduku tak kau bawa pulang. Kau pilih senja lain, kau pilih nama lain, dan aku tertinggal sebagai bayangan yang perlahan hilang ditelan malam.

Puisi:Cinta yang Kutabur, Hanya Menjadi Luka di Pelukanmu

Gambar
  Puisi:Cinta yang Kutabur, Hanya Menjadi Luka di Pelukanmu pngtree.com Aku pernah menanam cinta di matamu, dengan harapan ia tumbuh menjadi taman bahagia. Setiap senyumku, setiap pelukanku, adalah benih yang kutabur dengan sepenuh jiwa. Namun yang lahir bukan bunga, melainkan duri yang melukai tanganku sendiri. Kau genggam hatiku seolah merawatnya, padahal diam-diam kau sisipkan luka di antara jemari kita. Aku mencintaimu dengan sepenuh keyakinan, tapi cintaku hanya menjadi air mata yang mengalir di pelukanmu, pelukan yang tak lagi hangat, pelukan yang hanya menyisakan perih. Kini aku tahu, tak semua yang kita tanam akan berbunga. Ada yang layu, ada yang berubah jadi luka, meski ditumbuhkan dengan cinta paling tulus.

Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini

Gambar
Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini freepik.com   Kau pernah datang dengan senyum sederhana, membawa hangat yang tak mampu dilawan oleh dinginnya malam. Aku menaruh percaya, menaruh cinta, di sela detik yang perlahan berubah jadi harapan. Namun kini, langkahmu menjauh. Suaramu hanya gema yang tersisa di sudut ingatan. Aku menatap jalan yang pernah kita lalui, dan setiap bayanganmu masih menempel di dinding hatiku. Kau pergi, tapi namamu tak pernah ikut bersama langkahmu. Ia tertinggal di dadaku, berdenyut bersama setiap helaan napas, menjadi luka yang indah, sekaligus doa yang tak selesai. Jika suatu hari kau kembali membaca mataku, kau akan tahu, aku masih menyebut namamu meski hanya dalam diam yang bergetar.

Cinta Diam-Diam di Balik Layar Chat: Aku, Kau, dan Rahasia yang Tak Terucap

Gambar
  Cinta Diam-Diam di Balik Layar Chat: Aku, Kau, dan Rahasia yang Tak Terucap ilutrasi foto by pixbay.com Malam itu layar ponselku kembali berpendar, memantulkan cahaya biru yang menusuk mata. Notifikasi dari namamu muncul. Hanya sebuah pesan singkat: “Kamu lagi apa?” Seolah sederhana, tapi pesan itu selalu membuat dadaku bergetar. Jari-jariku bergetar menekan tombol balas. “Aku lagi mikirin kamu,” ketikku, lalu kuhapus cepat-cepat, menggantinya dengan, “Aku lagi baca buku.” Aku takut. Takut perasaan ini ketahuan, takut rahasia yang sudah lama kusimpan pecah begitu saja. “Di balik layar biru ini, aku menyembunyikan rindu yang nyeri. Kata-kata kutahan mati-matian, padahal hati ingin berteriak tanpa ampun.” Kamu membalas dengan cepat. “Buku apa? Jangan-jangan buku buat curhatin aku ya?” Aku tersenyum kecut. Kamu selalu bercanda, selalu ringan, seakan semua hal bisa ditertawakan. Padahal bagiku, setiap pesanmu adalah ancaman: aku bisa jatuh lebih dalam lagi. “Buku tent...

Kita Bertemu di Senja, Tapi Kau Pergi Saat Fajar Menyapa

Gambar
  Ilustrasi foto Kita Bertemu di Senja, Tapi Kau Pergi Saat Fajar Menyapa Senja itu datang dengan warna jingga yang mengguncang hatiku. Aku berdiri di tepi pantai, angin laut membawa aroma asin yang menusuk, tapi lebih menusuk lagi adalah kehadiranmu. Kamu berjalan pelan dari arah dermaga, rambutmu menari diterpa angin, wajahmu tenang namun menyimpan sesuatu yang membuatku gelisah. “Kamu datang juga,” kataku, berusaha menahan getar suara. Kamu tersenyum samar, sebuah senyum yang seolah dipaksa lahir dari bibir yang enggan. “Aku janji, kan? Aku harus menepatinya.” Aku menatapmu lekat, menahan desakan perasaan yang ingin meledak. Selama ini aku menunggumu, mengira pertemuan kita akan menghapus jarak, menghapus luka. Tapi entah kenapa, di balik senja ini, aku merasakan ancaman kehilangan yang begitu dekat. “Senja memeluk langit, seperti aku memeluk harap. Tapi apa gunanya, jika harap itu hanyalah bayangan yang rapuh?” Aku duduk di pasir, menepuk tempat di sampingku. K...

Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik

Gambar
ilustrasi Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik_xni Di tepi senja yang merona jingga, kulihat engkau, Siti Puji Astutik, berdiri dengan tatapan yang dalam, seolah mencari jejak cinta sejati yang masih tersembunyi di antara awan. Langkahmu lembut, tapi hatimu gelisah, kau menanti seseorang yang belum tentu tiba, seperti burung yang terus terbang mengejar cahaya terakhir sebelum malam. Aku ingin berkata padamu, bahwa dunia ini memang panas, terlalu terik , namun untukmu yang terlalu cantik , setiap keringat menjadi puisi, setiap luka berubah menjadi rindu. Siti, gadis senja yang menawan, biarlah aku yang menemanimu mencari, agar cinta sejati tak lagi hanya mimpi, tapi nyata dalam dekap yang abadi.