Puisi :Gadis Berselendang Merah




Di ujung senja yang malu-malu

di antara desir angin dan rinduku yang membatu,

kulihat kau berjalan perlahan,

gadis berselendang merah,

laksana doa yang dikirim langit lalu dijelmakan

menjadi jelita yang menapaki bumi dengan cahaya di mata.


Langkahmu seirama puisi,

lembut, penuh arti,

seakan semesta diam memandang

dan waktu pun takut berdetak.


Wajahmu bukan sekadar cantik,

tapi candu yang menenangkan,

mata beningmu menampung cahaya langit,

dan senyummu—oh, senyummu—

adalah nyanyian yang bahkan burung pun ingin belajar menyanyikannya.


Kau duduk di bangku taman,

di bawah langit berwarna keemasan,

selendang merahmu menari ditiup angin,

seperti bendera cinta yang berkibar

di kerajaan hatiku yang lama tak bertuan.


Aku, yang selama ini hanya menatap dari kejauhan,

hanyut dalam bayangmu yang memabukkan,

mencari keberanian dalam diam,

menggenggam getar dalam dada yang sempit oleh harap.


Andai aku bisa bicara pada langit,

akan kupinta malam jangan cepat datang

agar aku bisa lebih lama memandangmu,

wahai gadis berselendang merah

yang parasnya mengagumkan dan raganya memahat puisi dalam benakku.

----+-------;------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Lonceng Akhir