Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut
Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...