Postingan

Gadis Bermukena Abu-Abu

Gambar
Ilustrasi fotoGadis Bermukena Abu-Abu Aku pertama kali melihatmu pada malam pertama Ramadan—malam ketika langit seolah lebih dekat dengan doa, dan masjid kecil di ujung gang itu dipenuhi aroma sajadah lama serta harap yang baru dilahirkan. Kau berdiri di saf perempuan, bermukena abu-abu, warna yang tak mencolok namun entah mengapa justru menetap paling lama di mataku. Mukena itu sederhana. Tak ada bordir berlebihan, tak ada renda berkilau. Tapi saat kau mengangkat tangan untuk takbir, aku merasa ada sesuatu yang runtuh perlahan di dadaku—seperti tembok panjang yang selama ini kubangun untuk menahan perasaan. Kau menunduk, khusyuk, seakan dunia di sekitarmu berhenti bernapas. Aku berdiri di saf laki-laki, pura-pura khidmat, padahal mataku berkali-kali ingin mencuri arahmu. Aku menegur diriku sendiri dalam hati: ini Ramadan, ini rumah Tuhan . Tapi perasaan tidak pernah mengenal kalender ibadah. Ia datang tanpa izin, bahkan di saat sujud paling dalam. Seusai tarawih, halaman masjid menjad...

Cinta Suci dalam Diam

Gambar
Cinta Suci dalam Diam Aku mencintaimu tanpa suara, seperti fajar yang datang  tanpa mengetuk jendela malam. Tak ada janji yang diucapkan, tak ada sumpah yang digantungkan di udara, hanya doa-doa yang kusembunyikan di sela napas dan sujud paling sunyi. Aku menyebut namamu bukan dengan bibir, melainkan dengan sabar. Karena cinta ini bukan tentang memiliki, melainkan tentang menjaga jarak agar perasaan tetap suci dan tak ternoda oleh nafsu yang tergesa. Kau hadir dalam hidupku seperti cahaya yang tidak menyilaukan, cukup hangat untuk menguatkan, cukup jauh untuk tidak melukai. Aku belajar mencintaimu dengan cara menahan diri, sebab tidak semua rindu harus sampai di pelukan. Di setiap malam yang panjang, aku berbicara pada Tuhan tentangmu. Kupinta bukan agar kau menjadi milikku, melainkan agar kau bahagia, meski kelak kebahagiaan itu tidak bernama aku. Bukankah cinta paling ikhlas adalah yang rela kalah demi ketenangan jiwa? Jika suatu hari kita bertemu kembali di persimpangan takdir y...

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Gambar
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat . Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada. Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu. Lara jatuh cinta pada Arga. Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu. Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda. “Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya. “Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku. Ia tersenyum tipis. “Aku takut melukai orang yang baik.” Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum ...

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

Gambar
  Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

Gambar
  Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk by_AI Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji . Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.” Aku tertawa waktu itu. Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai. Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas. “Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan. Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini. “Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku. Ia tersenyum kaku. “Perubahan memang perlu waktu.” Aku hampir tertawa lagi, tapi mata...

Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Gambar
Ilustrasi foto  Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan Malam selalu punya cara sendiri untuk membuka rahasia. Terutama malam ketika masjid sunyi, lampu diredupkan, dan manusia berdiri menghadap Tuhan dengan luka yang tak sempat diceritakan. Aku berdiri di saf ketiga, sajadahku sudah basah sebelum takbir pertama dikumandangkan. Bukan karena air wudu, tapi karena dadaku terlalu penuh. Malam itu adalah malam qiyamul lail ke tujuh di bulan Ramadhan, dan aku tahu—doaku malam ini bukan hanya tentang dosa, tapi tentang cinta yang terjepit di antara iman dan perasaan. Namanya Alya . Ia berdiri di saf perempuan, dibatasi hijab hijab panjang dan tembok tipis masjid. Tapi aku mengenalnya dari suaranya. Doanya selalu lirih, seolah takut didengar manusia, tapi ingin didengar langit. Dan satu hal yang membuat dadaku semakin sesak: Alya bukan hanya milikku untuk didoakan. Ia juga didoakan oleh sahabatku sendiri— Rizal . Imam mengangkat tangan. “Allahu Akbar.” Aku ikut mengangkat tangan, ta...

Cerita Pendek: Aku Mencintaimu di Saat yang Salah

Gambar
    Foto Cerita PIlustrasi endek: Aku Mencintaimu di Saat yang Salah Aku menuliskan kisah ini bukan untuk mencari simpati, melainkan agar ingatanku punya tempat beristirahat. Karena cinta yang kupendam terlalu lama berubah menjadi luka yang tak tahu cara sembuh. Dan namamu—selalu muncul di antara doa dan penyesalan. Aku mengenalmu pada malam yang dingin, ketika hujan turun seperti ingin menghapus kota. Kamu berdiri di bawah lampu jalan, wajahmu setengah cahaya, setengah gelap. Sejak saat itu aku tahu, mencintaimu akan membuatku akrab dengan kehilangan. “Kamu percaya cinta bisa menyelamatkan seseorang?” tanyamu saat pertama kali kami berbincang. Aku menggeleng pelan. “Aku percaya cinta hanya mengajarkan cara bertahan.” Kamu tersenyum getir. “Berarti kita sama-sama sudah lelah.” Aku jatuh cinta bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu retak—dan retakan itu memantulkan diriku sendiri. Aku mencintaimu dalam diam, dalam tatapan panjang, dalam kalimat-kal...