Postingan

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

Gambar
  Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

Gambar
  Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk by_AI Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji . Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.” Aku tertawa waktu itu. Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai. Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas. “Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan. Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini. “Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku. Ia tersenyum kaku. “Perubahan memang perlu waktu.” Aku hampir tertawa lagi, tapi mata...

Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Gambar
Ilustrasi foto  Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan Malam selalu punya cara sendiri untuk membuka rahasia. Terutama malam ketika masjid sunyi, lampu diredupkan, dan manusia berdiri menghadap Tuhan dengan luka yang tak sempat diceritakan. Aku berdiri di saf ketiga, sajadahku sudah basah sebelum takbir pertama dikumandangkan. Bukan karena air wudu, tapi karena dadaku terlalu penuh. Malam itu adalah malam qiyamul lail ke tujuh di bulan Ramadhan, dan aku tahu—doaku malam ini bukan hanya tentang dosa, tapi tentang cinta yang terjepit di antara iman dan perasaan. Namanya Alya . Ia berdiri di saf perempuan, dibatasi hijab hijab panjang dan tembok tipis masjid. Tapi aku mengenalnya dari suaranya. Doanya selalu lirih, seolah takut didengar manusia, tapi ingin didengar langit. Dan satu hal yang membuat dadaku semakin sesak: Alya bukan hanya milikku untuk didoakan. Ia juga didoakan oleh sahabatku sendiri— Rizal . Imam mengangkat tangan. “Allahu Akbar.” Aku ikut mengangkat tangan, ta...

Cerita Pendek: Aku Mencintaimu di Saat yang Salah

Gambar
    Foto Cerita PIlustrasi endek: Aku Mencintaimu di Saat yang Salah Aku menuliskan kisah ini bukan untuk mencari simpati, melainkan agar ingatanku punya tempat beristirahat. Karena cinta yang kupendam terlalu lama berubah menjadi luka yang tak tahu cara sembuh. Dan namamu—selalu muncul di antara doa dan penyesalan. Aku mengenalmu pada malam yang dingin, ketika hujan turun seperti ingin menghapus kota. Kamu berdiri di bawah lampu jalan, wajahmu setengah cahaya, setengah gelap. Sejak saat itu aku tahu, mencintaimu akan membuatku akrab dengan kehilangan. “Kamu percaya cinta bisa menyelamatkan seseorang?” tanyamu saat pertama kali kami berbincang. Aku menggeleng pelan. “Aku percaya cinta hanya mengajarkan cara bertahan.” Kamu tersenyum getir. “Berarti kita sama-sama sudah lelah.” Aku jatuh cinta bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu retak—dan retakan itu memantulkan diriku sendiri. Aku mencintaimu dalam diam, dalam tatapan panjang, dalam kalimat-kal...

Cerita Pendek: Namamu di Antara Dua Luka

Gambar
  ilustrasi foto Cerita Pendek: Namamu di Antara Dua Luka Aku selalu percaya cinta datang untuk menyembuhkan. Tapi malam itu, di bawah langit yang seolah retak oleh hujan, aku belajar bahwa cinta juga bisa menjadi pisau paling tajam yang menusuk tanpa ampun. Aku mengenal Nara sejak hujan pertama bulan Januari. Ia datang ke hidupku seperti doa yang dikabulkan diam-diam. Senyumnya sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia yang ribut ini menjadi sunyi sesaat. “Kamu percaya takdir?” tanyanya suatu sore, ketika kami duduk di bangku taman kota. Aku tersenyum. “Aku percaya pertemuan. Soal takdir, aku masih ragu.” Ia tertawa kecil. “Berarti aku hanya kebetulan bagimu?” “Tidak,” jawabku cepat. “Kamu alasan.” Sejak saat itu, kami menjadi dua orang yang saling menemukan rumah dalam percakapan. Kami berbagi cerita, luka, dan mimpi-mimpi kecil yang kami lipat rapi agar tidak terlalu berharap. Aku jatuh cinta tanpa sadar. Terlalu dalam, terlalu cepat. Namun cinta jarang datang sendirian. D...

Puisi Romantis:Puisi:“Doa yang Percaya pada Dusta”

Gambar
Puisi:“Doa yang Percaya pada Dusta”   Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi, seperti malam yang setia menunggu fajar tanpa pernah menuntut matahari untuk berjanji. Kau datang membawa kata-kata manis yang kuterima seperti doa, kugenggam seperti kebenaran, tanpa kusadari sebagian darinya adalah dusta yang dibungkus rindu. Aku percaya pada matamu, pada jeda napasmu saat menyebut namaku, pada tanganmu yang seolah tahu cara menenangkan dunia di dadaku. Namun cinta rupanya tak selalu jujur, kadang ia menyamar sebagai harapan hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh keyakinan sendiri. Kau bersumpah tinggal, namun diam-diam menyiapkan perpisahan. Kau menanam janji di hatiku lalu membiarkannya mati tanpa air kejujuran. Aku bertanya pada diriku: apakah aku terlalu mencinta, atau kau terlalu pandai berpura-pura? Kini aku belajar mencintaimu dari kejauhan, bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai kenangan yang pernah kuanggap masa depan. Aku merapikan luka tanpa berh...

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”

Gambar
“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...