![]() |
| Aku Membunuhmu Dalam Doa, https://www.magnific.com/idn/gambar-ai-premium/sepasang-kekasih-duduk-di-dekat-api-unggun-di-pantai-pada-malam-hari-menatap-langit-berbintang_234459587.htm |
Dan yang paling menyakitkan—aku menahan kecurigaan.
Aku mempercayaimu seperti orang bodoh yang mengira luka bisa sembuh hanya dengan doa.
Kau datang ke hidupku seperti bisikan yang terlalu pelan untuk ditolak. Wajahmu tenang, tutur katamu lembut, tapi matamu… matamu seperti ruangan terkunci yang tak pernah sepenuhnya terbuka. Aku mencintaimu justru karena itu—karena aku ingin menjadi orang pertama yang kau izinkan masuk.
“Kau percaya padaku?” tanyamu suatu malam.
“Dengan seluruh hidupku,” jawabku.
Setiap malam aku menyebut namamu dalam doa, sementara kau menyebut namaku hanya ketika kita bertemu. Aku tak pernah menuntut lebih. Cinta suci, kataku pada diriku sendiri, memang harus menyakitkan.
Namun ada hal-hal kecil yang mengganggu pikiranku.
Kalimat itu menempel di kepalaku seperti paku.
Suatu hari, aku melihat bekas lebam di pergelangan tanganmu. Kau menariknya cepat-cepat ke balik lengan baju.
Kau berbohong terlalu rapi.
Sejak hari itu, aku mulai kehilangan tidur. Bukan karena rindu—melainkan karena pikiranku dipenuhi bayangan: siapa yang menyentuhmu sebelum aku, dan dengan cara apa?
Aku membenci diriku sendiri karena berpikir seperti itu. Aku memukul dinding, memaki cermin, memohon ampun dalam sujud panjang.
Malam itu kau mengajakku ke rumah kosong di pinggir kota. Katamu, kita perlu bicara tanpa gangguan. Aku datang dengan dada penuh doa dan kepala penuh ketakutan.
Rumah itu berbau lembap dan tua. Lampunya redup. Bayangan menempel di dinding seperti kenangan yang tak mau pergi.
Kau duduk berhadapan denganku. Jarak kita hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma ketakutan dari napasmu.
“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.
Kau terdiam lama. Lalu berkata,
“Seperti seseorang yang ingin selamat.”
Jawaban itu membunuhku perlahan.
Aku mencintaimu dengan cara orang tenggelam,menggenggam apa pun meski itu batu.Jika kau hanya ingin berenang,aku akan mati lebih dulu.
Tiba-tiba suara langkah terdengar. Pintu berderit. Seorang lelaki masuk—wajahnya dingin, matanya tajam, tangannya membawa pisau kecil yang bersih, terlalu bersih.
Kau menangis. Tapi tangismu aneh—tanpa usaha melawan. Seperti orang yang sudah lama menyerah.
“Dan kau pikir aku tidak akan mati?” teriakku.
Melihat apa?
Pisau itu menusuk perutku. Pelan. Sengaja. Dia ingin aku merasakannya. Darah mengalir, hangat, lengket. Aku terjatuh berlutut.
Kau menjerit. Tapi tidak menghentikannya.
Jika cinta harus mati,mengapa harus aku yang dibunuh?Bukankah aku sudah cukup suci,untuk dibiarkan hidup?
Aku mati sebagai kesalahan.
.jpg)




.jpg)
