Sepertiga Malam: Ketika Doa Menjadi Alibi Dosa
Sepertiga Malam: Ketika Doa Menjadi Alibi Dosa Aku selalu percaya sepertiga malam adalah waktu paling jujur. Saat dunia berhenti berdusta, dan manusia tak lagi bisa bersembunyi dari Tuhannya sendiri. Di waktu itu, aku dan kau pernah berdiri sejajar—bukan sebagai kekasih, bukan pula sebagai yang halal—melainkan dua hamba yang sama-sama rapuh, menggenggam cinta seperti pisau yang berkilat di balik sajadah. “Jika Allah Maha Mengetahui,” katamu suatu malam, “mengapa Dia masih membiarkan hatiku terbelah?” Aku tak menjawab. Karena aku tahu: Allah tidak membiarkan—kitalah yang memelihara luka itu. Kau datang ke hidupku dengan zikir di bibirmu dan tangis di matamu. Kau menyebut namaku setelah menyebut nama-Nya. Itulah kesalahan pertama yang tak pernah kita akui sebagai dosa. Dia—lelaki yang lebih dahulu kau kenal—adalah orang yang membimbingmu menuju malam. Mengajarimu tahajud. Mengajarimu ikhlas. Dan aku… aku adalah ujian yang datang setelah doa-doamu dikabulkan setengah. Cinta segitiga...