Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir
Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram. Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku. Pesan itu datang lagi. “MALAM INI ATAU KAMI DATANG.” Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit. “Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?” Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan. Tujuh ha...