Sepertiga Malam: Ketika Doa Menjadi Alibi Dosa Aku selalu percaya sepertiga malam adalah waktu paling jujur. Saat dunia berhenti berdusta, dan manusia tak lagi bisa bersembunyi dari Tuhannya sendiri. Di waktu itu, aku dan kau pernah berdiri sejajar—bukan sebagai kekasih, bukan pula sebagai yang halal—melainkan dua hamba yang sama-sama rapuh, menggenggam cinta seperti pisau yang berkilat di balik sajadah. “Jika Allah Maha Mengetahui,” katamu suatu malam, “mengapa Dia masih membiarkan hatiku terbelah?” Aku tak menjawab. Karena aku tahu: Allah tidak membiarkan—kitalah yang memelihara luka itu. Kau datang ke hidupku dengan zikir di bibirmu dan tangis di matamu. Kau menyebut namaku setelah menyebut nama-Nya. Itulah kesalahan pertama yang tak pernah kita akui sebagai dosa. Dia—lelaki yang lebih dahulu kau kenal—adalah orang yang membimbingmu menuju malam. Mengajarimu tahajud. Mengajarimu ikhlas. Dan aku… aku adalah ujian yang datang setelah doa-doamu dikabulkan setengah. Cinta segitiga...
Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari Di tepi kota ini, aku belajar bahwa cinta tidak selalu tinggal, kadang ia hanya singgah— seperti senja yang berhenti sebentar lalu pulang tanpa pamit. Di sini, di batas antara lampu jalan dan gelap ladang kosong, aku pernah menyebut namamu dengan suara paling pelan agar angin saja yang mendengarnya. Kota terlalu sibuk untuk tahu bahwa dua manusia pernah saling menggenggam tanpa janji, tanpa saksi, selain waktu yang diam-diam menertawakan kita. Aku ingat langkah kita menyusuri trotoar retak di mana rumput kecil tumbuh keras kepala. Katamu, “Lihat, bahkan kota yang lelah pun masih ingin hidup.” Aku tersenyum, karena saat itu aku merasa akulah kota itu, dan kaulah rumput kecil yang memaksaku bertahan. Lampu kendaraan berlarian seperti ingatan— datang, menyilaukan, lalu hilang. Kita berjalan bersebelahan, tak selalu saling menatap, tapi tahu keberadaan satu sama lain l...