Gadis Bermukena Abu-Abu
Ilustrasi fotoGadis Bermukena Abu-Abu Aku pertama kali melihatmu pada malam pertama Ramadan—malam ketika langit seolah lebih dekat dengan doa, dan masjid kecil di ujung gang itu dipenuhi aroma sajadah lama serta harap yang baru dilahirkan. Kau berdiri di saf perempuan, bermukena abu-abu, warna yang tak mencolok namun entah mengapa justru menetap paling lama di mataku. Mukena itu sederhana. Tak ada bordir berlebihan, tak ada renda berkilau. Tapi saat kau mengangkat tangan untuk takbir, aku merasa ada sesuatu yang runtuh perlahan di dadaku—seperti tembok panjang yang selama ini kubangun untuk menahan perasaan. Kau menunduk, khusyuk, seakan dunia di sekitarmu berhenti bernapas. Aku berdiri di saf laki-laki, pura-pura khidmat, padahal mataku berkali-kali ingin mencuri arahmu. Aku menegur diriku sendiri dalam hati: ini Ramadan, ini rumah Tuhan . Tapi perasaan tidak pernah mengenal kalender ibadah. Ia datang tanpa izin, bahkan di saat sujud paling dalam. Seusai tarawih, halaman masjid menjad...