Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

 

Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan


Aku mencintaimu tanpa suara.
Tanpa keberanian.
Tanpa pengakuan.

Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya.

Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka.

Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah.

“Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian.

Aku terkejut.
Ternyata kamu melihatku juga.

“Iya,” jawabku singkat.
Padahal hatiku ingin berteriak.

Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada sesuatu yang lebih berbahaya dari itu: rasa yang tumbuh tanpa izin.


Aku mencintaimu dalam diam,

seperti doa yang tak pernah diucap keras,

tak terdengar malaikat,

tapi dicatat langit dengan gemetar.

Sejak percakapan itu, segalanya berubah. Kamu sering menungguku setelah pengajian. Kita berjalan berdampingan, menjaga jarak satu lengan—cukup dekat untuk merasa, cukup jauh untuk menahan diri.

“Apa kamu pernah merasa,” katamu suatu malam, “bahwa mencintai juga bisa jadi ujian?”

Aku berhenti melangkah.
Menatapmu.
Lalu menunduk.

“Iya,” jawabku. “Dan aku sedang menghadapinya.”

Kamu tersenyum. Senyum yang tidak bahagia, tapi pasrah.

Aku tahu.
Kamu tahu.
Kita saling tahu, tapi memilih diam.

Setiap malam aku berdoa agar rasa ini dicabut. Tapi setiap pagi, rasa itu justru tumbuh lebih dalam. Seperti akar yang menemukan air di tanah paling sunyi.

Kamu tidak pernah bercerita banyak tentang hidupmu. Tapi aku tahu satu hal: keluargamu telah menjodohkanmu. Nama itu sering disebut ibumu saat menjemputmu—nama lelaki yang bukan aku.

“Dia baik,” katamu suatu hari. “Mapan. Keluargaku senang.”

“Lalu kamu?” tanyaku pelan.

Kamu terdiam lama.

“Aku belajar ikhlas,” jawabmu akhirnya.

Kata itu menusukku lebih tajam dari penolakan.


Ikhlas bukan berarti tidak sakit,

ia hanya mengajarkan cara tersenyum sambil berdarah,

cara mencintai tanpa memiliki,

cara pergi tanpa benar-benar pergi.


Sejak hari itu, aku mulai menjauh. Aku datang lebih lambat. Pulang lebih cepat. Menjaga diri agar tidak jatuh lebih dalam. Tapi kamu justru mencariku.

“Kamu kenapa berubah?” tanyamu.

“Aku takut,” jawabku jujur.

“Takut apa?”

“Takut mencintaimu lebih dari yang seharusnya.”

Kamu menatapku lama. Matamu berkaca, tapi tidak menangis.

“Bukankah lebih menyakitkan,” katamu lirih, “jika cinta itu suci tapi tak pernah diperjuangkan?”

Kalimat itu menghantuiku berminggu-minggu. Aku ingin memperjuangkanmu. Aku ingin datang ke rumahmu, bicara pada keluargamu, menggenggam tanganmu di hadapan dunia. Tapi aku juga tahu: aku belum siap. Aku belum cukup. Dan cinta tanpa kesiapan hanyalah ego yang dibungkus doa.

Malam terakhir kita bertemu, hujan turun deras. Mushala sepi. Lampu redup. Kamu duduk sendirian, menangis tanpa suara.

“Aku akan menikah,” katamu.

Aku merasa dunia runtuh, tapi aku tetap duduk di hadapanmu.

“Kapan?” tanyaku.

“Minggu depan.”

Jarak satu lengan itu terasa seperti jurang.

“Aku minta satu hal,” katamu. “Jangan datang ke pernikahanku.”

Aku mengangguk.
Itu permintaan yang kejam, tapi jujur.

Jika aku harus mencintaimu dari jauh,
biarlah jarak ini menjadi sajadah,
tempat aku sujud paling lama,
dan menangis tanpa suara.

Seminggu kemudian, aku tidak datang ke pernikahanmu. Tapi aku datang ke mushala itu. Sendirian. Duduk di saf belakang. Tempat biasa aku mengagumimu.

Hujan turun lagi.

Dan saat itulah kabar itu datang.

Kecelakaan.
Mobil pengantin.
Kamu tidak selamat.

Aku tidak ingat bagaimana aku berdiri. Bagaimana aku berlari. Bagaimana aku menangis. Yang aku ingat hanya satu: aku tidak pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu.

Di pemakamanmu, aku berdiri paling belakang. Tidak ada yang tahu siapa aku bagimu. Tidak ada yang tahu bahwa di antara nisan dan tanah basah itu, terkubur cinta yang paling suci sekaligus paling pengecut.

Aku berdoa.
Untuk pertama kalinya, aku berdoa dengan suara.

“Aku mencintainya,” kataku pada Tuhan. “Dan aku terlambat.”


Cinta yang tak pernah diucap,

akan tinggal selamanya di dada,

menjadi doa yang tak selesai,

menjadi luka yang tak berdarah.

Kini, setiap magrib, aku masih datang ke mushala itu. Duduk di saf belakang. Menatap barisan depan yang kosong. Mukena abu-abu itu tidak pernah kembali.

Dan aku belajar satu hal yang paling pahit:

Tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki.
Sebagian hanya dititipkan—untuk diuji, lalu diambil kembali.

Aku mencintaimu.
Dalam diam.
Dan akan selalu begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Cerita Pendek:Lonceng Akhir