Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Di Antara Takbir dan Luka

Gambar
  Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras. Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah. Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata. Takbir pertama dikumandangkan. Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu. Aku bela...

Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu

Gambar
Ilustrasi foto Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu di ambil dari media AI Untuk mengilustrasikan cerita pendek Aku mengenalmu pertama kali bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai suara yang berdiri tegak di atas mimbar kayu, menantang malam dengan pidato tentang perubahan. Lampu-lampu aula memantulkan bayangmu—tegas, rapi, penuh keyakinan. Dan entah mengapa, sejak saat itu, aku tahu: politik akan mencintaimu lebih kejam daripada aku. Kamu turun dari panggung dengan senyum yang dipelihara baik-baik. Aku menyambutmu dengan tepuk tangan paling jujur, sementara di sudut ruangan, dia berdiri— perempuan dengan jas gelap, mata tajam, dan senyum yang tahu caranya menang. Namanya sering disebut dalam rapat-rapat tertutup, bisikannya lebih berbahaya dari teriakan demonstran. “Dia cuma rekan,” katamu suatu malam. Aku mengangguk, meski hatiku tidak. “Jika cinta adalah pemilu, aku kalah sebelum penghitungan suara, karena namamu sudah lebih dulu dipilih oleh ambisi.” Kita sering bertemu diam-...

Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

Gambar
  Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa suara. Tanpa keberanian. Tanpa pengakuan. Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya. Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka. Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah. “Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian. Aku terkejut. Ternyata kamu melihatku juga. “Iya,” jawabku singkat. Padahal hatiku ingin berteriak. Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada se...

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Gambar
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat . Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada. Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu. Lara jatuh cinta pada Arga. Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu. Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda. “Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya. “Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku. Ia tersenyum tipis. “Aku takut melukai orang yang baik.” Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum ...

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

Gambar
  Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

Gambar
  Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk by_AI Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji . Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.” Aku tertawa waktu itu. Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai. Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas. “Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan. Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini. “Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku. Ia tersenyum kaku. “Perubahan memang perlu waktu.” Aku hampir tertawa lagi, tapi mata...

Cinta dalam Sujud Terakhir

Gambar
  Ilustrasi gambar Cinta dalam Sujud Terakhir Aku mengenalmu dari sajadah yang sama—bukan berdampingan, tapi saling menunggu giliran di surau kecil belakang kampus. Kau selalu datang lebih awal, duduk menunduk dengan tas hitam lusuh, menunggu azan Isya seperti menunggu takdir yang enggan menyebut namanya sendiri. “Aku percaya,” katamu suatu malam, “cinta yang paling jujur adalah yang tumbuh di antara doa.” Aku tersenyum. Sejak itu, aku tahu: aku jatuh cinta padamu dengan cara yang tidak berisik. Namun cinta, sebagaimana iman, sering diuji bukan oleh kekurangan—melainkan oleh kehadiran orang ketiga yang tampak lebih sempurna. Namanya Nadia . Ia hafal Al-Qur’an lebih banyak dariku. Suaranya merdu ketika menjadi makmum perempuan. Senyumnya lembut, seolah tak pernah mengenal dosa. Kau memandangnya dengan cara yang sama seperti kau memandang sajadahmu: penuh hormat, penuh harap. Aku tahu sejak awal, cinta ini segitiga. Tapi aku tak pernah menyangka, salah satu sisinya akan berlumur...

Judul: Darah di Antara Kita

Gambar
Aku menulis kisah ini dengan tangan yang masih gemetar, sebab setiap kata adalah bekas luka. Kau mungkin tak pernah membaca sampai akhir, tapi aku tetap menuliskannya—sebagai pengakuan, sebagai doa yang terlambat. Aku mencintaimu sejak hujan pertama jatuh di kota ini. Kau datang dengan tawa yang sederhana, seperti pagi yang tak menuntut apa pun. Aku menyebutmu kau bukan karena jarak, melainkan karena kedekatan yang tak butuh nama. Kita berbagi bangku tua di kafe sudut jalan, berbagi cerita tentang masa kecil yang retak, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diselamatkan. “Jika suatu hari aku pergi,” katamu, “apakah kau akan menunggu?” Aku menjawab dengan senyum yang pura-pura tenang. “Aku tak pandai menunggu, tapi aku pandai setia.” Di antara kita, kata-kata tumbuh seperti bunga liar. Aku menuliskan puisi untukmu di serbet kertas, kau menyimpannya di saku jaket, seolah itu jimat agar dunia tak merenggut kita. Aku mencintaimu tanpa peta, tanpa jalan pulang. Jika aku tersesat, biarlah namamu...