Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Nama yang Masih Bergema dalam Doa

Gambar
Nama yang Masih Bergema dalam Doa https://id.pinterest.com/aisyahhh3232/kekasih-bayangan/ Aku mencintaimu dengan cara yang paling kutakuti: diam-diam, tertib, dan penuh kehati-hatian. Tidak ada pelukan sebelum janji, tidak ada sentuhan selain doa yang kusebutkan pelan setiap selesai salat. Aku menyebut namamu seperti orang yang takut bersuara terlalu keras, khawatir Tuhan mengira aku meminta terlalu banyak. Namun di sela doa itu, selalu ada bayangan yang menyusup. Nama lain. Wajah yang seharusnya sudah pergi, tetapi masih sering mengetuk ingatan tanpa permisi. Kamulah cinta yang ingin kujaga kesuciannya. Tapi mantanku adalah bayangan yang tak mau mati. Malam itu, kita duduk berhadapan di teras rumahmu. Lampu jalan redup, dan angin membawa bau tanah basah. Kamu tidak langsung bicara. Kamu selalu begitu—menunggu sampai hatimu siap melukai atau terluka. “Aku ingin bertanya sesuatu,” katamu akhirnya. Aku mengangguk, meski jantungku mulai berlari. “Kamu pernah benar-benar selesai dengan mas...

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Gambar
  Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama. Namamu. Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai. Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di...

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir

Gambar
  Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram. Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku. Pesan itu datang lagi. “MALAM INI ATAU KAMI DATANG.” Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit. “Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?” Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan. Tujuh ha...

Di Antara Takbir dan Luka

Gambar
  Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras. Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah. Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata. Takbir pertama dikumandangkan. Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu. Aku bela...

Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu

Gambar
Ilustrasi foto Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu di ambil dari media AI Untuk mengilustrasikan cerita pendek Aku mengenalmu pertama kali bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai suara yang berdiri tegak di atas mimbar kayu, menantang malam dengan pidato tentang perubahan. Lampu-lampu aula memantulkan bayangmu—tegas, rapi, penuh keyakinan. Dan entah mengapa, sejak saat itu, aku tahu: politik akan mencintaimu lebih kejam daripada aku. Kamu turun dari panggung dengan senyum yang dipelihara baik-baik. Aku menyambutmu dengan tepuk tangan paling jujur, sementara di sudut ruangan, dia berdiri— perempuan dengan jas gelap, mata tajam, dan senyum yang tahu caranya menang. Namanya sering disebut dalam rapat-rapat tertutup, bisikannya lebih berbahaya dari teriakan demonstran. “Dia cuma rekan,” katamu suatu malam. Aku mengangguk, meski hatiku tidak. “Jika cinta adalah pemilu, aku kalah sebelum penghitungan suara, karena namamu sudah lebih dulu dipilih oleh ambisi.” Kita sering bertemu diam-...

Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

Gambar
  Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa suara. Tanpa keberanian. Tanpa pengakuan. Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya. Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka. Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah. “Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian. Aku terkejut. Ternyata kamu melihatku juga. “Iya,” jawabku singkat. Padahal hatiku ingin berteriak. Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada se...

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Gambar
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat . Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada. Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu. Lara jatuh cinta pada Arga. Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu. Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda. “Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya. “Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku. Ia tersenyum tipis. “Aku takut melukai orang yang baik.” Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum ...

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

Gambar
  Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...