Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2026

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan


Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta.
Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa rencana cadangan.

Sejak awal, aku tahu:
mencintaimu berarti menyiapkan diri untuk kalah.
Tapi aku tetap datang. Tetap duduk di hadapanmu. Tetap berkata ya pada setiap nanti yang kau ucapkan.

Kau pernah bertanya, hampir sambil bercanda,
“Kalau aku menyakitimu, kau akan pergi?”

Aku tersenyum waktu itu.
Aku selalu tersenyum ketika seharusnya aku pergi.

“Tidak,” jawabku.
Dan kau mengangguk, seolah jawaban itu adalah sesuatu yang memang kau butuhkan agar bisa hidup lebih ringan.

Sejak hari itu, aku mulai menghilang sedikit demi sedikit—bukan dari hidupmu, tapi dari hidupku sendiri.

Aku menunda mimpiku karena kau belum siap berlari.
Aku menurunkan suaraku karena kau tak suka perempuan yang terlalu keras.
Aku mengecilkan diriku agar pas di duniamu yang sempit.

Dan setiap malam, ketika kau tertidur dengan punggung menghadapku, aku menulis puisi-puisi kecil di kepalaku. Puisi yang tak pernah sampai padamu.


Aku mencintaimu dengan cara yang tidak diajarkan siapa pun,

menyerah sebelum diminta,

meminta maaf sebelum bersalah,

dan tinggal, bahkan ketika hatiku sudah pulang lebih dulu.


Kau berubah bukan seperti badai, tapi seperti jam.
Pelan. Teratur. Tak terasa.
Sampai suatu hari aku sadar: waktu bersamamu tak lagi menunjuk ke arah yang sama.

Percakapan kita mulai retak.
Bukan karena pertengkaran, tapi karena jarak yang kau sebut “lelah”.

“Aku capek,” katamu.
“Dengan siapa?” tanyaku.
“Dengan segalanya,” jawabmu, tanpa menatap.

Aku ingin bertanya: Apakah aku termasuk segalanya itu?
Tapi aku menelannya.
Aku selalu pandai menelan hal-hal yang menyakitiku.

Malam-malam menjadi panjang.
Kau pulang membawa tubuh, tapi tidak hatimu.
Dan aku belajar mengenali bau pengkhianatan—bukan dari aroma, tapi dari cara kau memeluk tanpa benar-benar memeluk.

Aku masih bertahan.
Karena aku percaya pengorbanan adalah bahasa cinta tertinggi.
Aku lupa: tidak semua orang fasih membacanya.


Aku menjadi rumah,
kau menjadikanku persinggahan.
Aku membersihkan luka-lukamu,
kau menciptakan luka baru untukku rawat.


Hari itu, pengkhianatan tidak datang dengan teriakan.
Ia datang sebagai pesan yang tak sengaja kubaca.
Nama yang asing, tapi nadanya akrab.
Kalimat-kalimat yang terlalu hidup untuk sekadar basa-basi.

Tanganku dingin.
Dadaku kosong.
Dan dunia seakan menyusut hanya sebesar layar ponsel itu.

Ketika aku menatapmu, kau tahu.
Matamu menghindar.
Dan aku sadar: kebenaran selalu tahu kapan harus menyerah.

“Sejak kapan?” tanyaku.
Suaraku bukan suara orang marah—lebih seperti suara orang yang kehilangan arah.

Kau diam lama.
Diam yang berisik.
Diam yang penuh pengakuan.

“Tidak lama,” akhirnya kau berkata.
Dan aku tertawa kecil.

“Tidak lama menurut siapa?”
Menurut hatimu yang tak lagi tinggal di sini?

Aku mengorbankan waktu,
kau mengorbankan kejujuran.
Kita sama-sama kehilangan,
tapi hanya satu yang berdarah.

Kau berkata kau tidak bermaksud menyakitiku.
Kalimat yang selalu diucapkan oleh orang yang paling tahu di mana harus menusuk.

“Aku hanya ingin merasa hidup,” katamu.
Dan aku ingin bertanya: Selama ini aku apa?

Tapi aku lelah bertanya.
Aku lelah menjadi tempatmu pulang sementara aku sendiri tak pernah benar-benar tiba.

Aku duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.
Tubuhku masih utuh, tapi aku tahu: ada sesuatu yang mati.

Aku mencintaimu sampai lupa caranya dicintai,
sampai pengkhianatan terasa seperti logika,
dan kesetiaan terasa seperti kebodohan yang rapi.

“Kau akan pergi?” tanyaku.
Pertanyaan itu bukan permohonan, hanya konfirmasi.

“Ya,” jawabmu.
Singkat. Bersih. Tanpa beban.

Dan saat itu aku mengerti:
pengorbananku tidak pernah kau anggap cinta.
Bagimu, ia hanya kenyamanan.

Hari-hari setelah kepergianmu terasa seperti puisi yang dipatahkan di tengah bait.
Tak ada penutup.
Tak ada rima.

Aku bangun tanpa tujuan.
Tidur tanpa mimpi.
Dan belajar berjalan di antara kenangan seperti ranjau.

Namun di situlah aku mulai menulis—bukan untuk mengingatmu, tapi untuk menyelamatkan diriku sendiri.


Aku tidak gagal mencintaimu,

aku hanya terlalu percaya bahwa semua orang menghargai luka.

Ternyata tidak.

Sebagian orang menggunakannya sebagai pintu keluar.


Suatu hari, pesanmu datang.
Pendek.
Hampir sopan.

“Aku menyesal.”

Aku membaca kalimat itu lama.
Sangat lama.
Lalu aku menutup mataku.

Penyesalanmu datang terlambat.
Aku sudah menjemput diriku sendiri dari reruntuhan.

Aku menghapus pesan itu.
Bukan sebagai hukuman,
melainkan sebagai pernyataan: aku memilih hidup.

Aku melepaskanmu bukan karena cinta habis,
tetapi karena aku akhirnya cukup mencintai diriku.
Dan itu pengorbanan terakhir yang tidak akan kusesali.


Kini, jika kau bertanya siapa aku,
aku bukan lagi perempuan yang rela hancur demi bertahan.

Aku adalah seseorang
yang pernah mencintai sampai kehilangan diri—
dan memilih untuk tidak melakukannya lagi.


Senin, 20 April 2026

Cinta dalam Diam, Kelam dalam Sunyi Malam

 

Cinta dalam Diam, Kelam dalam Sunyi Malam
https://www.fakta.id/kata-kata-malam-yang-sunyi-dan-sepi-sendiri/


Malam selalu punya cara untuk membuat manusia jujur.
Dan malam itu—di bawah lampu jalan yang berkedip seperti napas orang sekarat—aku akhirnya tahu bahwa cinta dalam diam bisa membunuh lebih kejam daripada kebencian yang berteriak.

Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dengan lantang.
Cinta itu kusembunyikan di balik kebiasaan kecil: menunggumu pulang, memastikan pesanmu terbaca, pura-pura tidak cemburu saat kau menyebut namanya.

Kau selalu berkata,
“Diam itu aman, aku.”

Aku mengangguk.
Padahal diam adalah liang kubur yang pelan-pelan kugali sendiri.

Kau milik dia.
Dan aku—hanya bayangan yang kau ajak bicara saat malam terlalu sunyi untuk ditanggung sendirian.


“Kau tidak lelah mencintai dalam diam?” tanyamu suatu malam.

Aku tertawa kecil.
“Yang lelah itu bukan mencinta, tapi berharap.”

Kau menunduk. Di antara kita, hujan jatuh seperti kalimat yang tak pernah selesai.

Lalu kau berbisik, dan suaramu pecah seperti kaca:


“Jika aku menyebut namamu,

akankah malam menghapus dosaku?”


Aku membalas dengan puisi yang kugenggam terlalu lama di dada:


“Aku tidak ingin menjadi doa,

karena doa selalu meminta.

Aku hanya ingin menjadi diam

yang kau pilih saat semua kata gagal.”


Kau menangis.
Dan di situlah aku tahu—cinta segitiga ini telah berubah menjadi simpul yang tak bisa dilepaskan tanpa darah.


Dia muncul di hidup kita seperti badai yang tak diundang.
Aku menyebutnya dia, karena menyebut namanya terlalu menyakitkan.

Dia kekasihmu.
Resmi. Dikenal semua orang. Dicintai terang-terangan.

Sedangkan aku—
aku hanya ada di malam hari.
Di pesan singkat yang kau hapus.
Di pertemuan singkat yang selalu kau sebut “kebetulan”.

“Aku mencintainya,” katamu suatu malam.
“Tapi aku juga… tidak bisa melepaskanmu.”

Kalimat itu bukan pengakuan.
Itu vonis.


“Cinta yang dibagi tiga

selalu mencari korban,”

bisik batinku.


Malam semakin gelap ketika kau meminta bertemu.
Sendirian.
Di rumah tua di ujung kota—tempat kenangan dan debu bersekongkol.

“Kau harus memilih,” kataku akhirnya.

Kau terdiam lama.
Lalu kau berkata pelan, terlalu pelan untuk disebut keputusan:

“Aku ingin hidup normal… tapi aku tak sanggup kehilanganmu.”

Aku tertawa. Kali ini pahit.


“Kau ingin dua jantung berdetak untukmu,

tanpa bertanya siapa yang akan berhenti lebih dulu.”

Langkah kaki terdengar.
Berat. Marah. Mendekat.

Dia.

Aku tidak tahu sejak kapan dia mengikuti.
Atau sejak kapan cemburu belajar memegang pisau.

“Aku sudah curiga,” katanya sambil menatapmu.
“Dan sekarang aku tahu.”

Kau gemetar.
Aku berdiri di antara kalian, bodoh, seolah tubuhku bisa menjadi dinding bagi luka yang akan datang.

“Kau berbohong padaku,” bentaknya padamu.
“Dan kau—” matanya beralih padaku, “—berani mencuri apa yang bukan milikmu.”

Aku ingin menjawab.
Tapi malam sudah terlalu penuh untuk kata-kata.


Pisau itu berkilat seperti bulan palsu.
Dan sebelum aku sadar, darah mengalir seperti pengakuan yang terlambat.

Dia menikamku.
Sekali.
Di dada.

Anehnya, aku tidak langsung jatuh.
Aku hanya menatapmu.

Kau menjerit.


“Jika ini akhir,

biarlah aku mati sebagai diam

yang pernah kau butuhkan,” 

ucapku, nyaris tak bersuara.

Dia panik.
Kau menangis.
Dan dunia runtuh dalam hitungan detik.

Namun tragedi belum selesai.

Saat dia berbalik hendak lari,
kau mengambil pisau itu.

Aku melihat matamu.
Bukan mata perempuan yang mencinta.
Tapi mata manusia yang lelah menjadi pilihan kedua.

“Kau menghancurkan segalanya,” katamu pada dia.
Dan kau menikamnya.

Sekali.
Lalu sekali lagi.

Darah menyatu di lantai—tak ada lagi milik siapa.


Aku jatuh.
Napas mulai tercekat.

Kau memelukku, tubuhmu gemetar.

“Aku memilihmu,” isakmu.
“Terlambat, ya?”

Aku tersenyum lemah.


“Cinta yang datang terlambat

tetap cinta,

tapi tak pernah sempat hidup.”

Sirene terdengar jauh.
Lampu merah-biru menari di dinding seperti pesta yang tidak kami undang.

“Katakan sesuatu,” pintamu.

Aku mengumpulkan sisa suara.

“Aku tidak menyesal mencintaimu…
Aku hanya menyesal… melakukannya dalam diam terlalu lama.”

Air matamu jatuh ke wajahku.


“Jika aku boleh mengulang malam,

aku akan berteriak mencintaimu,

meski dunia runtuh lebih cepat.”

Aku ingin menjawab.
Tapi gelap lebih cepat dari kata.


Konon, cinta dalam diam itu suci.
Tapi malam itu mengajarkanku satu hal:

Cinta yang tidak diperjuangkan terang-terangan
akan mencari jalan keluar—
dan kadang, jalan itu bernama darah.

Dan kau…
akan selamanya hidup dengan sunyi
yang pernah kupeluk
dalam diam.


Jumat, 10 April 2026

Nama yang Masih Bergema dalam Doa

Nama yang Masih Bergema dalam Doa
Nama yang Masih Bergema dalam Doa
https://id.pinterest.com/aisyahhh3232/kekasih-bayangan/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling kutakuti: diam-diam, tertib, dan penuh kehati-hatian. Tidak ada pelukan sebelum janji, tidak ada sentuhan selain doa yang kusebutkan pelan setiap selesai salat. Aku menyebut namamu seperti orang yang takut bersuara terlalu keras, khawatir Tuhan mengira aku meminta terlalu banyak.

Namun di sela doa itu, selalu ada bayangan yang menyusup. Nama lain. Wajah yang seharusnya sudah pergi, tetapi masih sering mengetuk ingatan tanpa permisi.

Kamulah cinta yang ingin kujaga kesuciannya. Tapi mantanku adalah bayangan yang tak mau mati.

Malam itu, kita duduk berhadapan di teras rumahmu. Lampu jalan redup, dan angin membawa bau tanah basah. Kamu tidak langsung bicara. Kamu selalu begitu—menunggu sampai hatimu siap melukai atau terluka.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” katamu akhirnya.

Aku mengangguk, meski jantungku mulai berlari.

“Kamu pernah benar-benar selesai dengan masa lalumu?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dada.

“Aku sudah berusaha,” jawabku.

Kamu tersenyum tipis. “Aku tidak bertanya apakah kamu berusaha. Aku bertanya apakah kamu sudah selesai.”

Aku menunduk. Diamku adalah jawabannya.

Kamu menarik napas panjang, lalu berkata lirih, seolah membaca puisi untuk dirimu sendiri:

“Aku tidak takut menjadi yang terakhir,
aku hanya takut mencintai
sementara hatimu masih
menoleh ke belakang.”

Kata-katamu menyesakkan. Aku ingin menyangkal, tapi kebohongan akan mencemari cinta yang ingin kujaga tetap suci.

“Aku tidak mencintainya lagi,” kataku cepat. “Tapi kenangannya… masih sering datang.”

Kamu menatapku lama. “Kenangan tidak datang tanpa diundang.”

Kalimat itu menusuk.

Mantan kekasihku adalah luka yang kututup rapi, bukan sembuh yang kuikhlaskan. Kami berpisah dengan cara yang salah—penuh emosi, penuh dosa, penuh janji yang tidak ditepati. Sejak itu aku belajar menata hidup, belajar mencintai Tuhan sebelum manusia, dan di sanalah aku bertemu kamu.

Kamu hadir seperti peneduh. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Kamu mencintaiku dengan cara yang tenang, seolah cinta adalah amanah, bukan nafsu.

Namun justru karena itu, ketegangan tumbuh.

Aku takut kehilanganmu. Kamu takut hanya menjadi pelarian.

Hari-hari setelah percakapan itu terasa berat. Kamu tidak menjauh, tapi tidak juga mendekat. Setiap pesanmu terasa formal, seolah kamu sedang menimbang apakah aku pantas untuk dilanjutkan.

Aku mencoba lebih khusyuk berdoa. Aku mencoba memotong ingatan yang tumbuh liar. Tapi bayangan mantanku seperti bayanganku sendiri—ke mana pun aku pergi, ia ikut.

Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di antara dua pintu. Satu bertuliskan namamu. Satu lagi bertuliskan masa lalu. Aku tahu pintu mana yang ingin kubuka, tapi kakiku gemetar.

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Paginya, pesan darimu masuk.

“Kita perlu bicara.”

Kami bertemu di sebuah masjid kecil selepas isya. Tempat yang seharusnya paling aman, justru menjadi arena paling jujur.

“Kamu kelihatan lelah,” katamu.

“Aku sedang berperang,” jawabku.

“Dengan siapa?”

“Dengan diriku sendiri.”

Kamu terdiam, lalu duduk di sampingku, menjaga jarak yang sopan.

“Aku mencintaimu,” katamu akhirnya. “Tapi aku tidak ingin cintaku berdiri di atas bayangan orang lain.”

Aku menggenggam sajadahku kuat-kuat.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku, hampir menangis.

Kamu memejamkan mata, lalu berkata dengan suara gemetar:

“Jika aku adalah doa yang kau pinta,
jangan sisipkan nama lain
di sela aminmu.
Tuhan mendengar segalanya,
termasuk keraguan.”

Air mataku jatuh. Aku merasa kecil, rapuh, dan bersalah.

“Aku ingin mencintaimu dengan bersih,” kataku. “Tapi bayangan itu datang tanpa izin.”

Kamu menatapku. “Tidak ada bayangan yang lebih kuat dari cahaya. Tapi kamu harus memilih ke mana kamu menghadap.”

Ketegangan mencapai puncaknya beberapa hari kemudian.

Mantan kekasihku menghubungiku. Pesan singkat. Netral. Tapi cukup untuk mengoyak.

“Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.”

Pesan itu seperti membuka pintu yang sudah hampir terkunci.

Aku tidak membalas. Tapi aku gemetar. Dan yang paling menyakitkan: aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut.

Akhirnya, aku datang juga.

“Aku dihubungi olehnya,” kataku jujur.

Kamu terdiam lama. Wajahmu tenang, tapi matamu lelah.

“Dan kamu datang ke sini,” katamu pelan. “Itu berarti sesuatu.”

“Aku memilih jujur,” kataku. “Karena aku tidak ingin cinta ini tercemar.”

Kamu tersenyum kecil, pahit tapi hangat.

“Cinta suci bukan tentang
tidak pernah tergoda,
tapi tentang keberanian
mengaku dan memilih.”

Aku menatapmu dengan mata basah. “Aku memilihmu.”

Kamu berdiri. Mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tercekat.

“Aku tidak akan memintamu melupakan,” katamu. “Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang, bukan tempatmu bersembunyi.”

Aku mengangguk.

Malam itu tidak berakhir dengan janji manis. Tidak ada pelukan. Tapi ada sesuatu yang lebih berat dan lebih jujur: komitmen untuk berjalan pelan, dengan cahaya di depan, bukan bayangan di belakang.

Saat kita berpisah, kamu berkata:

“Jika suatu hari bayangan itu datang lagi,
jangan lari dariku.
Pegang tanganku.
Kita hadapi bersama,
atau kita lepaskan dengan ikhlas.”

Aku pulang dengan langkah gemetar, tapi hati yang lebih tenang.

Cinta suci bukanlah cinta tanpa masa lalu. Ia adalah cinta yang berani mengakui luka, memilih kesembuhan, dan menolak kembali ke kegelapan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa tanpa menyebut nama selain namamu.

Bayangan itu masih ada. Tapi aku tidak lagi berjalan sendirian.


Kamis, 19 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

 

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan


Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama.

Namamu.

Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai.

Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di teras rumah ustaz, sejak aku mengenalmu bukan sebagai “dia”, tapi sebagai “rumah”.

Namun malam ini, ada orang lain di antara kita.

Namanya kusebut dalam pikiranku dengan enggan: dia.

Dia duduk di sampingmu. Mukanya teduh, sorot matanya tenang, seperti seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia menunduk khusyuk, seakan tak ada dunia selain Tuhan. Dan mungkin itulah sebabnya kamu memilihnya—karena ia mampu memberi ketenangan yang tak pernah bisa kuberikan.

Imam mulai mengalunkan ayat-ayat panjang. Suaranya bergetar, memecah keheningan, menusuk tepat ke dada. Aku berdiri, mengikuti gerakan shalat, tapi pikiranku tertinggal. Setiap ayat terasa seperti pertanyaan yang dilemparkan Tuhan langsung ke arahku: siapa yang sebenarnya kamu cintai—Aku, atau bayangan yang kamu peluk dalam doa?

Aku menunduk lebih dalam saat rukuk. Air mataku jatuh ke sajadah. Aku malu pada Tuhan, tapi aku lebih takut kehilanganmu.

Aku dan kamu tak pernah benar-benar bersama, tapi juga tak pernah benar-benar berpisah. Kita terjebak di antara kemungkinan dan penundaan. Kau pernah berkata padaku, “Aku menunggumu siap.” Dan aku—bodohnya—mengira waktu akan selalu berpihak.

Sampai dia datang.

Dia datang dengan keyakinan. Dengan doa-doa yang rapi. Dengan masa depan yang bisa kau sebutkan tanpa ragu. Sedangkan aku? Aku hanya datang membawa cinta yang besar, tapi tak tahu harus diletakkan di mana.

Di antara rakaat panjang itu, ingatanku berkelana. Aku teringat malam-malam kita dulu—sahur sederhana, gelas teh hangat, dan obrolan pelan tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk kita. Kamu pernah bersandar di bahuku dan berkata, “Kalau suatu hari aku harus memilih, aku ingin memilih yang membuatku lebih dekat pada Tuhan.”

Kalimat itu kini menghantuiku.

Sujudku terasa lama. Keningku menekan sajadah, dan di situlah aku kalah. Aku tak lagi memohon apa pun selain satu hal: jika aku harus kehilanganmu, biarlah kehilanganku menjadi ibadah.

“Aku menyebut namamu setiap saat,” bisikku, entah pada siapa. Pada Tuhan, atau pada bayanganmu yang tak mau pergi dari pikiranku.

Saat imam mengangkat tangan untuk doa qunut, masjid seolah menahan napas. Tangis pecah di mana-mana. Aku mengangkat tangan, jemariku gemetar. Doaku kacau. Kata-katanya saling bertabrakan.

“Ya Allah… jika dia bukan untukku, maka jauhkan rinduku. Jika cintaku menghalangiku dari-Mu, maka hancurkan ia dengan cara-Mu. Tapi jika Engkau izinkan… jika Engkau izinkan aku menyebut namanya tanpa rasa bersalah… maka kuatkan aku.”

Aku melirik ke depan. Kamu masih di sana. Diam. Khusyuk. Dan dia—dia masih di sisimu.

Usai shalat, jamaah tak langsung beranjak. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berzikir, ada yang terisak dalam diam. Aku tetap duduk. Tak berani bangkit. Aku takut, jika aku berdiri, aku akan melihatmu berjalan pergi—bersamanya.

Dan ketakutanku terbukti.

Kamu berdiri lebih dulu. Dia mengikutimu. Kalian berjalan berdampingan menuju pintu masjid. Tak ada sentuhan, tapi jarak di antara kalian lebih dekat daripada jarak antara aku dan takdir.

Hatiku runtuh pelan-pelan.

Aku ingin memanggil namamu. Ingin berkata, “Lihat aku. Aku masih di sini.” Tapi lidahku kelu. Di malam yang paling mustajab ini, aku justru kehilangan keberanian.

Langit di luar masjid cerah. Bintang-bintang bertaburan, seolah ikut mengintip doa-doa manusia. Aku melangkah keluar belakangan. Angin menyapu wajahku, dingin, menyadarkan.

Kamu berhenti di pelataran. Entah mengapa, kamu menoleh.

Pandangan kita bertemu.

Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.

Aku tersenyum—senyum paling ikhlas yang bisa kupaksakan. Kamu membalasnya, tipis. Lalu kamu pergi. Bersamanya.

Aku berdiri sendiri. Di malam Lailatul Qadar. Di antara ribuan doa yang naik ke langit, cintaku tertinggal di bumi.

Namun anehnya, di balik perih itu, ada sesuatu yang lapang. Seperti luka yang akhirnya diakui. Aku menengadah ke langit, menarik napas panjang.

“Aku menyebut namamu setiap saat,” kataku sekali lagi, kali ini tanpa tangis. “Dan malam ini, aku belajar menyebut nama-Mu lebih dulu, ya Allah.”

Aku berjalan pulang dengan langkah pelan. Cintaku tak terjawab, tapi doaku menemukan arah. Dan mungkin—hanya mungkin—itulah makna sebenar-benarnya dari malam yang lebih baik dari seribu bulan: kehilangan yang mendewasakan, dan cinta yang dikembalikan pada Pemiliknya.


Senin, 02 Maret 2026

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir

 

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir


Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram.

Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku.

Pesan itu datang lagi.

“MALAM INI ATAU KAMI DATANG.”

Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit.

“Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?”

Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan.

Tujuh hari kemudian, dua juta berubah menjadi enam juta. Lalu delapan. Lalu dua belas.

Dan yang paling menyakitkan bukan bunganya—melainkan suaranya.

Suaranya yang pertama kali kudengar lewat telepon, berat, tenang, seolah ia tahu aku sudah kalah bahkan sebelum berbicara.

“Kamu masih punya waktu,” katanya dulu. “Jangan bikin kami repot.”

Malam ini, waktu itu habis.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.47 ketika ketukan itu datang.

Tok. Tok. Tok.

Pelan. Teratur. Sabar.

Aku menelan ludah, berdiri, dan berjalan ke pintu seperti narapidana menuju tiang gantungan. Kunci pintu berderit saat kubuka sedikit.

Dia berdiri di sana.

Jaket hitam, basah oleh hujan. Rambutnya klimis, wajahnya datar, matanya tajam seperti pisau dapur yang terlalu sering diasah. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum orang yang tahu dirinya berkuasa.

“Kamu lama,” katanya.

“Aku… aku belum punya uang,” jawabku lirih.

Dia tertawa kecil. “Aku tahu.”

Dia mendorong pintu dan masuk tanpa izin. Bau rokok dan hujan menyatu, mengisi ruang sempit itu. Dia melihat sekeliling, seolah menilai harga barang-barangku.

“Televisi rusak, kulkas kosong,” katanya. “Hidupmu memang payah, ya?”

Aku mengepalkan tangan. “Aku sudah berusaha.”

“Usaha?” Dia mendekat. “Usaha itu bayar. Bukan cerita sedih.”

Aku menatap lantai. “Beri aku waktu.”

“Waktu sudah kami beri. Sekarang kami ambil.”

Dia duduk di kursi, menyilangkan kaki, lalu menepuk-nepuk meja.

“Kamu tahu apa yang paling aku benci?” katanya.

Aku menggeleng.

“Orang yang berutang tapi masih berharap dikasihani.”

Dadaku sesak. “Aku cuma pinjam. Aku tidak berniat lari.”

“Tidak ada niat baik dalam utang,” katanya dingin. “Hanya kewajiban.”

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, menerangi ruangan sesaat. Dalam kilatan cahaya itu, aku melihat sesuatu di pinggangnya—tonjolan keras di balik jaket.

Aku mundur selangkah.

“Kamu takut?” tanyanya, tersenyum lebih lebar.

“Sedikit,” jawabku jujur.

“Itu bagus. Orang yang takut biasanya lebih patuh.”

Dia berdiri dan mendekat hingga jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa mencium napasnya.

“Kami bisa lakukan banyak hal,” katanya pelan. “Telepon kontakmu. Datang ke tempat kerjamu. Datang ke rumah ibumu.”

Nama ibuku disebut seperti ancaman, bukan sekadar kata.

“Jangan libatkan dia,” kataku cepat.

“Bayar.”

“Aku tidak punya apa-apa lagi!”

Dia menamparku.

Bukan keras, tapi cukup untuk membuat kepalaku terhuyung. Dunia berputar sesaat.

“Jangan berteriak,” katanya. “Tetangga tidak suka drama.”

Air mataku jatuh. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis seperti ini—bukan karena sakit, tapi karena malu.

“Aku menyesal,” kataku. “Setiap hari.”

“Penyesalan tidak bernilai,” jawabnya. “Uang yang bernilai.”

Dia berjalan ke dapur kecilku, membuka laci. Tangannya berhenti di pisau dapur—pisau tua dengan gagang kayu retak.

Aku menahan napas.

Dia mengangkat pisau itu, menimbangnya.

“Ini tajam?” tanyanya sambil menoleh.

“Cukup,” jawabku.

Dia tersenyum. “Bagus.”

Jantungku berdegup liar. “Apa yang akan kamu lakukan?”

“Memberi motivasi.”

Dia melangkah mendekat, pisau itu berkilat di bawah lampu neon yang berkedip. Tanganku refleks meraih gagang sapu di sudut ruangan—satu-satunya benda panjang yang bisa kujangkau.

“Kamu mau melawan?” tanyanya, tertawa. “Kamu lucu.”

“Aku capek,” kataku. “Aku benar-benar capek.”

Dia berhenti tepat di depanku. “Capek itu urusanmu. Utang itu urusanku.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku pecah.

Bukan marah. Bukan benci. Tapi keputusasaan yang begitu padat hingga berubah menjadi keberanian palsu.

“Aku tidak akan bayar,” kataku.

Dia terdiam. Senyumnya lenyap.

“Apa katamu?”

“Aku bilang… aku tidak akan bayar.”

Petir menyambar lagi. Dalam cahaya putih itu, aku melihat matanya menyipit.

“Kamu memilih jalan yang salah,” katanya pelan.

Dia mengangkat pisau.

Aku mengayunkan sapu itu sekuat tenaga.

Sapu itu mengenai pergelangan tangannya. Pisau terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Kami sama-sama terkejut—lalu bergerak bersamaan.

Dia menyerbu. Aku mundur, terpeleset oleh air hujan yang menetes dari jaketnya ke lantai. Kami jatuh. Tubuhnya menindihku, tangannya mencekik leherku.

“Nakal,” desisnya.

Penglihatanku menghitam. Aku meraba lantai, mencari apa saja. Jari-jariku menyentuh gagang kayu yang kukenal.

Pisau.

Dengan sisa tenaga, aku menghujamkannya ke tubuhnya.

Sekali.

Dia mengerang, tapi tidak berhenti.

Dua kali.

Tiga kali.

Tangannya melemah. Cekikannya terlepas. Tubuhnya roboh ke samping, berat, hangat, basah.

Aku terengah-engah, menatap langit-langit, mendengar hujan dan detak jantungku sendiri. Bau besi memenuhi udara.

“Aku… aku tidak mau,” bisikku, meski tahu dia tak lagi mendengar.

Aku bangkit perlahan. Dia terbaring diam, mata terbuka, menatap kosong ke arah lampu yang berkedip.

Pisau itu masih di tanganku. Tanganku gemetar hebat.

Di luar, hujan terus turun, seolah ingin mencuci malam dari dosa-dosa manusia.

Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, kini ada tubuh tak bernyawa beberapa langkah dariku.

Ponselku berbunyi lagi.

Pesan baru.

“SUDAH SELESAI?”

Aku menatap layar itu lama sekali. Lalu aku tertawa—tawa pendek, pecah, nyaris seperti tangisan.

“Sudah,” kataku pada ruangan kosong.

Penyesalan itu datang terlambat. Tidak ada angka yang bisa menghapus darah di lantai. Tidak ada bunga yang bisa menumbuhkan kembali hidup yang hilang—baik hidupnya, maupun hidupku.

Malam itu, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan aplikasi mana pun:

Ada utang yang bisa dibayar dengan uang.
Dan ada utang yang hanya bisa dibayar dengan jiwa.

Dan penyesalan—ia tidak pernah mengenal kata lunas.

Sabtu, 28 Februari 2026

Di Antara Takbir dan Luka

 

Di Antara Takbir dan Luka
Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka


Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras.
Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah.

Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata.

Takbir pertama dikumandangkan.
Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar.

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu.

Aku belajar mencintaimu dengan cara paling aman:
tidak mendekat, tidak berharap, tidak memiliki.

Namun cinta, bahkan yang paling suci, tetaplah api. Ia hanya memilih tempat bersembunyi.

Setiap rakaat terasa panjang. Setiap ayat seolah menyebut namamu tanpa suara. Aku berusaha fokus pada imam, tapi pikiranku berkeliaran—membayangkan wajahmu di balik mukena itu. Apakah kamu menunduk? Apakah matamu terpejam khusyuk? Atau diam-diam kamu juga merasakan sesuatu yang tak berani diakui?


Aku jatuh cinta pada caramu diam,

pada punggungmu yang tegak dalam shalat,

pada jarak yang tak bisa kupendekkan,

namun selalu bisa kurindukan.


Usai tarawih, kita tidak pernah berjalan bersama. Tidak pernah berbincang. Bahkan tidak pernah saling menyapa. Tapi setiap kali kamu melangkah keluar masjid, aku selalu menunggu beberapa detik—cukup lama untuk memastikan kamu sudah aman, cukup singkat agar tak terlihat mencurigakan.

Malam-malam Ramadhan berjalan seperti itu. Sunyi. Indah. Menyiksa.

Sampai suatu malam, kamu terlambat datang.

Aku langsung tahu. Ada kegelisahan yang menjalar tanpa alasan. Saf perempuan hampir penuh saat kamu akhirnya masuk. Langkahmu tergesa. Mukena abu-abu itu sedikit kusut. Dan saat kamu berdiri, aku melihat bahumu bergetar—seperti seseorang yang menahan tangis.

Takbir dikumandangkan.
Dan aku kehilangan fokus sepenuhnya.

Doaku pecah. Bukan lagi tentang ampunan, tapi tentang kamu. Tentang ingin tahu apa yang terjadi. Tentang ingin memastikan kamu baik-baik saja. Perasaan itu membuatku merasa bersalah—seolah aku telah mencuri kekhusyukan untuk kepentingan hatiku sendiri.

Usai tarawih, kamu tidak langsung pulang. Kamu duduk di sudut masjid, menunduk lama. Aku ragu. Antara mendekat atau tetap menjadi bayangan yang setia.

Akhirnya aku memilih duduk tak jauh darimu. Cukup dekat untuk mendengar helaan napasmu. Cukup jauh untuk tidak melanggar batas.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku pelan.

Kamu terkejut. Menoleh. Untuk pertama kalinya, mata kita bertemu.

Dan dunia runtuh dengan cara paling halus.

“Aku…” suaramu bergetar. “Aku tidak tahu harus bercerita pada siapa.”

Aku menelan ludah. “Jika aku bukan siapa-siapa, kamu tidak harus menjawab.”

Kamu tersenyum tipis. Senyum yang patah.

“Kadang,” katamu, “orang asing justru lebih aman.”

Malam itu, kamu bercerita. Tentang keluarga yang menjodohkanmu. Tentang pernikahan yang akan berlangsung setelah Ramadhan. Tentang hatimu yang belum siap, tapi juga tidak cukup berani untuk menolak.

Aku mendengarkan dalam diam. Karena mencintaimu berarti siap kehilangan bahkan sebelum memiliki.


Jika cinta adalah ujian,

maka aku lulus dalam menahan diri,

namun gagal dalam menyembunyikan rasa,

yang terus tumbuh di setiap doa.


Sejak malam itu, jarak di antara kita berubah bentuk. Tidak menyempit, tapi menjadi lebih berat. Setiap tarawih, aku tahu: waktuku bersamamu terbatas. Setiap rakaat adalah hitungan mundur.

Kita mulai berbincang singkat. Selalu tentang hal ringan. Tentang ayat yang menyentuh. Tentang imam yang suaranya menenangkan. Tidak pernah tentang cinta—karena kita sama-sama tahu, cinta itu ada, dan justru karena itu tak boleh disebut.

“Apa kamu percaya,” tanyamu suatu malam, “bahwa mencintai juga bisa jadi ibadah?”

Aku mengangguk. “Jika tidak melukai.”

“Kita melukai diri sendiri,” katamu lirih.

Dan aku tidak bisa membantah.

Malam ke dua puluh satu Ramadhan, hujan turun deras. Masjid lebih sepi. Kita tarawih dengan saf renggang. Udara dingin. Hatiku panas.

Usai shalat, kamu berdiri lama di teras masjid. Aku mendekat.

“Ini tarawih terakhirku di sini,” katamu.

Aku terdiam.

“Aku akan dibawa keluargaku ke luar kota. Persiapan pernikahan.”

Ada detik panjang yang hancur di antara kita.

“Aku bahagia untukmu,” kataku—kalimat paling munafik yang pernah keluar dari mulutku.

Kamu menatapku. Matamu basah.

“Maaf,” bisikmu. “Aku mencintaimu… tapi aku memilih taat.”

Kata taat menamparku lebih keras dari penolakan.


Aku kalah bukan oleh lelaki lain,

melainkan oleh takdir yang lebih kau takuti,

dan aku mencintaimu justru karena itu.


Keesokan malamnya, aku tetap datang tarawih. Sendirian. Saf kosong di tempatmu berdiri terasa seperti luka yang menganga.

Dan di sanalah kabar itu datang.

Kecelakaan.
Perjalanan malam.
Kamu tidak selamat.

Aku tidak ingat bagaimana aku duduk. Bagaimana aku menangis. Yang aku ingat hanya satu: tarawih malam itu terputus di rakaat ketiga karena tubuhku gemetar hebat.

Di pemakamanmu, aku berdiri jauh. Tidak ada yang tahu siapa aku bagimu. Tidak ada yang tahu bahwa di balik nisan itu terkubur cinta paling suci yang tidak pernah memiliki kesempatan menjadi dosa.

Aku berdoa.
Dengan suara.
Tanpa menyebut namamu—karena Tuhan sudah lebih dulu mengenalnya.

Kini setiap Ramadhan, setiap tarawih, aku berdiri di saf yang sama. Menatap ruang kosong di seberang. Dan aku tahu, tidak semua cinta diciptakan untuk hidup lama.

Sebagian hanya datang
untuk mengajarkan
cara melepaskan
tanpa pernah benar-benar memiliki.

Aku mencintaimu.
Dalam diam.
Dan akan tetap begitu—
sampai doa pun tidak lagi sanggup mengucapkannya.

Rabu, 25 Februari 2026

Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu

Ilustrasi foto Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu di ambil dari
media AI Untuk mengilustrasikan cerita pendek


Aku mengenalmu pertama kali bukan sebagai kekasih,
melainkan sebagai suara yang berdiri tegak di atas mimbar kayu,
menantang malam dengan pidato tentang perubahan.
Lampu-lampu aula memantulkan bayangmu—tegas, rapi, penuh keyakinan.
Dan entah mengapa, sejak saat itu, aku tahu:
politik akan mencintaimu lebih kejam daripada aku.

Kamu turun dari panggung dengan senyum yang dipelihara baik-baik.
Aku menyambutmu dengan tepuk tangan paling jujur,
sementara di sudut ruangan, dia berdiri—
perempuan dengan jas gelap, mata tajam, dan senyum yang tahu caranya menang.
Namanya sering disebut dalam rapat-rapat tertutup,
bisikannya lebih berbahaya dari teriakan demonstran.

“Dia cuma rekan,” katamu suatu malam.
Aku mengangguk, meski hatiku tidak.

“Jika cinta adalah pemilu,
aku kalah sebelum penghitungan suara,
karena namamu sudah lebih dulu
dipilih oleh ambisi.”

Kita sering bertemu diam-diam.
Bukan karena hubungan kita terlarang,
melainkan karena politik tak pernah suka pada perasaan.
Kamu bilang, jika aku muncul terlalu sering di sisimu,
lawan-lawanmu akan menjadikanku senjata.
Aku mengerti—atau berpura-pura mengerti.

Di balik pintu kantor partai,
aku mendengar namamu dibicarakan seperti barang dagangan.
Mereka menyusun masa depanmu dengan peta kekuasaan,
dan di setiap garis, aku tak pernah ada.

“Aku mencintaimu,” kataku suatu malam,
saat hujan mengetuk jendela seperti saksi yang tak diundang.

Kamu diam terlalu lama.
Diam yang lebih menyakitkan daripada penolakan.

“Aku juga,” jawabmu akhirnya,
“tapi aku sedang berjuang.”

Aku tersenyum,
karena aku tahu, dalam politik,
kata berjuang sering berarti mengorbankan seseorang.

“Jika aku harus gugur,
biarlah bukan oleh kebencian,
melainkan oleh keyakinanmu
bahwa aku memang tak sepenting jabatan.”

Dia mulai muncul lebih sering.
Di baliho, di konferensi pers, di foto-foto yang kau unggah tanpa keterangan.
Tangannya selalu terlalu dekat dengan lenganmu,
senyumnya terlalu yakin.

“Aku hanya strategi,” katanya suatu hari padaku,
saat kami bertemu tanpa sengaja di lorong gedung dewan.
“Kamu harus mengerti.”

Aku tertawa kecil.
Strategi memang selalu meminta pengertian dari yang tersakiti.

Sejak itu, aku dan kamu mulai berbicara dengan jarak.
Pesanmu singkat, sapaanmu dingin.
Kamu sibuk menyelamatkan citra,
sementara aku sibuk menyelamatkan diri dari cemburu.

“Apakah aku masih kamu butuhkan?” tanyaku.

Kamu menatap layar ponsel, bukan mataku.
“Aku butuh semua dukungan.”

Jawaban paling politis yang pernah kudengar.


“Aku bukan konstituen,

aku hanya hati yang berharap,

namun dalam daftar prioritasmu,

aku selalu berada di bawah garis aman.”


Malam menjelang pemilihan, kota ini seperti medan perang tanpa darah.
Spanduk, teriakan, janji-janji yang diulang seperti doa palsu.
Aku berdiri di antara kerumunan, melihat wajahmu di baliho raksasa.
Kamu tampak gagah—
dan asing.

Aku tahu malam itu kamu bersama dia.
Bukan sebagai kekasih, katamu dulu,
tapi sebagai simbol kestabilan politik.
Simbol yang lebih dibutuhkan daripada aku.

Saat hasil diumumkan, sorak-sorai pecah.
Kamu menang.
Aku kalah.

Kamu meneleponku setelah semuanya selesai.
Suaramu bergetar—entah lelah atau menyesal.

“Aku ingin bertemu.”

Kami bertemu di tempat lama,
kafe kecil yang dulu menjadi saksi janji-janji sederhana.
Sekarang, kamu datang dengan pengawal.
Aku datang dengan sisa keberanian.

“Aku tak pernah berniat meninggalkanmu,” katamu.
“Tapi aku terjebak.”

Aku menatapmu lama,
mencari lelaki yang dulu mencintaiku tanpa hitung-hitungan.

“Tidak,” jawabku pelan.
“Kamu tidak terjebak. Kamu memilih.”

“Cinta tak pernah memaksa,
ia hanya menunggu,
lalu pergi ketika tak lagi dipilih.”

Aku berdiri lebih dulu.
Tanganku gemetar, tapi langkahku tegas.
Di belakangku, kamu memanggil namaku—
kali ini bukan sebagai strategi,
melainkan sebagai penyesalan.

Aku tak menoleh.
Karena aku tahu,
jika aku menoleh,
aku akan kembali menjadi suara kecil
yang kalah oleh tepuk tangan kekuasaan.

Di luar, hujan turun lagi.
Seperti malam pertama aku jatuh cinta padamu.
Bedanya, kini aku belajar satu hal:

Di balik politik,
cinta selalu menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan.

“Jika suatu hari kamu menang lagi,
ingatlah ada satu hati
yang pernah kalah demi ambisimu,
dan tak pernah meminta balas suara.”

Aku pulang dengan dada kosong,
namun untuk pertama kalinya,
aku bebas.

Selasa, 24 Februari 2026

Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

 

Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan


Aku mencintaimu tanpa suara.
Tanpa keberanian.
Tanpa pengakuan.

Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya.

Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka.

Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah.

“Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian.

Aku terkejut.
Ternyata kamu melihatku juga.

“Iya,” jawabku singkat.
Padahal hatiku ingin berteriak.

Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada sesuatu yang lebih berbahaya dari itu: rasa yang tumbuh tanpa izin.


Aku mencintaimu dalam diam,

seperti doa yang tak pernah diucap keras,

tak terdengar malaikat,

tapi dicatat langit dengan gemetar.

Sejak percakapan itu, segalanya berubah. Kamu sering menungguku setelah pengajian. Kita berjalan berdampingan, menjaga jarak satu lengan—cukup dekat untuk merasa, cukup jauh untuk menahan diri.

“Apa kamu pernah merasa,” katamu suatu malam, “bahwa mencintai juga bisa jadi ujian?”

Aku berhenti melangkah.
Menatapmu.
Lalu menunduk.

“Iya,” jawabku. “Dan aku sedang menghadapinya.”

Kamu tersenyum. Senyum yang tidak bahagia, tapi pasrah.

Aku tahu.
Kamu tahu.
Kita saling tahu, tapi memilih diam.

Setiap malam aku berdoa agar rasa ini dicabut. Tapi setiap pagi, rasa itu justru tumbuh lebih dalam. Seperti akar yang menemukan air di tanah paling sunyi.

Kamu tidak pernah bercerita banyak tentang hidupmu. Tapi aku tahu satu hal: keluargamu telah menjodohkanmu. Nama itu sering disebut ibumu saat menjemputmu—nama lelaki yang bukan aku.

“Dia baik,” katamu suatu hari. “Mapan. Keluargaku senang.”

“Lalu kamu?” tanyaku pelan.

Kamu terdiam lama.

“Aku belajar ikhlas,” jawabmu akhirnya.

Kata itu menusukku lebih tajam dari penolakan.


Ikhlas bukan berarti tidak sakit,

ia hanya mengajarkan cara tersenyum sambil berdarah,

cara mencintai tanpa memiliki,

cara pergi tanpa benar-benar pergi.


Sejak hari itu, aku mulai menjauh. Aku datang lebih lambat. Pulang lebih cepat. Menjaga diri agar tidak jatuh lebih dalam. Tapi kamu justru mencariku.

“Kamu kenapa berubah?” tanyamu.

“Aku takut,” jawabku jujur.

“Takut apa?”

“Takut mencintaimu lebih dari yang seharusnya.”

Kamu menatapku lama. Matamu berkaca, tapi tidak menangis.

“Bukankah lebih menyakitkan,” katamu lirih, “jika cinta itu suci tapi tak pernah diperjuangkan?”

Kalimat itu menghantuiku berminggu-minggu. Aku ingin memperjuangkanmu. Aku ingin datang ke rumahmu, bicara pada keluargamu, menggenggam tanganmu di hadapan dunia. Tapi aku juga tahu: aku belum siap. Aku belum cukup. Dan cinta tanpa kesiapan hanyalah ego yang dibungkus doa.

Malam terakhir kita bertemu, hujan turun deras. Mushala sepi. Lampu redup. Kamu duduk sendirian, menangis tanpa suara.

“Aku akan menikah,” katamu.

Aku merasa dunia runtuh, tapi aku tetap duduk di hadapanmu.

“Kapan?” tanyaku.

“Minggu depan.”

Jarak satu lengan itu terasa seperti jurang.

“Aku minta satu hal,” katamu. “Jangan datang ke pernikahanku.”

Aku mengangguk.
Itu permintaan yang kejam, tapi jujur.

Jika aku harus mencintaimu dari jauh,
biarlah jarak ini menjadi sajadah,
tempat aku sujud paling lama,
dan menangis tanpa suara.

Seminggu kemudian, aku tidak datang ke pernikahanmu. Tapi aku datang ke mushala itu. Sendirian. Duduk di saf belakang. Tempat biasa aku mengagumimu.

Hujan turun lagi.

Dan saat itulah kabar itu datang.

Kecelakaan.
Mobil pengantin.
Kamu tidak selamat.

Aku tidak ingat bagaimana aku berdiri. Bagaimana aku berlari. Bagaimana aku menangis. Yang aku ingat hanya satu: aku tidak pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu.

Di pemakamanmu, aku berdiri paling belakang. Tidak ada yang tahu siapa aku bagimu. Tidak ada yang tahu bahwa di antara nisan dan tanah basah itu, terkubur cinta yang paling suci sekaligus paling pengecut.

Aku berdoa.
Untuk pertama kalinya, aku berdoa dengan suara.

“Aku mencintainya,” kataku pada Tuhan. “Dan aku terlambat.”


Cinta yang tak pernah diucap,

akan tinggal selamanya di dada,

menjadi doa yang tak selesai,

menjadi luka yang tak berdarah.

Kini, setiap magrib, aku masih datang ke mushala itu. Duduk di saf belakang. Menatap barisan depan yang kosong. Mukena abu-abu itu tidak pernah kembali.

Dan aku belajar satu hal yang paling pahit:

Tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki.
Sebagian hanya dititipkan—untuk diuji, lalu diambil kembali.

Aku mencintaimu.
Dalam diam.
Dan akan selalu begitu.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...