Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

 

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk
Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk
by_AI


Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji.

Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.”

Aku tertawa waktu itu.

Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai.

Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas.

“Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan.

Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini.

“Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku.

Ia tersenyum kaku.

“Perubahan memang perlu waktu.”

Aku hampir tertawa lagi, tapi matanya—entah kenapa—tidak sepenuhnya bohong.


Ia sering datang setelah itu. Katanya ingin mendengar langsung keluhan warga. Tapi lama-lama, kunjungannya terasa terlalu personal. Ia duduk di bangku dapur rumahku, minum kopi hitam buatanku, mendengarkan ceritaku tentang hidup yang tak pernah benar-benar dibereskan oleh kebijakan apa pun.

“Kenapa kamu mau terjun ke politik?” tanyaku suatu malam.

Ia diam lama.

“Aku pikir aku bisa memperbaiki sistem dari dalam.”

Aku tersenyum pahit.
“Dan sistem itu membiarkanmu?”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak. Sistem memelukku. Lalu menelanku.”

Malam itu hujan. Ia tidak pulang.

Kami duduk berhadapan, jarak di antara kami hanya secangkir kopi dingin dan kesunyian yang terlalu jujur.

“Kamu tahu?” kataku lirih.
“Dulu aku menulis puisi tentang pemimpin.”

Ia menoleh. “Boleh dengar?”

Aku menarik napas, lalu membaca:


Kami memilihmu dari lubang-lubang harapan,

kau datang membawa cahaya dan janji.

Tapi ketika mata kami terbiasa gelap,

kau justru belajar memejamkan mata.


Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Itu kejam,” katanya.

“Itu jujur.”


Hubungan kami tumbuh seperti jamur di dinding lembap—diam-diam, cepat, dan salah. Ia punya istri. Aku punya kesadaran. Tapi di antara kami ada kelelahan yang saling memahami.

Kami bertemu di ruang-ruang sunyi: mobil dinas yang parkir terlalu lama, rumah singgah yang seharusnya jadi posko warga, hotel kecil di pinggir kota.

Di ranjang, ia bukan pejabat. Ia hanya lelaki yang kalah oleh janji-janjinya sendiri.

“Aku ingin berhenti,” katanya suatu kali, setelah semuanya terjadi.

“Dari aku atau dari politik?” tanyaku.

Ia tertawa hambar.

“Dari kebohongan.”

Aku membacakan puisi lagi, suaraku bergetar:


Cinta kita seperti anggaran bocor,

tertulis indah, jatuhnya ke kantong gelap.

Kita saling tahu ini salah,

tapi tetap menandatangani diam-diam.

Ia memelukku erat, seolah puisi itu bisa menghukumnya lebih keras dari pengadilan mana pun.

Di luar kamar, dunia tetap kacau.

Bantuan sosial disunat. Proyek fiktif tumbuh seperti ilalang. Rapat-rapat hanya menghasilkan foto dan unggahan media sosial. Rakyat tetap antre, tetap menunggu, tetap percaya—atau pura-pura percaya.

“Aku sudah tanda tangan semua proposal,” katanya suatu malam.

“Tapi isinya?”

Ia menghela napas.
“Aku tak sempat baca semuanya.”

“Karena sibuk apa?” tanyaku pelan.

Ia menatapku. Lama. Terlalu lama.

Aku tahu jawabannya.
Sibuk menjaga kekuasaan. Sibuk menyelamatkan karier. Sibuk mencintai diam-diam perempuan yang seharusnya hanya jadi angka dalam laporan warga.

“Kamu bagian dari masalah,” kataku akhirnya.

Ia mengangguk.
“Aku tahu.”

Itu yang paling menyakitkan. Ia tahu. Tapi tetap tinggal.

Skandal akhirnya pecah bukan karena aku, melainkan karena angka. Anggaran yang tak cocok. Tanda tangan yang terlalu sering muncul. Nama yang terlalu sering disebut.

Ia meneleponku tengah malam.

“Aku akan dijadikan kambing hitam,” katanya.

“Bukankah kamu memang ikut makan?” tanyaku.

Ia terdiam.

Aku berdiri di jendela, melihat spanduk wajahnya yang mulai pudar diguyur hujan.

“Kamu mau aku bersaksi?” tanyaku.

Ia panik.
“Tidak. Jangan. Aku masih—”

“Kamu masih apa?” potongku.
“Masih ingin selamat sendirian?”

Aku menutup telepon tanpa menunggu jawabannya.


Sidang berjalan. Media ribut. Rakyat bersorak setengah hati. Ia muncul di televisi, wajahnya lelah, senyumnya hilang. Ia bicara soal pengkhianatan, soal sistem, soal niat baik yang disalahgunakan.

Tak ada satu pun kata tentang warga yang dicintainya secara sembunyi-sembunyi. Tentang aku.

Aku menulis puisi terakhir, kubacakan sendiri di kamar sunyi:


Kami bukan korban semata,

kami juga saksi yang kau bungkam.

Jika cinta saja kau sembunyikan,

bagaimana kami percaya kau jujur pada negara?


Aku pindah kota. Ia dipenjara—katanya sementara. Spanduk-spanduk diturunkan. Diganti wajah baru. Janji baru.

Semuanya terasa seperti siklus yang malas.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku mencintainya, atau hanya ingin melihat wajah kekuasaan dari jarak sedekat ini?

Jawabannya mungkin keduanya.

Yang pasti, aku belajar satu hal:
kegagalan politik bukan hanya soal kebijakan, tapi tentang manusia yang tahu ia salah—namun tetap memilih nyaman.

Dan cinta?
Cinta hanyalah cermin paling jujur dari kebusukan yang tak pernah berani diakui di podium.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Puisi:Kenangan di Tepi Meja