Tampilkan postingan dengan label cerpenkuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenkuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2026

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

 

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut
Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut


Aku berdiri.
Semua orang berdiri.

Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan.

“Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…”

Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini.

Ia di depanku.

Naila.

Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun.

Dan di sampingnya…
Faris.

Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal luar dalam. Orang yang—tanpa ia tahu—berdiri di antara aku dan perasaanku sendiri.

Shalawat semakin menguat. Semua berdiri, semua larut. Tapi dadaku justru semakin sempit.

Aku mencintai Naila.
Diam-diam. Bertahun-tahun. Dengan cara paling pengecut: menunggu Allah saja.

Dan Faris… ia datang dengan niat yang lebih terang, lebih berani, lebih siap.

“Antum kenapa pucat?” bisik Faris beberapa hari lalu, seusai latihan hadrah.

Aku tersenyum tipis. “Kurang tidur.”

Ia tertawa kecil. “Antum harus jaga badan. Apalagi… sebentar lagi aku mau serius.”

“Serius apa?” tanyaku, meski jantungku sudah tahu jawabannya.

Faris menatap lantai masjid, lalu berkata pelan,
“Aku ingin khitbah Naila.”

Kalimat itu seperti rebana yang dipukul terlalu keras di kepalaku.

“MasyaAllah,” jawabku. Itu saja. Tak lebih. Tak kurang.

Sejak hari itu, setiap mahallul qiyam terasa seperti ujian. Setiap kali berdiri, aku bukan hanya berdiri untuk Rasulullah—aku juga berdiri di antara dua pilihan: jujur atau mengalah.

Shalawat selesai. Jamaah duduk kembali. Aku masih terpaku berdiri beberapa detik lebih lama, berusaha menguasai napas.

“Mas,” suara lembut memanggil.

Aku menoleh. Naila berdiri tak jauh dariku, tangannya menggenggam kitab maulid.

“Iya?”

“Boleh bicara sebentar?”

Kami berjalan ke serambi masjid. Lampu temaram. Malam dingin. Angin membawa sisa-sisa shalawat ke telinga kami.

“Ada apa?” tanyaku.

Naila terdiam cukup lama. Lalu berkata,
“Mas pernah merasa… mencintai seseorang tapi takut niatnya tidak lurus?”

Aku terkejut. “Kenapa tanya begitu?”

Ia tersenyum kecil, tapi matanya berkaca.
“Karena setiap mahallul qiyam, aku selalu berdoa agar Allah membersihkan hatiku. Tapi kenapa nama itu masih ada?”

Aku tahu ia tidak menyebut nama. Tapi aku tahu rasa itu.

“Cinta tidak selalu najis,” kataku pelan. “Yang membuatnya berat adalah ketika kita menyimpannya sendirian.”

Naila menatapku. Lama. Dalam. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ditahan oleh adab.

“Faris… sudah bicara padaku,” katanya akhirnya.

Dadaku mengeras. “Lalu?”

“Aku minta waktu.”

Aku mengangguk. “Antum berhak.”

Ia menarik napas panjang. “Mas,” suaranya bergetar, “kalau ada seseorang yang lebih dulu mencintai, tapi memilih diam karena takut melukai siapa pun… apakah Allah melihatnya?”

Pertanyaan itu membuat lututku lemas.

“Allah melihat segalanya,” jawabku lirih. “Bahkan yang kita kubur paling dalam.”

Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh. Aku tahu, diamku justru membuat segalanya semakin rumit.

Beberapa hari kemudian, di acara maulid besar, mahallul qiyam kembali dilantunkan. Kali ini lebih panjang, lebih khusyuk. Jamaah penuh. Rebananya lebih keras. Suaranya menggema hingga ke dadaku.

Aku berdiri. Naila berdiri. Faris berdiri.

Dan di saat semua orang larut dalam shalawat, aku justru merasa paling jauh dari ketenangan.

Tanganku gemetar.

Di antara bait shalawat, aku berbisik dalam hati,
Ya Rasulullah, aku mencintainya. Tapi aku takut mencintai dengan cara yang salah.

Selesai acara, Faris menghampiriku.

“Antum kenapa murung terus?” tanyanya.

Aku menatap sahabatku itu. Untuk pertama kalinya, aku tak ingin lagi bersembunyi.

“Faris,” kataku, “aku juga mencintai Naila.”

Ia terdiam. Lama. Wajahnya berubah, tapi tidak marah.

“Sejak kapan?” tanyanya pelan.

“Sejak lama,” jawabku jujur. “Tapi aku memilih diam.”

Faris menghela napas. “Kenapa baru bilang sekarang?”

“Karena aku takut kehilangan sahabat.”

Ia tersenyum pahit. “Dan aku takut kehilangan kejujuran.”

Kami duduk di tangga masjid, sunyi di antara kami.

“Aku tidak akan memaksakan apa pun,” kata Faris akhirnya. “Biarkan Naila memilih dengan tenang.”

Aku mengangguk. “Aku pun begitu.”

Beberapa malam kemudian, Naila mengundang kami berdua bicara.

“Aku sudah istikharah,” katanya dengan suara mantap. “Dan aku belajar satu hal: cinta yang baik tidak membuat kita saling melukai.”

Ia menatap Faris. “Antum orang baik. Sangat.”

Lalu menatapku. “Mas… antum memilih diam, tapi doa antum paling keras.”

Aku menahan napas.

“Aku memilih orang yang mencintaiku tanpa harus merebut,” lanjutnya. “Orang yang menunggu di mahallul qiyam, bukan di persaingan.”

Air mataku jatuh.

Malam itu, aku kembali berdiri di mahallul qiyam. Kali ini tanpa gemetar.

Aku berdiri bukan hanya untuk shalawat,
tapi untuk syukur—
karena cinta yang dijaga dengan iman
tidak pernah benar-benar sia-sia.


Jumat, 13 Februari 2026

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

 

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk
Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk
by_AI


Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji.

Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.”

Aku tertawa waktu itu.

Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai.

Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas.

“Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan.

Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini.

“Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku.

Ia tersenyum kaku.

“Perubahan memang perlu waktu.”

Aku hampir tertawa lagi, tapi matanya—entah kenapa—tidak sepenuhnya bohong.


Ia sering datang setelah itu. Katanya ingin mendengar langsung keluhan warga. Tapi lama-lama, kunjungannya terasa terlalu personal. Ia duduk di bangku dapur rumahku, minum kopi hitam buatanku, mendengarkan ceritaku tentang hidup yang tak pernah benar-benar dibereskan oleh kebijakan apa pun.

“Kenapa kamu mau terjun ke politik?” tanyaku suatu malam.

Ia diam lama.

“Aku pikir aku bisa memperbaiki sistem dari dalam.”

Aku tersenyum pahit.
“Dan sistem itu membiarkanmu?”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak. Sistem memelukku. Lalu menelanku.”

Malam itu hujan. Ia tidak pulang.

Kami duduk berhadapan, jarak di antara kami hanya secangkir kopi dingin dan kesunyian yang terlalu jujur.

“Kamu tahu?” kataku lirih.
“Dulu aku menulis puisi tentang pemimpin.”

Ia menoleh. “Boleh dengar?”

Aku menarik napas, lalu membaca:


Kami memilihmu dari lubang-lubang harapan,

kau datang membawa cahaya dan janji.

Tapi ketika mata kami terbiasa gelap,

kau justru belajar memejamkan mata.


Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Itu kejam,” katanya.

“Itu jujur.”


Hubungan kami tumbuh seperti jamur di dinding lembap—diam-diam, cepat, dan salah. Ia punya istri. Aku punya kesadaran. Tapi di antara kami ada kelelahan yang saling memahami.

Kami bertemu di ruang-ruang sunyi: mobil dinas yang parkir terlalu lama, rumah singgah yang seharusnya jadi posko warga, hotel kecil di pinggir kota.

Di ranjang, ia bukan pejabat. Ia hanya lelaki yang kalah oleh janji-janjinya sendiri.

“Aku ingin berhenti,” katanya suatu kali, setelah semuanya terjadi.

“Dari aku atau dari politik?” tanyaku.

Ia tertawa hambar.

“Dari kebohongan.”

Aku membacakan puisi lagi, suaraku bergetar:


Cinta kita seperti anggaran bocor,

tertulis indah, jatuhnya ke kantong gelap.

Kita saling tahu ini salah,

tapi tetap menandatangani diam-diam.

Ia memelukku erat, seolah puisi itu bisa menghukumnya lebih keras dari pengadilan mana pun.

Di luar kamar, dunia tetap kacau.

Bantuan sosial disunat. Proyek fiktif tumbuh seperti ilalang. Rapat-rapat hanya menghasilkan foto dan unggahan media sosial. Rakyat tetap antre, tetap menunggu, tetap percaya—atau pura-pura percaya.

“Aku sudah tanda tangan semua proposal,” katanya suatu malam.

“Tapi isinya?”

Ia menghela napas.
“Aku tak sempat baca semuanya.”

“Karena sibuk apa?” tanyaku pelan.

Ia menatapku. Lama. Terlalu lama.

Aku tahu jawabannya.
Sibuk menjaga kekuasaan. Sibuk menyelamatkan karier. Sibuk mencintai diam-diam perempuan yang seharusnya hanya jadi angka dalam laporan warga.

“Kamu bagian dari masalah,” kataku akhirnya.

Ia mengangguk.
“Aku tahu.”

Itu yang paling menyakitkan. Ia tahu. Tapi tetap tinggal.

Skandal akhirnya pecah bukan karena aku, melainkan karena angka. Anggaran yang tak cocok. Tanda tangan yang terlalu sering muncul. Nama yang terlalu sering disebut.

Ia meneleponku tengah malam.

“Aku akan dijadikan kambing hitam,” katanya.

“Bukankah kamu memang ikut makan?” tanyaku.

Ia terdiam.

Aku berdiri di jendela, melihat spanduk wajahnya yang mulai pudar diguyur hujan.

“Kamu mau aku bersaksi?” tanyaku.

Ia panik.
“Tidak. Jangan. Aku masih—”

“Kamu masih apa?” potongku.
“Masih ingin selamat sendirian?”

Aku menutup telepon tanpa menunggu jawabannya.


Sidang berjalan. Media ribut. Rakyat bersorak setengah hati. Ia muncul di televisi, wajahnya lelah, senyumnya hilang. Ia bicara soal pengkhianatan, soal sistem, soal niat baik yang disalahgunakan.

Tak ada satu pun kata tentang warga yang dicintainya secara sembunyi-sembunyi. Tentang aku.

Aku menulis puisi terakhir, kubacakan sendiri di kamar sunyi:


Kami bukan korban semata,

kami juga saksi yang kau bungkam.

Jika cinta saja kau sembunyikan,

bagaimana kami percaya kau jujur pada negara?


Aku pindah kota. Ia dipenjara—katanya sementara. Spanduk-spanduk diturunkan. Diganti wajah baru. Janji baru.

Semuanya terasa seperti siklus yang malas.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku mencintainya, atau hanya ingin melihat wajah kekuasaan dari jarak sedekat ini?

Jawabannya mungkin keduanya.

Yang pasti, aku belajar satu hal:
kegagalan politik bukan hanya soal kebijakan, tapi tentang manusia yang tahu ia salah—namun tetap memilih nyaman.

Dan cinta?
Cinta hanyalah cermin paling jujur dari kebusukan yang tak pernah berani diakui di podium.


Senin, 24 November 2025

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

 

Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah.

Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan.

“Aku keluar sebentar,” katamu.

“Akan lama?” tanyaku.

“Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan.

Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.”

Kau menatapku lama. “Kau takut?”

Aku menggeleng. “Aku rindu.”

Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu langit. Tapi malam-malam ini, senyummu tampak lelah, seolah ada beban yang tak sanggup kau ceritakan.

Sebelum pergi, kau mendekat dan membisikkan sesuatu yang terdengar seperti puisi patah:

Jika suatu malam aku tak kembali,
jangan kau cari aku pada doa yang sama.
Cukup panggil namaku di dadamu,
aku akan mendengarnya… meski dari dunia yang lain.

Aku menggigil, dan bukan karena dingin.


Tepat pukul 00.07, ketukan itu datang.
Pelan.
Berirama.
Menembus dinding hatiku seperti bisikan masa lalu.

Aku memberanikan diri berjalan menuju jendela. Tangan gemetar, napas tercekat. Ketika tirai kusibak, tidak ada siapa pun di luar sana—hanya angin malam yang menggerakkan daun mangga dan aroma tanah basah.

Tetapi di kaca jendela… ada embun yang membentuk dua huruf:
A dan K
Inisialku dan… inisialmu.

Jantungku berdegup liar. “Apa ini ulahmu?” gumamku.

Tapi tidak. Kau tidak mungkin bergerak secepat itu. Dan kau tidak mungkin membuat embun dari luar jendela lantai dua.

Aku memejamkan mata dan membisikkan puisi kecil:

Jika ini pertanda,
jangan biarkan ia menjadi luka.
Biarkan ia jadi jalan,
yang membawaku kembali padamu.

Namun malam itu tak memberiku jawab apa-apa.


Pagi berikutnya, kau pulang tanpa suara. Matamu merah seperti orang yang belum tidur semalam.

“Kau melihatnya lagi?” tanyamu sebelum sempat duduk.

“Aku melihat embun itu.”

Kau mengusap wajahmu. “Aku takut ini semakin parah.”

“Apa maksudmu?” tanyaku, menggenggam tanganmu.

Tanganmu dingin.

“Aku tidak bisa terus membiarkanmu sendirian setiap malam. Tapi aku juga tidak bisa berhenti pergi.”

“Kenapa?” suaraku pecah. “Kau sembunyikan apa dariku?”

Kau menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin runtuh. “Aku berdoa di tempat berbeda darimu. Aku memanggil Tuhan yang berbeda. Dan aku… terjebak di antara dua suara: suaramu dan suara keluarga yang tak pernah merestui.”

“Apa hubungannya dengan ketukan itu?”

Kau menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Tapi setiap kali aku berniat kembali padamu, ada sesuatu yang memanggilku ke luar rumah.”

Aku menahan napas. “Sesuatu? Atau seseorang?”

Kau terdiam.

“Itu suara perempuan,” katamu akhirnya. “Suara yang memanggilku sambil mengetuk kaca.”

Aku memucat. “Perempuan?”

“Iya… tapi suaranya asing. Bukan manusia. Seperti… doa yang tersesat.”

Aku merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Kau menukas, “Aku tidak ingin kau takut. Tapi aku juga tidak ingin berbohong.”

Aku menatapmu dengan mata yang mulai basah. “Aku tidak takut hantu, aku takut kehilanganmu.”

Kau menggenggam dahiku, membisik:

Jika aku pergi dari pelukanmu,
bukan karena aku ingin hilang.
Tapi karena ada doa yang memanggilku,
dari tempat yang tak bisa kujelaskan kepadamu.

Air mataku akhirnya pecah.

Malam ketiga, semua berubah.

Ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini lebih keras. Lebih cepat. Lebih mendesak. Dan anehnya, malam itu kau tidak sempat pergi. Kau berdiri di tengah kamar, menunggu, wajahmu tegang seperti sedang menantang sesuatu yang tidak terlihat.

“Jangan buka jendelanya,” katamu.

Tapi ketukan itu semakin keras. Tirai berkibar meski jendela tertutup rapat.

Aku bersembunyi di belakangmu. Kau meraih tanganku, menguatkannya dengan genggaman yang bergetar.

“Aku tahu siapa yang mengetuk itu,” katamu lirih.

“Apa? Siapa?!”

Kau menelan ludah. “Ibuku.”

Aku terdiam.

“Tapi ibumu… sudah meninggal,” bisikku.

Kau mengangguk perlahan. “Dan dia tidak pernah menerima pernikahan kita. Tidak pernah menerima perbedaan kita.”

Ketukan itu berhenti.
Hening.
Tapi aku bisa mendengar sesuatu lain. Suara seperti napas seseorang… di balik kaca.

“Aku harus membukanya,” katamu melangkah.

Aku menariknya. “Jangan! Kau tidak tahu apa yang terjadi!”

“Aku harus. Jika tidak, dia tidak akan pernah berhenti datang.”

Aku memelukmu dari belakang, memohon, “Aku tidak takut pada ibumu… aku takut kehilangan kau.”

Kau menoleh, menatapku dengan mata yang penuh luka. “Kau tidak akan kehilangan aku.”

Tapi saat kau membuka jendela, angin dingin menyapu masuk, dan aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku: bayangan perempuan berdiri di bawah pohon mangga, wajahnya buram, tubuhnya seperti asap.

Dan dia memanggil namamu.

Kau melangkah maju, seolah terpanggil. Aku menarikmu, memaksa tubuhmu kembali. “Kau tidak ke mana-mana!”

Kau gemetar hebat. “Dia ingin aku pulang… bukan ke rumah, tapi ke keyakinanku. Ke doa yang pernah kutinggalkan.”

Aku menangis. “Kalau begitu… biarkan aku ikut.”

Kau memelukku. “Kau tidak bisa. Tuhan kita berbeda.”

“Lalu bagaimana dengan cinta kita?!”

Kau membalas dengan suara paling pedih yang pernah kudengar:

Cinta kita bukan salah,
yatapi ia lahir di dua langit yang tak pernah bertemu.
Dan kadang… cinta yang suci pun harus kalah,
di persimpangan doa.

Aku terjatuh di lantai, menangis seperti anak kecil.

Kau menutup jendela itu perlahan, membelai kepalaku, dan berbisik:

“Aku tidak pergi. Aku tidak akan menghilang. Tapi aku harus berdamai dengan dia, dengan masa lalu, dengan doaku… sebelum aku bisa kembali padamu sepenuhnya.”

Aku mengangguk sambil menangis.

Di luar sana, bayangan itu perlahan memudar.

Dan ketukan itu tidak datang lagi—tapi meninggalkan luka yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Aku tahu malam itu, kita tidak kalah.
Tapi kita juga tidak menang.

Kita hanya dua manusia yang mencoba mencintai, di tengah langit yang tidak pernah benar-benar berpihak.

Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah

 

Ilustrasi foto Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah


Hujan turun sore itu, menetes perlahan seperti doa yang gugur dari langit. Aku berdiri di bawah atap mushola kampus, mencoba menenangkan dada yang tak kunjung reda sejak pertemuan terakhir kita. Kau datang dengan langkah pelan, membawa aroma hujan yang selalu kukenal sejak pertama kali kita berbicara tentang hal paling sepele: warna senja.

“Kau masih menungguku?” bisikmu.

Aku tersenyum hambar. “Bukankah aku selalu begitu?”

Kau menatapku, matamu seperti halaman kitab yang tak pernah bosan kubaca—penuh misteri, penuh luka yang kau sembunyikan demi tak melukai sesiapa pun.

“Orang-orang mulai bertanya,” katamu, lirih. “Tentang kita. Tentang kenapa aku terlalu sering bersamamu.”

Aku menghela napas. “Biarkan mereka. Yang tidak mengerti, tak punya hak mengatur langkah kita.”

Tapi aku tahu hatimu gemetar. Bukan karena hujan, bukan karena dingin. Melainkan karena kenyataan bahwa kita terpaut di antara dua dunia yang tidak pernah mau berdamai.

Kau menggenggam jemariku sebentar, sebelum menariknya pelan seolah takut Tuhan melihat. “Aku hanya tidak ingin kau terluka,” ucapmu.

Aku menatapmu lama, lalu berkata pelan, “Aku lebih takut kehilanganmu daripada apapun yang mereka katakan.”

Puisi kecilku pecah tanpa sengaja di bibirku:

Jika mencintaimu adalah luka,
maka biarkan aku berdarah.
Sebab yang mengalir hanyalah namamu,
yang tak pernah berhasil kuhapus dari nadiku.

Kau menunduk, seakan puisi itu menampar sesuatu jauh di dalam dirimu.


Malam berikutnya, kita bertemu lagi. Di taman belakang perpustakaan. Tempat yang pernah kau sebut sebagai ruang netral—bukan masjid, bukan gereja—hanya hening dan angin yang menua bersama waktu.

“Kita tak bisa terus begini,” katamu. Nada itu menggores seperti pisau.

“Aku tahu,” jawabku. “Tapi aku juga tahu, kita tak bisa berhenti.”

Kau duduk di bangku kayu yang mulai rapuh dimakan hujan. Aku berdiri di depammu, menatap wajah yang mulai penuh keraguan.

“Orang tuaku mulai curiga,” bisikmu. “Mereka bilang aku terlalu jauh melangkah. Mereka ingin aku berhenti bertemu denganmu.”

Aku tersenyum pahit. “Lalu? Kau akan menuruti mereka?”

Kau menggeleng cepat. “Tidak mudah. Kau tahu itu.”

“Tapi aku di sini,” kataku lirih. “Meski kau gentar, meski kau terbelah, aku tetap di sini.”

Kau menatapku lama, lalu berkata, “Aku ingin memperjuangkanmu. Tapi aku juga takut membuatmu kehilangan keluargamu.”

Aku menelan ludah. “Kau pikir aku juga tidak takut kehilangan keluargaku karena mencintaimu?”

Kau terdiam.

Dalam hening itu, aku mengucap sebuah puisi pendek, sepelan detak jantung yang ingin menyerah:

Malam tahu kita saling mencari,
meski doa-doa kita berbeda arah.
Tapi apakah Tuhan akan benar-benar marah,
jika dua hati saling menatah rindu?

Kau menutup wajahmu dengan kedua tanganmu. Aku tahu kau menangis tanpa suara.


Hari yang menegangkan itu tiba ketika keluargamu memergoki kita di depan kampus. Suaramu bergetar saat kau mencoba menjelaskan, dan suara ayahmu menggema seperti palu hukuman.

“Kau tahu aturannya! Kau tahu batasnya!” teriak ayahmu.

Aku berdiri tegak meski lututku gemetar. “Pak… saya tidak bermaksud membawa dia menjauh dari keluarganya. Saya hanya—”

“Kau hanya apa?” potongnya. “Mengikat perasaannya? Menjeratnya ke masa depan yang tak mungkin kalian jalani?”

Aku menunduk. Sakitnya menusuk terlalu dalam. Kau memandangku dengan mata memohon, seolah berkata maafkan aku… maafkan mereka… maafkan keadaan.

Ibumu menggenggam lenganmu, menarikmu menjauh dariku. “Nak, jangan buat hidupmu rumit.”

Aku ingin berlari menghampirimu, tapi kakiku beku.

“Hentikan…” kau mencoba meronta. “Aku yang memilih dia. Bukan dia yang memaksa.”

Ayahmu menatapmu tajam. “Dan kau harus memilih keluargamu.”

Itulah pertama kalinya aku melihatmu benar-benar hancur.


Dua minggu berlalu tanpa kabar. Dua minggu yang terasa seperti hukuman panjang dari semesta. Aku tidak makan dengan benar, tidur pun seperti sekedar formalitas tubuh.

Aku merindukanmu.

Hingga suatu malam, kau berdiri di depan kostku, basah oleh hujan. Nafasmu cepat, matamu merah.

“Aku tak tahan,” katamu sambil memelukku tiba-tiba. “Aku tak bisa hidup seolah-olah kau tak ada.”

Aku memelukmu erat, seakan dunia akan runtuh jika aku melepaskan.

Kau menangis di bahuku. “Aku ingin memperjuangkan kita. Meski kita harus menyakiti beberapa orang. Meski kita harus menunggu lebih lama.”

Aku menatap wajahmu yang kacau oleh hujan dan air mata. “Kau benar-benar yakin?”

Kau mengangguk. “Aku mencintaimu, tapi bukan cinta yang minta jalan instan. Cinta kita… cinta yang harus berjalan pelan. Pelan tapi pasti menuju sesuatu.”

Aku tersenyum lirih. Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu, hatiku terasa hidup.

Dan aku membisikkan puisi terakhir malam itu:

Jika dunia melarang kita bersatu,
maka biarkan kita berjalan perlahan.
Sebab aku percaya, cinta yang sabar,
akan menemukan jalannya.

Kau tersenyum. “Aku percaya itu.”

Dan untuk sekali lagi, hujan menjadi saksi bahwa meski dunia menolak, kita tetap memilih untuk bertahan—meski perlahan, meski sakit, meski belum tahu akhirnya akan seperti apa. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, kita tidak takut lagi.

Kita hanya mencintai.
Dan memperjuangkan.
Tanpa berhenti.

Minggu, 23 November 2025

Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”


Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”
https://www.viva.co.id/foto/966355-cinta-beda-agama-dalam-pandangan-anak-kekinian

Hujan turun seperti tirai abu-abu yang menutupi kota sore itu. Di bawah atap kecil halte dekat kampus, aku melihatmu berdiri dengan tangan menggenggam buku doa yang selalu kau bawa. Kau menoleh ketika aku datang, dan senyummu—rapuh namun cerah—langsung menghangatkan sesuatu di dalam diriku.

“Kau basah semua, Rin,” katamu sambil mengulurkan jaketmu.

Aku menolaknya pelan. “Biarkan saja. Hujan membuatku merasa... masih hidup.”

“Kau selalu bicara hal aneh.” Kau tersenyum kecil.

“Karena hanya denganmu aku bisa bicara seaneh itu.”

Aku tak bermaksud menggoda, tapi pipimu memerah halus. Sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan, takdir seperti terus mempertemukan kita. Hujan, buku-buku tua, dan perdebatan kecil tentang Tuhan yang kita sembah dengan cara berbeda—semua menjadi jembatan yang tak pernah bosan kita lewati berdua.

Namun semakin dekat kita, semakin besar rasa takutmu tumbuh.


Suatu malam, kita duduk di tepi danau kampus. Lampu taman memantulkan cahaya kuning pucat di permukaan air. Kau memandang jauh, seolah menatap masa depan yang bahkan tak mau menyambutmu.

“Aku takut, Rin,” katamu akhirnya.

“Apa yang kau takutkan?”

“Cinta yang tak bisa kuperjuangkan sampai akhir.”

Aku menoleh padamu, hatiku mencubit dirinya sendiri. “Kenapa kau bicara seolah kita sudah kalah?”

“Karena aku tahu batasku,” suaramu bergetar. “Ayahku tegas. Ibuku penyakitan. Mereka ingin aku menikah dengan seseorang yang seiman. Tidak ada ruang buat ‘kita’ dalam jalan hidup yang mereka pilihkan.”

Aku menahan napas. “Dan jalan yang kau pilih?”

Kau menatapku. Ada cinta, tapi juga luka.

“Aku memilihmu. Tapi dunia memilih menghukumku.”

Aku menunduk, menahan air mata. “Aku tak ingin jadi alasan keluargamu terluka.”

“Kau bukan alasan. Kau... ujian.”


Keesokan harinya kau menghilang. Ponselmu mati. Pesan-pesanku centang satu. Rumor menyebar: kau dipindahkan ke kota lain, tinggal bersama pamanmu. Katanya ayahmu sakit setelah mendengar kita menjalin hubungan.

Selama dua minggu aku kehilangan arah. Semua tempat yang pernah kita singgahi terasa seperti makam kenangan yang tak lagi bernyawa.

Hingga malam itu, hujan kembali turun deras. Aku berteduh di depan gedung lama fakultas ketika bayanganmu muncul dari balik air yang tercurah.

Kau berdiri di sana, basah kuyup, wajahmu pucat, tapi matamu… matamu masih sama—penuh cinta yang tak pernah padam.

“Rin…” suaramu pecah. “Aku pulang.”

Aku berlari menghampirimu. “Kenapa kau pergi tanpa bilang?”

“Ayahku menyuruhku memilih. Dia bilang kalau aku tetap bersamamu… aku bukan lagi anaknya.”

Hujan semakin deras. Butiran air jatuh di wajahmu seperti air mata yang tak sempat keluar.

“Aku mencoba patuh,” lanjutmu, “tapi setiap malam aku memikirkanmu. Aku merasa hampa. Maka aku kembali. Meski harus kehilangan semuanya.”

“Jangan bicara begitu—”

“Aku serius.” Kau menggenggam tanganku, dingin, gemetar. “Aku hanya punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Tetap temani aku… sampai aku kuat.”

Aku mengangguk. “Aku di sini. Aku tidak kemana-mana.”


Tapi dunia tak pernah benar-benar membiarkan kita memilih dengan bebas.

Tiga hari setelah kau kembali, kami berencana bertemu di taman kampus. Detik-detik sebelum hujan turun, aku menerima telepon dari nomor tak dikenal.

Suara perempuan di seberang sana bergetar. “Ini… dari rumah sakit. Kenalkah Anda seseorang bernama—”

Dunia seolah berhenti.

Aku berlari tanpa berpikir, napas tersengal, hujan menampar wajahku. Di ruang IGD, aku melihatmu terbaring, wajahmu pucat, bibirmu membiru, dadamu naik turun lemah.

“Apa yang terjadi?” suaraku pecah.

“Kecelakaan motor,” jawab perawat. “Dia menabrak tikungan. Terlihat seperti sedang terburu-buru.”

Aku menggenggam tanganmu.

Kau membuka mata perlahan. “Aku… aku ingin datang menemui…mu…”

“Kau bodoh,” aku menangis. “Kenapa memaksakan diri?”

“Kau bilang… kau tidak kemana-mana…” Kau tersenyum, tapi darah mengalir di sudut bibirmu. “Aku ingin cepat… sampai…”

“Jangan bicara lagi. Simpan tenagamu.”

“Tuhan… kita berbeda…” suaramu melemah. “Tapi cintaku… sama…”

Tanganmu meremas tanganku terakhir kalinya.

Dan saat hujan berhenti di luar jendela, matamu pun ikut terpejam—tenang, seolah akhirnya menemukan jawaban yang tak pernah bisa kita temukan di dunia ini.


Sekarang, setiap hujan turun, aku berdiri di tempat kita biasa berteduh. Aku membawa payung hitammu—satu-satunya benda yang tertinggal dari dirimu.

Aku tahu cinta kita tak sempat menang. Tapi di antara dua doa yang tak pernah sama arah, kita pernah saling menemukan.

Dan itu cukup untuk membuatku terus mengingatmu… meski dunia memilih memisahkan kita lebih cepat dari yang pernah kubayangkan.


Senin, 30 Juni 2025

Cerita Pendek: Juli yang Tak Pernah Menepati Janji

Ilustrasi fotoCerita pendek_ https://id.pngtree.com/freebackground/silhouette-of-a-woman-on-the-beach-in-the-morning_1704461.html



Namaku Arsha. Aku bukan siapa-siapa kecuali seseorang yang masih saja duduk di ujung senja, menanti sesuatu yang entah akan datang atau tidak. Barangkali aku gila, atau mungkin terlalu setia pada sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar jadi milikku: kamu.

Dan ini adalah Juli, bulan kesekian yang selalu membuat dadaku bergetar hanya karena satu nama—namamu.



Aku masih ingat pertemuan kita pertama kali. Di sudut taman kota, saat angin sore menyapu rambutku yang lepas dari ikatan. Kamu menyapaku, seolah kita sudah kenal sejak lama. Aku tersenyum kikuk, tapi diam-diam hatiku bergemuruh. Sejak saat itu, entah mengapa, kamu seperti musim yang tak bisa kutebak, tapi selalu kutunggu.

"Kamu suka Juli?" tanyamu waktu itu.

Aku mengangguk. "Karena Juli hangat. Tapi tak sepanas Agustus yang seringkali terlalu terburu-buru."

Kamu tertawa. Suaramu renyah seperti daun jatuh ke tanah yang kering. Dan sejak itulah, aku mulai menyimpan Juli sebagai bulan penuh makna—bulan yang kusebut sebagai permulaan rasa yang tak pernah selesai kutulis.


Sudah tiga Juli berlalu. Setiap tahun, aku menuliskan sesuatu untukmu. Bukan puisi, bukan cerita, hanya potongan harapan yang tak pernah kutunjukkan pada siapa-siapa. Kertas-kertas itu kusimpan di dalam kotak kayu tua peninggalan almarhum nenekku. Di atasnya, kutulis: "Untukmu yang tak tahu sedang kucintai dalam diam."

Juli ini, seperti sebelumnya, aku kembali duduk di bangku taman yang sama. Daun-daun sudah mulai menguning, dan angin membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Tapi kamu tidak datang. Lagi-lagi tidak datang.

Aku menyentuh bangku kosong di sampingku, dan entah kenapa, air mataku jatuh begitu saja. Bukan karena sedih, tapi lebih karena aku merasa bodoh—masih menunggu sesuatu yang bahkan tak pernah berjanji akan kembali.

“Aku masih di sini, tahu?” bisikku, seolah kamu bisa mendengar.

Padahal kamu entah di mana sekarang. Mungkin di kota lain. Mungkin sudah bersama perempuan lain. Atau mungkin, kamu memang tak pernah benar-benar ingin kembali sejak pergi tiga tahun lalu tanpa pamit.


Kadang aku bertanya, mengapa cinta harus selalu terasa seperti menunggu kereta yang tak punya jadwal pasti? Apakah semua gadis sepertiku harus belajar melepaskan tanpa sempat memiliki?

Dulu, kamu bilang, “Kalau takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi di bulan Juli nanti. Bulan yang kau bilang paling hangat.”

Dan aku menggenggam kalimat itu seperti menggenggam janji Tuhan. Padahal, kamu tak pernah menyebut tahun berapa. Tidak ada tanggal pasti. Hanya kata "nanti" yang menggantung seperti langit yang enggan turun hujan.

Tapi tahukah kamu, aku menunggu. Dengan segala bentuk kesabaran yang bahkan tak bisa dijelaskan oleh logika. Aku menolak ajakan kencan dari lelaki lain, hanya karena takut hatiku tidak utuh untuk mereka.


Hari ini tanggal 28 Juli. Tiga hari lagi bulan ini berakhir. Tiga hari lagi aku harus mengaku kalah pada waktu dan kenyataan. Aku berjalan menyusuri jalan pulang dari taman, melewati toko buku tempat kita pernah berdebat soal puisi Chairil Anwar. Mataku menangkap sekilas bayangan seseorang di seberang jalan. Siluet tubuhmu. Cara berdirimu. Jaket yang selalu kamu pakai saat malam turun.

Hatiku refleks berlari. Tapi saat aku sampai di sana, dia bukan kamu.

Untuk pertama kalinya, aku ingin marah. Pada Juli. Pada kamu. Pada diriku sendiri.

Tapi aku tidak bisa. Karena cinta, ketika benar-benar tumbuh, tidak lagi butuh alasan untuk setia. Ia hanya ada. Diam-diam. Dalam bentuk paling sederhana: penantian.


Malam ini aku membuka kotak kayu itu. Kubaca kembali tulisan-tulisan untukmu. Surat-surat yang tidak pernah kukirim. Dan akhirnya, kutulis satu lagi:



"Untukmu yang pernah berkata akan kembali,
Juli hampir usai.
Aku masih di sini, tapi hatiku tidak lagi.
Biarlah Juli kali ini menjadi penutup,
bukan awal yang selalu kupaksa percaya."

Lalu aku menutup kotak itu. Kusimpan jauh di lemari paling dalam. Besok, aku tidak akan ke taman lagi. Tidak akan melihat bangku kosong yang selalu menyakitkan itu. Mungkin cinta memang tidak selalu harus memiliki. Dan penantian kadang harus dikubur, agar hati bisa tumbuh kembali.



Dan inilah aku sekarang—bukan lagi Arsha yang duduk di taman menunggu. Tapi Arsha yang akhirnya tahu, bahwa tak semua cinta harus diselesaikan oleh kehadiran. Kadang, cukup dikenang oleh Juli yang pernah hangat, lalu ditinggalkan dengan senyuman.



Juli telah mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana cara mengikhlaskan. Dan kamu—meski tak pernah kembali—tetap akan jadi cerita yang indah, yang cukup kutulis di lembaran yang hanya bisa kubaca sendiri.


Kamis, 19 Juni 2025

Cerita Pendek:Cinta Diam Siti Puji Astutik: Gadis Senja yang Menyulam Rindu


Cinta Diam Siti Puji Astutik: Gadis Senja yang Menyulam Rindu
Cerita Pendek:Cinta Diam Siti Puji Astutik: Gadis Senja yang Menyulam Rindu


Senja selalu menjadi waktu yang ia tunggu. Siti Puji Astutik, gadis desa yang lebih akrab dipanggil Puji, selalu duduk di bangku kayu tua di tepi sawah. Dari sanalah ia menatap matahari perlahan tenggelam, bersama rindu yang tak pernah sempat ia ucapkan. Rindu yang diam-diam tumbuh, seperti padi yang ia tanam bersama ibunya—sunyi, tapi nyata.

Namanya Fajar, pria yang bekerja sebagai guru honorer di sekolah tempat adik Puji belajar. Sejak pertama melihatnya mengajar dengan sabar, Puji tahu hatinya jatuh, tapi tak pernah berani mendekat. Ia hanya bisa mencintai dalam diam, dan membungkus rindunya dalam puisi-puisi yang ia tulis di balik kertas bekas belanja.

 

“Jika cinta adalah rahasia, 

Biarlah kusimpan dalam doa,

Dalam sepi aku menjaga,
Namamu selalu di dada.”

 

Hari itu, langit senja lebih redup dari biasanya. Puji menatap semburat jingga yang hampir mati. Tapi matanya justru menangkap sosok Fajar berjalan melewati pematang, mengantar adik muridnya yang sakit. Tak disangka, Fajar berhenti di dekatnya.

“Puji, kamu sering duduk di sini, ya?”

Puji tersentak. “Iya, Mas. Saya suka lihat langit berubah warna.”

Fajar tersenyum, menatap matahari yang merunduk. “Langit memang indah... Tapi kadang yang diam justru paling indah untuk dimengerti.”



Puji tertunduk. Tangannya menggenggam lipatan puisi yang belum ia berani serahkan.

“Jika kau tahu,
Hanya pada senja aku bicara padamu,
Dalam diam kuucap namamu,
Walau hatimu belum tentu untukku.”

 

Malam itu, Puji menulis puisi dengan air mata. Ia tahu Fajar mungkin hanya menganggapnya gadis desa biasa. Tapi cinta tak pernah melihat kasta atau tempat. Cinta hanya butuh keberanian. Dan itulah yang belum ia punya.


Pekan berganti, sebuah kabar tersebar di desa: Fajar akan dilamar anak kepala desa, Ratna. Puji menggigil di bawah hujan saat mendengar kabar itu. Dunia seakan gelap meski petir menyala.

Ia tak menangis di depan siapa pun. Tapi setiap malam, ia berbicara dengan bayangan.

“Jika aku hanya bayang-bayang,
Mengapa rinduku nyata?
Jika aku bukan takdirmu,
Mengapa Tuhan hadirkanmu dalam mimpi-mimpiku?”

Puji memutuskan malam itu juga. Ia akan mengutarakan isi hatinya. Sekalipun ditolak, ia tak ingin selamanya membungkam cinta.


Senja berikutnya, Puji menunggu di bangku kayu, membawa secarik puisi terakhir. Hujan rintik turun, seolah langit pun tahu hari ini istimewa.

Fajar datang, mengenakan jaket dan membawa buku-buku sekolah. Ia tersenyum melihat Puji.

“Kamu menunggu hujan?”

Puji menatap matanya, pertama kali seberani ini.

“Aku menunggu kamu, Mas.”

Fajar terdiam. “Ada apa, Puji?”

Dengan suara bergetar, Puji menyerahkan puisi.

“Aku tahu ini mungkin tidak penting... Tapi aku ingin kamu tahu, aku pernah mencintaimu, bahkan sampai detik ini.”

Fajar membuka lipatan puisi:

“Aku adalah senja yang kamu lihat,
Redup tapi jujur,
Aku tak pernah meminta disapa,
Hanya ingin kau tahu,
Aku pernah mencintaimu dalam diam.”

Suasana hening. Hanya suara hujan dan detak jantung Puji.

Fajar menatapnya. “Puji... Kenapa tidak dari dulu kau bilang?”

“Aku takut. Takut merusak semua.”

Fajar menghela napas. “Aku juga suka kamu... Tapi aku kira kamu tak pernah peduli.”

“Lalu Ratna?”

“Dia yang meminta orang tuanya datang. Aku belum bilang iya. Aku masih mencari keberanian untuk menolak.”

Puji menangis pelan. “Jadi... cinta ini tidak sepihak?”

Fajar memegang tangannya.

“Kalau saja puisi ini datang lebih awal, mungkin aku sudah ke rumahmu, bukan rumah kepala desa.”

“Cinta yang paling jujur adalah yang tak pernah meminta balasan,
Tapi jika balasan itu datang,
Maka dunia pun bersyukur atas keberanian.”


Namun tak semudah itu. Kabar kedekatan Fajar dan Puji sampai ke telinga keluarga kepala desa. Malam itu juga, ayah Puji dipanggil ke balai desa dan dihujani tuduhan: anak gadisnya menggoda tunangan orang.

“Kami keluarga sederhana, Pak,” kata ayah Puji dengan gemetar. “Tapi kami tidak mengemis cinta siapa pun.”

Puji menangis di belakang pintu, mendengar nama dan harga dirinya dicaci.

“Jika mencintai adalah luka,
Biarlah aku berdarah demi setia,
Aku tak menyesal mencintaimu,
Meski dunia menertawakanku.”

Fajar mendengar kabar itu, dan keesokan paginya ia berdiri di hadapan warga, di tengah pasar desa.

“Saya minta maaf. Saya yang mencintai Puji lebih dulu. Jangan salahkan dia.”

Warga heboh. Tapi keberanian Fajar menyentak semua yang hadir.

Termasuk Ratna.

Ratna mendekat, menatap Fajar tajam.

“Jadi kamu lebih memilih gadis sawah itu?”

Fajar mengangguk. “Karena dia mencintaiku bukan dengan uang, tapi dengan puisi.”

“Ada cinta yang dibungkus emas,
Tapi aku lebih memilih cinta yang dibungkus keberanian dan doa.”


Waktu berlalu. Puji tetap duduk di bangku tua di tepi sawah. Tapi kali ini tak sendiri.

Fajar di sampingnya, memegang tangan Puji yang dingin tapi pasti. Mereka tak perlu menyembunyikan apa pun lagi.

“Kini senja bukan lagi tentang kehilangan,
Tapi tentang pulang,
Bukan lagi tentang diam,
Tapi tentang keberanian mengucapkan cinta.”



Kamis, 22 Mei 2025

Cerita Pendek:Uang Panas di Bawah Gerobak Soto

 

Cerita Pendek:Uang Panas di Bawah Gerobak Soto
Ilustrasi fotoCerita Pendek:Uang Panas di Bawah Gerobak Soto


Namaku Darto. Di kampung ini, aku dikenal sebagai tukang soto langganan warga. Setiap pagi, aku dorong gerobakku ke pertigaan dekat masjid. Siang sedikit, sotonya habis. Tapi dulu tak selalu begini. Dulu, aku cuma jualan satu-dua mangkok, itu pun sering tak laku.

Sampai malam itu.

Hujan deras membasahi jalanan ketika aku pulang dengan sisa kuah basi dan hati murung. Di tikungan jalan, seorang lelaki tua dengan jubah hitam duduk di bawah lampu jalan. Wajahnya keriput, tapi matanya... tajam seperti binatang malam.

“Darto,” katanya, memanggil namaku. Aku tertegun.

“Bapak siapa?” tanyaku waspada.

“Aku hanya penolong. Kau ingin daganganmu laris, bukan?”

Aku tertawa pahit. “Kalau bisa, saya mau sotonya habis tiap hari. Tapi siapa yang bisa jamin begitu?”

Dia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari balik jubahnya. Di dalamnya, ada bayangan kecil yang bergerak cepat seperti kabut. “Ambil ini. Buka tutupnya saat tengah malam. Tapi ingat, jangan pernah beri dia nama.”

Aku tak sempat bertanya lebih jauh. Lelaki itu menghilang dibalik hujan seperti kabut tertiup angin.

Malam itu, setelah istriku—Wati—terlelap, aku membuka botol itu di dapur. Udara tiba-tiba menjadi dingin. Lampu berkedip. Dan dari botol itu, keluar sesosok makhluk kecil—botak, kulit pucat, mata merah menyala.

Dia menatapku... lalu tersenyum.

Keesokan paginya, pembeli datang berbondong-bondong. Aku sampai kewalahan melayani. Soto yang biasa tak laku, kini habis dalam dua jam. Uang mengalir. Aku bisa belikan Wati kalung emas. Bisa cicil motor. Bisa renovasi dapur.

Tapi di balik uang itu... ada yang berubah.

Wati mulai gelisah. “Bang,” katanya suatu malam, “aku dengar suara anak kecil ketawa dari dapur, padahal kita nggak punya anak.”

Aku pura-pura tertawa. “Itu mungkin suara TV tetangga.”

Tapi aku tahu. Itu dia. Tuyul yang tak pernah bicara, tapi selalu hadir. Dia sembunyi di kolong gerobak, dekat celengan tempat aku simpan uang. Kadang aku lihat dia menjilati uang dengan lidah panjangnya. Kadang dia cuma duduk, memeluk lutut, dan menatapku.

Semakin banyak uang, semakin gelap rumah kami.

Suatu malam, Wati menjerit. “Bang! Bang! Aku lihat dia! Anak itu! Dia di dapur!”
Aku bangun kaget, menemukan Wati memeluk dirinya sendiri, menangis. “Kamu bohong! Kamu simpan setan di rumah ini!”

Aku coba tenangkan dia, tapi matanya tak lagi percaya. “Kamu jual jiwamu buat dagangan. Buat uang haram!”

“Aku lakukan ini demi kita, Wat. Demi hidup yang lebih baik.”

“Lebih baik? Kita kaya tapi tiap malam aku mimpi dicekik makhluk kecil. Kita punya uang, tapi rumah ini dingin, Bang. Dingin sekali...”

Keesokan harinya, Wati pergi. Tak ada pesan. Tak ada jejak. Hanya sehelai kertas di meja:
“Aku pergi sebelum semuanya terlambat. Jangan cari aku.”

Aku hancur.

Tapi tuyul itu tetap datang. Tetap duduk di bawah gerobakku. Setiap malam, uang tetap mengalir. Tapi setiap malam pula... aku merasa lebih kesepian.

Sampai suatu malam, aku bangun dengan suara bisikan. “Namaku Ncip...”
Aku membeku. Itu suara anak kecil, tepat di samping telingaku.

Dia tak boleh punya nama.

Besoknya, saat aku buka celengan, uangku berdarah. Harum amis memenuhi ruangan. Uang itu menempel di tanganku, seperti daging basah.

Aku dorong gerobakku ke lapangan kosong. Tanpa ragu, aku siram bensin dan bakar semuanya. Gerobak, celengan, bahkan botol kecil yang dulu kubuka.

Dan dari api itu, aku dengar jeritan—suara anak kecil... menjerit seolah kulitnya melepuh.

Sekarang, aku kembali jualan, tapi hanya dengan panci kecil dan meja sederhana. Tak seramai dulu. Tapi hatiku tenang.

Kadang, saat malam tiba, aku duduk sendiri dan berharap Wati kembali.

Tapi aku tahu... ada harga dari uang yang terlalu mudah datang. Dan aku sudah membayarnya dengan kehilangan yang tak bisa dibeli kembali.

Senin, 30 September 2024

Cerita Pendek:Jarak yang Memisahkan

Cerita Pendek:Jarak yang Memisahkan
Ilusi foto Cerita Pendek:Jarak yang Memisahkan steet by https://pixabay.com/id/photos/silakan-melakukan-bukan-unduh-ini-2697945/

 

Aku selalu percaya bahwa jarak tak akan menjadi penghalang bagi cinta. Aku selalu berpikir bahwa dengan komunikasi yang baik, kesetiaan, dan komitmen, jarak hanya akan menjadi ujian kecil. Tapi ternyata, aku salah.


Namaku adalah Andra. Aku dan Laila, kekasihku, telah bersama selama tiga tahun. Kami memulai hubungan ini dengan sangat indah, seperti pasangan lain pada umumnya. Setiap akhir pekan kami bertemu, menghabiskan waktu bersama, bercanda, dan membuat rencana masa depan. Namun, segalanya berubah ketika Laila mendapatkan pekerjaan di luar kota. Dia diterima di sebuah perusahaan besar yang memintanya untuk pindah ke kota lain yang berjarak ratusan kilometer dari tempatku berada.


"Kita bisa melakukannya, Ra. Aku yakin kita bisa bertahan meski berjauhan," ucap Laila di hari terakhir kami bertemu sebelum kepergiannya. Dia tampak yakin dan penuh semangat. 


Aku tersenyum, meski di dalam hati ada keraguan yang perlahan menggerogoti. "Ya, kita pasti bisa. Kita sering video call, telepon, dan aku akan berusaha menemuimu sesering mungkin."


Dan begitulah, selama beberapa bulan pertama, semuanya tampak berjalan baik-baik saja. Kami tetap terhubung melalui teknologi. Setiap malam, video call menjadi ritual kami sebelum tidur. Namun, rasa rindu yang tertahan lama-lama berubah menjadi keheningan yang aneh. Kami mulai kehabisan topik untuk dibicarakan, dan sesekali teleponnya hanya dipenuhi keheningan canggung.


***


Suatu malam, aku menelepon Laila seperti biasa, tapi dia tidak mengangkat. Sudah lewat satu jam sejak pesan terakhirku, namun tak ada balasan. Pikiran-pikiran buruk mulai muncul di kepalaku. Mungkinkah dia baik-baik saja? Atau mungkinkah ada sesuatu yang terjadi padanya?


Setelah beberapa saat, dia akhirnya membalas pesanku.


“Maaf, Andra. Tadi lagi lembur, sibuk banget. Baru sempat pegang HP.”


"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya khawatir," jawabku, meski ada sesuatu dalam suaranya yang terdengar berbeda. Namun, aku mencoba menepis pikiran buruk itu.


Hari-hari berikutnya, situasi yang sama terus berulang. Laila semakin sering tak mengangkat teleponku atau membalas pesanku terlambat. Aku berusaha memahami kesibukannya. Aku berusaha percaya.


Tapi ada sesuatu yang terus menggangguku. Perasaan yang tak bisa aku jelaskan, sebuah firasat buruk yang perlahan menindih dada.


***


Suatu hari, aku memutuskan untuk memberikan kejutan pada Laila. Aku memutuskan untuk mengunjunginya tanpa memberitahu sebelumnya. Aku pikir, mungkin dengan kedatanganku, semua ketegangan ini akan mencair. Kami akan kembali seperti dulu, tertawa, bercanda, dan menikmati kebersamaan.


Aku berangkat di pagi hari dan tiba di kotanya menjelang malam. Di depan apartemennya, aku ragu untuk mengetuk pintu. Tapi akhirnya, aku melakukannya. Ketika pintu terbuka, yang berdiri di sana bukanlah Laila, melainkan seorang pria asing.


“Siapa kamu?” tanyaku, berusaha tetap tenang meski dadaku seolah hendak meledak.


Pria itu terlihat bingung, tapi sebelum sempat menjawab, Laila muncul dari belakangnya. Wajahnya pucat.


“Andra… aku bisa jelaskan,” katanya dengan suara bergetar.


Aku mundur selangkah, merasa dunia di sekitarku runtuh. "Siapa dia, Laila?" tanyaku sekali lagi, meski di dalam hatiku aku sudah tahu jawabannya.


“Ini... Arman, teman kerjaku. Kami...”


“Teman kerja?” Aku tertawa getir. “Jangan bohong, Laila! Aku tahu apa yang sedang terjadi.”


Laila menggigit bibirnya, air matanya mulai mengalir. “Andra, aku... aku nggak bermaksud seperti ini. Aku... aku kesepian.”


"Kamu kesepian? Jadi aku nggak cukup, begitu?" Tiba-tiba, seluruh emosi yang selama ini kutahan meluap. "Jarak yang membuatmu begini, atau kamu memang sudah bosan dengan kita?!"


Laila menunduk, tak mampu menjawab. Arman, pria itu, tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi aku menghentikannya dengan tatapan tajam. Aku tak ingin mendengar penjelasan apa pun darinya. Ini antara aku dan Laila.


“Kenapa, Laila?” tanyaku, suaraku lebih pelan, nyaris berbisik. Aku butuh penjelasan. Meskipun sakit, aku ingin tahu kenapa semua ini terjadi. “Kamu bilang kita bisa bertahan, kamu bilang kita akan baik-baik saja. Kenapa kamu mengkhianati itu?”


Laila masih diam. Dia hanya menangis. Tangisannya seolah menjadi jawaban yang menyakitkan. Jauh di dalam hatiku, aku tahu ini lebih dari sekadar jarak. Ini lebih dalam dari sekadar kesepian. Ini adalah rasa ragu yang tak terungkap sejak lama. Mungkin hubungan kami memang sudah retak jauh sebelum jarak memisahkan kami.


Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri meski dadaku sesak. “Aku pergi,” ucapku akhirnya. 


Laila mendongak, matanya penuh dengan air mata. “Andra, jangan pergi. Aku bisa jelaskan.”


“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.” Aku berbalik, meninggalkan apartemen itu dengan langkah berat. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti menghapus masa lalu kami, semua kenangan manis yang pernah kami bagikan. 


***


Di perjalanan pulang, pikiranku terus berputar. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana bisa aku tak melihat ini terjadi? Apakah aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku tak menyadari bahwa hubungan kami semakin renggang? Atau mungkin, memang sejak awal hubungan kami tidak sekuat yang kupikirkan?


Sesampainya di rumah, aku duduk di tepi tempat tidur, menatap ponsel yang masih terdiam di tanganku. Pesan terakhir dari Laila masih di layar: "Aku kesepian."


Kata-kata itu terus bergema di kepalaku. Kesepian. Apakah aku juga merasakan hal yang sama selama ini? Apakah aku juga sebenarnya merasakan keraguan yang tak pernah kuungkapkan?


Namun, satu hal yang pasti: cinta saja tidak cukup. Jarak, ketidakpastian, dan rasa sepi bisa memakan cinta itu perlahan-lahan, hingga yang tersisa hanyalah kehampaan dan kebohongan.


Aku tak tahu apakah aku akan bisa memaafkan Laila, atau apakah kami akan pernah bisa kembali seperti dulu. Tapi untuk sekarang, aku harus merelakan semuanya. 


Karena pada akhirnya, jarak bukan hanya tentang kilometer yang memisahkan kita, tetapi tentang sejauh mana hati kita sudah saling menjauh.


--- 


Cerita ini menyajikan ketegangan batin dan rasa sakit yang dialami oleh seorang tokoh utama yang menjadi korban perselingkuhan dalam hubungan jarak jauh, dengan percakapan intens yang membantu menggambarkan rasa kecewa dan pengkhianatan dalam hubungannya.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...