Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...

Cerita Pendek: Juli yang Tak Pernah Menepati Janji

Ilustrasi fotoCerita pendek_ https://id.pngtree.com/freebackground/silhouette-of-a-woman-on-the-beach-in-the-morning_1704461.html



Namaku Arsha. Aku bukan siapa-siapa kecuali seseorang yang masih saja duduk di ujung senja, menanti sesuatu yang entah akan datang atau tidak. Barangkali aku gila, atau mungkin terlalu setia pada sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar jadi milikku: kamu.

Dan ini adalah Juli, bulan kesekian yang selalu membuat dadaku bergetar hanya karena satu nama—namamu.



Aku masih ingat pertemuan kita pertama kali. Di sudut taman kota, saat angin sore menyapu rambutku yang lepas dari ikatan. Kamu menyapaku, seolah kita sudah kenal sejak lama. Aku tersenyum kikuk, tapi diam-diam hatiku bergemuruh. Sejak saat itu, entah mengapa, kamu seperti musim yang tak bisa kutebak, tapi selalu kutunggu.

"Kamu suka Juli?" tanyamu waktu itu.

Aku mengangguk. "Karena Juli hangat. Tapi tak sepanas Agustus yang seringkali terlalu terburu-buru."

Kamu tertawa. Suaramu renyah seperti daun jatuh ke tanah yang kering. Dan sejak itulah, aku mulai menyimpan Juli sebagai bulan penuh makna—bulan yang kusebut sebagai permulaan rasa yang tak pernah selesai kutulis.


Sudah tiga Juli berlalu. Setiap tahun, aku menuliskan sesuatu untukmu. Bukan puisi, bukan cerita, hanya potongan harapan yang tak pernah kutunjukkan pada siapa-siapa. Kertas-kertas itu kusimpan di dalam kotak kayu tua peninggalan almarhum nenekku. Di atasnya, kutulis: "Untukmu yang tak tahu sedang kucintai dalam diam."

Juli ini, seperti sebelumnya, aku kembali duduk di bangku taman yang sama. Daun-daun sudah mulai menguning, dan angin membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Tapi kamu tidak datang. Lagi-lagi tidak datang.

Aku menyentuh bangku kosong di sampingku, dan entah kenapa, air mataku jatuh begitu saja. Bukan karena sedih, tapi lebih karena aku merasa bodoh—masih menunggu sesuatu yang bahkan tak pernah berjanji akan kembali.

“Aku masih di sini, tahu?” bisikku, seolah kamu bisa mendengar.

Padahal kamu entah di mana sekarang. Mungkin di kota lain. Mungkin sudah bersama perempuan lain. Atau mungkin, kamu memang tak pernah benar-benar ingin kembali sejak pergi tiga tahun lalu tanpa pamit.


Kadang aku bertanya, mengapa cinta harus selalu terasa seperti menunggu kereta yang tak punya jadwal pasti? Apakah semua gadis sepertiku harus belajar melepaskan tanpa sempat memiliki?

Dulu, kamu bilang, “Kalau takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi di bulan Juli nanti. Bulan yang kau bilang paling hangat.”

Dan aku menggenggam kalimat itu seperti menggenggam janji Tuhan. Padahal, kamu tak pernah menyebut tahun berapa. Tidak ada tanggal pasti. Hanya kata "nanti" yang menggantung seperti langit yang enggan turun hujan.

Tapi tahukah kamu, aku menunggu. Dengan segala bentuk kesabaran yang bahkan tak bisa dijelaskan oleh logika. Aku menolak ajakan kencan dari lelaki lain, hanya karena takut hatiku tidak utuh untuk mereka.


Hari ini tanggal 28 Juli. Tiga hari lagi bulan ini berakhir. Tiga hari lagi aku harus mengaku kalah pada waktu dan kenyataan. Aku berjalan menyusuri jalan pulang dari taman, melewati toko buku tempat kita pernah berdebat soal puisi Chairil Anwar. Mataku menangkap sekilas bayangan seseorang di seberang jalan. Siluet tubuhmu. Cara berdirimu. Jaket yang selalu kamu pakai saat malam turun.

Hatiku refleks berlari. Tapi saat aku sampai di sana, dia bukan kamu.

Untuk pertama kalinya, aku ingin marah. Pada Juli. Pada kamu. Pada diriku sendiri.

Tapi aku tidak bisa. Karena cinta, ketika benar-benar tumbuh, tidak lagi butuh alasan untuk setia. Ia hanya ada. Diam-diam. Dalam bentuk paling sederhana: penantian.


Malam ini aku membuka kotak kayu itu. Kubaca kembali tulisan-tulisan untukmu. Surat-surat yang tidak pernah kukirim. Dan akhirnya, kutulis satu lagi:



"Untukmu yang pernah berkata akan kembali,
Juli hampir usai.
Aku masih di sini, tapi hatiku tidak lagi.
Biarlah Juli kali ini menjadi penutup,
bukan awal yang selalu kupaksa percaya."

Lalu aku menutup kotak itu. Kusimpan jauh di lemari paling dalam. Besok, aku tidak akan ke taman lagi. Tidak akan melihat bangku kosong yang selalu menyakitkan itu. Mungkin cinta memang tidak selalu harus memiliki. Dan penantian kadang harus dikubur, agar hati bisa tumbuh kembali.



Dan inilah aku sekarang—bukan lagi Arsha yang duduk di taman menunggu. Tapi Arsha yang akhirnya tahu, bahwa tak semua cinta harus diselesaikan oleh kehadiran. Kadang, cukup dikenang oleh Juli yang pernah hangat, lalu ditinggalkan dengan senyuman.



Juli telah mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana cara mengikhlaskan. Dan kamu—meski tak pernah kembali—tetap akan jadi cerita yang indah, yang cukup kutulis di lembaran yang hanya bisa kubaca sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...