Tampilkan postingan dengan label cerpenldr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenldr. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2026

Nama yang Masih Bergema dalam Doa

Nama yang Masih Bergema dalam Doa
Nama yang Masih Bergema dalam Doa
https://id.pinterest.com/aisyahhh3232/kekasih-bayangan/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling kutakuti: diam-diam, tertib, dan penuh kehati-hatian. Tidak ada pelukan sebelum janji, tidak ada sentuhan selain doa yang kusebutkan pelan setiap selesai salat. Aku menyebut namamu seperti orang yang takut bersuara terlalu keras, khawatir Tuhan mengira aku meminta terlalu banyak.

Namun di sela doa itu, selalu ada bayangan yang menyusup. Nama lain. Wajah yang seharusnya sudah pergi, tetapi masih sering mengetuk ingatan tanpa permisi.

Kamulah cinta yang ingin kujaga kesuciannya. Tapi mantanku adalah bayangan yang tak mau mati.

Malam itu, kita duduk berhadapan di teras rumahmu. Lampu jalan redup, dan angin membawa bau tanah basah. Kamu tidak langsung bicara. Kamu selalu begitu—menunggu sampai hatimu siap melukai atau terluka.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” katamu akhirnya.

Aku mengangguk, meski jantungku mulai berlari.

“Kamu pernah benar-benar selesai dengan masa lalumu?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dada.

“Aku sudah berusaha,” jawabku.

Kamu tersenyum tipis. “Aku tidak bertanya apakah kamu berusaha. Aku bertanya apakah kamu sudah selesai.”

Aku menunduk. Diamku adalah jawabannya.

Kamu menarik napas panjang, lalu berkata lirih, seolah membaca puisi untuk dirimu sendiri:

“Aku tidak takut menjadi yang terakhir,
aku hanya takut mencintai
sementara hatimu masih
menoleh ke belakang.”

Kata-katamu menyesakkan. Aku ingin menyangkal, tapi kebohongan akan mencemari cinta yang ingin kujaga tetap suci.

“Aku tidak mencintainya lagi,” kataku cepat. “Tapi kenangannya… masih sering datang.”

Kamu menatapku lama. “Kenangan tidak datang tanpa diundang.”

Kalimat itu menusuk.

Mantan kekasihku adalah luka yang kututup rapi, bukan sembuh yang kuikhlaskan. Kami berpisah dengan cara yang salah—penuh emosi, penuh dosa, penuh janji yang tidak ditepati. Sejak itu aku belajar menata hidup, belajar mencintai Tuhan sebelum manusia, dan di sanalah aku bertemu kamu.

Kamu hadir seperti peneduh. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Kamu mencintaiku dengan cara yang tenang, seolah cinta adalah amanah, bukan nafsu.

Namun justru karena itu, ketegangan tumbuh.

Aku takut kehilanganmu. Kamu takut hanya menjadi pelarian.

Hari-hari setelah percakapan itu terasa berat. Kamu tidak menjauh, tapi tidak juga mendekat. Setiap pesanmu terasa formal, seolah kamu sedang menimbang apakah aku pantas untuk dilanjutkan.

Aku mencoba lebih khusyuk berdoa. Aku mencoba memotong ingatan yang tumbuh liar. Tapi bayangan mantanku seperti bayanganku sendiri—ke mana pun aku pergi, ia ikut.

Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di antara dua pintu. Satu bertuliskan namamu. Satu lagi bertuliskan masa lalu. Aku tahu pintu mana yang ingin kubuka, tapi kakiku gemetar.

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Paginya, pesan darimu masuk.

“Kita perlu bicara.”

Kami bertemu di sebuah masjid kecil selepas isya. Tempat yang seharusnya paling aman, justru menjadi arena paling jujur.

“Kamu kelihatan lelah,” katamu.

“Aku sedang berperang,” jawabku.

“Dengan siapa?”

“Dengan diriku sendiri.”

Kamu terdiam, lalu duduk di sampingku, menjaga jarak yang sopan.

“Aku mencintaimu,” katamu akhirnya. “Tapi aku tidak ingin cintaku berdiri di atas bayangan orang lain.”

Aku menggenggam sajadahku kuat-kuat.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku, hampir menangis.

Kamu memejamkan mata, lalu berkata dengan suara gemetar:

“Jika aku adalah doa yang kau pinta,
jangan sisipkan nama lain
di sela aminmu.
Tuhan mendengar segalanya,
termasuk keraguan.”

Air mataku jatuh. Aku merasa kecil, rapuh, dan bersalah.

“Aku ingin mencintaimu dengan bersih,” kataku. “Tapi bayangan itu datang tanpa izin.”

Kamu menatapku. “Tidak ada bayangan yang lebih kuat dari cahaya. Tapi kamu harus memilih ke mana kamu menghadap.”

Ketegangan mencapai puncaknya beberapa hari kemudian.

Mantan kekasihku menghubungiku. Pesan singkat. Netral. Tapi cukup untuk mengoyak.

“Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.”

Pesan itu seperti membuka pintu yang sudah hampir terkunci.

Aku tidak membalas. Tapi aku gemetar. Dan yang paling menyakitkan: aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut.

Akhirnya, aku datang juga.

“Aku dihubungi olehnya,” kataku jujur.

Kamu terdiam lama. Wajahmu tenang, tapi matamu lelah.

“Dan kamu datang ke sini,” katamu pelan. “Itu berarti sesuatu.”

“Aku memilih jujur,” kataku. “Karena aku tidak ingin cinta ini tercemar.”

Kamu tersenyum kecil, pahit tapi hangat.

“Cinta suci bukan tentang
tidak pernah tergoda,
tapi tentang keberanian
mengaku dan memilih.”

Aku menatapmu dengan mata basah. “Aku memilihmu.”

Kamu berdiri. Mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tercekat.

“Aku tidak akan memintamu melupakan,” katamu. “Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang, bukan tempatmu bersembunyi.”

Aku mengangguk.

Malam itu tidak berakhir dengan janji manis. Tidak ada pelukan. Tapi ada sesuatu yang lebih berat dan lebih jujur: komitmen untuk berjalan pelan, dengan cahaya di depan, bukan bayangan di belakang.

Saat kita berpisah, kamu berkata:

“Jika suatu hari bayangan itu datang lagi,
jangan lari dariku.
Pegang tanganku.
Kita hadapi bersama,
atau kita lepaskan dengan ikhlas.”

Aku pulang dengan langkah gemetar, tapi hati yang lebih tenang.

Cinta suci bukanlah cinta tanpa masa lalu. Ia adalah cinta yang berani mengakui luka, memilih kesembuhan, dan menolak kembali ke kegelapan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa tanpa menyebut nama selain namamu.

Bayangan itu masih ada. Tapi aku tidak lagi berjalan sendirian.


Kamis, 04 Desember 2025

Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA

Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA
Ilustrasi Gambar Trotoar.id

“Jika cinta adalah pisau,

maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.”

Hujan turun malam itu, deras dan tak berbelas. Aku berdiri di balik jendela, menatap bayanganmu yang memudar di kaca. Sejak kau datang membawa namanya dalam setiap senyum, aku tahu hatiku tak lagi menjadi tempatmu pulang.

Namamu: Kau.
Nama cinta yang kusimpan rapat-rapat.
Namun kau datang bersama seseorang—Reno, sahabatku sejak kecil. Dan entah bagaimana, cinta yang seharusnya sederhana berubah menjadi simpul berduri.


“Aku…” suaramu bergetar saat itu, “Aku harus jujur. Aku menyukai kalian berdua.”

Kau menunduk. Reno menatapmu lama, lalu menatapku.
“Aku sudah menduga,” katanya dingin. “Kau memang suka memainkan hati.”

Aku ingin membelamu, ingin berkata bahwa kau hanya bingung. Tapi kata-kata itu tertahan. Ada sesuatu di matamu—ketakutan, penyesalan, sekaligus kerinduan—yang tidak lagi bisa kuartikan.

Aku hanya mampu berbisik pelan,


“Jika hatimu adalah pintu, biarlah aku menjadi angin yang hanya mengetuk,

sedangkan dia—

adalah badai yang memaksamu terbuka.”

Kau menggigit bibirmu, menahan air mata.


Hari-hari setelah pengakuan itu berubah menjadi perang senyap. Reno semakin menjauh dariku, tetapi semakin mendekat padamu. Aku melihatnya menjemputmu diam-diam, melihat bagaimana kau tertawa—tawa yang dulu hanya kuterima aku seorang.

Aku bukan orang pemarah. Namun cinta sering kali membuat seseorang menjadi makhluk yang tak dikenali.

Suatu malam, aku melihat kalian berdua di taman kota. Aku mengikutimu tanpa suara. Kau duduk di bangku basah sisa hujan, tubuhmu menggigil, tapi Reno memelukmu. Aku mendengar kalian berdebat.

“Aku memilih dia,” katamu akhirnya. Suaramu memecah malam. “Aku memilih aku.”

Itu artinya kau memilihku.
Tapi Reno tak bisa menerima.

“Aku tidak terima,” katanya serak. “Aku mencintaimu lebih lama daripada dia.”

Kau menggeleng. “Cinta bukan soal lama mengenal, Reno.”

Aku terpaku di balik pepohonan. Getaran aneh naik dari perutku sampai dada. Rasanya seperti ada dunia yang pecah di bawah kakiku.


“Cinta adalah luka yang berjalan,

mengikuti arah langkahmu.

Dan aku—

selalu berdarah karenamu.”


Aku tak tahu apakah kau mendengar bisik puisiku atau bukan, tapi kau menangis. Reno memegangi bahumu, memaksamu menatapnya.

“Aku tidak bisa kehilanganmu!” teriaknya.


Kejadian itu hanya awal.

Seminggu setelahnya, Reno menghilang dari lingkaran pertemanan kami. Teleponku tak dijawab, pesanku dibaca lalu lenyap. Aku mengira ia sedang menenangkan diri.

Sampai suatu sore, kau datang dengan wajah pucat.

“Dia mengikutiku,” katamu. “Di jalan, di kampus, bahkan sampai ke rumah. Dia bilang aku miliknya.”

Aku merasakan gelombang panas naik ke kepalaku. Aku marah—marah karena kau ketakutan, marah karena sahabatku berubah menjadi sosok asing, marah karena cinta segitiga ini mulai menggigit jiwa kita.

“Aku akan bicara dengan dia,” kataku.

“Jangan! Itu berbahaya.” Kau mencengkeram lenganku. “Reno tidak seperti dulu.”

Namun aku tetap pergi.


Reno tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya. Rumah itu gelap ketika aku tiba. Pintu tidak terkunci. Aku masuk perlahan.

“Reno?” panggilku.

Tidak ada jawaban.

Aku melangkah ke ruang tengah—dan melihatnya duduk membelakangi, memegang sesuatu di tangannya. Pisau. Kilatan logamnya memantulkan sisa cahaya dari lampu kecil di sudut ruangan.

“Aku tak mau kehilangan dia,” katanya tanpa menoleh. “Kau selalu mengambil segalanya dariku.”

“Reno,” suaraku bergetar. “Kau salah. Tidak ada yang merebut siapa pun. Dia memilih dengan hatinya.”

Dia bangkit perlahan, tubuhnya bergetar.
“Aku lebih pantas. Aku lebih dulu. Aku lebih segalanya.”

“Reno, tolong…”

Ia tertawa pelan. Tawa patah.

Kau tiba-tiba muncul di pintu. Aku terkejut—aku tak mendengarmu menyusul.

“Reno, hentikan!” teriakmu. “Kau menakutiku!”

Reno menatapmu. Matanya merah, basah, kacau.
“Kau… aku melakukan semua ini untukmu.”

Kau memelukku dari belakang, tubuhmu gemetar. Aku meraih tanganmu.

Reno mengangkat pisau.

Waktu seakan berhenti.

Aku bergerak refleks, menepis tangannya. Kami berdua jatuh ke lantai. Pisau itu terlempar, lalu terguling di dekat kaki meja.

Reno merangkak ke arah pisau. Aku menahannya, mendorong tubuhnya.
“Reno, sadar! Ini aku!”

“Biarkan aku!” bentaknya.

Pertengkaran itu berubah menjadi pergumulan. Tinju, teriakan, dentuman badan ke lantai. Kau menangis, memanggil nama kami berdua.

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Reno menarik pisau itu dengan kekuatan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia mengayunkannya—ke arahku.

Aku memegang pergelangan tangannya, tapi pisau itu bergerak liar.

Kau berlari mendekat untuk menahan kami.

Dan dalam sekejap…
Dalam satu hentakan…
Dalam satu jeritan…

Pisau itu menembus dada Reno sendiri.

Aku tak tahu siapa yang mendorong.
Aku tak tahu apakah itu kecelakaan.
Aku hanya tahu darah mengalir begitu cepat, membasahi lantai.

Reno terjatuh di pangkuanku. Ia menatapku dengan mata yang mulai pudar.

“Aku hanya ingin dicintai…” bisiknya. “Kenapa bukan aku…?”

Aku menggigit bibir, menahan tangis yang menggoncang jiwaku.
“Maafkan aku, Ren…”

Sebelum matanya tertutup, ia berbisik,


“Jika cinta adalah pisau,

maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.”


Di luar, hujan mulai turun lagi.
Hujan yang serupa darah yang membersihkan lantai moral kita.

Kau memelukku erat, seolah takut aku juga akan hilang seperti Reno.

“Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi,” bisikmu.

Aku menatapmu, lenganku memelukmu lebih kuat.

Namun dalam hatiku, aku tahu:
cinta segitiga ini telah merenggut satu nyawa,
meninggalkan luka yang tak akan hilang sepanjang hidup.

Dan ketika kita berjalan keluar dari rumah itu, meninggalkan tubuh Reno yang kaku dan dingin—

aku berbisik pada diriku sendiri,


“Dalam cinta, yang tersisa bukan hanya rasa,

tapi juga dosa

yang akan kita bawa

sampai akhir usia.”



Senin, 24 November 2025

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

 

Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah.

Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan.

“Aku keluar sebentar,” katamu.

“Akan lama?” tanyaku.

“Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan.

Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.”

Kau menatapku lama. “Kau takut?”

Aku menggeleng. “Aku rindu.”

Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu langit. Tapi malam-malam ini, senyummu tampak lelah, seolah ada beban yang tak sanggup kau ceritakan.

Sebelum pergi, kau mendekat dan membisikkan sesuatu yang terdengar seperti puisi patah:

Jika suatu malam aku tak kembali,
jangan kau cari aku pada doa yang sama.
Cukup panggil namaku di dadamu,
aku akan mendengarnya… meski dari dunia yang lain.

Aku menggigil, dan bukan karena dingin.


Tepat pukul 00.07, ketukan itu datang.
Pelan.
Berirama.
Menembus dinding hatiku seperti bisikan masa lalu.

Aku memberanikan diri berjalan menuju jendela. Tangan gemetar, napas tercekat. Ketika tirai kusibak, tidak ada siapa pun di luar sana—hanya angin malam yang menggerakkan daun mangga dan aroma tanah basah.

Tetapi di kaca jendela… ada embun yang membentuk dua huruf:
A dan K
Inisialku dan… inisialmu.

Jantungku berdegup liar. “Apa ini ulahmu?” gumamku.

Tapi tidak. Kau tidak mungkin bergerak secepat itu. Dan kau tidak mungkin membuat embun dari luar jendela lantai dua.

Aku memejamkan mata dan membisikkan puisi kecil:

Jika ini pertanda,
jangan biarkan ia menjadi luka.
Biarkan ia jadi jalan,
yang membawaku kembali padamu.

Namun malam itu tak memberiku jawab apa-apa.


Pagi berikutnya, kau pulang tanpa suara. Matamu merah seperti orang yang belum tidur semalam.

“Kau melihatnya lagi?” tanyamu sebelum sempat duduk.

“Aku melihat embun itu.”

Kau mengusap wajahmu. “Aku takut ini semakin parah.”

“Apa maksudmu?” tanyaku, menggenggam tanganmu.

Tanganmu dingin.

“Aku tidak bisa terus membiarkanmu sendirian setiap malam. Tapi aku juga tidak bisa berhenti pergi.”

“Kenapa?” suaraku pecah. “Kau sembunyikan apa dariku?”

Kau menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin runtuh. “Aku berdoa di tempat berbeda darimu. Aku memanggil Tuhan yang berbeda. Dan aku… terjebak di antara dua suara: suaramu dan suara keluarga yang tak pernah merestui.”

“Apa hubungannya dengan ketukan itu?”

Kau menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Tapi setiap kali aku berniat kembali padamu, ada sesuatu yang memanggilku ke luar rumah.”

Aku menahan napas. “Sesuatu? Atau seseorang?”

Kau terdiam.

“Itu suara perempuan,” katamu akhirnya. “Suara yang memanggilku sambil mengetuk kaca.”

Aku memucat. “Perempuan?”

“Iya… tapi suaranya asing. Bukan manusia. Seperti… doa yang tersesat.”

Aku merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Kau menukas, “Aku tidak ingin kau takut. Tapi aku juga tidak ingin berbohong.”

Aku menatapmu dengan mata yang mulai basah. “Aku tidak takut hantu, aku takut kehilanganmu.”

Kau menggenggam dahiku, membisik:

Jika aku pergi dari pelukanmu,
bukan karena aku ingin hilang.
Tapi karena ada doa yang memanggilku,
dari tempat yang tak bisa kujelaskan kepadamu.

Air mataku akhirnya pecah.

Malam ketiga, semua berubah.

Ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini lebih keras. Lebih cepat. Lebih mendesak. Dan anehnya, malam itu kau tidak sempat pergi. Kau berdiri di tengah kamar, menunggu, wajahmu tegang seperti sedang menantang sesuatu yang tidak terlihat.

“Jangan buka jendelanya,” katamu.

Tapi ketukan itu semakin keras. Tirai berkibar meski jendela tertutup rapat.

Aku bersembunyi di belakangmu. Kau meraih tanganku, menguatkannya dengan genggaman yang bergetar.

“Aku tahu siapa yang mengetuk itu,” katamu lirih.

“Apa? Siapa?!”

Kau menelan ludah. “Ibuku.”

Aku terdiam.

“Tapi ibumu… sudah meninggal,” bisikku.

Kau mengangguk perlahan. “Dan dia tidak pernah menerima pernikahan kita. Tidak pernah menerima perbedaan kita.”

Ketukan itu berhenti.
Hening.
Tapi aku bisa mendengar sesuatu lain. Suara seperti napas seseorang… di balik kaca.

“Aku harus membukanya,” katamu melangkah.

Aku menariknya. “Jangan! Kau tidak tahu apa yang terjadi!”

“Aku harus. Jika tidak, dia tidak akan pernah berhenti datang.”

Aku memelukmu dari belakang, memohon, “Aku tidak takut pada ibumu… aku takut kehilangan kau.”

Kau menoleh, menatapku dengan mata yang penuh luka. “Kau tidak akan kehilangan aku.”

Tapi saat kau membuka jendela, angin dingin menyapu masuk, dan aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku: bayangan perempuan berdiri di bawah pohon mangga, wajahnya buram, tubuhnya seperti asap.

Dan dia memanggil namamu.

Kau melangkah maju, seolah terpanggil. Aku menarikmu, memaksa tubuhmu kembali. “Kau tidak ke mana-mana!”

Kau gemetar hebat. “Dia ingin aku pulang… bukan ke rumah, tapi ke keyakinanku. Ke doa yang pernah kutinggalkan.”

Aku menangis. “Kalau begitu… biarkan aku ikut.”

Kau memelukku. “Kau tidak bisa. Tuhan kita berbeda.”

“Lalu bagaimana dengan cinta kita?!”

Kau membalas dengan suara paling pedih yang pernah kudengar:

Cinta kita bukan salah,
yatapi ia lahir di dua langit yang tak pernah bertemu.
Dan kadang… cinta yang suci pun harus kalah,
di persimpangan doa.

Aku terjatuh di lantai, menangis seperti anak kecil.

Kau menutup jendela itu perlahan, membelai kepalaku, dan berbisik:

“Aku tidak pergi. Aku tidak akan menghilang. Tapi aku harus berdamai dengan dia, dengan masa lalu, dengan doaku… sebelum aku bisa kembali padamu sepenuhnya.”

Aku mengangguk sambil menangis.

Di luar sana, bayangan itu perlahan memudar.

Dan ketukan itu tidak datang lagi—tapi meninggalkan luka yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Aku tahu malam itu, kita tidak kalah.
Tapi kita juga tidak menang.

Kita hanya dua manusia yang mencoba mencintai, di tengah langit yang tidak pernah benar-benar berpihak.

Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah

 

Ilustrasi foto Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah


Hujan turun sore itu, menetes perlahan seperti doa yang gugur dari langit. Aku berdiri di bawah atap mushola kampus, mencoba menenangkan dada yang tak kunjung reda sejak pertemuan terakhir kita. Kau datang dengan langkah pelan, membawa aroma hujan yang selalu kukenal sejak pertama kali kita berbicara tentang hal paling sepele: warna senja.

“Kau masih menungguku?” bisikmu.

Aku tersenyum hambar. “Bukankah aku selalu begitu?”

Kau menatapku, matamu seperti halaman kitab yang tak pernah bosan kubaca—penuh misteri, penuh luka yang kau sembunyikan demi tak melukai sesiapa pun.

“Orang-orang mulai bertanya,” katamu, lirih. “Tentang kita. Tentang kenapa aku terlalu sering bersamamu.”

Aku menghela napas. “Biarkan mereka. Yang tidak mengerti, tak punya hak mengatur langkah kita.”

Tapi aku tahu hatimu gemetar. Bukan karena hujan, bukan karena dingin. Melainkan karena kenyataan bahwa kita terpaut di antara dua dunia yang tidak pernah mau berdamai.

Kau menggenggam jemariku sebentar, sebelum menariknya pelan seolah takut Tuhan melihat. “Aku hanya tidak ingin kau terluka,” ucapmu.

Aku menatapmu lama, lalu berkata pelan, “Aku lebih takut kehilanganmu daripada apapun yang mereka katakan.”

Puisi kecilku pecah tanpa sengaja di bibirku:

Jika mencintaimu adalah luka,
maka biarkan aku berdarah.
Sebab yang mengalir hanyalah namamu,
yang tak pernah berhasil kuhapus dari nadiku.

Kau menunduk, seakan puisi itu menampar sesuatu jauh di dalam dirimu.


Malam berikutnya, kita bertemu lagi. Di taman belakang perpustakaan. Tempat yang pernah kau sebut sebagai ruang netral—bukan masjid, bukan gereja—hanya hening dan angin yang menua bersama waktu.

“Kita tak bisa terus begini,” katamu. Nada itu menggores seperti pisau.

“Aku tahu,” jawabku. “Tapi aku juga tahu, kita tak bisa berhenti.”

Kau duduk di bangku kayu yang mulai rapuh dimakan hujan. Aku berdiri di depammu, menatap wajah yang mulai penuh keraguan.

“Orang tuaku mulai curiga,” bisikmu. “Mereka bilang aku terlalu jauh melangkah. Mereka ingin aku berhenti bertemu denganmu.”

Aku tersenyum pahit. “Lalu? Kau akan menuruti mereka?”

Kau menggeleng cepat. “Tidak mudah. Kau tahu itu.”

“Tapi aku di sini,” kataku lirih. “Meski kau gentar, meski kau terbelah, aku tetap di sini.”

Kau menatapku lama, lalu berkata, “Aku ingin memperjuangkanmu. Tapi aku juga takut membuatmu kehilangan keluargamu.”

Aku menelan ludah. “Kau pikir aku juga tidak takut kehilangan keluargaku karena mencintaimu?”

Kau terdiam.

Dalam hening itu, aku mengucap sebuah puisi pendek, sepelan detak jantung yang ingin menyerah:

Malam tahu kita saling mencari,
meski doa-doa kita berbeda arah.
Tapi apakah Tuhan akan benar-benar marah,
jika dua hati saling menatah rindu?

Kau menutup wajahmu dengan kedua tanganmu. Aku tahu kau menangis tanpa suara.


Hari yang menegangkan itu tiba ketika keluargamu memergoki kita di depan kampus. Suaramu bergetar saat kau mencoba menjelaskan, dan suara ayahmu menggema seperti palu hukuman.

“Kau tahu aturannya! Kau tahu batasnya!” teriak ayahmu.

Aku berdiri tegak meski lututku gemetar. “Pak… saya tidak bermaksud membawa dia menjauh dari keluarganya. Saya hanya—”

“Kau hanya apa?” potongnya. “Mengikat perasaannya? Menjeratnya ke masa depan yang tak mungkin kalian jalani?”

Aku menunduk. Sakitnya menusuk terlalu dalam. Kau memandangku dengan mata memohon, seolah berkata maafkan aku… maafkan mereka… maafkan keadaan.

Ibumu menggenggam lenganmu, menarikmu menjauh dariku. “Nak, jangan buat hidupmu rumit.”

Aku ingin berlari menghampirimu, tapi kakiku beku.

“Hentikan…” kau mencoba meronta. “Aku yang memilih dia. Bukan dia yang memaksa.”

Ayahmu menatapmu tajam. “Dan kau harus memilih keluargamu.”

Itulah pertama kalinya aku melihatmu benar-benar hancur.


Dua minggu berlalu tanpa kabar. Dua minggu yang terasa seperti hukuman panjang dari semesta. Aku tidak makan dengan benar, tidur pun seperti sekedar formalitas tubuh.

Aku merindukanmu.

Hingga suatu malam, kau berdiri di depan kostku, basah oleh hujan. Nafasmu cepat, matamu merah.

“Aku tak tahan,” katamu sambil memelukku tiba-tiba. “Aku tak bisa hidup seolah-olah kau tak ada.”

Aku memelukmu erat, seakan dunia akan runtuh jika aku melepaskan.

Kau menangis di bahuku. “Aku ingin memperjuangkan kita. Meski kita harus menyakiti beberapa orang. Meski kita harus menunggu lebih lama.”

Aku menatap wajahmu yang kacau oleh hujan dan air mata. “Kau benar-benar yakin?”

Kau mengangguk. “Aku mencintaimu, tapi bukan cinta yang minta jalan instan. Cinta kita… cinta yang harus berjalan pelan. Pelan tapi pasti menuju sesuatu.”

Aku tersenyum lirih. Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu, hatiku terasa hidup.

Dan aku membisikkan puisi terakhir malam itu:

Jika dunia melarang kita bersatu,
maka biarkan kita berjalan perlahan.
Sebab aku percaya, cinta yang sabar,
akan menemukan jalannya.

Kau tersenyum. “Aku percaya itu.”

Dan untuk sekali lagi, hujan menjadi saksi bahwa meski dunia menolak, kita tetap memilih untuk bertahan—meski perlahan, meski sakit, meski belum tahu akhirnya akan seperti apa. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, kita tidak takut lagi.

Kita hanya mencintai.
Dan memperjuangkan.
Tanpa berhenti.

Minggu, 23 November 2025

Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”


Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”
https://www.viva.co.id/foto/966355-cinta-beda-agama-dalam-pandangan-anak-kekinian

Hujan turun seperti tirai abu-abu yang menutupi kota sore itu. Di bawah atap kecil halte dekat kampus, aku melihatmu berdiri dengan tangan menggenggam buku doa yang selalu kau bawa. Kau menoleh ketika aku datang, dan senyummu—rapuh namun cerah—langsung menghangatkan sesuatu di dalam diriku.

“Kau basah semua, Rin,” katamu sambil mengulurkan jaketmu.

Aku menolaknya pelan. “Biarkan saja. Hujan membuatku merasa... masih hidup.”

“Kau selalu bicara hal aneh.” Kau tersenyum kecil.

“Karena hanya denganmu aku bisa bicara seaneh itu.”

Aku tak bermaksud menggoda, tapi pipimu memerah halus. Sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan, takdir seperti terus mempertemukan kita. Hujan, buku-buku tua, dan perdebatan kecil tentang Tuhan yang kita sembah dengan cara berbeda—semua menjadi jembatan yang tak pernah bosan kita lewati berdua.

Namun semakin dekat kita, semakin besar rasa takutmu tumbuh.


Suatu malam, kita duduk di tepi danau kampus. Lampu taman memantulkan cahaya kuning pucat di permukaan air. Kau memandang jauh, seolah menatap masa depan yang bahkan tak mau menyambutmu.

“Aku takut, Rin,” katamu akhirnya.

“Apa yang kau takutkan?”

“Cinta yang tak bisa kuperjuangkan sampai akhir.”

Aku menoleh padamu, hatiku mencubit dirinya sendiri. “Kenapa kau bicara seolah kita sudah kalah?”

“Karena aku tahu batasku,” suaramu bergetar. “Ayahku tegas. Ibuku penyakitan. Mereka ingin aku menikah dengan seseorang yang seiman. Tidak ada ruang buat ‘kita’ dalam jalan hidup yang mereka pilihkan.”

Aku menahan napas. “Dan jalan yang kau pilih?”

Kau menatapku. Ada cinta, tapi juga luka.

“Aku memilihmu. Tapi dunia memilih menghukumku.”

Aku menunduk, menahan air mata. “Aku tak ingin jadi alasan keluargamu terluka.”

“Kau bukan alasan. Kau... ujian.”


Keesokan harinya kau menghilang. Ponselmu mati. Pesan-pesanku centang satu. Rumor menyebar: kau dipindahkan ke kota lain, tinggal bersama pamanmu. Katanya ayahmu sakit setelah mendengar kita menjalin hubungan.

Selama dua minggu aku kehilangan arah. Semua tempat yang pernah kita singgahi terasa seperti makam kenangan yang tak lagi bernyawa.

Hingga malam itu, hujan kembali turun deras. Aku berteduh di depan gedung lama fakultas ketika bayanganmu muncul dari balik air yang tercurah.

Kau berdiri di sana, basah kuyup, wajahmu pucat, tapi matamu… matamu masih sama—penuh cinta yang tak pernah padam.

“Rin…” suaramu pecah. “Aku pulang.”

Aku berlari menghampirimu. “Kenapa kau pergi tanpa bilang?”

“Ayahku menyuruhku memilih. Dia bilang kalau aku tetap bersamamu… aku bukan lagi anaknya.”

Hujan semakin deras. Butiran air jatuh di wajahmu seperti air mata yang tak sempat keluar.

“Aku mencoba patuh,” lanjutmu, “tapi setiap malam aku memikirkanmu. Aku merasa hampa. Maka aku kembali. Meski harus kehilangan semuanya.”

“Jangan bicara begitu—”

“Aku serius.” Kau menggenggam tanganku, dingin, gemetar. “Aku hanya punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Tetap temani aku… sampai aku kuat.”

Aku mengangguk. “Aku di sini. Aku tidak kemana-mana.”


Tapi dunia tak pernah benar-benar membiarkan kita memilih dengan bebas.

Tiga hari setelah kau kembali, kami berencana bertemu di taman kampus. Detik-detik sebelum hujan turun, aku menerima telepon dari nomor tak dikenal.

Suara perempuan di seberang sana bergetar. “Ini… dari rumah sakit. Kenalkah Anda seseorang bernama—”

Dunia seolah berhenti.

Aku berlari tanpa berpikir, napas tersengal, hujan menampar wajahku. Di ruang IGD, aku melihatmu terbaring, wajahmu pucat, bibirmu membiru, dadamu naik turun lemah.

“Apa yang terjadi?” suaraku pecah.

“Kecelakaan motor,” jawab perawat. “Dia menabrak tikungan. Terlihat seperti sedang terburu-buru.”

Aku menggenggam tanganmu.

Kau membuka mata perlahan. “Aku… aku ingin datang menemui…mu…”

“Kau bodoh,” aku menangis. “Kenapa memaksakan diri?”

“Kau bilang… kau tidak kemana-mana…” Kau tersenyum, tapi darah mengalir di sudut bibirmu. “Aku ingin cepat… sampai…”

“Jangan bicara lagi. Simpan tenagamu.”

“Tuhan… kita berbeda…” suaramu melemah. “Tapi cintaku… sama…”

Tanganmu meremas tanganku terakhir kalinya.

Dan saat hujan berhenti di luar jendela, matamu pun ikut terpejam—tenang, seolah akhirnya menemukan jawaban yang tak pernah bisa kita temukan di dunia ini.


Sekarang, setiap hujan turun, aku berdiri di tempat kita biasa berteduh. Aku membawa payung hitammu—satu-satunya benda yang tertinggal dari dirimu.

Aku tahu cinta kita tak sempat menang. Tapi di antara dua doa yang tak pernah sama arah, kita pernah saling menemukan.

Dan itu cukup untuk membuatku terus mengingatmu… meski dunia memilih memisahkan kita lebih cepat dari yang pernah kubayangkan.


Selasa, 16 September 2025

Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya

 

Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya
Ilutrasi foto Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya
chatgpt.com

Hujan turun deras sore itu. Aku berdiri di bawah atap halte tua, sementara kamu berlari kecil menyeberang jalan dengan payung biru yang sudah miring diterpa angin. Jantungku berdetak cepat begitu tubuhmu semakin dekat. Ada sesuatu dalam cara kamu tersenyum—seperti luka yang dipaksa tampak baik-baik saja.

Aku ingin memanggil namamu, tapi suaraku tenggelam bersama deru hujan. Lalu tanpa sadar, kamu menepi di sampingku, menutup payungmu yang sudah basah kuyup.

“Kamu sendirian?” tanyamu, lirih, seakan takut jawabanku akan melukai.

Aku hanya mengangguk. Mataku tak bisa berhenti menatap wajahmu. Ada jarak yang menyesakkan, padahal kita berdiri begitu dekat.

“Hujan adalah rahasia,
yang menutupi luka di dada.
Aku ingin bicara,
tapi kata-kata tenggelam bersama derasnya.”

Aku memberanikan diri. “Kenapa kamu di sini? Bukannya harusnya kamu sibuk persiapan…?”

Kamu terdiam. Sorot matamu tiba-tiba jatuh ke tanah, menolak bertemu dengan mataku. Aku tahu, ada sesuatu yang berusaha kamu sembunyikan.

“Aku hanya… ingin menenangkan diri,” jawabmu akhirnya. Suara itu terdengar bergetar.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan gelombang yang mengguncang di dadaku. Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi kata-kata itu terasa seperti duri di tenggorokan.

Aku menatap jemarimu yang dingin, lalu refleks kugenggam erat. Kamu sedikit terkejut, namun tidak menolak. Tubuhmu bahkan bergetar, entah karena dingin atau karena sesuatu yang tidak ingin kamu akui.

“Aku masih berharap kamu membatalkan semuanya,” kataku, lirih namun tegas.

Kamu menoleh cepat, seakan tidak percaya aku berani mengucapkannya. “Kamu tahu aku tidak bisa,” ucapmu, mencoba terdengar tegar.

“Cinta adalah pedang bermata dua,
menusuk hati pemiliknya juga.
Aku ingin menyerah,
tapi bagaimana mungkin pada doa yang setiap malam kusebut namamu?”

Aku menatap matamu dalam-dalam, menantang segala alasan yang ingin kau ucapkan. “Kenapa bukan aku? Kenapa dia yang kau pilih? Bukankah aku yang selalu ada saat kamu jatuh, saat kamu menangis, saat kamu kehilangan arah?”

Kamu terdiam, matamu berkaca-kaca. Aku tahu kamu ingin berkata sesuatu, tapi bibirmu hanya bergetar tanpa suara.

“Aku mencintaimu,” kataku dengan suara patah. “Sejak awal, sampai detik ini. Dan aku tahu, kamu juga mencintaiku, meski kamu terus menyangkal.”

Air mata akhirnya jatuh di pipimu, menyatu dengan air hujan. Kamu menutup wajahmu dengan tangan, namun aku menariknya, memelukmu erat di tengah derasnya hujan.

“Jangan buat aku melepaskanmu, bukan sekarang,” bisikku di telingamu.

“Pelukku mungkin rapuh,
tapi di sinilah rumahmu.
Jika kau tetap memilih pergi,
biarlah tubuhku yang lebih dulu hancur oleh badai.”

Kamu menangis dalam pelukanku. Aku merasakan betapa tubuhmu gemetar, betapa batinmu hancur. Tapi kemudian, dengan suara bergetar, kamu berbisik, “Namanya sudah tertulis di undangan… bukan namamu.”

Aku membeku. Kata-kata itu lebih tajam dari pisau manapun. Aku ingin menjerit, ingin memprotes, tapi apa gunanya? Segalanya sudah terlambat.

Aku melepas pelukan perlahan, menatap wajahmu yang penuh air mata. “Jadi… semua ini hanya sementara? Kamu datang ke sini hanya untuk berpamitan?”

Kamu menggeleng, lalu menatapku dengan mata yang penuh luka. “Aku datang karena aku masih ingin merasakanmu… untuk terakhir kali.”

Hujan semakin deras. Dunia seakan ikut menangisi kita.

Aku menghela napas panjang, lalu menempelkan keningku di keningmu. “Kalau begitu… biarkan aku memelukmu sekali lagi, seolah dunia hanya milik kita, meski besok kamu akan menjadi miliknya.”

“Biarlah hujan mencatat,
bahwa aku pernah memiliki pelukanmu.
Meski undangan menuliskan nama orang lain,
aku tetap menuliskanmu di hatiku, selamanya.”

Kamu menangis dalam diam, sementara aku memelukmu erat, seakan tidak ada esok. Aku tahu setelah hujan reda, kamu akan pergi. Dan aku… hanya akan tinggal bersama luka yang tak pernah bisa sembuh.

Namun setidaknya, di bawah hujan sore itu, aku bisa jujur bahwa aku mencintaimu, meski dunia menuliskan kisah kita dengan tinta yang salah.


Senin, 21 Juli 2025

Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata

 

ilustrasi foto Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata


Aku tak bisa melihat sejak usia delapan. Dunia ini gelap. Tapi saat dia datang, aku merasa cahaya punya cara lain untuk menyapa: lewat suara, lewat aroma tubuh, lewat desir napas yang membuat dada terasa penuh.

Namanya Rayhan.

Dia datang ke hidupku saat aku hampir menyerah pada dunia yang tak pernah bersinar. Rayhan bukan sekadar kekasih. Ia penuntun. Ia mata untuk jiwaku.

Kami bertemu di taman terapi. Tangannya lembut menggandengku ke bangku kayu, dan suaranya selalu memanggil namaku seolah aku adalah melodi yang ia hafal di luar kepala.

“Aku tak peduli matamu buta,
karena aku ingin menjadi cahaya di tiap langkahmu,”
bisiknya, suatu malam saat hujan turun lembut di atap rumahku.

Aku tersenyum, memeluk kata-katanya seperti selimut tipis di malam dingin. Cinta kami tumbuh dalam ruang-ruang sunyi, di balik sentuhan dan napas yang saling mencari. Tidak semua orang mengerti. Tapi aku percaya:

“Cinta bukan perkara mata yang bisa melihat,
melainkan hati yang bisa menuntun meski dalam gelap pekat.”

Lalu suatu hari, Rayhan mulai berubah. Aku tak lagi mencium aroma tubuhnya tiga hari berturut. Napasnya yang biasanya hangat, kini dingin seperti selimut basah. Ia datang jarang-jarang. Saat kutanya, katanya pekerjaan sedang berat.

Tapi hatiku tahu—dan bahkan kegelapan pun tak bisa menutupi suara kebohongan.


Malam itu, aku menyentuh wajahnya. Ada jejak bedak di kerah kemejanya. Lembut dan wangi. Bukan aroma tubuhku.

"Rayhan..." aku memanggil, tanganku menggenggam tangannya erat.

"Kau mencintai orang lain, ya?"

Ia terdiam. Lama. Tapi hening itu lebih menyakitkan dari teriakan. Lebih tajam dari pisau.

“Jika cintamu mulai berjalan pada cahaya lain,
maka biarlah aku tetap berdiri dalam gelap, sendiri,”
bisikku, dan air mataku jatuh tanpa suara.

"Aku tak bisa... menolaknya, Dira," jawabnya pelan. "Dia... memberiku dunia yang tidak bisa kamu lihat."

Kalimat itu seperti palu yang menghantam dadaku.

"Jadi cinta kita... tidak cukup karena aku buta?"

Rayhan tak menjawab.


Aku ingin marah. Ingin menjerit. Tapi aku perempuan yang dilatih untuk menahan. Maka malam itu, aku memeluknya untuk terakhir kali.

“Aku ingin kau tahu,
bahwa meski kau pergi membawa cahaya,
aku masih mencintaimu di lorong gelap yang kau tinggalkan.”

Ia tertidur di sampingku. Masih mengenakan kemeja dengan aroma perempuan lain. Napasnya teratur. Seperti anak kecil yang tak tahu telah membunuh bunga dengan memetiknya terlalu cepat.

Tapi aku tahu. Dan aku tak bisa terus menjadi taman yang ditinggalkan.


Pagi menjelang, dan aku ke dapur. Kuhafal letak semua benda. Pisau di laci ketiga. Gagangnya dingin dan familiar.

Aku kembali ke kamar. Kutatap wajahnya dengan ujung jari. Hangat. Damai. Tapi bukan lagi milikku.

Dengan satu gerakan pelan, aku tusukkan pisau ke dadanya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dia terbangun, berteriak. Tapi aku sudah dalam gelap sejak lama—dan sekarang dia tahu rasanya.

“Kau tak bisa mencintaiku separuh,
dan menyentuh yang lain dalam terang,
karena aku akan menyeretmu sepenuhnya ke gelapku.”

Ia terdiam dalam luka. Darah mengalir ke bantal, ke seprai, ke lantai. Tapi aku tidak menangis.

Aku hanya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala pada dada yang dulu jadi pelindung, kini jadi liang sunyi.


Polisi datang. Tetangga mendengar jeritan terakhirnya. Mereka menemukan aku duduk tenang, tangan berlumur darah, mata menatap hampa—seperti biasa.

Tapi kali ini, bukan karena aku tak bisa melihat. Tapi karena aku telah kehilangan satu-satunya hal yang pernah memberiku cahaya.


Kini aku di ruang tahanan rumah sakit jiwa. Mereka memberiku obat, terapi, dan doa-doa kosong. Tapi aku tetap menulis puisi untuk Rayhan di dinding kamar, dengan kuku dan darah.

“Cinta dalam gelap mata,
adalah cinta yang tak butuh penjelasan,
tapi ketika kau menghianatinya,
ia akan memelukmu dalam kematian.”

Setiap malam, aku mendengar napasnya. Suaranya memanggil dari lorong mimpi. Mungkin ia menungguku... atau mungkin cuma ilusi gelap yang terus menari di balik kelopak mataku yang tak pernah terbuka.

Tapi aku tahu satu hal:

“Cinta bisa membuatmu hidup,
tapi juga bisa jadi alasan kenapa kau mati.”

Dan aku sudah mengalami keduanya.


Senin, 30 Juni 2025

Cerita Pendek: Juli yang Tak Pernah Menepati Janji

Ilustrasi fotoCerita pendek_ https://id.pngtree.com/freebackground/silhouette-of-a-woman-on-the-beach-in-the-morning_1704461.html



Namaku Arsha. Aku bukan siapa-siapa kecuali seseorang yang masih saja duduk di ujung senja, menanti sesuatu yang entah akan datang atau tidak. Barangkali aku gila, atau mungkin terlalu setia pada sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar jadi milikku: kamu.

Dan ini adalah Juli, bulan kesekian yang selalu membuat dadaku bergetar hanya karena satu nama—namamu.



Aku masih ingat pertemuan kita pertama kali. Di sudut taman kota, saat angin sore menyapu rambutku yang lepas dari ikatan. Kamu menyapaku, seolah kita sudah kenal sejak lama. Aku tersenyum kikuk, tapi diam-diam hatiku bergemuruh. Sejak saat itu, entah mengapa, kamu seperti musim yang tak bisa kutebak, tapi selalu kutunggu.

"Kamu suka Juli?" tanyamu waktu itu.

Aku mengangguk. "Karena Juli hangat. Tapi tak sepanas Agustus yang seringkali terlalu terburu-buru."

Kamu tertawa. Suaramu renyah seperti daun jatuh ke tanah yang kering. Dan sejak itulah, aku mulai menyimpan Juli sebagai bulan penuh makna—bulan yang kusebut sebagai permulaan rasa yang tak pernah selesai kutulis.


Sudah tiga Juli berlalu. Setiap tahun, aku menuliskan sesuatu untukmu. Bukan puisi, bukan cerita, hanya potongan harapan yang tak pernah kutunjukkan pada siapa-siapa. Kertas-kertas itu kusimpan di dalam kotak kayu tua peninggalan almarhum nenekku. Di atasnya, kutulis: "Untukmu yang tak tahu sedang kucintai dalam diam."

Juli ini, seperti sebelumnya, aku kembali duduk di bangku taman yang sama. Daun-daun sudah mulai menguning, dan angin membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Tapi kamu tidak datang. Lagi-lagi tidak datang.

Aku menyentuh bangku kosong di sampingku, dan entah kenapa, air mataku jatuh begitu saja. Bukan karena sedih, tapi lebih karena aku merasa bodoh—masih menunggu sesuatu yang bahkan tak pernah berjanji akan kembali.

“Aku masih di sini, tahu?” bisikku, seolah kamu bisa mendengar.

Padahal kamu entah di mana sekarang. Mungkin di kota lain. Mungkin sudah bersama perempuan lain. Atau mungkin, kamu memang tak pernah benar-benar ingin kembali sejak pergi tiga tahun lalu tanpa pamit.


Kadang aku bertanya, mengapa cinta harus selalu terasa seperti menunggu kereta yang tak punya jadwal pasti? Apakah semua gadis sepertiku harus belajar melepaskan tanpa sempat memiliki?

Dulu, kamu bilang, “Kalau takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi di bulan Juli nanti. Bulan yang kau bilang paling hangat.”

Dan aku menggenggam kalimat itu seperti menggenggam janji Tuhan. Padahal, kamu tak pernah menyebut tahun berapa. Tidak ada tanggal pasti. Hanya kata "nanti" yang menggantung seperti langit yang enggan turun hujan.

Tapi tahukah kamu, aku menunggu. Dengan segala bentuk kesabaran yang bahkan tak bisa dijelaskan oleh logika. Aku menolak ajakan kencan dari lelaki lain, hanya karena takut hatiku tidak utuh untuk mereka.


Hari ini tanggal 28 Juli. Tiga hari lagi bulan ini berakhir. Tiga hari lagi aku harus mengaku kalah pada waktu dan kenyataan. Aku berjalan menyusuri jalan pulang dari taman, melewati toko buku tempat kita pernah berdebat soal puisi Chairil Anwar. Mataku menangkap sekilas bayangan seseorang di seberang jalan. Siluet tubuhmu. Cara berdirimu. Jaket yang selalu kamu pakai saat malam turun.

Hatiku refleks berlari. Tapi saat aku sampai di sana, dia bukan kamu.

Untuk pertama kalinya, aku ingin marah. Pada Juli. Pada kamu. Pada diriku sendiri.

Tapi aku tidak bisa. Karena cinta, ketika benar-benar tumbuh, tidak lagi butuh alasan untuk setia. Ia hanya ada. Diam-diam. Dalam bentuk paling sederhana: penantian.


Malam ini aku membuka kotak kayu itu. Kubaca kembali tulisan-tulisan untukmu. Surat-surat yang tidak pernah kukirim. Dan akhirnya, kutulis satu lagi:



"Untukmu yang pernah berkata akan kembali,
Juli hampir usai.
Aku masih di sini, tapi hatiku tidak lagi.
Biarlah Juli kali ini menjadi penutup,
bukan awal yang selalu kupaksa percaya."

Lalu aku menutup kotak itu. Kusimpan jauh di lemari paling dalam. Besok, aku tidak akan ke taman lagi. Tidak akan melihat bangku kosong yang selalu menyakitkan itu. Mungkin cinta memang tidak selalu harus memiliki. Dan penantian kadang harus dikubur, agar hati bisa tumbuh kembali.



Dan inilah aku sekarang—bukan lagi Arsha yang duduk di taman menunggu. Tapi Arsha yang akhirnya tahu, bahwa tak semua cinta harus diselesaikan oleh kehadiran. Kadang, cukup dikenang oleh Juli yang pernah hangat, lalu ditinggalkan dengan senyuman.



Juli telah mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana cara mengikhlaskan. Dan kamu—meski tak pernah kembali—tetap akan jadi cerita yang indah, yang cukup kutulis di lembaran yang hanya bisa kubaca sendiri.


Selasa, 17 Juni 2025

Cerita Pendek:Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya


Cerita Pendek:Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya_Ilustrasi foto by
https://snapy.co.id/artikel/tampilkan-kesan-mewah-inilah-kelebihan-dan-kekurangan-undangan-akrilik



Hujan turun lebat saat dia datang menghampiri. Langkahnya masih sama seperti dulu—pelan, tenang, tapi menyentuh bagian terdalam dari dadaku. Dia berdiri di depanku dengan jas hujan transparan yang basah, rambutnya lepek, dan matanya berkaca-kaca. Di tangannya, sebuah undangan berwarna gading dengan pita emas kecil di tengah.

“Raka…” katanya lirih, menyerahkan amplop itu.

Aku menatapnya, lalu menatap undangan itu. Tanganku gemetar. Rasanya seperti diberi sebilah pisau untuk mengiris hatiku sendiri.

“Jadi ini akhirnya?” tanyaku, suara serak.

Dia hanya mengangguk. Matanya menunduk. Tapi aku tahu, dia bisa mendengar degup jantungku yang mulai berantakan.

Aku pernah mencintainya dalam diam selama tiga tahun. Tapi kemudian aku beranikan diri mendekat, menjadi teman yang selalu ada di sisi kanannya. Menjadi pelindung saat dia patah hati. Menjadi pendengar saat dia bercerita tentang pria lain—termasuk Dimas, lelaki yang kini namanya tertulis di undangan itu.

Dan kini, aku berdiri dalam hujan, tubuhku kuyup, dan dia menyerahkan undangan itu seolah hatiku tak pernah ia huni.

“Kenapa kamu datang sendiri?” tanyaku lirih, mencoba menahan amarah dan tangis yang berusaha pecah.

“Aku cuma… ingin kamu tahu langsung dariku. Aku nggak mau kamu tahu dari orang lain. Kamu pantas tahu lebih dulu…”

Aku tersenyum getir. “Tapi aku juga pantas bahagia, Ka. Pantas dicintai… setidaknya satu persen dari caraku mencintai kamu.”

Dia menutup mata, dan setetes air mata mengalir bersamaan dengan air hujan. “Aku tahu… Tapi hatiku... bukan untuk kamu, Rak.”

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu tanpa sadar mendekat dan memeluknya. Dia kaget, tubuhnya menegang sejenak. Tapi tak lama, dia membalas pelukanku. Mungkin karena rasa bersalah. Atau mungkin karena kenangan. Tapi bukan karena cinta.

“Terima kasih, ya…” bisiknya di bahuku.

“Untuk apa?” tanyaku lemah.

“Untuk segalanya. Untuk jadi rumah, bahkan saat aku cuma numpang.”

Kata-katanya menghujam. Aku ingin marah, tapi aku juga tahu, tidak ada yang bisa memaksa hati. Dan aku kalah—bukan karena aku kurang berjuang, tapi karena sejak awal, aku tidak pernah benar-benar dilihat sebagai tempat pulang.

Kami diam. Hujan jadi latar. Jalanan sepi. Dunia seperti ikut menunduk bersama kami.

Lalu, dia melepas pelukan itu. Tangannya gemetar saat menarik kembali undangan dari genggamanku. Tapi aku menahannya.

“Boleh aku datang?” tanyaku.

Dia terdiam. Lalu mengangguk, walau dengan wajah ragu.

Aku tahu, dia tak ingin aku datang. Tapi dia terlalu baik untuk berkata tidak.


Hari itu datang. Hari pernikahannya.

Langit mendung, seolah ikut ragu merestui. Aku berdiri di luar gedung, ragu untuk masuk. Bajuku rapi, tapi hati ini berantakan.

Dari balik jendela kaca, aku melihatnya berdiri di pelaminan. Gaun putihnya sederhana, tapi dia terlihat seperti bidadari. Di sampingnya, Dimas—dengan senyum sempurna, berdiri penuh percaya diri.

Aku menunduk. Napasku tercekat. Setiap detik yang kulewati di luar sana adalah pertempuran antara logika dan perasaan.

“Raka?” suara itu mengejutkanku.

Aku menoleh. Ibunya, Ibu Lestari, berdiri di belakangku. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil.

“Kenapa di luar? Masuklah, Nak.”

Aku menggeleng. “Saya cukup melihat dari sini, Bu.”

Dia menatapku dengan pandangan dalam. “Saya tahu semuanya. Tentang perasaanmu. Tentang pengorbananmu. Dia pun tahu.”

Aku terdiam.

“Kadang, cinta bukan soal siapa yang paling baik atau paling tulus. Tapi tentang siapa yang lebih dulu menyentuh hatinya.”

Aku menunduk. Kata-katanya seperti konfirmasi dari luka yang selama ini kutolak.

“Saya bangga kamu tetap datang. Bahkan saat kamu tahu kamu bukan yang dipilih.” Ibu Lestari menepuk pundakku, lalu masuk ke dalam.

Dan aku… aku masih di sana. Diam. Sampai terdengar musik pengiring prosesi pengantin.

Aku tahu aku harus pergi. Tapi kakiku menolak.

Lalu hujan turun. Lagi.

Seolah semuanya ingin mengulang malam itu—malam terakhir aku memeluknya. Tapi kali ini, tidak akan ada pelukan. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada undangan.

Karena dia sudah memilih jalan yang tak lagi menyisakan ruang untukku.

Aku melangkah pergi, meninggalkan gedung itu, meninggalkan semua kenangan yang tak akan pernah menjadi kenyataan.


Beberapa bulan kemudian.

Aku mulai berdamai. Perlahan.

Tapi suatu malam, ponselku bergetar. Pesan singkat masuk.

“Kalau suatu hari aku salah memilih, kamu masih akan jadi tempat pulangku?”

Aku membacanya berulang kali. Lalu kuhapus.

Karena aku tahu, aku tak bisa jadi rumah yang hanya didatangi saat badai. Aku ingin menjadi tujuan, bukan pelarian.

Dan kali ini... aku memilih untuk benar-benar pergi. Meski berat, meski hancur. Tapi inilah satu-satunya cara untuk benar-benar bebas dari pelukan yang tak pernah milikku.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...