Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA

Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA
Ilustrasi Gambar Trotoar.id

“Jika cinta adalah pisau,

maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.”

Hujan turun malam itu, deras dan tak berbelas. Aku berdiri di balik jendela, menatap bayanganmu yang memudar di kaca. Sejak kau datang membawa namanya dalam setiap senyum, aku tahu hatiku tak lagi menjadi tempatmu pulang.

Namamu: Kau.
Nama cinta yang kusimpan rapat-rapat.
Namun kau datang bersama seseorang—Reno, sahabatku sejak kecil. Dan entah bagaimana, cinta yang seharusnya sederhana berubah menjadi simpul berduri.


“Aku…” suaramu bergetar saat itu, “Aku harus jujur. Aku menyukai kalian berdua.”

Kau menunduk. Reno menatapmu lama, lalu menatapku.
“Aku sudah menduga,” katanya dingin. “Kau memang suka memainkan hati.”

Aku ingin membelamu, ingin berkata bahwa kau hanya bingung. Tapi kata-kata itu tertahan. Ada sesuatu di matamu—ketakutan, penyesalan, sekaligus kerinduan—yang tidak lagi bisa kuartikan.

Aku hanya mampu berbisik pelan,


“Jika hatimu adalah pintu, biarlah aku menjadi angin yang hanya mengetuk,

sedangkan dia—

adalah badai yang memaksamu terbuka.”

Kau menggigit bibirmu, menahan air mata.


Hari-hari setelah pengakuan itu berubah menjadi perang senyap. Reno semakin menjauh dariku, tetapi semakin mendekat padamu. Aku melihatnya menjemputmu diam-diam, melihat bagaimana kau tertawa—tawa yang dulu hanya kuterima aku seorang.

Aku bukan orang pemarah. Namun cinta sering kali membuat seseorang menjadi makhluk yang tak dikenali.

Suatu malam, aku melihat kalian berdua di taman kota. Aku mengikutimu tanpa suara. Kau duduk di bangku basah sisa hujan, tubuhmu menggigil, tapi Reno memelukmu. Aku mendengar kalian berdebat.

“Aku memilih dia,” katamu akhirnya. Suaramu memecah malam. “Aku memilih aku.”

Itu artinya kau memilihku.
Tapi Reno tak bisa menerima.

“Aku tidak terima,” katanya serak. “Aku mencintaimu lebih lama daripada dia.”

Kau menggeleng. “Cinta bukan soal lama mengenal, Reno.”

Aku terpaku di balik pepohonan. Getaran aneh naik dari perutku sampai dada. Rasanya seperti ada dunia yang pecah di bawah kakiku.


“Cinta adalah luka yang berjalan,

mengikuti arah langkahmu.

Dan aku—

selalu berdarah karenamu.”


Aku tak tahu apakah kau mendengar bisik puisiku atau bukan, tapi kau menangis. Reno memegangi bahumu, memaksamu menatapnya.

“Aku tidak bisa kehilanganmu!” teriaknya.


Kejadian itu hanya awal.

Seminggu setelahnya, Reno menghilang dari lingkaran pertemanan kami. Teleponku tak dijawab, pesanku dibaca lalu lenyap. Aku mengira ia sedang menenangkan diri.

Sampai suatu sore, kau datang dengan wajah pucat.

“Dia mengikutiku,” katamu. “Di jalan, di kampus, bahkan sampai ke rumah. Dia bilang aku miliknya.”

Aku merasakan gelombang panas naik ke kepalaku. Aku marah—marah karena kau ketakutan, marah karena sahabatku berubah menjadi sosok asing, marah karena cinta segitiga ini mulai menggigit jiwa kita.

“Aku akan bicara dengan dia,” kataku.

“Jangan! Itu berbahaya.” Kau mencengkeram lenganku. “Reno tidak seperti dulu.”

Namun aku tetap pergi.


Reno tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya. Rumah itu gelap ketika aku tiba. Pintu tidak terkunci. Aku masuk perlahan.

“Reno?” panggilku.

Tidak ada jawaban.

Aku melangkah ke ruang tengah—dan melihatnya duduk membelakangi, memegang sesuatu di tangannya. Pisau. Kilatan logamnya memantulkan sisa cahaya dari lampu kecil di sudut ruangan.

“Aku tak mau kehilangan dia,” katanya tanpa menoleh. “Kau selalu mengambil segalanya dariku.”

“Reno,” suaraku bergetar. “Kau salah. Tidak ada yang merebut siapa pun. Dia memilih dengan hatinya.”

Dia bangkit perlahan, tubuhnya bergetar.
“Aku lebih pantas. Aku lebih dulu. Aku lebih segalanya.”

“Reno, tolong…”

Ia tertawa pelan. Tawa patah.

Kau tiba-tiba muncul di pintu. Aku terkejut—aku tak mendengarmu menyusul.

“Reno, hentikan!” teriakmu. “Kau menakutiku!”

Reno menatapmu. Matanya merah, basah, kacau.
“Kau… aku melakukan semua ini untukmu.”

Kau memelukku dari belakang, tubuhmu gemetar. Aku meraih tanganmu.

Reno mengangkat pisau.

Waktu seakan berhenti.

Aku bergerak refleks, menepis tangannya. Kami berdua jatuh ke lantai. Pisau itu terlempar, lalu terguling di dekat kaki meja.

Reno merangkak ke arah pisau. Aku menahannya, mendorong tubuhnya.
“Reno, sadar! Ini aku!”

“Biarkan aku!” bentaknya.

Pertengkaran itu berubah menjadi pergumulan. Tinju, teriakan, dentuman badan ke lantai. Kau menangis, memanggil nama kami berdua.

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Reno menarik pisau itu dengan kekuatan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia mengayunkannya—ke arahku.

Aku memegang pergelangan tangannya, tapi pisau itu bergerak liar.

Kau berlari mendekat untuk menahan kami.

Dan dalam sekejap…
Dalam satu hentakan…
Dalam satu jeritan…

Pisau itu menembus dada Reno sendiri.

Aku tak tahu siapa yang mendorong.
Aku tak tahu apakah itu kecelakaan.
Aku hanya tahu darah mengalir begitu cepat, membasahi lantai.

Reno terjatuh di pangkuanku. Ia menatapku dengan mata yang mulai pudar.

“Aku hanya ingin dicintai…” bisiknya. “Kenapa bukan aku…?”

Aku menggigit bibir, menahan tangis yang menggoncang jiwaku.
“Maafkan aku, Ren…”

Sebelum matanya tertutup, ia berbisik,


“Jika cinta adalah pisau,

maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.”


Di luar, hujan mulai turun lagi.
Hujan yang serupa darah yang membersihkan lantai moral kita.

Kau memelukku erat, seolah takut aku juga akan hilang seperti Reno.

“Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi,” bisikmu.

Aku menatapmu, lenganku memelukmu lebih kuat.

Namun dalam hatiku, aku tahu:
cinta segitiga ini telah merenggut satu nyawa,
meninggalkan luka yang tak akan hilang sepanjang hidup.

Dan ketika kita berjalan keluar dari rumah itu, meninggalkan tubuh Reno yang kaku dan dingin—

aku berbisik pada diriku sendiri,


“Dalam cinta, yang tersisa bukan hanya rasa,

tapi juga dosa

yang akan kita bawa

sampai akhir usia.”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Lonceng Akhir