Selasa, 02 Juni 2026

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan


Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta.
Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa rencana cadangan.

Sejak awal, aku tahu:
mencintaimu berarti menyiapkan diri untuk kalah.
Tapi aku tetap datang. Tetap duduk di hadapanmu. Tetap berkata ya pada setiap nanti yang kau ucapkan.

Kau pernah bertanya, hampir sambil bercanda,
“Kalau aku menyakitimu, kau akan pergi?”

Aku tersenyum waktu itu.
Aku selalu tersenyum ketika seharusnya aku pergi.

“Tidak,” jawabku.
Dan kau mengangguk, seolah jawaban itu adalah sesuatu yang memang kau butuhkan agar bisa hidup lebih ringan.

Sejak hari itu, aku mulai menghilang sedikit demi sedikit—bukan dari hidupmu, tapi dari hidupku sendiri.

Aku menunda mimpiku karena kau belum siap berlari.
Aku menurunkan suaraku karena kau tak suka perempuan yang terlalu keras.
Aku mengecilkan diriku agar pas di duniamu yang sempit.

Dan setiap malam, ketika kau tertidur dengan punggung menghadapku, aku menulis puisi-puisi kecil di kepalaku. Puisi yang tak pernah sampai padamu.


Aku mencintaimu dengan cara yang tidak diajarkan siapa pun,

menyerah sebelum diminta,

meminta maaf sebelum bersalah,

dan tinggal, bahkan ketika hatiku sudah pulang lebih dulu.


Kau berubah bukan seperti badai, tapi seperti jam.
Pelan. Teratur. Tak terasa.
Sampai suatu hari aku sadar: waktu bersamamu tak lagi menunjuk ke arah yang sama.

Percakapan kita mulai retak.
Bukan karena pertengkaran, tapi karena jarak yang kau sebut “lelah”.

“Aku capek,” katamu.
“Dengan siapa?” tanyaku.
“Dengan segalanya,” jawabmu, tanpa menatap.

Aku ingin bertanya: Apakah aku termasuk segalanya itu?
Tapi aku menelannya.
Aku selalu pandai menelan hal-hal yang menyakitiku.

Malam-malam menjadi panjang.
Kau pulang membawa tubuh, tapi tidak hatimu.
Dan aku belajar mengenali bau pengkhianatan—bukan dari aroma, tapi dari cara kau memeluk tanpa benar-benar memeluk.

Aku masih bertahan.
Karena aku percaya pengorbanan adalah bahasa cinta tertinggi.
Aku lupa: tidak semua orang fasih membacanya.


Aku menjadi rumah,
kau menjadikanku persinggahan.
Aku membersihkan luka-lukamu,
kau menciptakan luka baru untukku rawat.


Hari itu, pengkhianatan tidak datang dengan teriakan.
Ia datang sebagai pesan yang tak sengaja kubaca.
Nama yang asing, tapi nadanya akrab.
Kalimat-kalimat yang terlalu hidup untuk sekadar basa-basi.

Tanganku dingin.
Dadaku kosong.
Dan dunia seakan menyusut hanya sebesar layar ponsel itu.

Ketika aku menatapmu, kau tahu.
Matamu menghindar.
Dan aku sadar: kebenaran selalu tahu kapan harus menyerah.

“Sejak kapan?” tanyaku.
Suaraku bukan suara orang marah—lebih seperti suara orang yang kehilangan arah.

Kau diam lama.
Diam yang berisik.
Diam yang penuh pengakuan.

“Tidak lama,” akhirnya kau berkata.
Dan aku tertawa kecil.

“Tidak lama menurut siapa?”
Menurut hatimu yang tak lagi tinggal di sini?

Aku mengorbankan waktu,
kau mengorbankan kejujuran.
Kita sama-sama kehilangan,
tapi hanya satu yang berdarah.

Kau berkata kau tidak bermaksud menyakitiku.
Kalimat yang selalu diucapkan oleh orang yang paling tahu di mana harus menusuk.

“Aku hanya ingin merasa hidup,” katamu.
Dan aku ingin bertanya: Selama ini aku apa?

Tapi aku lelah bertanya.
Aku lelah menjadi tempatmu pulang sementara aku sendiri tak pernah benar-benar tiba.

Aku duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.
Tubuhku masih utuh, tapi aku tahu: ada sesuatu yang mati.

Aku mencintaimu sampai lupa caranya dicintai,
sampai pengkhianatan terasa seperti logika,
dan kesetiaan terasa seperti kebodohan yang rapi.

“Kau akan pergi?” tanyaku.
Pertanyaan itu bukan permohonan, hanya konfirmasi.

“Ya,” jawabmu.
Singkat. Bersih. Tanpa beban.

Dan saat itu aku mengerti:
pengorbananku tidak pernah kau anggap cinta.
Bagimu, ia hanya kenyamanan.

Hari-hari setelah kepergianmu terasa seperti puisi yang dipatahkan di tengah bait.
Tak ada penutup.
Tak ada rima.

Aku bangun tanpa tujuan.
Tidur tanpa mimpi.
Dan belajar berjalan di antara kenangan seperti ranjau.

Namun di situlah aku mulai menulis—bukan untuk mengingatmu, tapi untuk menyelamatkan diriku sendiri.


Aku tidak gagal mencintaimu,

aku hanya terlalu percaya bahwa semua orang menghargai luka.

Ternyata tidak.

Sebagian orang menggunakannya sebagai pintu keluar.


Suatu hari, pesanmu datang.
Pendek.
Hampir sopan.

“Aku menyesal.”

Aku membaca kalimat itu lama.
Sangat lama.
Lalu aku menutup mataku.

Penyesalanmu datang terlambat.
Aku sudah menjemput diriku sendiri dari reruntuhan.

Aku menghapus pesan itu.
Bukan sebagai hukuman,
melainkan sebagai pernyataan: aku memilih hidup.

Aku melepaskanmu bukan karena cinta habis,
tetapi karena aku akhirnya cukup mencintai diriku.
Dan itu pengorbanan terakhir yang tidak akan kusesali.


Kini, jika kau bertanya siapa aku,
aku bukan lagi perempuan yang rela hancur demi bertahan.

Aku adalah seseorang
yang pernah mencintai sampai kehilangan diri—
dan memilih untuk tidak melakukannya lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...