![]() |
ilustrasi foto Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata |
Aku tak bisa melihat sejak usia delapan. Dunia ini gelap. Tapi saat dia datang, aku merasa cahaya punya cara lain untuk menyapa: lewat suara, lewat aroma tubuh, lewat desir napas yang membuat dada terasa penuh.
Namanya Rayhan.
Dia datang ke hidupku saat aku hampir menyerah pada dunia yang tak pernah bersinar. Rayhan bukan sekadar kekasih. Ia penuntun. Ia mata untuk jiwaku.
Kami bertemu di taman terapi. Tangannya lembut menggandengku ke bangku kayu, dan suaranya selalu memanggil namaku seolah aku adalah melodi yang ia hafal di luar kepala.
“Aku tak peduli matamu buta,
karena aku ingin menjadi cahaya di tiap langkahmu,”
bisiknya, suatu malam saat hujan turun lembut di atap rumahku.
Aku tersenyum, memeluk kata-katanya seperti selimut tipis di malam dingin. Cinta kami tumbuh dalam ruang-ruang sunyi, di balik sentuhan dan napas yang saling mencari. Tidak semua orang mengerti. Tapi aku percaya:
“Cinta bukan perkara mata yang bisa melihat,
melainkan hati yang bisa menuntun meski dalam gelap pekat.”
Lalu suatu hari, Rayhan mulai berubah. Aku tak lagi mencium aroma tubuhnya tiga hari berturut. Napasnya yang biasanya hangat, kini dingin seperti selimut basah. Ia datang jarang-jarang. Saat kutanya, katanya pekerjaan sedang berat.
Tapi hatiku tahu—dan bahkan kegelapan pun tak bisa menutupi suara kebohongan.
Malam itu, aku menyentuh wajahnya. Ada jejak bedak di kerah kemejanya. Lembut dan wangi. Bukan aroma tubuhku.
"Rayhan..." aku memanggil, tanganku menggenggam tangannya erat.
"Kau mencintai orang lain, ya?"
Ia terdiam. Lama. Tapi hening itu lebih menyakitkan dari teriakan. Lebih tajam dari pisau.
“Jika cintamu mulai berjalan pada cahaya lain,
maka biarlah aku tetap berdiri dalam gelap, sendiri,”
bisikku, dan air mataku jatuh tanpa suara.
"Aku tak bisa... menolaknya, Dira," jawabnya pelan. "Dia... memberiku dunia yang tidak bisa kamu lihat."
Kalimat itu seperti palu yang menghantam dadaku.
"Jadi cinta kita... tidak cukup karena aku buta?"
Rayhan tak menjawab.
Aku ingin marah. Ingin menjerit. Tapi aku perempuan yang dilatih untuk menahan. Maka malam itu, aku memeluknya untuk terakhir kali.
“Aku ingin kau tahu,
bahwa meski kau pergi membawa cahaya,
aku masih mencintaimu di lorong gelap yang kau tinggalkan.”
Ia tertidur di sampingku. Masih mengenakan kemeja dengan aroma perempuan lain. Napasnya teratur. Seperti anak kecil yang tak tahu telah membunuh bunga dengan memetiknya terlalu cepat.
Tapi aku tahu. Dan aku tak bisa terus menjadi taman yang ditinggalkan.
Pagi menjelang, dan aku ke dapur. Kuhafal letak semua benda. Pisau di laci ketiga. Gagangnya dingin dan familiar.
Aku kembali ke kamar. Kutatap wajahnya dengan ujung jari. Hangat. Damai. Tapi bukan lagi milikku.
Dengan satu gerakan pelan, aku tusukkan pisau ke dadanya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dia terbangun, berteriak. Tapi aku sudah dalam gelap sejak lama—dan sekarang dia tahu rasanya.
“Kau tak bisa mencintaiku separuh,
dan menyentuh yang lain dalam terang,
karena aku akan menyeretmu sepenuhnya ke gelapku.”
Ia terdiam dalam luka. Darah mengalir ke bantal, ke seprai, ke lantai. Tapi aku tidak menangis.
Aku hanya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala pada dada yang dulu jadi pelindung, kini jadi liang sunyi.
Polisi datang. Tetangga mendengar jeritan terakhirnya. Mereka menemukan aku duduk tenang, tangan berlumur darah, mata menatap hampa—seperti biasa.
Tapi kali ini, bukan karena aku tak bisa melihat. Tapi karena aku telah kehilangan satu-satunya hal yang pernah memberiku cahaya.
Kini aku di ruang tahanan rumah sakit jiwa. Mereka memberiku obat, terapi, dan doa-doa kosong. Tapi aku tetap menulis puisi untuk Rayhan di dinding kamar, dengan kuku dan darah.
“Cinta dalam gelap mata,
adalah cinta yang tak butuh penjelasan,
tapi ketika kau menghianatinya,
ia akan memelukmu dalam kematian.”
Setiap malam, aku mendengar napasnya. Suaranya memanggil dari lorong mimpi. Mungkin ia menungguku... atau mungkin cuma ilusi gelap yang terus menari di balik kelopak mataku yang tak pernah terbuka.
Tapi aku tahu satu hal:
“Cinta bisa membuatmu hidup,
tapi juga bisa jadi alasan kenapa kau mati.”
Dan aku sudah mengalami keduanya.
Komentar
Posting Komentar