Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...

Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata

 

ilustrasi foto Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata


Aku tak bisa melihat sejak usia delapan. Dunia ini gelap. Tapi saat dia datang, aku merasa cahaya punya cara lain untuk menyapa: lewat suara, lewat aroma tubuh, lewat desir napas yang membuat dada terasa penuh.

Namanya Rayhan.

Dia datang ke hidupku saat aku hampir menyerah pada dunia yang tak pernah bersinar. Rayhan bukan sekadar kekasih. Ia penuntun. Ia mata untuk jiwaku.

Kami bertemu di taman terapi. Tangannya lembut menggandengku ke bangku kayu, dan suaranya selalu memanggil namaku seolah aku adalah melodi yang ia hafal di luar kepala.

“Aku tak peduli matamu buta,
karena aku ingin menjadi cahaya di tiap langkahmu,”
bisiknya, suatu malam saat hujan turun lembut di atap rumahku.

Aku tersenyum, memeluk kata-katanya seperti selimut tipis di malam dingin. Cinta kami tumbuh dalam ruang-ruang sunyi, di balik sentuhan dan napas yang saling mencari. Tidak semua orang mengerti. Tapi aku percaya:

“Cinta bukan perkara mata yang bisa melihat,
melainkan hati yang bisa menuntun meski dalam gelap pekat.”

Lalu suatu hari, Rayhan mulai berubah. Aku tak lagi mencium aroma tubuhnya tiga hari berturut. Napasnya yang biasanya hangat, kini dingin seperti selimut basah. Ia datang jarang-jarang. Saat kutanya, katanya pekerjaan sedang berat.

Tapi hatiku tahu—dan bahkan kegelapan pun tak bisa menutupi suara kebohongan.


Malam itu, aku menyentuh wajahnya. Ada jejak bedak di kerah kemejanya. Lembut dan wangi. Bukan aroma tubuhku.

"Rayhan..." aku memanggil, tanganku menggenggam tangannya erat.

"Kau mencintai orang lain, ya?"

Ia terdiam. Lama. Tapi hening itu lebih menyakitkan dari teriakan. Lebih tajam dari pisau.

“Jika cintamu mulai berjalan pada cahaya lain,
maka biarlah aku tetap berdiri dalam gelap, sendiri,”
bisikku, dan air mataku jatuh tanpa suara.

"Aku tak bisa... menolaknya, Dira," jawabnya pelan. "Dia... memberiku dunia yang tidak bisa kamu lihat."

Kalimat itu seperti palu yang menghantam dadaku.

"Jadi cinta kita... tidak cukup karena aku buta?"

Rayhan tak menjawab.


Aku ingin marah. Ingin menjerit. Tapi aku perempuan yang dilatih untuk menahan. Maka malam itu, aku memeluknya untuk terakhir kali.

“Aku ingin kau tahu,
bahwa meski kau pergi membawa cahaya,
aku masih mencintaimu di lorong gelap yang kau tinggalkan.”

Ia tertidur di sampingku. Masih mengenakan kemeja dengan aroma perempuan lain. Napasnya teratur. Seperti anak kecil yang tak tahu telah membunuh bunga dengan memetiknya terlalu cepat.

Tapi aku tahu. Dan aku tak bisa terus menjadi taman yang ditinggalkan.


Pagi menjelang, dan aku ke dapur. Kuhafal letak semua benda. Pisau di laci ketiga. Gagangnya dingin dan familiar.

Aku kembali ke kamar. Kutatap wajahnya dengan ujung jari. Hangat. Damai. Tapi bukan lagi milikku.

Dengan satu gerakan pelan, aku tusukkan pisau ke dadanya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dia terbangun, berteriak. Tapi aku sudah dalam gelap sejak lama—dan sekarang dia tahu rasanya.

“Kau tak bisa mencintaiku separuh,
dan menyentuh yang lain dalam terang,
karena aku akan menyeretmu sepenuhnya ke gelapku.”

Ia terdiam dalam luka. Darah mengalir ke bantal, ke seprai, ke lantai. Tapi aku tidak menangis.

Aku hanya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala pada dada yang dulu jadi pelindung, kini jadi liang sunyi.


Polisi datang. Tetangga mendengar jeritan terakhirnya. Mereka menemukan aku duduk tenang, tangan berlumur darah, mata menatap hampa—seperti biasa.

Tapi kali ini, bukan karena aku tak bisa melihat. Tapi karena aku telah kehilangan satu-satunya hal yang pernah memberiku cahaya.


Kini aku di ruang tahanan rumah sakit jiwa. Mereka memberiku obat, terapi, dan doa-doa kosong. Tapi aku tetap menulis puisi untuk Rayhan di dinding kamar, dengan kuku dan darah.

“Cinta dalam gelap mata,
adalah cinta yang tak butuh penjelasan,
tapi ketika kau menghianatinya,
ia akan memelukmu dalam kematian.”

Setiap malam, aku mendengar napasnya. Suaranya memanggil dari lorong mimpi. Mungkin ia menungguku... atau mungkin cuma ilusi gelap yang terus menari di balik kelopak mataku yang tak pernah terbuka.

Tapi aku tahu satu hal:

“Cinta bisa membuatmu hidup,
tapi juga bisa jadi alasan kenapa kau mati.”

Dan aku sudah mengalami keduanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...