Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpenislami

Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

Gambar
  Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa suara. Tanpa keberanian. Tanpa pengakuan. Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya. Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka. Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah. “Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian. Aku terkejut. Ternyata kamu melihatku juga. “Iya,” jawabku singkat. Padahal hatiku ingin berteriak. Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada se...

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Gambar
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat . Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada. Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu. Lara jatuh cinta pada Arga. Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu. Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda. “Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya. “Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku. Ia tersenyum tipis. “Aku takut melukai orang yang baik.” Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum ...

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

Gambar
  Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

Gambar
  Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk by_AI Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji . Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.” Aku tertawa waktu itu. Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai. Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas. “Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan. Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini. “Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku. Ia tersenyum kaku. “Perubahan memang perlu waktu.” Aku hampir tertawa lagi, tapi mata...

Cinta dalam Sujud Terakhir

Gambar
  Ilustrasi gambar Cinta dalam Sujud Terakhir Aku mengenalmu dari sajadah yang sama—bukan berdampingan, tapi saling menunggu giliran di surau kecil belakang kampus. Kau selalu datang lebih awal, duduk menunduk dengan tas hitam lusuh, menunggu azan Isya seperti menunggu takdir yang enggan menyebut namanya sendiri. “Aku percaya,” katamu suatu malam, “cinta yang paling jujur adalah yang tumbuh di antara doa.” Aku tersenyum. Sejak itu, aku tahu: aku jatuh cinta padamu dengan cara yang tidak berisik. Namun cinta, sebagaimana iman, sering diuji bukan oleh kekurangan—melainkan oleh kehadiran orang ketiga yang tampak lebih sempurna. Namanya Nadia . Ia hafal Al-Qur’an lebih banyak dariku. Suaranya merdu ketika menjadi makmum perempuan. Senyumnya lembut, seolah tak pernah mengenal dosa. Kau memandangnya dengan cara yang sama seperti kau memandang sajadahmu: penuh hormat, penuh harap. Aku tahu sejak awal, cinta ini segitiga. Tapi aku tak pernah menyangka, salah satu sisinya akan berlumur...

Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA

Gambar
Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA Ilustrasi Gambar Trotoar.id “Jika cinta adalah pisau, maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.” Hujan turun malam itu, deras dan tak berbelas. Aku berdiri di balik jendela, menatap bayanganmu yang memudar di kaca. Sejak kau datang membawa namanya dalam setiap senyum, aku tahu hatiku tak lagi menjadi tempatmu pulang. Namamu: Kau . Nama cinta yang kusimpan rapat-rapat. Namun kau datang bersama seseorang— Reno , sahabatku sejak kecil. Dan entah bagaimana, cinta yang seharusnya sederhana berubah menjadi simpul berduri. “Aku…” suaramu bergetar saat itu, “Aku harus jujur. Aku menyukai kalian berdua.” Kau menunduk. Reno menatapmu lama, lalu menatapku. “Aku sudah menduga,” katanya dingin. “Kau memang suka memainkan hati.” Aku ingin membelamu, ingin berkata bahwa kau hanya bingung. Tapi kata-kata itu tertahan. Ada sesuatu di matamu—ketakutan, penyesalan, sekaligus kerinduan—yang tidak lagi bisa kuartikan. Aku hanya mampu berbisik pelan, “J...

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Gambar
Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah

Gambar
  Ilustrasi foto Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah   Pinterest.com Hujan turun sore itu, menetes perlahan seperti doa yang gugur dari langit. Aku berdiri di bawah atap mushola kampus, mencoba menenangkan dada yang tak kunjung reda sejak pertemuan terakhir kita. Kau datang dengan langkah pelan, membawa aroma hujan yang selalu kukenal sejak pertama kali kita berbicara tentang hal paling sepele: warna senja. “Kau masih menungguku?” bisikmu. Aku tersenyum hambar. “Bukankah aku selalu begitu?” Kau menatapku, matamu seperti halaman kitab yang tak pernah bosan kubaca—penuh misteri, penuh luka yang kau sembunyikan demi tak melukai sesiapa pun. “Orang-orang mulai bertanya,” katamu, lirih. “Tentang kita. Tentang kenapa aku terlalu sering bersamamu.” Aku menghela napas. “Biarkan mereka. Yang tidak mengerti, tak punya hak mengatur langkah kita.” Tapi aku tahu hatimu gemetar. Bukan karena hujan, bukan karena dingin. Melainkan karena kenyataan bahwa kita terpaut di antara...