Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpenislami

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah

  Ilustrasi foto Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah   Pinterest.com Hujan turun sore itu, menetes perlahan seperti doa yang gugur dari langit. Aku berdiri di bawah atap mushola kampus, mencoba menenangkan dada yang tak kunjung reda sejak pertemuan terakhir kita. Kau datang dengan langkah pelan, membawa aroma hujan yang selalu kukenal sejak pertama kali kita berbicara tentang hal paling sepele: warna senja. “Kau masih menungguku?” bisikmu. Aku tersenyum hambar. “Bukankah aku selalu begitu?” Kau menatapku, matamu seperti halaman kitab yang tak pernah bosan kubaca—penuh misteri, penuh luka yang kau sembunyikan demi tak melukai sesiapa pun. “Orang-orang mulai bertanya,” katamu, lirih. “Tentang kita. Tentang kenapa aku terlalu sering bersamamu.” Aku menghela napas. “Biarkan mereka. Yang tidak mengerti, tak punya hak mengatur langkah kita.” Tapi aku tahu hatimu gemetar. Bukan karena hujan, bukan karena dingin. Melainkan karena kenyataan bahwa kita terpaut di antara...

Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”

Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama” https://www.viva.co.id/foto/966355-cinta-beda-agama-dalam-pandangan-anak-kekinian Hujan turun seperti tirai abu-abu yang menutupi kota sore itu. Di bawah atap kecil halte dekat kampus, aku melihatmu berdiri dengan tangan menggenggam buku doa yang selalu kau bawa. Kau menoleh ketika aku datang, dan senyummu—rapuh namun cerah—langsung menghangatkan sesuatu di dalam diriku. “Kau basah semua, Rin,” katamu sambil mengulurkan jaketmu. Aku menolaknya pelan. “Biarkan saja. Hujan membuatku merasa... masih hidup.” “Kau selalu bicara hal aneh.” Kau tersenyum kecil. “Karena hanya denganmu aku bisa bicara seaneh itu.” Aku tak bermaksud menggoda, tapi pipimu memerah halus. Sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan, takdir seperti terus mempertemukan kita. Hujan, buku-buku tua, dan perdebatan kecil tentang Tuhan yang kita sembah dengan cara berbeda—semua menjadi jembatan yang tak pernah bosan kita lewati berdua. Namun semakin dekat kita, semaki...

Cerita Pendek:“Cinta di Punggung Penanggungan”

  Cerita Pendek:“Cinta di Punggung Penanggungan” ilustrasi foto by https://travelspromo.com/htm-wisata/gunung-penanggungan-mojokerto/ Angin pagi berhembus lembut ketikaA langkahku menginjak tanah Gunung Penanggungan. Kabut tipis melayang di antara pepohonan, dan suara burung liar terasa seperti musik pengiring perjalanan kita. Aku menoleh ke arahmu—kau yang ber?Adiri dengan ransel di punggung, napas teratur, dan senyum kecil yang selalu menenangkan. “Siap?” tanyaku pelan. Kau mengangguk, menatap jalur pendakian yang menanjak. “Selama ada kamu, aku siap menghadapi apa pun.” Kalimat itu mungkin sederhana, tapi bagiku seperti doa yang meneduhkan. Kami mulai mendaki. Setiap langkah membawa kenangan, setiap hembusan napas terasa seperti mendekatkan kami, bukan hanya ke puncak, tapi juga ke hati masing-masing. “Aku selalu suka aroma tanah basah seperti ini,” katamu. “Kenapa?” “Karena… mengingatkanku bahwa setiap perjalanan dimulai dari pijakan. Dan aku ingin perjalanan cintaku ju...

"Kupikir Dia Sahabatku, Ternyata Dia Mengandung Anak Suamiku"

  "Kupikir Dia Sahabatku, Ternyata Dia Mengandung Anak Suamiku" Ilustrasi gambar by bola.com Hujan turun deras sore itu, menyelimuti rumahku dengan suara rintik yang menusuk telinga. Aku duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu yang tak juga diketuk siapa pun. Hati kecilku sudah lama berteriak, ada sesuatu yang salah dengan rumah tanggaku. Suamiku, Arman, kerap pulang larut, dengan alasan rapat, pekerjaan, atau sekadar “tanggung jawab.” Tapi yang paling membuatku resah adalah bayangan wajah sahabatku sendiri, Dina. Ya, Dina. Sahabat yang selalu ada saat aku jatuh, yang mendengarkan setiap keluh kesahku tentang rumah tangga, yang kupikir tulus menjadi tempat bersandar. Hingga hari itu, aku mendengar kabar yang merobek hatiku. “Aku harus bicara sama kamu, Ra,” suara lirih Dina saat kami bertemu di kafe kecil dekat taman. Wajahnya pucat, matanya sembab. Tangannya gemetar menggenggam cangkir teh yang belum disentuh. “Ada apa, Din? Kamu sakit? Kamu bisa cerita ke aku,...

Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya

  Ilutrasi foto Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namanya Bukan Aku yang Tertulis di Undangannya chatgpt.com Hujan turun deras sore itu. Aku berdiri di bawah atap halte tua, sementara kamu berlari kecil menyeberang jalan dengan payung biru yang sudah miring diterpa angin. Jantungku berdetak cepat begitu tubuhmu semakin dekat. Ada sesuatu dalam cara kamu tersenyum—seperti luka yang dipaksa tampak baik-baik saja. Aku ingin memanggil namamu, tapi suaraku tenggelam bersama deru hujan. Lalu tanpa sadar, kamu menepi di sampingku, menutup payungmu yang sudah basah kuyup. “Kamu sendirian?” tanyamu, lirih, seakan takut jawabanku akan melukai. Aku hanya mengangguk. Mataku tak bisa berhenti menatap wajahmu. Ada jarak yang menyesakkan, padahal kita berdiri begitu dekat. “Hujan adalah rahasia, yang menutupi luka di dada. Aku ingin bicara, tapi kata-kata tenggelam bersama derasnya.” Aku memberanikan diri. “Kenapa kamu di sini? Bukannya harusnya kamu sibuk persiapan…?” Kamu terdiam. S...

Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata

  ilustrasi foto Cerita pendek :Cinta dalam Gelap Mata Aku tak bisa melihat sejak usia delapan. Dunia ini gelap. Tapi saat dia datang, aku merasa cahaya punya cara lain untuk menyapa: lewat suara, lewat aroma tubuh, lewat desir napas yang membuat dada terasa penuh. Namanya Rayhan. Dia datang ke hidupku saat aku hampir menyerah pada dunia yang tak pernah bersinar. Rayhan bukan sekadar kekasih. Ia penuntun. Ia mata untuk jiwaku. Kami bertemu di taman terapi. Tangannya lembut menggandengku ke bangku kayu, dan suaranya selalu memanggil namaku seolah aku adalah melodi yang ia hafal di luar kepala. “Aku tak peduli matamu buta, karena aku ingin menjadi cahaya di tiap langkahmu,” bisiknya, suatu malam saat hujan turun lembut di atap rumahku. Aku tersenyum, memeluk kata-katanya seperti selimut tipis di malam dingin. Cinta kami tumbuh dalam ruang-ruang sunyi, di balik sentuhan dan napas yang saling mencari. Tidak semua orang mengerti. Tapi aku percaya: “Cinta bukan perkara ...

Cerita Pendek:Senja Terakhir di Kos Nomor Tujuh

Ilustrasi foto Cerita Pendek:Senja Terakhir di Kos Nomor Tujuh by pn gtree.com Aku mengingat betul malam itu. Hujan turun rintik, suara gerimis memukul-mukul atap seng kos nomor tujuh. Aroma tanah basah dan kenangan pahit menyatu menjadi kabut yang menyesakkan dada. Di kamarku, satu lampu kuning menggantung lesu, seperti nyawaku sendiri yang tinggal satu nyala tipis. Namaku Nadira. Aku sudah lima bulan menjalani hubungan jarak jauh dengan Arya, lelaki yang katanya mencintaiku sepenuh jiwa. Kami bertahan lewat janji, tawa virtual, dan puisi yang kami kirimkan tiap malam.....: “Aku percaya pada rindu, meski ia tak bertulang, karena setiap malam ia memelukku lebih erat dari manusia.”   Tapi ternyata, cinta yang jauh bukan sekadar rindu dan kata-kata. Ada sesuatu yang lebih jahat dari jarak: pengkhianatan. Hari itu, aku pulang lebih cepat dari kerja. Kos sunyi, hanya suara gemeretak hujan yang menemani. Saat membuka pintu kamarku, kulihat sepasang sepatu yang kukenal: sep...

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir bisnisbandung.com Namaku Siti Puji Astutik. Di kota yang tak pernah benar-benar tidur , aku hidup seperti bayangan—melangkah dalam diam, mencintai dalam sembunyi, dan menangis dalam senyap. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana luka bisa bersembunyi dalam selimut malam yang hangat. Aku istri dari seorang pria bernama Bayu Rahmatullah . Kami menikah lima tahun lalu, dan dalam lima tahun itu, aku lebih sering bicara pada tembok kamar daripada pada Bayu. Cintanya, yang dulu seperti matahari pagi, kini padam ditelan mendung yang tak mau pergi. Hingga malam itu datang. Malam ketika aku membuka ponsel Bayu, dan seluruh dunia runtuh di hadapanku. "Aku ingin jadi pelukan terakhir sebelum tidurmu, meski aku hanya perempuan kedua dalam mimpimu."   Pesan itu, dikirim oleh seorang wanita bernama Anita , muncul paling atas. Ada foto—mereka berdua di sebuah hotel. Bayu bersandar santai di sofa, hanya mengenakan ...

Cerita Pendek:Cinta Diam Siti Puji Astutik: Gadis Senja yang Menyulam Rindu

Cerita Pendek:Cinta Diam Siti Puji Astutik: Gadis Senja yang Menyulam Rindu Senja selalu menjadi waktu yang ia tunggu. Siti Puji Astutik, gadis desa yang lebih akrab dipanggil Puji, selalu duduk di bangku kayu tua di tepi sawah. Dari sanalah ia menatap matahari perlahan tenggelam, bersama rindu yang tak pernah sempat ia ucapkan. Rindu yang diam-diam tumbuh, seperti padi yang ia tanam bersama ibunya—sunyi, tapi nyata. Namanya Fajar, pria yang bekerja sebagai guru honorer di sekolah tempat adik Puji belajar. Sejak pertama melihatnya mengajar dengan sabar, Puji tahu hatinya jatuh, tapi tak pernah berani mendekat. Ia hanya bisa mencintai dalam diam, dan membungkus rindunya dalam puisi-puisi yang ia tulis di balik kertas bekas belanja.   “Jika cinta adalah rahasia,   Biarlah kusimpan dalam doa, Dalam sepi aku menjaga, Namamu selalu di dada.”   Hari itu, langit senja lebih redup dari biasanya. Puji menatap semburat jingga yang hampir mati. Tapi matanya justru menangkap soso...