Langsung ke konten utama

Cerita Pendek:Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan

Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa pernah mengatakannya. Bukan karena aku takut ditolak, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan cara paling suci untuk menyebut namamu: dalam doa . Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud. Kau tak pernah tahu. Dan aku berharap, kau tak perlu tahu. — Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri. “Cinta itu ujian,” katamu suatu malam. “Ujian yang bagaimana?” tanyaku. “Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.” Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali.   Aku menyembunyikan namamu di antara tasbih d...

Cinta dalam Sujud Terakhir

 

Ilustrasi gambar Cinta dalam Sujud Terakhir


Aku mengenalmu dari sajadah yang sama—bukan berdampingan, tapi saling menunggu giliran di surau kecil belakang kampus. Kau selalu datang lebih awal, duduk menunduk dengan tas hitam lusuh, menunggu azan Isya seperti menunggu takdir yang enggan menyebut namanya sendiri.

“Aku percaya,” katamu suatu malam, “cinta yang paling jujur adalah yang tumbuh di antara doa.”

Aku tersenyum. Sejak itu, aku tahu: aku jatuh cinta padamu dengan cara yang tidak berisik.

Namun cinta, sebagaimana iman, sering diuji bukan oleh kekurangan—melainkan oleh kehadiran orang ketiga yang tampak lebih sempurna.

Namanya Nadia.

Ia hafal Al-Qur’an lebih banyak dariku. Suaranya merdu ketika menjadi makmum perempuan. Senyumnya lembut, seolah tak pernah mengenal dosa. Kau memandangnya dengan cara yang sama seperti kau memandang sajadahmu: penuh hormat, penuh harap.

Aku tahu sejak awal, cinta ini segitiga. Tapi aku tak pernah menyangka, salah satu sisinya akan berlumur darah.

“Kau percaya takdir?” tanyaku suatu malam, setelah kajian.

“Kita hanya boleh berdoa,” jawabmu. “Soal takdir, itu urusan Allah.”

Aku ingin bertanya: jika begitu, mengapa hatimu terbagi?

Namun yang keluar justru puisi kecil dari dadaku:


Jika cinta adalah doa,

mengapa aku selalu menjadi amin

dari doa yang kau panjatkan

untuk nama yang bukan aku?


Kau terdiam. Matamu berkaca-kaca. Malam itu hujan turun perlahan, seperti istighfar yang tak selesai.

Aku tahu kau mencintainya. Aku juga tahu kau menyayangiku. Tapi dalam Islam, cinta tidak boleh menggantung—ia harus diputuskan, dimuliakan, atau ditinggalkan.

Nadia datang padaku lebih dulu.

“Aku ingin menikah dengan dia,” katanya lirih, tangannya gemetar memegang tasbih. “Tapi dia menyebut namamu dalam doanya.”

Aku tertawa kecil, getir.

“Dan dia menyebut namamu dalam mimpinya,” balasku.

Kami saling diam. Dua perempuan yang mencintai lelaki yang sama—bukan dengan iri yang gaduh, melainkan dengan luka yang santun.

Namun kesantunan tidak selalu menyelamatkan siapa pun.

Kau mulai berubah. Kau sering menyendiri. Kajian tak lagi kau hadiri. Shalatmu tergesa, sujudmu terlalu lama—seolah kau bernegosiasi langsung dengan Tuhan, memohon jawaban yang tak kunjung turun.

Suatu malam, kau mengajakku bertemu.

“Aku sudah memilih,” katamu.

Dadaku sesak.

“Siapa?”

“Kau.”

Aku menangis. Tapi tangis itu bukan bahagia—melainkan firasat.

“Bagaimana dengan Nadia?”

“Kuharap dia mengerti.”

Aku ingin berkata: cinta tidak cukup hanya dipilih, ia harus diselamatkan.

Namun lidahku kelu.

Nadia tak mengerti.

Ia menemuimu di surau, malam Jumat, setelah semua lampu dipadamkan. Aku mengikutimu dari kejauhan—bukan karena curiga, tapi karena hatiku berteriak.

“Aku mohon,” suara Nadia pecah. “Jika aku salah, katakan. Tapi jangan tinggalkan aku tanpa alasan.”

Kau menghela napas panjang.

“Aku tak ingin berzina dengan harapan,” jawabmu. “Aku memilih jalan yang paling menenangkan.”

“Dan aku?” tanyanya.

“Maaf.”

Sunyi. Lalu Nadia tertawa—bukan tawa gila, melainkan tawa orang yang doanya dipatahkan tepat di depan mihrab.


Tuhan,

jika cinta ini salah,

*mengapa Kau tumbuhkan ia

di dada orang-orang yang rajin sujud?

Tangannya bergerak cepat. Aku tak tahu dari mana pisau itu berasal—mungkin dari tasnya, mungkin dari amarah yang terlalu lama disimpan atas nama kesabaran.

Aku berteriak.

Kau menoleh.

Terlambat.

Pisau itu menancap di dadamu, tepat di bawah tulang rusuk. Darah mengalir, merah, hangat—seperti cinta yang tak sempat dihalalkan.

Nadia menjatuhkan pisau, menangis, bersujud di lantai surau yang kini ternoda.

“Aku hanya ingin dicintai,” katanya. “Aku hanya ingin dipilih.”

Kau terjatuh ke pangkuanku.

“Maafkan aku,” bisikmu.

Aku menangis, mencium keningmu, darah membasahi jilbabku.


Jika ini sujud terakhirmu,

*biarlah namaku

*menjadi doa terakhir

yang kau titipkan pada langit.

Kau meninggal sebelum ambulans datang.

Nadia menyerahkan diri ke polisi. Aku menghadiri pemakamanmu dengan langkah kosong. Surau itu kini sepi. Sajadahmu masih terlipat rapi, seolah menunggu dahi yang takkan pernah kembali.

Aku masih shalat. Masih berdoa. Tapi kini aku tahu:

Tidak semua cinta yang tumbuh dalam sujud akan berakhir di pelaminan. Sebagian berakhir di tanah, diselimuti kafan, disaksikan malaikat yang mencatat—bahwa manusia bisa terlalu mencintai hingga lupa, bahwa cinta juga harus dijaga, bukan hanya didoakan.

Dan setiap kali aku sujud, aku berbisik pelan:


Tuhan,

jika cinta bisa membunuh,

*ajarkan aku mencintai

*tanpa melukai siapa pun—

termasuk diriku sendiri.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...