Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpenindonesia

Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

Gambar
  Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa suara. Tanpa keberanian. Tanpa pengakuan. Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya. Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka. Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah. “Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian. Aku terkejut. Ternyata kamu melihatku juga. “Iya,” jawabku singkat. Padahal hatiku ingin berteriak. Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada se...

Gadis Bermukena Abu-Abu

Gambar
Ilustrasi fotoGadis Bermukena Abu-Abu Aku pertama kali melihatmu pada malam pertama Ramadan—malam ketika langit seolah lebih dekat dengan doa, dan masjid kecil di ujung gang itu dipenuhi aroma sajadah lama serta harap yang baru dilahirkan. Kau berdiri di saf perempuan, bermukena abu-abu, warna yang tak mencolok namun entah mengapa justru menetap paling lama di mataku. Mukena itu sederhana. Tak ada bordir berlebihan, tak ada renda berkilau. Tapi saat kau mengangkat tangan untuk takbir, aku merasa ada sesuatu yang runtuh perlahan di dadaku—seperti tembok panjang yang selama ini kubangun untuk menahan perasaan. Kau menunduk, khusyuk, seakan dunia di sekitarmu berhenti bernapas. Aku berdiri di saf laki-laki, pura-pura khidmat, padahal mataku berkali-kali ingin mencuri arahmu. Aku menegur diriku sendiri dalam hati: ini Ramadan, ini rumah Tuhan . Tapi perasaan tidak pernah mengenal kalender ibadah. Ia datang tanpa izin, bahkan di saat sujud paling dalam. Seusai tarawih, halaman masjid menjad...

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Gambar
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat . Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada. Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu. Lara jatuh cinta pada Arga. Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu. Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda. “Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya. “Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku. Ia tersenyum tipis. “Aku takut melukai orang yang baik.” Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum ...

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

Gambar
  Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut Aku berdiri. Semua orang berdiri. Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan. “Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…” Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini. Ia di depanku. Naila . Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun. Dan di sampingnya… Faris . Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal l...

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

Gambar
  Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk by_AI Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji . Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.” Aku tertawa waktu itu. Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai. Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas. “Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan. Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini. “Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku. Ia tersenyum kaku. “Perubahan memang perlu waktu.” Aku hampir tertawa lagi, tapi mata...

Cinta dalam Sujud Terakhir

Gambar
  Ilustrasi gambar Cinta dalam Sujud Terakhir Aku mengenalmu dari sajadah yang sama—bukan berdampingan, tapi saling menunggu giliran di surau kecil belakang kampus. Kau selalu datang lebih awal, duduk menunduk dengan tas hitam lusuh, menunggu azan Isya seperti menunggu takdir yang enggan menyebut namanya sendiri. “Aku percaya,” katamu suatu malam, “cinta yang paling jujur adalah yang tumbuh di antara doa.” Aku tersenyum. Sejak itu, aku tahu: aku jatuh cinta padamu dengan cara yang tidak berisik. Namun cinta, sebagaimana iman, sering diuji bukan oleh kekurangan—melainkan oleh kehadiran orang ketiga yang tampak lebih sempurna. Namanya Nadia . Ia hafal Al-Qur’an lebih banyak dariku. Suaranya merdu ketika menjadi makmum perempuan. Senyumnya lembut, seolah tak pernah mengenal dosa. Kau memandangnya dengan cara yang sama seperti kau memandang sajadahmu: penuh hormat, penuh harap. Aku tahu sejak awal, cinta ini segitiga. Tapi aku tak pernah menyangka, salah satu sisinya akan berlumur...

CERITA PENDEK – Untukmu yang Tak Sempat Kulumukuk

Gambar
 CERITA PENDEK – Untukmu yang Tak Sempat Kulumukuk ilustras i foto p ixa bay.com   Malam itu, kota terasa seperti menahan napasnya sendiri. Jalanan yang biasanya riuh mendadak lengang, dan angin membawa aroma tanah basah yang membuatku ingin kembali pada kenangan—kenangan tentang aku, kau, dan dia. Namaku Raka , dan kau… kau adalah satu-satunya nama yang selalu menggema di batinku sejak hari pertama kita bertemu. Tapi takdir, seperti biasa, selalu memiliki cara mengiris paling halus pada sesuatu yang paling kita cintai. Aku masih ingat pertama kali bertemu denganmu di bawah lampu jalan yang temaram. Kau berdiri sambil menatap layar ponsel, seolah dunia sedang mengejarmu. Saat aku mendekat, kau menoleh dan tersenyum—senyum tipis yang membuat jantungku berdetak seperti hujan pertama yang menghantam jendela. “ Kau terlihat bingung… ada yang kaucari? ” tanyaku waktu itu. Kau tertawa kecil sambil menahan rambutmu yang hampir diterbangkan angin. “ Aku kehilangan arah, mungkin j...

Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA

Gambar
Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA Ilustrasi Gambar Trotoar.id “Jika cinta adalah pisau, maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.” Hujan turun malam itu, deras dan tak berbelas. Aku berdiri di balik jendela, menatap bayanganmu yang memudar di kaca. Sejak kau datang membawa namanya dalam setiap senyum, aku tahu hatiku tak lagi menjadi tempatmu pulang. Namamu: Kau . Nama cinta yang kusimpan rapat-rapat. Namun kau datang bersama seseorang— Reno , sahabatku sejak kecil. Dan entah bagaimana, cinta yang seharusnya sederhana berubah menjadi simpul berduri. “Aku…” suaramu bergetar saat itu, “Aku harus jujur. Aku menyukai kalian berdua.” Kau menunduk. Reno menatapmu lama, lalu menatapku. “Aku sudah menduga,” katanya dingin. “Kau memang suka memainkan hati.” Aku ingin membelamu, ingin berkata bahwa kau hanya bingung. Tapi kata-kata itu tertahan. Ada sesuatu di matamu—ketakutan, penyesalan, sekaligus kerinduan—yang tidak lagi bisa kuartikan. Aku hanya mampu berbisik pelan, “J...