Tampilkan postingan dengan label cerpenindonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenindonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2026

Nama yang Masih Bergema dalam Doa

Nama yang Masih Bergema dalam Doa
Nama yang Masih Bergema dalam Doa
https://id.pinterest.com/aisyahhh3232/kekasih-bayangan/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling kutakuti: diam-diam, tertib, dan penuh kehati-hatian. Tidak ada pelukan sebelum janji, tidak ada sentuhan selain doa yang kusebutkan pelan setiap selesai salat. Aku menyebut namamu seperti orang yang takut bersuara terlalu keras, khawatir Tuhan mengira aku meminta terlalu banyak.

Namun di sela doa itu, selalu ada bayangan yang menyusup. Nama lain. Wajah yang seharusnya sudah pergi, tetapi masih sering mengetuk ingatan tanpa permisi.

Kamulah cinta yang ingin kujaga kesuciannya. Tapi mantanku adalah bayangan yang tak mau mati.

Malam itu, kita duduk berhadapan di teras rumahmu. Lampu jalan redup, dan angin membawa bau tanah basah. Kamu tidak langsung bicara. Kamu selalu begitu—menunggu sampai hatimu siap melukai atau terluka.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” katamu akhirnya.

Aku mengangguk, meski jantungku mulai berlari.

“Kamu pernah benar-benar selesai dengan masa lalumu?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dada.

“Aku sudah berusaha,” jawabku.

Kamu tersenyum tipis. “Aku tidak bertanya apakah kamu berusaha. Aku bertanya apakah kamu sudah selesai.”

Aku menunduk. Diamku adalah jawabannya.

Kamu menarik napas panjang, lalu berkata lirih, seolah membaca puisi untuk dirimu sendiri:

“Aku tidak takut menjadi yang terakhir,
aku hanya takut mencintai
sementara hatimu masih
menoleh ke belakang.”

Kata-katamu menyesakkan. Aku ingin menyangkal, tapi kebohongan akan mencemari cinta yang ingin kujaga tetap suci.

“Aku tidak mencintainya lagi,” kataku cepat. “Tapi kenangannya… masih sering datang.”

Kamu menatapku lama. “Kenangan tidak datang tanpa diundang.”

Kalimat itu menusuk.

Mantan kekasihku adalah luka yang kututup rapi, bukan sembuh yang kuikhlaskan. Kami berpisah dengan cara yang salah—penuh emosi, penuh dosa, penuh janji yang tidak ditepati. Sejak itu aku belajar menata hidup, belajar mencintai Tuhan sebelum manusia, dan di sanalah aku bertemu kamu.

Kamu hadir seperti peneduh. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Kamu mencintaiku dengan cara yang tenang, seolah cinta adalah amanah, bukan nafsu.

Namun justru karena itu, ketegangan tumbuh.

Aku takut kehilanganmu. Kamu takut hanya menjadi pelarian.

Hari-hari setelah percakapan itu terasa berat. Kamu tidak menjauh, tapi tidak juga mendekat. Setiap pesanmu terasa formal, seolah kamu sedang menimbang apakah aku pantas untuk dilanjutkan.

Aku mencoba lebih khusyuk berdoa. Aku mencoba memotong ingatan yang tumbuh liar. Tapi bayangan mantanku seperti bayanganku sendiri—ke mana pun aku pergi, ia ikut.

Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di antara dua pintu. Satu bertuliskan namamu. Satu lagi bertuliskan masa lalu. Aku tahu pintu mana yang ingin kubuka, tapi kakiku gemetar.

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Paginya, pesan darimu masuk.

“Kita perlu bicara.”

Kami bertemu di sebuah masjid kecil selepas isya. Tempat yang seharusnya paling aman, justru menjadi arena paling jujur.

“Kamu kelihatan lelah,” katamu.

“Aku sedang berperang,” jawabku.

“Dengan siapa?”

“Dengan diriku sendiri.”

Kamu terdiam, lalu duduk di sampingku, menjaga jarak yang sopan.

“Aku mencintaimu,” katamu akhirnya. “Tapi aku tidak ingin cintaku berdiri di atas bayangan orang lain.”

Aku menggenggam sajadahku kuat-kuat.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku, hampir menangis.

Kamu memejamkan mata, lalu berkata dengan suara gemetar:

“Jika aku adalah doa yang kau pinta,
jangan sisipkan nama lain
di sela aminmu.
Tuhan mendengar segalanya,
termasuk keraguan.”

Air mataku jatuh. Aku merasa kecil, rapuh, dan bersalah.

“Aku ingin mencintaimu dengan bersih,” kataku. “Tapi bayangan itu datang tanpa izin.”

Kamu menatapku. “Tidak ada bayangan yang lebih kuat dari cahaya. Tapi kamu harus memilih ke mana kamu menghadap.”

Ketegangan mencapai puncaknya beberapa hari kemudian.

Mantan kekasihku menghubungiku. Pesan singkat. Netral. Tapi cukup untuk mengoyak.

“Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.”

Pesan itu seperti membuka pintu yang sudah hampir terkunci.

Aku tidak membalas. Tapi aku gemetar. Dan yang paling menyakitkan: aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut.

Akhirnya, aku datang juga.

“Aku dihubungi olehnya,” kataku jujur.

Kamu terdiam lama. Wajahmu tenang, tapi matamu lelah.

“Dan kamu datang ke sini,” katamu pelan. “Itu berarti sesuatu.”

“Aku memilih jujur,” kataku. “Karena aku tidak ingin cinta ini tercemar.”

Kamu tersenyum kecil, pahit tapi hangat.

“Cinta suci bukan tentang
tidak pernah tergoda,
tapi tentang keberanian
mengaku dan memilih.”

Aku menatapmu dengan mata basah. “Aku memilihmu.”

Kamu berdiri. Mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tercekat.

“Aku tidak akan memintamu melupakan,” katamu. “Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang, bukan tempatmu bersembunyi.”

Aku mengangguk.

Malam itu tidak berakhir dengan janji manis. Tidak ada pelukan. Tapi ada sesuatu yang lebih berat dan lebih jujur: komitmen untuk berjalan pelan, dengan cahaya di depan, bukan bayangan di belakang.

Saat kita berpisah, kamu berkata:

“Jika suatu hari bayangan itu datang lagi,
jangan lari dariku.
Pegang tanganku.
Kita hadapi bersama,
atau kita lepaskan dengan ikhlas.”

Aku pulang dengan langkah gemetar, tapi hati yang lebih tenang.

Cinta suci bukanlah cinta tanpa masa lalu. Ia adalah cinta yang berani mengakui luka, memilih kesembuhan, dan menolak kembali ke kegelapan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa tanpa menyebut nama selain namamu.

Bayangan itu masih ada. Tapi aku tidak lagi berjalan sendirian.


Sabtu, 28 Maret 2026

Namamu Terucap Saat Darahku Mengering

Ilustrasi foto Namamu Terucap Saat Darahku Mengering 
https://www.liputan6.com/health/read/798847/cara-hadirkan-suasana-romantis-saat-hujan#google_vignette


Aku selalu percaya cinta adalah doa yang diam-diam didengar Tuhan. Namun malam itu, cinta menjelma menjadi pengakuan paling kejam—dibacakan bukan oleh bibir, melainkan oleh darah.

Kau datang ke hidupku seperti senja yang tak pernah kuundang, tapi selalu kutunggu. Matamu menatapku dengan cara yang membuatku lupa cara pulang. Aku mencintaimu tanpa rencana, tanpa syarat, tanpa janji. Dan mungkin, itulah awal dari kehancuran kami.

“Aku mencintaimu,” katamu suatu sore, di bangku kayu taman kota yang catnya mengelupas.

Aku diam. Bukan karena tak merasa apa-apa, tapi karena perasaan itu terlalu besar untuk dikeluarkan sembarangan.

“Jangan katakan itu,” jawabku akhirnya. “Kau sudah bertunangan.”

Kau tersenyum getir. “Cinta tidak pernah peduli pada status.”

Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia—perempuan yang namanya selalu kau sebut dengan nada aman. Perempuan yang dipilih keluargamu. Perempuan yang kelak akan menjadi istrimu, jika tak ada aku di antara kita.

Sejak hari itu, cinta kami hidup di lorong sempit bernama sembunyi-sembunyi. Kami mencuri waktu, mencuri tawa, mencuri kebahagiaan dari masa depan yang bukan milik kami.

Di sela pertemuan, kau sering membacakan puisi—atau mungkin itu jeritan hatimu sendiri.

“Jika mencintaimu adalah dosa,

biarlah aku terbakar di dalamnya.

Sebab neraka tanpa namamu

lebih menyiksa daripada api.”

Aku selalu terdiam setiap kali kau selesai. Aku ingin percaya bahwa cinta ini layak diperjuangkan. Tapi setiap malam, wajah dia menghantui pikiranku—perempuan yang tak bersalah, tapi menjadi korban dari cinta kami yang rakus.

“Aku akan memilihmu,” katamu suatu malam. “Aku hanya butuh waktu.”

Waktu. Kata yang selalu dipakai laki-laki ketika mereka takut kehilangan segalanya.

Hari demi hari berlalu, dan waktu justru membunuhku perlahan. Aku mulai merasa menjadi bayangan dalam hidupmu—hadir tapi tak diakui, dicintai tapi tak diperjuangkan.

Dan kemudian, semuanya pecah.

Ia datang menemuiku.

Perempuan itu berdiri di depan pintu kontrakanku, mengenakan gaun sederhana, matanya merah, tangannya gemetar. Aku tahu siapa dia sebelum ia menyebutkan namanya.

“Aku hanya ingin kebenaran,” katanya pelan. “Kau mencintai tunanganku, bukan?”

Aku ingin berbohong. Aku ingin menyangkal. Tapi cinta yang kupeluk terlalu besar untuk disembunyikan.

“Iya,” jawabku. “Aku mencintainya.”

Ia tersenyum—senyum paling menyakitkan yang pernah kulihat.

“Terima kasih sudah jujur,” katanya. “Sekarang aku tahu mengapa ia selalu tampak jauh.”

Sejak hari itu, hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang terus terjaga. Kau mulai menjauh, teleponmu jarang aktif, pesan-pesanku tak lagi dibalas dengan kata rindu.

Aku menunggumu di kafe tempat biasa kita bertemu. Hujan turun deras, seperti langit sedang membersihkan dosanya sendiri.

Kau datang terlambat. Wajahmu pucat. Matamu kosong.

“Aku tak bisa,” katamu tanpa menatapku. “Aku tak bisa meninggalkannya.”

Kata-katamu menghantamku lebih keras daripada hujan.

“Lalu aku apa?” tanyaku dengan suara bergetar.

Kau terdiam. Dan dalam diam itu, aku tahu—aku bukan siapa-siapa.

Aku tertawa. Tawa orang yang hatinya telah hancur sepenuhnya.


“Jika aku hanya jeda dalam hidupmu,

mengapa kau menuliskanku dengan tinta luka?

Jika aku hanya persinggahan,

mengapa perpisahan ini terasa seperti kematian?”

Aku pergi malam itu dengan hati yang terkoyak. Tapi tak kusangka, tragedi belum selesai memilih korbannya.

Tiga hari kemudian, kau mengajakku bertemu. Katamu, ini pertemuan terakhir. Di rumahmu. Saat malam hampir menelan kota.

Aku datang dengan perasaan campur aduk—harap dan takut saling berpelukan di dadaku.

Pintu terbuka.

Dan di sana, dia berdiri.

“Aku ingin kita bicara bertiga,” katanya. Suaranya tenang, terlalu tenang.

Kami duduk di ruang tamu yang dingin. Lampu redup. Jam dinding berdetak seperti hitungan mundur.

“Aku mencintainya,” kataku akhirnya. “Dan aku yakin, dia juga mencintaiku.”

Kau bangkit. “Cukup,” katamu keras. “Ini salahku. Jangan saling menyakiti.”

Tapi luka tak pernah bisa dihentikan dengan kata cukup.

“Aku hamil,” kata perempuan itu tiba-tiba.

Dunia berhenti.

Kau menatapnya dengan wajah runtuh. Aku menutup mulutku, menahan jerit yang hampir pecah.

“Apa?” suaramu gemetar.

“Aku hamil anakmu,” ulangnya. “Dan kau masih berani mencintai perempuan lain?”

Tangisnya berubah menjadi tawa yang menakutkan.

“Tidak ada yang akan memiliki kau,” katanya pelan.

Aku berdiri. “Aku pergi.”

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Pisau itu entah dari mana munculnya. Cahaya lampu memantul di bilahnya. Aku hanya ingat teriakan, langkah kaki, dan rasa panas yang menyebar di dadaku.

Kau menusukku.

Sekali. Dua kali.

Aku jatuh.

Darah mengalir, membasahi lantai yang dingin. Pandanganku kabur. Tapi aku masih bisa melihat wajahmu—pucat, gemetar, hancur.

“Aku tak ingin kehilangan siapa pun,” tangismu pecah. “Aku tak ingin…”

Aku tersenyum, meski nyeri merobek seluruh tubuhku.


“Tenanglah,

aku akan pergi dengan caraku sendiri.

Cinta kita terlalu indah

untuk hidup di dunia yang kejam.”

Sirene terdengar dari kejauhan. Perempuan itu berteriak. Kau terduduk di lantai, memeluk kepalamu sendiri.

Aku menatap langit-langit rumah itu—tempat cintaku berakhir.

Dalam detik terakhir, aku menyebut namamu. Bukan sebagai kutukan, tapi sebagai doa terakhir.

Karena meski aku mati oleh tanganmu, aku hidup oleh cintamu.

Dan mungkin, itulah tragedi paling sempurna.


Senin, 02 Maret 2026

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir

 

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir


Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram.

Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku.

Pesan itu datang lagi.

“MALAM INI ATAU KAMI DATANG.”

Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit.

“Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?”

Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan.

Tujuh hari kemudian, dua juta berubah menjadi enam juta. Lalu delapan. Lalu dua belas.

Dan yang paling menyakitkan bukan bunganya—melainkan suaranya.

Suaranya yang pertama kali kudengar lewat telepon, berat, tenang, seolah ia tahu aku sudah kalah bahkan sebelum berbicara.

“Kamu masih punya waktu,” katanya dulu. “Jangan bikin kami repot.”

Malam ini, waktu itu habis.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.47 ketika ketukan itu datang.

Tok. Tok. Tok.

Pelan. Teratur. Sabar.

Aku menelan ludah, berdiri, dan berjalan ke pintu seperti narapidana menuju tiang gantungan. Kunci pintu berderit saat kubuka sedikit.

Dia berdiri di sana.

Jaket hitam, basah oleh hujan. Rambutnya klimis, wajahnya datar, matanya tajam seperti pisau dapur yang terlalu sering diasah. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum orang yang tahu dirinya berkuasa.

“Kamu lama,” katanya.

“Aku… aku belum punya uang,” jawabku lirih.

Dia tertawa kecil. “Aku tahu.”

Dia mendorong pintu dan masuk tanpa izin. Bau rokok dan hujan menyatu, mengisi ruang sempit itu. Dia melihat sekeliling, seolah menilai harga barang-barangku.

“Televisi rusak, kulkas kosong,” katanya. “Hidupmu memang payah, ya?”

Aku mengepalkan tangan. “Aku sudah berusaha.”

“Usaha?” Dia mendekat. “Usaha itu bayar. Bukan cerita sedih.”

Aku menatap lantai. “Beri aku waktu.”

“Waktu sudah kami beri. Sekarang kami ambil.”

Dia duduk di kursi, menyilangkan kaki, lalu menepuk-nepuk meja.

“Kamu tahu apa yang paling aku benci?” katanya.

Aku menggeleng.

“Orang yang berutang tapi masih berharap dikasihani.”

Dadaku sesak. “Aku cuma pinjam. Aku tidak berniat lari.”

“Tidak ada niat baik dalam utang,” katanya dingin. “Hanya kewajiban.”

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, menerangi ruangan sesaat. Dalam kilatan cahaya itu, aku melihat sesuatu di pinggangnya—tonjolan keras di balik jaket.

Aku mundur selangkah.

“Kamu takut?” tanyanya, tersenyum lebih lebar.

“Sedikit,” jawabku jujur.

“Itu bagus. Orang yang takut biasanya lebih patuh.”

Dia berdiri dan mendekat hingga jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa mencium napasnya.

“Kami bisa lakukan banyak hal,” katanya pelan. “Telepon kontakmu. Datang ke tempat kerjamu. Datang ke rumah ibumu.”

Nama ibuku disebut seperti ancaman, bukan sekadar kata.

“Jangan libatkan dia,” kataku cepat.

“Bayar.”

“Aku tidak punya apa-apa lagi!”

Dia menamparku.

Bukan keras, tapi cukup untuk membuat kepalaku terhuyung. Dunia berputar sesaat.

“Jangan berteriak,” katanya. “Tetangga tidak suka drama.”

Air mataku jatuh. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis seperti ini—bukan karena sakit, tapi karena malu.

“Aku menyesal,” kataku. “Setiap hari.”

“Penyesalan tidak bernilai,” jawabnya. “Uang yang bernilai.”

Dia berjalan ke dapur kecilku, membuka laci. Tangannya berhenti di pisau dapur—pisau tua dengan gagang kayu retak.

Aku menahan napas.

Dia mengangkat pisau itu, menimbangnya.

“Ini tajam?” tanyanya sambil menoleh.

“Cukup,” jawabku.

Dia tersenyum. “Bagus.”

Jantungku berdegup liar. “Apa yang akan kamu lakukan?”

“Memberi motivasi.”

Dia melangkah mendekat, pisau itu berkilat di bawah lampu neon yang berkedip. Tanganku refleks meraih gagang sapu di sudut ruangan—satu-satunya benda panjang yang bisa kujangkau.

“Kamu mau melawan?” tanyanya, tertawa. “Kamu lucu.”

“Aku capek,” kataku. “Aku benar-benar capek.”

Dia berhenti tepat di depanku. “Capek itu urusanmu. Utang itu urusanku.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku pecah.

Bukan marah. Bukan benci. Tapi keputusasaan yang begitu padat hingga berubah menjadi keberanian palsu.

“Aku tidak akan bayar,” kataku.

Dia terdiam. Senyumnya lenyap.

“Apa katamu?”

“Aku bilang… aku tidak akan bayar.”

Petir menyambar lagi. Dalam cahaya putih itu, aku melihat matanya menyipit.

“Kamu memilih jalan yang salah,” katanya pelan.

Dia mengangkat pisau.

Aku mengayunkan sapu itu sekuat tenaga.

Sapu itu mengenai pergelangan tangannya. Pisau terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Kami sama-sama terkejut—lalu bergerak bersamaan.

Dia menyerbu. Aku mundur, terpeleset oleh air hujan yang menetes dari jaketnya ke lantai. Kami jatuh. Tubuhnya menindihku, tangannya mencekik leherku.

“Nakal,” desisnya.

Penglihatanku menghitam. Aku meraba lantai, mencari apa saja. Jari-jariku menyentuh gagang kayu yang kukenal.

Pisau.

Dengan sisa tenaga, aku menghujamkannya ke tubuhnya.

Sekali.

Dia mengerang, tapi tidak berhenti.

Dua kali.

Tiga kali.

Tangannya melemah. Cekikannya terlepas. Tubuhnya roboh ke samping, berat, hangat, basah.

Aku terengah-engah, menatap langit-langit, mendengar hujan dan detak jantungku sendiri. Bau besi memenuhi udara.

“Aku… aku tidak mau,” bisikku, meski tahu dia tak lagi mendengar.

Aku bangkit perlahan. Dia terbaring diam, mata terbuka, menatap kosong ke arah lampu yang berkedip.

Pisau itu masih di tanganku. Tanganku gemetar hebat.

Di luar, hujan terus turun, seolah ingin mencuci malam dari dosa-dosa manusia.

Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, kini ada tubuh tak bernyawa beberapa langkah dariku.

Ponselku berbunyi lagi.

Pesan baru.

“SUDAH SELESAI?”

Aku menatap layar itu lama sekali. Lalu aku tertawa—tawa pendek, pecah, nyaris seperti tangisan.

“Sudah,” kataku pada ruangan kosong.

Penyesalan itu datang terlambat. Tidak ada angka yang bisa menghapus darah di lantai. Tidak ada bunga yang bisa menumbuhkan kembali hidup yang hilang—baik hidupnya, maupun hidupku.

Malam itu, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan aplikasi mana pun:

Ada utang yang bisa dibayar dengan uang.
Dan ada utang yang hanya bisa dibayar dengan jiwa.

Dan penyesalan—ia tidak pernah mengenal kata lunas.

Selasa, 24 Februari 2026

Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan

 

Ilustrasi foto Cinta yang Tak Pernah Kita Ucapkan


Aku mencintaimu tanpa suara.
Tanpa keberanian.
Tanpa pengakuan.

Dan barangkali, di sanalah dosa kami bermula—bukan karena melanggar, tetapi karena terlalu menjaga hingga kehilangan segalanya.

Kamu selalu duduk di barisan depan mushala kecil itu. Mukenamu putih, kadang abu-abu pucat, dengan lipatan rapi seperti hatimu yang tak pernah kusentuh. Aku memilih saf belakang, menjaga jarak yang katanya bernama iman, tapi diam-diam jarak itu tumbuh menjadi luka.

Setiap magrib, aku datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap. Berharap melihat punggungmu yang tenang saat berdoa, berharap semesta memberiku satu detik saja untuk mengagumimu tanpa rasa bersalah.

“Aku lihat kamu sering datang lebih awal,” katamu suatu hari, seusai pengajian.

Aku terkejut.
Ternyata kamu melihatku juga.

“Iya,” jawabku singkat.
Padahal hatiku ingin berteriak.

Di antara kita, tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Tapi ada sesuatu yang lebih berbahaya dari itu: rasa yang tumbuh tanpa izin.


Aku mencintaimu dalam diam,

seperti doa yang tak pernah diucap keras,

tak terdengar malaikat,

tapi dicatat langit dengan gemetar.

Sejak percakapan itu, segalanya berubah. Kamu sering menungguku setelah pengajian. Kita berjalan berdampingan, menjaga jarak satu lengan—cukup dekat untuk merasa, cukup jauh untuk menahan diri.

“Apa kamu pernah merasa,” katamu suatu malam, “bahwa mencintai juga bisa jadi ujian?”

Aku berhenti melangkah.
Menatapmu.
Lalu menunduk.

“Iya,” jawabku. “Dan aku sedang menghadapinya.”

Kamu tersenyum. Senyum yang tidak bahagia, tapi pasrah.

Aku tahu.
Kamu tahu.
Kita saling tahu, tapi memilih diam.

Setiap malam aku berdoa agar rasa ini dicabut. Tapi setiap pagi, rasa itu justru tumbuh lebih dalam. Seperti akar yang menemukan air di tanah paling sunyi.

Kamu tidak pernah bercerita banyak tentang hidupmu. Tapi aku tahu satu hal: keluargamu telah menjodohkanmu. Nama itu sering disebut ibumu saat menjemputmu—nama lelaki yang bukan aku.

“Dia baik,” katamu suatu hari. “Mapan. Keluargaku senang.”

“Lalu kamu?” tanyaku pelan.

Kamu terdiam lama.

“Aku belajar ikhlas,” jawabmu akhirnya.

Kata itu menusukku lebih tajam dari penolakan.


Ikhlas bukan berarti tidak sakit,

ia hanya mengajarkan cara tersenyum sambil berdarah,

cara mencintai tanpa memiliki,

cara pergi tanpa benar-benar pergi.


Sejak hari itu, aku mulai menjauh. Aku datang lebih lambat. Pulang lebih cepat. Menjaga diri agar tidak jatuh lebih dalam. Tapi kamu justru mencariku.

“Kamu kenapa berubah?” tanyamu.

“Aku takut,” jawabku jujur.

“Takut apa?”

“Takut mencintaimu lebih dari yang seharusnya.”

Kamu menatapku lama. Matamu berkaca, tapi tidak menangis.

“Bukankah lebih menyakitkan,” katamu lirih, “jika cinta itu suci tapi tak pernah diperjuangkan?”

Kalimat itu menghantuiku berminggu-minggu. Aku ingin memperjuangkanmu. Aku ingin datang ke rumahmu, bicara pada keluargamu, menggenggam tanganmu di hadapan dunia. Tapi aku juga tahu: aku belum siap. Aku belum cukup. Dan cinta tanpa kesiapan hanyalah ego yang dibungkus doa.

Malam terakhir kita bertemu, hujan turun deras. Mushala sepi. Lampu redup. Kamu duduk sendirian, menangis tanpa suara.

“Aku akan menikah,” katamu.

Aku merasa dunia runtuh, tapi aku tetap duduk di hadapanmu.

“Kapan?” tanyaku.

“Minggu depan.”

Jarak satu lengan itu terasa seperti jurang.

“Aku minta satu hal,” katamu. “Jangan datang ke pernikahanku.”

Aku mengangguk.
Itu permintaan yang kejam, tapi jujur.

Jika aku harus mencintaimu dari jauh,
biarlah jarak ini menjadi sajadah,
tempat aku sujud paling lama,
dan menangis tanpa suara.

Seminggu kemudian, aku tidak datang ke pernikahanmu. Tapi aku datang ke mushala itu. Sendirian. Duduk di saf belakang. Tempat biasa aku mengagumimu.

Hujan turun lagi.

Dan saat itulah kabar itu datang.

Kecelakaan.
Mobil pengantin.
Kamu tidak selamat.

Aku tidak ingat bagaimana aku berdiri. Bagaimana aku berlari. Bagaimana aku menangis. Yang aku ingat hanya satu: aku tidak pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu.

Di pemakamanmu, aku berdiri paling belakang. Tidak ada yang tahu siapa aku bagimu. Tidak ada yang tahu bahwa di antara nisan dan tanah basah itu, terkubur cinta yang paling suci sekaligus paling pengecut.

Aku berdoa.
Untuk pertama kalinya, aku berdoa dengan suara.

“Aku mencintainya,” kataku pada Tuhan. “Dan aku terlambat.”


Cinta yang tak pernah diucap,

akan tinggal selamanya di dada,

menjadi doa yang tak selesai,

menjadi luka yang tak berdarah.

Kini, setiap magrib, aku masih datang ke mushala itu. Duduk di saf belakang. Menatap barisan depan yang kosong. Mukena abu-abu itu tidak pernah kembali.

Dan aku belajar satu hal yang paling pahit:

Tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki.
Sebagian hanya dititipkan—untuk diuji, lalu diambil kembali.

Aku mencintaimu.
Dalam diam.
Dan akan selalu begitu.

Rabu, 18 Februari 2026

Gadis Bermukena Abu-Abu

Gadis Bermukena Abu-Abu
Ilustrasi fotoGadis Bermukena Abu-Abu


Aku pertama kali melihatmu pada malam pertama Ramadan—malam ketika langit seolah lebih dekat dengan doa, dan masjid kecil di ujung gang itu dipenuhi aroma sajadah lama serta harap yang baru dilahirkan. Kau berdiri di saf perempuan, bermukena abu-abu, warna yang tak mencolok namun entah mengapa justru menetap paling lama di mataku.

Mukena itu sederhana. Tak ada bordir berlebihan, tak ada renda berkilau. Tapi saat kau mengangkat tangan untuk takbir, aku merasa ada sesuatu yang runtuh perlahan di dadaku—seperti tembok panjang yang selama ini kubangun untuk menahan perasaan. Kau menunduk, khusyuk, seakan dunia di sekitarmu berhenti bernapas.

Aku berdiri di saf laki-laki, pura-pura khidmat, padahal mataku berkali-kali ingin mencuri arahmu. Aku menegur diriku sendiri dalam hati: ini Ramadan, ini rumah Tuhan. Tapi perasaan tidak pernah mengenal kalender ibadah. Ia datang tanpa izin, bahkan di saat sujud paling dalam.

Seusai tarawih, halaman masjid menjadi lebih ramai. Anak-anak berlari, para ibu bercengkerama, dan aku—aku berdiri kikuk, menunggumu tanpa tahu apa yang kutunggu. Kau keluar dengan mukena masih terlipat rapi di tangan, wajahmu diterangi lampu kuning masjid yang redup.

Aku memberanikan diri mendekat.

“Ramadan pertamamu di sini?” tanyaku, suaraku hampir tenggelam oleh gemuruh langkah jamaah.

Kau menoleh. Senyummu tipis, tapi cukup membuat malam itu terasa lebih hangat.

“Iya,” jawabmu. “Aku baru pindah. Masjidnya tenang.”

Aku mengangguk, padahal hatiku tidak tenang sama sekali.

Di antara kami, hening menyelip—hening yang bukan canggung, melainkan seperti doa yang belum selesai diucapkan.

Lalu aku berkata, terlalu jujur untuk ukuran pertemuan pertama,
“Entah kenapa, mukenamu terlihat seperti senja yang belum ingin pulang.”

Kau tertawa kecil, menunduk.
“Berlebihan,” katamu.
“Tapi indah,” balasku.

Malam-malam berikutnya, aku selalu datang lebih awal. Bukan karena ingin mengejar pahala semata, melainkan ingin memastikan kau ada. Dan kau selalu datang—dengan mukena abu-abu yang sama, dengan langkah pelan, dengan kesunyian yang terasa ramah.

Kami mulai berbincang di sela waktu. Tentang puasa yang melelahkan, tentang rindu pada rumah lama, tentang doa-doa kecil yang tak pernah berani diucapkan keras-keras.

Suatu malam, kau berkata, “Aku takut jatuh cinta di bulan suci.”

Aku terdiam.
“Kenapa?”
“Karena cinta sering membuat manusia lupa diri.”

Aku menatap langit, lalu menjawab pelan,
“Bukankah cinta yang benar justru mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati?”

Kau tak menjawab. Tapi malam itu, langkahmu terasa lebih cepat saat pulang.

Sejak saat itu, ketegangan tumbuh di antara kami—seperti benang tipis yang ditarik dari dua arah. Aku mengagumimu dalam diam. Kau menjaga jarak dengan sopan. Dan Ramadan terus berjalan, membawa hari-hari yang terasa terlalu singkat.

Di suatu sahur yang sunyi, aku menuliskan puisi untukmu, tanpa pernah berani memberikannya:

Jika aku menyebut namamu di sepertiga malam,
itu bukan karena aku ingin memiliki,
melainkan karena aku takut kehilangan
sesuatu yang belum sempat kumiliki.

Ketegangan memuncak pada malam ke sepuluh. Hujan turun deras. Jamaah berkurang. Kau tetap datang. Mukena abu-abumu sedikit basah di ujungnya.

“Kau tak takut hujan?” tanyaku.

“Aku lebih takut pada perasaan yang tak selesai,” jawabmu, menatapku untuk pertama kalinya tanpa senyum.

Dadaku berdebar.

“Kita harus berhenti,” lanjutmu. “Aku datang ke Ramadan untuk memperbaiki diri, bukan untuk jatuh.”

Aku mengangguk, meski ada luka kecil yang tumbuh di dadaku.
“Aku mengerti.”

Tapi mengerti tidak selalu berarti kuat.

Malam-malam setelah itu, kau tetap hadir—namun tak lagi menungguku. Aku tetap datang—namun tak lagi mendekat. Kami beribadah dalam garis yang sama, tapi jarak batin kami melebar seperti luka yang dibiarkan terbuka.

Di malam dua puluh satu, masjid penuh lagi. Doa qunut dibacakan dengan suara bergetar. Dan entah kenapa, air mataku jatuh. Bukan karena takut neraka, tapi karena takut kehilanganmu dalam cara yang tak bisa kucegah.

Setelah salat, kau menghampiriku.

“Aku akan pulang besok,” katamu.

“Ke mana?”
“Ke rumah orang tuaku. Aku tak akan kembali sebelum Ramadan selesai.”

Aku menelan ludah.
“Terima kasih,” kataku bodoh.

“Kau tidak marah?”
“Aku mengagumimu,” jawabku jujur. “Dan kekaguman yang tulus tahu kapan harus berhenti.”

Kau tersenyum, kali ini dengan mata berkaca-kaca.

Sebelum pergi, kau berkata pelan,
“Jika suatu hari kita dipertemukan lagi, semoga bukan sebagai godaan, tapi sebagai jawaban.”

Malam itu, aku menuliskan satu puisi terakhir:

Cinta yang paling berani
bukan yang menggenggam,
melainkan yang melepaskan
demi menjaga kesucian perasaan.

Ramadan berakhir. Masjid kembali lengang. Mukena abu-abu itu tak pernah lagi kulihat. Tapi setiap awal Ramadan, setiap malam pertama tarawih, aku selalu menoleh ke saf perempuan—bukan untuk mencari wajahmu, melainkan untuk mengingat bahwa aku pernah mengagumi seseorang dengan cara paling sunyi.

Dan hingga kini, aku masih percaya:
cinta yang lahir di awal Ramadan,
jika dijaga dengan iman,
tak akan pernah benar-benar pergi—
ia hanya berubah menjadi doa yang paling diam.

Senin, 16 Februari 2026

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan


Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat. Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada.

Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu.

Lara jatuh cinta pada Arga.

Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu.

Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda.

“Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya.
“Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis.

“Aku takut melukai orang yang baik.”

Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum sempat meminta maaf.

Di antara kami, sunyi menjadi bahasa paling jujur.

Aku menulis puisi malam itu, puisi yang tak pernah kubacakan:

Aku mencintaimu dalam diam,

seperti doa yang lupa kusebutkan namanya.

Jika cinta adalah luka,

biarlah aku yang berdarah lebih dulu.

Hari-hari berlalu, dan Lara semakin sering menyebut nama Arga dalam ceritanya. Tertawa yang dulu hanya untukku, kini terbagi. Aku belajar tersenyum tanpa suara.

Suatu malam, hujan turun tanpa aba-aba. Kami berteduh di bawah kanopi halte tua.

“Aku harus jujur,” kata Lara akhirnya. Suaranya bergetar.
“Apa pun itu, aku sudah siap,” jawabku, meski sebenarnya aku tidak.

“Aku mencintai Arga… tapi aku juga tak ingin kehilanganmu.”

Aku tertawa kecil—tawa yang pecah di tenggorokan.

“Cinta bukan soal tidak kehilangan,” kataku. “Cinta adalah siap kehilangan.”

Aku melangkah pergi sebelum air mataku jatuh lebih dulu.

Malam itu, Arga mencariku.

“Kita tak bermaksud menyakitimu,” katanya lirih.
“Aku tahu,” jawabku. “Justru itu yang paling menyakitkan.”

Ia menunduk.
“Aku mencintainya.”

Aku mengangguk.


Cinta tidak selalu tentang siapa yang lebih dulu datang,

tapi siapa yang lebih dulu menyerah.

Dan malam ini,

akulah yang memilih kalah.

Aku berpikir semuanya akan berakhir di sana—dengan aku yang menjauh, mereka yang bersama. Tapi takdir selalu menyimpan cara paling kejam untuk mengakhiri cerita.

Beberapa minggu kemudian, Lara meneleponku di tengah malam. Suaranya panik, terputus-putus.

“Arga… dia pergi.”

Aku berlari ke rumah sakit dengan dada yang sesak. Bau antiseptik, suara langkah cepat, dan tangisan yang tidak punya arah.

Arga mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya tergelincir di tikungan basah. Dokter berkata terlambat.

Lara duduk di lantai lorong, memeluk lututnya.

“Dia belum sempat tahu,” bisiknya saat aku mendekat.
“Tahu apa?”
“Bahwa aku memilihnya… sepenuhnya.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Kata-kata kehilangan maknanya di hadapan kematian.

Aku hanya duduk di sampingnya.


Ada cinta yang mati tanpa sempat hidup,

ada rindu yang tumbuh tanpa pernah disambut.

Jika Tuhan mengambilnya lebih dulu,

mungkin Dia tahu kami tak akan kuat.


Hari pemakaman tiba. Hujan turun pelan, seperti ikut berkabung. Lara berdiri kaku, wajahnya pucat, matanya kosong.

Setelah semua orang pergi, ia menatap batu nisan itu lama sekali.

“Kenapa bukan aku?” katanya pelan.

Aku menahan napas.
“Karena mungkin kamu masih dibutuhkan,” jawabku.

Ia menoleh padaku, matanya basah.

“Aku tidak tahu bagaimana hidup setelah ini.”

Aku ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa aku masih di sini. Tapi cinta yang tumbuh dari kematian selalu menyisakan rasa bersalah.

“Aku juga tidak tahu,” kataku jujur. “Tapi kita bisa belajar… perlahan.”

Ia menggeleng.

“Aku mencintaimu,” katanya tiba-tiba. “Tapi tidak seperti yang seharusnya.”

Aku tersenyum—senyum paling lelah yang pernah kupunya.

“Aku tahu.”

Cinta tidak selalu ingin dimiliki,
kadang ia hanya ingin dimengerti.
Dan malam ini,
aku memilih mencintaimu tanpa berharap kau kembali.

Beberapa bulan kemudian, Lara pindah kota. Ia meninggalkan pesan singkat:

Terima kasih telah mencintaiku tanpa memaksaku memilih.

Aku menyimpan pesan itu seperti luka yang tidak ingin sembuh.

Karena cinta segitiga kami tidak benar-benar berakhir. Ia hanya kehilangan satu sudutnya—dan meninggalkan dua hati yang belajar hidup dengan kehilangan.

Dan aku tahu, ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk bahagia, hanya untuk dikenang.

Jika suatu hari kau bahagia dengan orang lain,
jangan ingat aku sebagai luka.
Ingat aku sebagai seseorang
yang pernah mencintaimu tanpa syarat.


Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut

 

Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut
Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut


Aku berdiri.
Semua orang berdiri.

Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan.

“Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…”

Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini.

Ia di depanku.

Naila.

Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun.

Dan di sampingnya…
Faris.

Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal luar dalam. Orang yang—tanpa ia tahu—berdiri di antara aku dan perasaanku sendiri.

Shalawat semakin menguat. Semua berdiri, semua larut. Tapi dadaku justru semakin sempit.

Aku mencintai Naila.
Diam-diam. Bertahun-tahun. Dengan cara paling pengecut: menunggu Allah saja.

Dan Faris… ia datang dengan niat yang lebih terang, lebih berani, lebih siap.

“Antum kenapa pucat?” bisik Faris beberapa hari lalu, seusai latihan hadrah.

Aku tersenyum tipis. “Kurang tidur.”

Ia tertawa kecil. “Antum harus jaga badan. Apalagi… sebentar lagi aku mau serius.”

“Serius apa?” tanyaku, meski jantungku sudah tahu jawabannya.

Faris menatap lantai masjid, lalu berkata pelan,
“Aku ingin khitbah Naila.”

Kalimat itu seperti rebana yang dipukul terlalu keras di kepalaku.

“MasyaAllah,” jawabku. Itu saja. Tak lebih. Tak kurang.

Sejak hari itu, setiap mahallul qiyam terasa seperti ujian. Setiap kali berdiri, aku bukan hanya berdiri untuk Rasulullah—aku juga berdiri di antara dua pilihan: jujur atau mengalah.

Shalawat selesai. Jamaah duduk kembali. Aku masih terpaku berdiri beberapa detik lebih lama, berusaha menguasai napas.

“Mas,” suara lembut memanggil.

Aku menoleh. Naila berdiri tak jauh dariku, tangannya menggenggam kitab maulid.

“Iya?”

“Boleh bicara sebentar?”

Kami berjalan ke serambi masjid. Lampu temaram. Malam dingin. Angin membawa sisa-sisa shalawat ke telinga kami.

“Ada apa?” tanyaku.

Naila terdiam cukup lama. Lalu berkata,
“Mas pernah merasa… mencintai seseorang tapi takut niatnya tidak lurus?”

Aku terkejut. “Kenapa tanya begitu?”

Ia tersenyum kecil, tapi matanya berkaca.
“Karena setiap mahallul qiyam, aku selalu berdoa agar Allah membersihkan hatiku. Tapi kenapa nama itu masih ada?”

Aku tahu ia tidak menyebut nama. Tapi aku tahu rasa itu.

“Cinta tidak selalu najis,” kataku pelan. “Yang membuatnya berat adalah ketika kita menyimpannya sendirian.”

Naila menatapku. Lama. Dalam. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ditahan oleh adab.

“Faris… sudah bicara padaku,” katanya akhirnya.

Dadaku mengeras. “Lalu?”

“Aku minta waktu.”

Aku mengangguk. “Antum berhak.”

Ia menarik napas panjang. “Mas,” suaranya bergetar, “kalau ada seseorang yang lebih dulu mencintai, tapi memilih diam karena takut melukai siapa pun… apakah Allah melihatnya?”

Pertanyaan itu membuat lututku lemas.

“Allah melihat segalanya,” jawabku lirih. “Bahkan yang kita kubur paling dalam.”

Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh. Aku tahu, diamku justru membuat segalanya semakin rumit.

Beberapa hari kemudian, di acara maulid besar, mahallul qiyam kembali dilantunkan. Kali ini lebih panjang, lebih khusyuk. Jamaah penuh. Rebananya lebih keras. Suaranya menggema hingga ke dadaku.

Aku berdiri. Naila berdiri. Faris berdiri.

Dan di saat semua orang larut dalam shalawat, aku justru merasa paling jauh dari ketenangan.

Tanganku gemetar.

Di antara bait shalawat, aku berbisik dalam hati,
Ya Rasulullah, aku mencintainya. Tapi aku takut mencintai dengan cara yang salah.

Selesai acara, Faris menghampiriku.

“Antum kenapa murung terus?” tanyanya.

Aku menatap sahabatku itu. Untuk pertama kalinya, aku tak ingin lagi bersembunyi.

“Faris,” kataku, “aku juga mencintai Naila.”

Ia terdiam. Lama. Wajahnya berubah, tapi tidak marah.

“Sejak kapan?” tanyanya pelan.

“Sejak lama,” jawabku jujur. “Tapi aku memilih diam.”

Faris menghela napas. “Kenapa baru bilang sekarang?”

“Karena aku takut kehilangan sahabat.”

Ia tersenyum pahit. “Dan aku takut kehilangan kejujuran.”

Kami duduk di tangga masjid, sunyi di antara kami.

“Aku tidak akan memaksakan apa pun,” kata Faris akhirnya. “Biarkan Naila memilih dengan tenang.”

Aku mengangguk. “Aku pun begitu.”

Beberapa malam kemudian, Naila mengundang kami berdua bicara.

“Aku sudah istikharah,” katanya dengan suara mantap. “Dan aku belajar satu hal: cinta yang baik tidak membuat kita saling melukai.”

Ia menatap Faris. “Antum orang baik. Sangat.”

Lalu menatapku. “Mas… antum memilih diam, tapi doa antum paling keras.”

Aku menahan napas.

“Aku memilih orang yang mencintaiku tanpa harus merebut,” lanjutnya. “Orang yang menunggu di mahallul qiyam, bukan di persaingan.”

Air mataku jatuh.

Malam itu, aku kembali berdiri di mahallul qiyam. Kali ini tanpa gemetar.

Aku berdiri bukan hanya untuk shalawat,
tapi untuk syukur—
karena cinta yang dijaga dengan iman
tidak pernah benar-benar sia-sia.


Jumat, 13 Februari 2026

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk

 

Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk
Cerita Pendek:Janji yang Bocor di Balik Spanduk
by_AI


Aku mengenalnya pertama kali bukan sebagai lelaki, melainkan sebagai janji.

Wajahnya terpampang di baliho-baliho jalanan, senyumnya lebar, matanya seolah menatap masa depan. Di bawah dagunya tertulis kalimat yang terlalu sering kami baca hingga kehilangan makna: “Bersama Rakyat, Kita Bangkit.”

Aku tertawa waktu itu.

Karena rumahku bocor. Karena ibuku mengantre beras murah setiap bulan. Karena ayahku mati menunggu bantuan yang tak pernah sampai.

Namun takdir selalu punya selera humor yang kejam. Aku justru bertemu dengannya—lelaki di baliho itu—bukan di gedung megah atau ruang rapat, melainkan di gang sempit tempat air got mengalir malas.

“Kamu yang melapor soal saluran mampet?” tanyanya, menyodorkan tangan.

Aku menatap telapak tangannya. Bersih. Terlalu bersih untuk gang ini.

“Iya. Tapi sudah tiga tahun lapor, baru sekarang datang,” jawabku.

Ia tersenyum kaku.

“Perubahan memang perlu waktu.”

Aku hampir tertawa lagi, tapi matanya—entah kenapa—tidak sepenuhnya bohong.


Ia sering datang setelah itu. Katanya ingin mendengar langsung keluhan warga. Tapi lama-lama, kunjungannya terasa terlalu personal. Ia duduk di bangku dapur rumahku, minum kopi hitam buatanku, mendengarkan ceritaku tentang hidup yang tak pernah benar-benar dibereskan oleh kebijakan apa pun.

“Kenapa kamu mau terjun ke politik?” tanyaku suatu malam.

Ia diam lama.

“Aku pikir aku bisa memperbaiki sistem dari dalam.”

Aku tersenyum pahit.
“Dan sistem itu membiarkanmu?”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak. Sistem memelukku. Lalu menelanku.”

Malam itu hujan. Ia tidak pulang.

Kami duduk berhadapan, jarak di antara kami hanya secangkir kopi dingin dan kesunyian yang terlalu jujur.

“Kamu tahu?” kataku lirih.
“Dulu aku menulis puisi tentang pemimpin.”

Ia menoleh. “Boleh dengar?”

Aku menarik napas, lalu membaca:


Kami memilihmu dari lubang-lubang harapan,

kau datang membawa cahaya dan janji.

Tapi ketika mata kami terbiasa gelap,

kau justru belajar memejamkan mata.


Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Itu kejam,” katanya.

“Itu jujur.”


Hubungan kami tumbuh seperti jamur di dinding lembap—diam-diam, cepat, dan salah. Ia punya istri. Aku punya kesadaran. Tapi di antara kami ada kelelahan yang saling memahami.

Kami bertemu di ruang-ruang sunyi: mobil dinas yang parkir terlalu lama, rumah singgah yang seharusnya jadi posko warga, hotel kecil di pinggir kota.

Di ranjang, ia bukan pejabat. Ia hanya lelaki yang kalah oleh janji-janjinya sendiri.

“Aku ingin berhenti,” katanya suatu kali, setelah semuanya terjadi.

“Dari aku atau dari politik?” tanyaku.

Ia tertawa hambar.

“Dari kebohongan.”

Aku membacakan puisi lagi, suaraku bergetar:


Cinta kita seperti anggaran bocor,

tertulis indah, jatuhnya ke kantong gelap.

Kita saling tahu ini salah,

tapi tetap menandatangani diam-diam.

Ia memelukku erat, seolah puisi itu bisa menghukumnya lebih keras dari pengadilan mana pun.

Di luar kamar, dunia tetap kacau.

Bantuan sosial disunat. Proyek fiktif tumbuh seperti ilalang. Rapat-rapat hanya menghasilkan foto dan unggahan media sosial. Rakyat tetap antre, tetap menunggu, tetap percaya—atau pura-pura percaya.

“Aku sudah tanda tangan semua proposal,” katanya suatu malam.

“Tapi isinya?”

Ia menghela napas.
“Aku tak sempat baca semuanya.”

“Karena sibuk apa?” tanyaku pelan.

Ia menatapku. Lama. Terlalu lama.

Aku tahu jawabannya.
Sibuk menjaga kekuasaan. Sibuk menyelamatkan karier. Sibuk mencintai diam-diam perempuan yang seharusnya hanya jadi angka dalam laporan warga.

“Kamu bagian dari masalah,” kataku akhirnya.

Ia mengangguk.
“Aku tahu.”

Itu yang paling menyakitkan. Ia tahu. Tapi tetap tinggal.

Skandal akhirnya pecah bukan karena aku, melainkan karena angka. Anggaran yang tak cocok. Tanda tangan yang terlalu sering muncul. Nama yang terlalu sering disebut.

Ia meneleponku tengah malam.

“Aku akan dijadikan kambing hitam,” katanya.

“Bukankah kamu memang ikut makan?” tanyaku.

Ia terdiam.

Aku berdiri di jendela, melihat spanduk wajahnya yang mulai pudar diguyur hujan.

“Kamu mau aku bersaksi?” tanyaku.

Ia panik.
“Tidak. Jangan. Aku masih—”

“Kamu masih apa?” potongku.
“Masih ingin selamat sendirian?”

Aku menutup telepon tanpa menunggu jawabannya.


Sidang berjalan. Media ribut. Rakyat bersorak setengah hati. Ia muncul di televisi, wajahnya lelah, senyumnya hilang. Ia bicara soal pengkhianatan, soal sistem, soal niat baik yang disalahgunakan.

Tak ada satu pun kata tentang warga yang dicintainya secara sembunyi-sembunyi. Tentang aku.

Aku menulis puisi terakhir, kubacakan sendiri di kamar sunyi:


Kami bukan korban semata,

kami juga saksi yang kau bungkam.

Jika cinta saja kau sembunyikan,

bagaimana kami percaya kau jujur pada negara?


Aku pindah kota. Ia dipenjara—katanya sementara. Spanduk-spanduk diturunkan. Diganti wajah baru. Janji baru.

Semuanya terasa seperti siklus yang malas.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku mencintainya, atau hanya ingin melihat wajah kekuasaan dari jarak sedekat ini?

Jawabannya mungkin keduanya.

Yang pasti, aku belajar satu hal:
kegagalan politik bukan hanya soal kebijakan, tapi tentang manusia yang tahu ia salah—namun tetap memilih nyaman.

Dan cinta?
Cinta hanyalah cermin paling jujur dari kebusukan yang tak pernah berani diakui di podium.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...