Gadis Bermukena Abu-Abu

Gadis Bermukena Abu-Abu
Ilustrasi fotoGadis Bermukena Abu-Abu


Aku pertama kali melihatmu pada malam pertama Ramadan—malam ketika langit seolah lebih dekat dengan doa, dan masjid kecil di ujung gang itu dipenuhi aroma sajadah lama serta harap yang baru dilahirkan. Kau berdiri di saf perempuan, bermukena abu-abu, warna yang tak mencolok namun entah mengapa justru menetap paling lama di mataku.

Mukena itu sederhana. Tak ada bordir berlebihan, tak ada renda berkilau. Tapi saat kau mengangkat tangan untuk takbir, aku merasa ada sesuatu yang runtuh perlahan di dadaku—seperti tembok panjang yang selama ini kubangun untuk menahan perasaan. Kau menunduk, khusyuk, seakan dunia di sekitarmu berhenti bernapas.

Aku berdiri di saf laki-laki, pura-pura khidmat, padahal mataku berkali-kali ingin mencuri arahmu. Aku menegur diriku sendiri dalam hati: ini Ramadan, ini rumah Tuhan. Tapi perasaan tidak pernah mengenal kalender ibadah. Ia datang tanpa izin, bahkan di saat sujud paling dalam.

Seusai tarawih, halaman masjid menjadi lebih ramai. Anak-anak berlari, para ibu bercengkerama, dan aku—aku berdiri kikuk, menunggumu tanpa tahu apa yang kutunggu. Kau keluar dengan mukena masih terlipat rapi di tangan, wajahmu diterangi lampu kuning masjid yang redup.

Aku memberanikan diri mendekat.

“Ramadan pertamamu di sini?” tanyaku, suaraku hampir tenggelam oleh gemuruh langkah jamaah.

Kau menoleh. Senyummu tipis, tapi cukup membuat malam itu terasa lebih hangat.

“Iya,” jawabmu. “Aku baru pindah. Masjidnya tenang.”

Aku mengangguk, padahal hatiku tidak tenang sama sekali.

Di antara kami, hening menyelip—hening yang bukan canggung, melainkan seperti doa yang belum selesai diucapkan.

Lalu aku berkata, terlalu jujur untuk ukuran pertemuan pertama,
“Entah kenapa, mukenamu terlihat seperti senja yang belum ingin pulang.”

Kau tertawa kecil, menunduk.
“Berlebihan,” katamu.
“Tapi indah,” balasku.

Malam-malam berikutnya, aku selalu datang lebih awal. Bukan karena ingin mengejar pahala semata, melainkan ingin memastikan kau ada. Dan kau selalu datang—dengan mukena abu-abu yang sama, dengan langkah pelan, dengan kesunyian yang terasa ramah.

Kami mulai berbincang di sela waktu. Tentang puasa yang melelahkan, tentang rindu pada rumah lama, tentang doa-doa kecil yang tak pernah berani diucapkan keras-keras.

Suatu malam, kau berkata, “Aku takut jatuh cinta di bulan suci.”

Aku terdiam.
“Kenapa?”
“Karena cinta sering membuat manusia lupa diri.”

Aku menatap langit, lalu menjawab pelan,
“Bukankah cinta yang benar justru mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati?”

Kau tak menjawab. Tapi malam itu, langkahmu terasa lebih cepat saat pulang.

Sejak saat itu, ketegangan tumbuh di antara kami—seperti benang tipis yang ditarik dari dua arah. Aku mengagumimu dalam diam. Kau menjaga jarak dengan sopan. Dan Ramadan terus berjalan, membawa hari-hari yang terasa terlalu singkat.

Di suatu sahur yang sunyi, aku menuliskan puisi untukmu, tanpa pernah berani memberikannya:

Jika aku menyebut namamu di sepertiga malam,
itu bukan karena aku ingin memiliki,
melainkan karena aku takut kehilangan
sesuatu yang belum sempat kumiliki.

Ketegangan memuncak pada malam ke sepuluh. Hujan turun deras. Jamaah berkurang. Kau tetap datang. Mukena abu-abumu sedikit basah di ujungnya.

“Kau tak takut hujan?” tanyaku.

“Aku lebih takut pada perasaan yang tak selesai,” jawabmu, menatapku untuk pertama kalinya tanpa senyum.

Dadaku berdebar.

“Kita harus berhenti,” lanjutmu. “Aku datang ke Ramadan untuk memperbaiki diri, bukan untuk jatuh.”

Aku mengangguk, meski ada luka kecil yang tumbuh di dadaku.
“Aku mengerti.”

Tapi mengerti tidak selalu berarti kuat.

Malam-malam setelah itu, kau tetap hadir—namun tak lagi menungguku. Aku tetap datang—namun tak lagi mendekat. Kami beribadah dalam garis yang sama, tapi jarak batin kami melebar seperti luka yang dibiarkan terbuka.

Di malam dua puluh satu, masjid penuh lagi. Doa qunut dibacakan dengan suara bergetar. Dan entah kenapa, air mataku jatuh. Bukan karena takut neraka, tapi karena takut kehilanganmu dalam cara yang tak bisa kucegah.

Setelah salat, kau menghampiriku.

“Aku akan pulang besok,” katamu.

“Ke mana?”
“Ke rumah orang tuaku. Aku tak akan kembali sebelum Ramadan selesai.”

Aku menelan ludah.
“Terima kasih,” kataku bodoh.

“Kau tidak marah?”
“Aku mengagumimu,” jawabku jujur. “Dan kekaguman yang tulus tahu kapan harus berhenti.”

Kau tersenyum, kali ini dengan mata berkaca-kaca.

Sebelum pergi, kau berkata pelan,
“Jika suatu hari kita dipertemukan lagi, semoga bukan sebagai godaan, tapi sebagai jawaban.”

Malam itu, aku menuliskan satu puisi terakhir:

Cinta yang paling berani
bukan yang menggenggam,
melainkan yang melepaskan
demi menjaga kesucian perasaan.

Ramadan berakhir. Masjid kembali lengang. Mukena abu-abu itu tak pernah lagi kulihat. Tapi setiap awal Ramadan, setiap malam pertama tarawih, aku selalu menoleh ke saf perempuan—bukan untuk mencari wajahmu, melainkan untuk mengingat bahwa aku pernah mengagumi seseorang dengan cara paling sunyi.

Dan hingga kini, aku masih percaya:
cinta yang lahir di awal Ramadan,
jika dijaga dengan iman,
tak akan pernah benar-benar pergi—
ia hanya berubah menjadi doa yang paling diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Cerita Pendek:Lonceng Akhir