Postingan

Menampilkan postingan dengan label ceritadongeng

Bayangan yang Tak Ikut Pergi

Gambar
  Bayangan yang Tak Ikut Pergi https://www.instagram.com/p/B6-cpS9gVC3/ Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi: menundukkan kepala dalam doa, menyebut namamu tanpa suara, dan menahan rindu agar tak berubah menjadi dosa. Namun cinta yang kuanggap suci itu tak pernah benar-benar sendiri. Ia selalu dibayangi wajah yang tak lagi ingin kuingat—mantanku, masa lalu yang belum mau mati. Kamu datang dalam hidupku saat aku sedang belajar menyembuhkan diri. Kau bukan cinta yang berisik. Kau hadir seperti cahaya subuh—pelan, jujur, dan tidak memaksa. Kau tidak menanyakan masa laluku secara rinci, seolah kau tahu ada luka yang belum siap dibuka. Namun justru karena itulah ketegangan itu tumbuh. Semakin kau diam, semakin masa laluku berteriak. Malam itu hujan turun tanpa jeda. Aku dan kamu duduk berhadapan di ruang tamu yang sempit, hanya ditemani lampu kuning dan suara air yang menghantam atap. “Aku ingin jujur,” katamu akhirnya. Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak lebih cepat dari bia...

Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain

Gambar
  Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain https://www.shutterstock.com/id/search/couple-in-love-dark-background Hujan turun tanpa aba-aba, seperti perasaan yang selama ini kutahan diam-diam. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, dan jalanan di depanku memantulkan cahaya lampu seperti kenangan yang tak mau padam. Aku berdiri di bawah kanopi halte tua, memeluk tas kecil berisi payung yang sengaja tak kubuka. Aku ingin basah. Aku ingin hujan ikut merasakan apa yang sedang kupikul. Kau berjanji datang sebelum magrib. Kau bilang hanya sebentar, hanya ingin memastikan aku baik-baik saja. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dari sanalah aku kembali berharap—hal paling berbahaya yang bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah kau tinggalkan. Aku menunggumu. Setiap tetes hujan yang jatuh adalah detik yang berjalan lambat. Aku menghafal pola air yang mengalir di aspal, seolah dengan begitu aku bisa mengalihkan pikiranku dari wajahmu. Tapi sia-sia. Kau selal...

Namamu Terucap Saat Darahku Mengering

Gambar
Ilustrasi foto Namamu Terucap Saat Darahku Mengering  https://www.liputan6.com/health/read/798847/cara-hadirkan-suasana-romantis-saat-hujan#google_vignette Aku selalu percaya cinta adalah doa yang diam-diam didengar Tuhan. Namun malam itu, cinta menjelma menjadi pengakuan paling kejam—dibacakan bukan oleh bibir, melainkan oleh darah. Kau datang ke hidupku seperti senja yang tak pernah kuundang, tapi selalu kutunggu. Matamu menatapku dengan cara yang membuatku lupa cara pulang. Aku mencintaimu tanpa rencana, tanpa syarat, tanpa janji. Dan mungkin, itulah awal dari kehancuran kami. “Aku mencintaimu,” katamu suatu sore, di bangku kayu taman kota yang catnya mengelupas. Aku diam. Bukan karena tak merasa apa-apa, tapi karena perasaan itu terlalu besar untuk dikeluarkan sembarangan. “Jangan katakan itu,” jawabku akhirnya. “Kau sudah bertunangan.” Kau tersenyum getir. “Cinta tidak pernah peduli pada status.” Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia —perempuan yang namanya selalu kau sebut...

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Gambar
  Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama. Namamu. Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai. Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di...

Pesona Gadis Desa yang Mencari Laki-Laki Setia

Gambar
Ilustrasi foto Pesona Gadis Desa yang Mencari Laki-Laki Setia https://pixabay.com/id/photos/putih-hitam-wanita-gadis-rakyat-3800874/ Aku adalah perempuan desa yang tumbuh bersama doa-doa subuh dan tanah basah. Di tempat ini, orang mudah mengenal namamu, tapi lebih mudah lagi menghakimimu. Aku belajar satu hal sejak kecil: cinta yang paling berbahaya bukan yang tidak dibalas, melainkan yang dipelintir oleh kepalsuan. Aku bertemu kamu ketika aku tidak sedang mencari siapa-siapa. Kamu datang dari kota tetangga, membawa tas hitam, wajah letih, dan aroma debu proyek. Orang-orang bilang kamu hanya admin proyek—bukan mandor, bukan insinyur, bukan siapa-siapa yang patut dibanggakan. Tapi caramu duduk diam, caramu mendengarkan, membuatku percaya: lelaki tidak diukur dari jabatan, melainkan dari kesetiaannya pulang. “Kamu tidak bosan bekerja jauh?” tanyaku suatu sore. Kamu tersenyum tipis. “Bosan itu hak orang yang punya pilihan. Aku bekerja karena aku ingin hidup jujur.” Kalimat itu menemp...

Utang yang Tidak Pernah Tidur

Gambar
  Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Bukan sekadar gelap karena listrik di gangku sering redup, tetapi gelap yang seperti menekan dada. Angin malam merayap lewat celah jendela kontrakan yang setengah lapuk, membawa suara anjing menggonggong dari kejauhan. Aku duduk sendirian di lantai ruang tamu yang sempit. Lampu kuning yang menggantung di langit-langit berkedip-kedip seperti napas yang hampir putus. Di depanku, ponselku menyala. Ada puluhan pesan. Semua dari nomor yang berbeda. Semua dengan nada yang sama. “Bayar utangmu.” “Kami tahu alamatmu.” “Jangan sembunyi.” Tanganku gemetar ketika membaca satu pesan terakhir. “Malam ini kami datang.” Aku memejamkan mata. Semuanya bermula dari satu keputusan bodoh. Dua juta rupiah. Saat itu ibuku sakit dan aku tidak punya pilihan lain. Bank menolak. Teman-teman menghilang. Aplikasi pinjaman online muncul seperti malaikat penyelamat. Prosesnya mudah. Terlalu mudah. Foto KTP. Foto wajah. Klik setuju. Uang cair. Tapi yang tidak kutahu ...

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir

Gambar
  Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram. Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku. Pesan itu datang lagi. “MALAM INI ATAU KAMI DATANG.” Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit. “Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?” Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan. Tujuh ha...

Di Antara Takbir dan Luka

Gambar
  Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras. Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah. Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata. Takbir pertama dikumandangkan. Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu. Aku bela...