Namamu Terucap Saat Darahku Mengering

Ilustrasi foto Namamu Terucap Saat Darahku Mengering 
https://www.liputan6.com/health/read/798847/cara-hadirkan-suasana-romantis-saat-hujan#google_vignette


Aku selalu percaya cinta adalah doa yang diam-diam didengar Tuhan. Namun malam itu, cinta menjelma menjadi pengakuan paling kejam—dibacakan bukan oleh bibir, melainkan oleh darah.

Kau datang ke hidupku seperti senja yang tak pernah kuundang, tapi selalu kutunggu. Matamu menatapku dengan cara yang membuatku lupa cara pulang. Aku mencintaimu tanpa rencana, tanpa syarat, tanpa janji. Dan mungkin, itulah awal dari kehancuran kami.

“Aku mencintaimu,” katamu suatu sore, di bangku kayu taman kota yang catnya mengelupas.

Aku diam. Bukan karena tak merasa apa-apa, tapi karena perasaan itu terlalu besar untuk dikeluarkan sembarangan.

“Jangan katakan itu,” jawabku akhirnya. “Kau sudah bertunangan.”

Kau tersenyum getir. “Cinta tidak pernah peduli pada status.”

Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia—perempuan yang namanya selalu kau sebut dengan nada aman. Perempuan yang dipilih keluargamu. Perempuan yang kelak akan menjadi istrimu, jika tak ada aku di antara kita.

Sejak hari itu, cinta kami hidup di lorong sempit bernama sembunyi-sembunyi. Kami mencuri waktu, mencuri tawa, mencuri kebahagiaan dari masa depan yang bukan milik kami.

Di sela pertemuan, kau sering membacakan puisi—atau mungkin itu jeritan hatimu sendiri.

“Jika mencintaimu adalah dosa,

biarlah aku terbakar di dalamnya.

Sebab neraka tanpa namamu

lebih menyiksa daripada api.”

Aku selalu terdiam setiap kali kau selesai. Aku ingin percaya bahwa cinta ini layak diperjuangkan. Tapi setiap malam, wajah dia menghantui pikiranku—perempuan yang tak bersalah, tapi menjadi korban dari cinta kami yang rakus.

“Aku akan memilihmu,” katamu suatu malam. “Aku hanya butuh waktu.”

Waktu. Kata yang selalu dipakai laki-laki ketika mereka takut kehilangan segalanya.

Hari demi hari berlalu, dan waktu justru membunuhku perlahan. Aku mulai merasa menjadi bayangan dalam hidupmu—hadir tapi tak diakui, dicintai tapi tak diperjuangkan.

Dan kemudian, semuanya pecah.

Ia datang menemuiku.

Perempuan itu berdiri di depan pintu kontrakanku, mengenakan gaun sederhana, matanya merah, tangannya gemetar. Aku tahu siapa dia sebelum ia menyebutkan namanya.

“Aku hanya ingin kebenaran,” katanya pelan. “Kau mencintai tunanganku, bukan?”

Aku ingin berbohong. Aku ingin menyangkal. Tapi cinta yang kupeluk terlalu besar untuk disembunyikan.

“Iya,” jawabku. “Aku mencintainya.”

Ia tersenyum—senyum paling menyakitkan yang pernah kulihat.

“Terima kasih sudah jujur,” katanya. “Sekarang aku tahu mengapa ia selalu tampak jauh.”

Sejak hari itu, hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang terus terjaga. Kau mulai menjauh, teleponmu jarang aktif, pesan-pesanku tak lagi dibalas dengan kata rindu.

Aku menunggumu di kafe tempat biasa kita bertemu. Hujan turun deras, seperti langit sedang membersihkan dosanya sendiri.

Kau datang terlambat. Wajahmu pucat. Matamu kosong.

“Aku tak bisa,” katamu tanpa menatapku. “Aku tak bisa meninggalkannya.”

Kata-katamu menghantamku lebih keras daripada hujan.

“Lalu aku apa?” tanyaku dengan suara bergetar.

Kau terdiam. Dan dalam diam itu, aku tahu—aku bukan siapa-siapa.

Aku tertawa. Tawa orang yang hatinya telah hancur sepenuhnya.


“Jika aku hanya jeda dalam hidupmu,

mengapa kau menuliskanku dengan tinta luka?

Jika aku hanya persinggahan,

mengapa perpisahan ini terasa seperti kematian?”

Aku pergi malam itu dengan hati yang terkoyak. Tapi tak kusangka, tragedi belum selesai memilih korbannya.

Tiga hari kemudian, kau mengajakku bertemu. Katamu, ini pertemuan terakhir. Di rumahmu. Saat malam hampir menelan kota.

Aku datang dengan perasaan campur aduk—harap dan takut saling berpelukan di dadaku.

Pintu terbuka.

Dan di sana, dia berdiri.

“Aku ingin kita bicara bertiga,” katanya. Suaranya tenang, terlalu tenang.

Kami duduk di ruang tamu yang dingin. Lampu redup. Jam dinding berdetak seperti hitungan mundur.

“Aku mencintainya,” kataku akhirnya. “Dan aku yakin, dia juga mencintaiku.”

Kau bangkit. “Cukup,” katamu keras. “Ini salahku. Jangan saling menyakiti.”

Tapi luka tak pernah bisa dihentikan dengan kata cukup.

“Aku hamil,” kata perempuan itu tiba-tiba.

Dunia berhenti.

Kau menatapnya dengan wajah runtuh. Aku menutup mulutku, menahan jerit yang hampir pecah.

“Apa?” suaramu gemetar.

“Aku hamil anakmu,” ulangnya. “Dan kau masih berani mencintai perempuan lain?”

Tangisnya berubah menjadi tawa yang menakutkan.

“Tidak ada yang akan memiliki kau,” katanya pelan.

Aku berdiri. “Aku pergi.”

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Pisau itu entah dari mana munculnya. Cahaya lampu memantul di bilahnya. Aku hanya ingat teriakan, langkah kaki, dan rasa panas yang menyebar di dadaku.

Kau menusukku.

Sekali. Dua kali.

Aku jatuh.

Darah mengalir, membasahi lantai yang dingin. Pandanganku kabur. Tapi aku masih bisa melihat wajahmu—pucat, gemetar, hancur.

“Aku tak ingin kehilangan siapa pun,” tangismu pecah. “Aku tak ingin…”

Aku tersenyum, meski nyeri merobek seluruh tubuhku.


“Tenanglah,

aku akan pergi dengan caraku sendiri.

Cinta kita terlalu indah

untuk hidup di dunia yang kejam.”

Sirene terdengar dari kejauhan. Perempuan itu berteriak. Kau terduduk di lantai, memeluk kepalamu sendiri.

Aku menatap langit-langit rumah itu—tempat cintaku berakhir.

Dalam detik terakhir, aku menyebut namamu. Bukan sebagai kutukan, tapi sebagai doa terakhir.

Karena meski aku mati oleh tanganmu, aku hidup oleh cintamu.

Dan mungkin, itulah tragedi paling sempurna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Lonceng Akhir