Tampilkan postingan dengan label translite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label translite. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2026

Namamu Terucap Saat Darahku Mengering

Ilustrasi foto Namamu Terucap Saat Darahku Mengering 
https://www.liputan6.com/health/read/798847/cara-hadirkan-suasana-romantis-saat-hujan#google_vignette


Aku selalu percaya cinta adalah doa yang diam-diam didengar Tuhan. Namun malam itu, cinta menjelma menjadi pengakuan paling kejam—dibacakan bukan oleh bibir, melainkan oleh darah.

Kau datang ke hidupku seperti senja yang tak pernah kuundang, tapi selalu kutunggu. Matamu menatapku dengan cara yang membuatku lupa cara pulang. Aku mencintaimu tanpa rencana, tanpa syarat, tanpa janji. Dan mungkin, itulah awal dari kehancuran kami.

“Aku mencintaimu,” katamu suatu sore, di bangku kayu taman kota yang catnya mengelupas.

Aku diam. Bukan karena tak merasa apa-apa, tapi karena perasaan itu terlalu besar untuk dikeluarkan sembarangan.

“Jangan katakan itu,” jawabku akhirnya. “Kau sudah bertunangan.”

Kau tersenyum getir. “Cinta tidak pernah peduli pada status.”

Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia—perempuan yang namanya selalu kau sebut dengan nada aman. Perempuan yang dipilih keluargamu. Perempuan yang kelak akan menjadi istrimu, jika tak ada aku di antara kita.

Sejak hari itu, cinta kami hidup di lorong sempit bernama sembunyi-sembunyi. Kami mencuri waktu, mencuri tawa, mencuri kebahagiaan dari masa depan yang bukan milik kami.

Di sela pertemuan, kau sering membacakan puisi—atau mungkin itu jeritan hatimu sendiri.

“Jika mencintaimu adalah dosa,

biarlah aku terbakar di dalamnya.

Sebab neraka tanpa namamu

lebih menyiksa daripada api.”

Aku selalu terdiam setiap kali kau selesai. Aku ingin percaya bahwa cinta ini layak diperjuangkan. Tapi setiap malam, wajah dia menghantui pikiranku—perempuan yang tak bersalah, tapi menjadi korban dari cinta kami yang rakus.

“Aku akan memilihmu,” katamu suatu malam. “Aku hanya butuh waktu.”

Waktu. Kata yang selalu dipakai laki-laki ketika mereka takut kehilangan segalanya.

Hari demi hari berlalu, dan waktu justru membunuhku perlahan. Aku mulai merasa menjadi bayangan dalam hidupmu—hadir tapi tak diakui, dicintai tapi tak diperjuangkan.

Dan kemudian, semuanya pecah.

Ia datang menemuiku.

Perempuan itu berdiri di depan pintu kontrakanku, mengenakan gaun sederhana, matanya merah, tangannya gemetar. Aku tahu siapa dia sebelum ia menyebutkan namanya.

“Aku hanya ingin kebenaran,” katanya pelan. “Kau mencintai tunanganku, bukan?”

Aku ingin berbohong. Aku ingin menyangkal. Tapi cinta yang kupeluk terlalu besar untuk disembunyikan.

“Iya,” jawabku. “Aku mencintainya.”

Ia tersenyum—senyum paling menyakitkan yang pernah kulihat.

“Terima kasih sudah jujur,” katanya. “Sekarang aku tahu mengapa ia selalu tampak jauh.”

Sejak hari itu, hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang terus terjaga. Kau mulai menjauh, teleponmu jarang aktif, pesan-pesanku tak lagi dibalas dengan kata rindu.

Aku menunggumu di kafe tempat biasa kita bertemu. Hujan turun deras, seperti langit sedang membersihkan dosanya sendiri.

Kau datang terlambat. Wajahmu pucat. Matamu kosong.

“Aku tak bisa,” katamu tanpa menatapku. “Aku tak bisa meninggalkannya.”

Kata-katamu menghantamku lebih keras daripada hujan.

“Lalu aku apa?” tanyaku dengan suara bergetar.

Kau terdiam. Dan dalam diam itu, aku tahu—aku bukan siapa-siapa.

Aku tertawa. Tawa orang yang hatinya telah hancur sepenuhnya.


“Jika aku hanya jeda dalam hidupmu,

mengapa kau menuliskanku dengan tinta luka?

Jika aku hanya persinggahan,

mengapa perpisahan ini terasa seperti kematian?”

Aku pergi malam itu dengan hati yang terkoyak. Tapi tak kusangka, tragedi belum selesai memilih korbannya.

Tiga hari kemudian, kau mengajakku bertemu. Katamu, ini pertemuan terakhir. Di rumahmu. Saat malam hampir menelan kota.

Aku datang dengan perasaan campur aduk—harap dan takut saling berpelukan di dadaku.

Pintu terbuka.

Dan di sana, dia berdiri.

“Aku ingin kita bicara bertiga,” katanya. Suaranya tenang, terlalu tenang.

Kami duduk di ruang tamu yang dingin. Lampu redup. Jam dinding berdetak seperti hitungan mundur.

“Aku mencintainya,” kataku akhirnya. “Dan aku yakin, dia juga mencintaiku.”

Kau bangkit. “Cukup,” katamu keras. “Ini salahku. Jangan saling menyakiti.”

Tapi luka tak pernah bisa dihentikan dengan kata cukup.

“Aku hamil,” kata perempuan itu tiba-tiba.

Dunia berhenti.

Kau menatapnya dengan wajah runtuh. Aku menutup mulutku, menahan jerit yang hampir pecah.

“Apa?” suaramu gemetar.

“Aku hamil anakmu,” ulangnya. “Dan kau masih berani mencintai perempuan lain?”

Tangisnya berubah menjadi tawa yang menakutkan.

“Tidak ada yang akan memiliki kau,” katanya pelan.

Aku berdiri. “Aku pergi.”

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Pisau itu entah dari mana munculnya. Cahaya lampu memantul di bilahnya. Aku hanya ingat teriakan, langkah kaki, dan rasa panas yang menyebar di dadaku.

Kau menusukku.

Sekali. Dua kali.

Aku jatuh.

Darah mengalir, membasahi lantai yang dingin. Pandanganku kabur. Tapi aku masih bisa melihat wajahmu—pucat, gemetar, hancur.

“Aku tak ingin kehilangan siapa pun,” tangismu pecah. “Aku tak ingin…”

Aku tersenyum, meski nyeri merobek seluruh tubuhku.


“Tenanglah,

aku akan pergi dengan caraku sendiri.

Cinta kita terlalu indah

untuk hidup di dunia yang kejam.”

Sirene terdengar dari kejauhan. Perempuan itu berteriak. Kau terduduk di lantai, memeluk kepalamu sendiri.

Aku menatap langit-langit rumah itu—tempat cintaku berakhir.

Dalam detik terakhir, aku menyebut namamu. Bukan sebagai kutukan, tapi sebagai doa terakhir.

Karena meski aku mati oleh tanganmu, aku hidup oleh cintamu.

Dan mungkin, itulah tragedi paling sempurna.


Selasa, 24 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar

 

Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar
https://sediksi.com/gaya-foto-di-pantai-bersama-pasangan-hijab/


Aku menulis kisah ini bukan untuk mengabarkan kemenangan, melainkan untuk mengakui kekalahan yang paling sunyi: kalah oleh perasaan sendiri. Malam itu, malam yang konon lebih baik dari seribu bulan, aku berdiri di antara dua nama—dan tak satu pun mampu kusebut tanpa gemetar.

Masjid tua di ujung kampung menjadi saksi. Dindingnya kusam, karpetnya menyimpan aroma debu dan doa-doa lama. Lampu-lampu temaram menggantung seperti bintang yang kelelahan, berpendar kuning, mengantarkan langkah-langkah kami ke dalam keheningan. Di luar, angin berembus perlahan, membawa sisa-sisa hujan sore, seolah semesta ikut menahan napas menunggu keputusan.

Aku datang lebih awal. Sejak sore, hatiku tak tenang. Ada desakan aneh yang memintaku untuk mengosongkan diri, tapi justru kepalaku dipenuhi satu nama—namamu. Aku menyebutnya berulang-ulang dalam batin, bukan sebagai mantra, melainkan sebagai pengakuan yang tak pernah rampung. Aku takut malam ini Tuhan mendengarnya.

Di saf perempuan, aku duduk bersila, menunduk. Mukena putih menutup kepalaku, tapi tak sanggup menutup kegelisahan. Dari balik tirai tipis, aku tahu kamu ada di sana. Aku tak melihatmu, namun aku merasakan kehadiranmu seperti cahaya yang tak menyilaukan—hangat, menetap, dan membuatku lupa pada arah kiblat sesaat.

Lalu ada dia.

Ia datang setelah azan isya. Langkahnya tenang, wajahnya bersih dari prasangka. Dia adalah yang selalu mengajarkanku untuk menyederhanakan rindu menjadi doa. Yang mengatakan bahwa cinta sejati tak harus gaduh, cukup setia dalam diam. Dia—yang namanya sering kusebut di hadapan manusia, tapi jarang kusebut di hadapan Tuhan.

Aku terjebak di antara dua jalan yang tampak sama-sama lurus. Yang satu menuntunku pada ketenteraman, yang lain membakar dadaku dengan api yang tak pernah padam. Malam Lailatul Qadar itu, aku berharap Tuhan memberiku tanda. Tapi Tuhan, rupanya, lebih suka memberiku keberanian.

Tarawih dimulai. Imam melantunkan ayat-ayat dengan suara yang merambat pelan, seperti air yang mencari celah. Setiap sujud, aku menahan napas. Setiap bangkit, aku menelan air mata. Aku ingin meminta sesuatu yang jelas—tapi kata-kata doaku tercerai-berai, tersangkut di langit-langit masjid.

“Aku tak meminta dipilihkan,” bisikku dalam sujud panjang. “Aku hanya ingin dikuatkan.”

Namun, ketika dahi menyentuh sajadah, nama yang meluncur dari bibirku bukanlah nama yang seharusnya. Itu namamu. Lagi. Dan lagi. Seperti pengkhianatan kecil yang terus kuulang.

Di sela rakaat, aku mencuri pandang. Dari balik tirai, bayanganmu tampak samar. Kamu berdiri tegak, khusyuk, seolah tak membawa apa pun selain iman. Aku iri pada ketenanganmu. Aku ingin menjadi seperti itu—utuh, tak terbelah.

Qiyamul lail dimulai. Masjid kian lengang, tapi jantungku kian ramai. Di sepertiga malam terakhir, doa-doa mengalir seperti sungai yang tak sabar mencapai muara. Orang-orang menangis, tersedu, memohon ampun dan harapan. Aku ikut menangis, tapi alasanku berbeda. Aku menangisi diriku sendiri.

Aku teringat pertemuan pertama denganmu. Bagaimana caramu tersenyum tanpa maksud, bagaimana suaramu menenangkan tanpa janji. Aku teringat percakapan-percakapan yang tak pernah selesai, pesan-pesan yang kubaca berulang-ulang, dan jeda-jeda yang membuatku berharap. Kamu tak pernah meminta apa-apa, tapi kehadiranmu menuntut segalanya.

Sementara dia—ia selalu ada ketika aku jatuh. Ia tak pandai merangkai kata, tapi tangannya kokoh ketika menggenggam. Ia menungguku dengan kesabaran yang tak pernah kutanyakan asalnya. Di hadapannya, aku merasa aman. Tapi entah mengapa, rasa aman itu tak selalu berarti damai.

Di tengah doa panjang, aku merasakan getar di bahuku. Seorang ibu tua di sampingku terisak, memegang tasbihnya erat-erat. Aku membantunya bangkit, lalu kami saling tersenyum kecil. Senyum itu sederhana, tapi menyentuh. Seperti pengingat bahwa hidup tak selalu tentang memilih yang paling membakar, tapi yang paling menguatkan.

Ketika doa hampir usai, imam memohon agar kami dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar. Aku menutup mata. Dalam gelap, aku melihat dua wajah. Keduanya menatapku, menunggu. Aku gemetar. Aku takut salah memilih, takut melukai, takut kehilangan.

“Aku lelah,” kataku dalam hati. “Tuhan, aku lelah mencintai dengan separuh.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menyebut nama-Nya lebih keras daripada namamu. Aku menyebut-Nya dengan suara yang bergetar, dengan dada yang sesak, dengan hati yang nyaris runtuh. Aku menyerahkan semua. Aku lepaskan kendali yang selama ini kugenggam terlalu erat.

Usai doa, orang-orang saling bersalaman. Masjid dipenuhi senyum yang basah oleh air mata. Aku berdiri, merapikan mukena, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian. Di luar, angin berembus lebih dingin. Langit tampak lebih dekat, seolah mendengar semua rahasia yang baru saja ditumpahkan.

Aku melihatmu di serambi. Kamu berdiri sendiri, menatap langit. Ketika mata kita bertemu, aku tahu—kamu tahu. Tak ada kata yang perlu diucapkan. Ada jarak yang tak bisa lagi kututup dengan alasan. Aku melangkah mendekat, lalu berhenti.

“Terima kasih,” kataku pelan. “Untuk semua yang tak pernah kau minta.”

Kamu tersenyum, senyum yang selalu membuatku ingin tinggal. Tapi kali ini, senyum itu terasa seperti perpisahan yang dewasa. Kamu mengangguk, lalu berpaling. Aku tak memanggilmu. Aku membiarkan langkahmu menjauh, membawa sebagian diriku yang harus kulepaskan.

Aku berbalik dan menemukan dia menungguku. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh tanya. Aku mendekat, dan untuk pertama kalinya, aku tak ragu menggenggam tangannya. Genggaman itu sederhana, tak membakar, tapi hangat. Seperti rumah yang akhirnya kutemukan.

“Kita pulang,” katanya.

Aku mengangguk. Dalam perjalanan, aku menoleh sekali ke masjid yang kian sunyi. Aku berterima kasih pada malam yang mengajarkanku kejujuran. Lailatul Qadar tak memberiku jawaban instan, tapi memberiku keberanian untuk berhenti berdusta pada diri sendiri.

Di kamar, sebelum tidur, aku berdoa lagi. Aku menyebut namamu sekali—sebagai kenangan yang kusimpan rapi. Lalu aku menyebut nama-Nya berkali-kali—sebagai janji untuk hidup dengan utuh.

Dan di antara gelap dan terang, aku akhirnya mengerti: cinta yang benar tak selalu membuat kita berdebar, tapi membuat kita berani memilih kebaikan, meski harus melepaskan yang paling kita sebut dalam diam.

Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam

Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam Aku tidak pernah benar-benar keluar dari pesantren itu. Tubuhku memang pulang, tapi pikiranku masih dudu...