Namamu Terucap Saat Darahku Mengering
Ilustrasi foto Namamu Terucap Saat Darahku Mengering https://www.liputan6.com/health/read/798847/cara-hadirkan-suasana-romantis-saat-hujan#google_vignette Aku selalu percaya cinta adalah doa yang diam-diam didengar Tuhan. Namun malam itu, cinta menjelma menjadi pengakuan paling kejam—dibacakan bukan oleh bibir, melainkan oleh darah. Kau datang ke hidupku seperti senja yang tak pernah kuundang, tapi selalu kutunggu. Matamu menatapku dengan cara yang membuatku lupa cara pulang. Aku mencintaimu tanpa rencana, tanpa syarat, tanpa janji. Dan mungkin, itulah awal dari kehancuran kami. “Aku mencintaimu,” katamu suatu sore, di bangku kayu taman kota yang catnya mengelupas. Aku diam. Bukan karena tak merasa apa-apa, tapi karena perasaan itu terlalu besar untuk dikeluarkan sembarangan. “Jangan katakan itu,” jawabku akhirnya. “Kau sudah bertunangan.” Kau tersenyum getir. “Cinta tidak pernah peduli pada status.” Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia —perempuan yang namanya selalu kau sebut...