![]() |
Cerita Pendek:Bendera yang Berkibar di Antara Kita https://www.kibrispdr.org/unduh-4/foto-pacaran-romantis-banget.html |
Agustus kembali datang, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di kampungku, Agustusan selalu menjadi momen ramai yang mempersatukan. Anak-anak lomba balap karung, ibu-ibu masak tumpeng, dan pemuda-pemudi sibuk mengurus panggung hiburan. Tapi tahun ini, ada yang berbeda. Hatiku, yang biasanya tenang, kini bergetar hebat—sejak aku tahu kau akan datang, dan dia juga.
Kau, perempuan dengan mata tajam yang menyimpan rahasia.
Dia, sahabat kecilku yang selalu kupanggil "teman baik", walau hatiku berkata lain.
Dan aku? Aku hanya lelaki kampung yang menyimpan cinta dalam diam.
Hari itu, langit bersih. Panitia sibuk mempersiapkan lomba tarik tambang. Aku yang bertugas membagi air mineral, tak henti menatap kalian berdua. Kau tertawa dengan dia—Raka, sahabatku. Kau tampak nyaman bersamanya. Tapi ada sesuatu di sorot matamu saat sesekali melirik ke arahku. Sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.
"Hei, kamu melamun, ya?" suara Raka menyentakku.
"Enggak. Lagi mikirin lomba," jawabku, berbohong.
“Kau tak tahu, hatiku sering bergetar,
setiap kau berdiri di bawah bendera yang berkibar.
Aku ingin menjadi angin yang menari di rambutmu,
tapi bayang Raka selalu menghalangiku.”
Raka memang menaruh hati padamu. Dia cerita padaku semalam, dengan binar di matanya.
"Kayaknya aku suka Dira, bro," katanya sambil menendang kerikil di jalan.
Hatiku mencelos. Tapi aku hanya menepuk pundaknya dan tersenyum palsu. "Bagus dong, kalian cocok."
Malam puncak Agustusan, panggung ramai dengan musik dan tawa. Lampu kelap-kelip memantulkan bayang-bayang kita di tanah. Aku melihatmu berdiri sendirian di dekat pohon mangga, menjauh dari kerumunan. Aku mendekat.
"Kau kenapa di sini?" tanyaku.
"Aku... lelah dengan keramaian," katamu, sambil menunduk.
Aku ingin mengatakan banyak hal. Bahwa aku juga lelah—bukan karena keramaian, tapi karena perasaan yang kupendam sendiri.
Tapi kau memandangku, dan bibirmu membuka. "Raka suka aku, ya?"
Aku diam. Tapi maAtaku bicara.
"Kau juga suka aku?" tanyamu lagi.
Aku menarik napas dalam.
"Ya," jawabku akhirnya. "Tapi bukan hakku untuk membuatmu bingung."
Kau terdiam. Lalu tersenyum pilu.
"Aku juga suka kamu... sejak dulu. Tapi Raka terlalu baik, aku takut menyakitinya."
"Cinta ini bagai kembang api di langit malam,
indah, terang, lalu lenyap dalam diam.
Aku mencintaimu, tapi tak ingin menjadi alasan
seseorang menangis saat bendera diturunkan.”
Tiba-tiba Raka muncul. Entah sejak kapan dia berdiri di belakang kami.
"Aku denger semuanya," katanya lirih.
Jantungku seperti ditusuk.
"Aku nggak marah," lanjutnya. "Tapi... aku cuma pengen jujur juga. Gue tahu dari lama kalian saling suka. Tapi gue tetap coba, karena gue takut kehilangan dua-duanya."
Aku menatap sahabatku itu. Orang yang tumbuh bersamaku, yang pernah jatuh dari pohon mangga bersamaku, yang tahu rahasia tergelapku. Dan kini dia tahu yang paling terang—aku mencintaimu.
Kau mendekati Raka, memegang tangannya. "Aku nggak mau kehilangan kalian juga. Tapi aku nggak bisa bohong soal hati."
Raka mengangguk. "Pilih dia. Tapi jangan hilang dari hidup gue."
Beberapa hari setelah malam itu, suasana kampung kembali biasa. Tapi tidak dengan hatiku. Cinta segitiga ini memang rumit, tapi kejujuran telah menyelamatkan kami dari kepalsuan.
Kau kini di sisiku, tapi Raka tetap sahabatku.
Namun aku tahu, akan selalu ada bekas luka di hatinya. Dan itu membuatku lebih mencintaimu—karena cinta ini telah melewati ujian paling menyakitkan.
"Kau adalah merah putih di dadaku,
berani mencintai, tapi tahu kapan harus mengalah.
Cinta bukan soal siapa yang pertama berkata,
tapi siapa yang tetap tinggal,
meski tak ada tepuk tangan setelah perlombaan.”
Komentar
Posting Komentar