Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...

Cerita Pendek:Bendera yang Berkibar di Antara Kita

 

Cerita Pendek:Bendera yang Berkibar di Antara Kita https://www.kibrispdr.org/unduh-4/foto-pacaran-romantis-banget.html


Agustus kembali datang, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di kampungku, Agustusan selalu menjadi momen ramai yang mempersatukan. Anak-anak lomba balap karung, ibu-ibu masak tumpeng, dan pemuda-pemudi sibuk mengurus panggung hiburan. Tapi tahun ini, ada yang berbeda. Hatiku, yang biasanya tenang, kini bergetar hebat—sejak aku tahu kau akan datang, dan dia juga.

Kau, perempuan dengan mata tajam yang menyimpan rahasia.
Dia, sahabat kecilku yang selalu kupanggil "teman baik", walau hatiku berkata lain.
Dan aku? Aku hanya lelaki kampung yang menyimpan cinta dalam diam.


Hari itu, langit bersih. Panitia sibuk mempersiapkan lomba tarik tambang. Aku yang bertugas membagi air mineral, tak henti menatap kalian berdua. Kau tertawa dengan dia—Raka, sahabatku. Kau tampak nyaman bersamanya. Tapi ada sesuatu di sorot matamu saat sesekali melirik ke arahku. Sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.

"Hei, kamu melamun, ya?" suara Raka menyentakku.
"Enggak. Lagi mikirin lomba," jawabku, berbohong.

“Kau tak tahu, hatiku sering bergetar,
setiap kau berdiri di bawah bendera yang berkibar.
Aku ingin menjadi angin yang menari di rambutmu,
tapi bayang Raka selalu menghalangiku.”

Raka memang menaruh hati padamu. Dia cerita padaku semalam, dengan binar di matanya.

"Kayaknya aku suka Dira, bro," katanya sambil menendang kerikil di jalan.

Hatiku mencelos. Tapi aku hanya menepuk pundaknya dan tersenyum palsu. "Bagus dong, kalian cocok."


Malam puncak Agustusan, panggung ramai dengan musik dan tawa. Lampu kelap-kelip memantulkan bayang-bayang kita di tanah. Aku melihatmu berdiri sendirian di dekat pohon mangga, menjauh dari kerumunan. Aku mendekat.

"Kau kenapa di sini?" tanyaku.

"Aku... lelah dengan keramaian," katamu, sambil menunduk.

Aku ingin mengatakan banyak hal. Bahwa aku juga lelah—bukan karena keramaian, tapi karena perasaan yang kupendam sendiri.

Tapi kau memandangku, dan bibirmu membuka. "Raka suka aku, ya?"

Aku diam. Tapi maAtaku bicara.

"Kau juga suka aku?" tanyamu lagi.

Aku menarik napas dalam.

"Ya," jawabku akhirnya. "Tapi bukan hakku untuk membuatmu bingung."

Kau terdiam. Lalu tersenyum pilu.

"Aku juga suka kamu... sejak dulu. Tapi Raka terlalu baik, aku takut menyakitinya."

"Cinta ini bagai kembang api di langit malam,
indah, terang, lalu lenyap dalam diam.
Aku mencintaimu, tapi tak ingin menjadi alasan
seseorang menangis saat bendera diturunkan.”


Tiba-tiba Raka muncul. Entah sejak kapan dia berdiri di belakang kami.

"Aku denger semuanya," katanya lirih.

Jantungku seperti ditusuk.

"Aku nggak marah," lanjutnya. "Tapi... aku cuma pengen jujur juga. Gue tahu dari lama kalian saling suka. Tapi gue tetap coba, karena gue takut kehilangan dua-duanya."

Aku menatap sahabatku itu. Orang yang tumbuh bersamaku, yang pernah jatuh dari pohon mangga bersamaku, yang tahu rahasia tergelapku. Dan kini dia tahu yang paling terang—aku mencintaimu.

Kau mendekati Raka, memegang tangannya. "Aku nggak mau kehilangan kalian juga. Tapi aku nggak bisa bohong soal hati."

Raka mengangguk. "Pilih dia. Tapi jangan hilang dari hidup gue."


Beberapa hari setelah malam itu, suasana kampung kembali biasa. Tapi tidak dengan hatiku. Cinta segitiga ini memang rumit, tapi kejujuran telah menyelamatkan kami dari kepalsuan.

Kau kini di sisiku, tapi Raka tetap sahabatku.

Namun aku tahu, akan selalu ada bekas luka di hatinya. Dan itu membuatku lebih mencintaimu—karena cinta ini telah melewati ujian paling menyakitkan.

"Kau adalah merah putih di dadaku,
berani mencintai, tapi tahu kapan harus mengalah.
Cinta bukan soal siapa yang pertama berkata,
tapi siapa yang tetap tinggal,
meski tak ada tepuk tangan setelah perlombaan.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...