Tampilkan postingan dengan label alurcerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alurcerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2026

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan


Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta.
Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa rencana cadangan.

Sejak awal, aku tahu:
mencintaimu berarti menyiapkan diri untuk kalah.
Tapi aku tetap datang. Tetap duduk di hadapanmu. Tetap berkata ya pada setiap nanti yang kau ucapkan.

Kau pernah bertanya, hampir sambil bercanda,
“Kalau aku menyakitimu, kau akan pergi?”

Aku tersenyum waktu itu.
Aku selalu tersenyum ketika seharusnya aku pergi.

“Tidak,” jawabku.
Dan kau mengangguk, seolah jawaban itu adalah sesuatu yang memang kau butuhkan agar bisa hidup lebih ringan.

Sejak hari itu, aku mulai menghilang sedikit demi sedikit—bukan dari hidupmu, tapi dari hidupku sendiri.

Aku menunda mimpiku karena kau belum siap berlari.
Aku menurunkan suaraku karena kau tak suka perempuan yang terlalu keras.
Aku mengecilkan diriku agar pas di duniamu yang sempit.

Dan setiap malam, ketika kau tertidur dengan punggung menghadapku, aku menulis puisi-puisi kecil di kepalaku. Puisi yang tak pernah sampai padamu.


Aku mencintaimu dengan cara yang tidak diajarkan siapa pun,

menyerah sebelum diminta,

meminta maaf sebelum bersalah,

dan tinggal, bahkan ketika hatiku sudah pulang lebih dulu.


Kau berubah bukan seperti badai, tapi seperti jam.
Pelan. Teratur. Tak terasa.
Sampai suatu hari aku sadar: waktu bersamamu tak lagi menunjuk ke arah yang sama.

Percakapan kita mulai retak.
Bukan karena pertengkaran, tapi karena jarak yang kau sebut “lelah”.

“Aku capek,” katamu.
“Dengan siapa?” tanyaku.
“Dengan segalanya,” jawabmu, tanpa menatap.

Aku ingin bertanya: Apakah aku termasuk segalanya itu?
Tapi aku menelannya.
Aku selalu pandai menelan hal-hal yang menyakitiku.

Malam-malam menjadi panjang.
Kau pulang membawa tubuh, tapi tidak hatimu.
Dan aku belajar mengenali bau pengkhianatan—bukan dari aroma, tapi dari cara kau memeluk tanpa benar-benar memeluk.

Aku masih bertahan.
Karena aku percaya pengorbanan adalah bahasa cinta tertinggi.
Aku lupa: tidak semua orang fasih membacanya.


Aku menjadi rumah,
kau menjadikanku persinggahan.
Aku membersihkan luka-lukamu,
kau menciptakan luka baru untukku rawat.


Hari itu, pengkhianatan tidak datang dengan teriakan.
Ia datang sebagai pesan yang tak sengaja kubaca.
Nama yang asing, tapi nadanya akrab.
Kalimat-kalimat yang terlalu hidup untuk sekadar basa-basi.

Tanganku dingin.
Dadaku kosong.
Dan dunia seakan menyusut hanya sebesar layar ponsel itu.

Ketika aku menatapmu, kau tahu.
Matamu menghindar.
Dan aku sadar: kebenaran selalu tahu kapan harus menyerah.

“Sejak kapan?” tanyaku.
Suaraku bukan suara orang marah—lebih seperti suara orang yang kehilangan arah.

Kau diam lama.
Diam yang berisik.
Diam yang penuh pengakuan.

“Tidak lama,” akhirnya kau berkata.
Dan aku tertawa kecil.

“Tidak lama menurut siapa?”
Menurut hatimu yang tak lagi tinggal di sini?

Aku mengorbankan waktu,
kau mengorbankan kejujuran.
Kita sama-sama kehilangan,
tapi hanya satu yang berdarah.

Kau berkata kau tidak bermaksud menyakitiku.
Kalimat yang selalu diucapkan oleh orang yang paling tahu di mana harus menusuk.

“Aku hanya ingin merasa hidup,” katamu.
Dan aku ingin bertanya: Selama ini aku apa?

Tapi aku lelah bertanya.
Aku lelah menjadi tempatmu pulang sementara aku sendiri tak pernah benar-benar tiba.

Aku duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.
Tubuhku masih utuh, tapi aku tahu: ada sesuatu yang mati.

Aku mencintaimu sampai lupa caranya dicintai,
sampai pengkhianatan terasa seperti logika,
dan kesetiaan terasa seperti kebodohan yang rapi.

“Kau akan pergi?” tanyaku.
Pertanyaan itu bukan permohonan, hanya konfirmasi.

“Ya,” jawabmu.
Singkat. Bersih. Tanpa beban.

Dan saat itu aku mengerti:
pengorbananku tidak pernah kau anggap cinta.
Bagimu, ia hanya kenyamanan.

Hari-hari setelah kepergianmu terasa seperti puisi yang dipatahkan di tengah bait.
Tak ada penutup.
Tak ada rima.

Aku bangun tanpa tujuan.
Tidur tanpa mimpi.
Dan belajar berjalan di antara kenangan seperti ranjau.

Namun di situlah aku mulai menulis—bukan untuk mengingatmu, tapi untuk menyelamatkan diriku sendiri.


Aku tidak gagal mencintaimu,

aku hanya terlalu percaya bahwa semua orang menghargai luka.

Ternyata tidak.

Sebagian orang menggunakannya sebagai pintu keluar.


Suatu hari, pesanmu datang.
Pendek.
Hampir sopan.

“Aku menyesal.”

Aku membaca kalimat itu lama.
Sangat lama.
Lalu aku menutup mataku.

Penyesalanmu datang terlambat.
Aku sudah menjemput diriku sendiri dari reruntuhan.

Aku menghapus pesan itu.
Bukan sebagai hukuman,
melainkan sebagai pernyataan: aku memilih hidup.

Aku melepaskanmu bukan karena cinta habis,
tetapi karena aku akhirnya cukup mencintai diriku.
Dan itu pengorbanan terakhir yang tidak akan kusesali.


Kini, jika kau bertanya siapa aku,
aku bukan lagi perempuan yang rela hancur demi bertahan.

Aku adalah seseorang
yang pernah mencintai sampai kehilangan diri—
dan memilih untuk tidak melakukannya lagi.


Selasa, 12 Mei 2026

Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam

Cerita Pendek:Aku yang Diajari Diam

Aku tidak pernah benar-benar keluar dari pesantren itu.
Tubuhku memang pulang, tapi pikiranku masih duduk bersila di lantai ndalem, menunggu namaku dipanggil dengan suara yang tak pernah meninggi—karena yang paling mematikan memang tidak perlu berteriak.

Aku datang ke sana dengan keyakinan utuh bahwa iman adalah perlindungan. Bahwa orang yang dipanggil kiai adalah perantara cahaya. Aku menyerahkan diriku seperti seseorang menyerahkan kunci rumah pada penjaga yang katanya tak pernah tidur.

Hari pertama, aku belajar tunduk.
Hari kedua, aku belajar patuh.
Hari-hari berikutnya, aku belajar meragukan perasaanku sendiri.

“Perempuan itu harus kuat menahan,” kata seorang ustazah saat pengajian.
“Menahan apa, Ustazah?” tanya santri lain.
“Menahan diri. Menahan prasangka. Menahan bisikan setan.”

Aku mencatat kalimat itu. Aku belum tahu, suatu hari kalimat itu akan digunakan untuk mengurungku dari dalam.

Ketika namaku pertama kali dipanggil ke ndalem, aku merasa terpilih. Dipilih berarti istimewa. Istimewa berarti dipercaya. Begitulah logika yang ditanamkan pelan-pelan, seperti racun yang dicampur madu.

“Kamu terlihat tenang,” katanya.
Aku menunduk.
“Tenang itu tanda hati bersih. Orang seperti kamu cocok memikul amanah.”

Amanah.
Kata itu diulang-ulang sampai kehilangan bentuk. Sampai aku tak bisa lagi membedakan mana perintah, mana jerat.

Setiap percakapan selalu dimulai dengan doa dan diakhiri dengan dalil. Di tengahnya, ada ruang abu-abu tempat pikiranku dipatahkan sedikit demi sedikit.

“Kalau kamu merasa takut,” katanya suatu malam, “itu berarti imanmu sedang diuji.”
“Kalau kamu bercerita,” katanya di malam lain, “itu berarti kamu belum ikhlas.”

Aku mulai membenci kata ikhlas.
Karena setiap kali aku tidak sanggup, kesalahan selalu kembali padaku.

Aku bertanya pada diriku sendiri, berulang-ulang, seperti orang gila yang berharap jawaban berubah jika diulang lebih keras:
Mungkin aku yang salah?
Mungkin perasaanku yang kotor?
Mungkin aku memang tak pantas dipercaya?

Gaslighting tidak datang seperti badai. Ia datang seperti kabut. Pelan. Tipis. Tapi menutup seluruh pandangan.

Suatu malam aku berkata, hampir berbisik:

“Yai, saya tidak nyaman.”

Beliau tidak marah. Tidak pula membentak.
Beliau tersenyum—dan senyum itu lebih menakutkan dari teriakan.

“Ketidaknyamanan adalah pintu kedewasaan,” katanya.
“Kamu mau dewasa, kan?”

Aku mengangguk. Aku selalu mengangguk.
Mengangguk adalah caraku bertahan hidup.

Aku mulai bermimpi buruk. Dalam mimpiku, aku duduk di masjid tanpa pintu. Semua orang membaca kitab, tapi setiap huruf berubah menjadi mata yang menatapku. Aku ingin menjerit, tapi suaraku tertelan ayat-ayat yang dilafalkan tanpa rasa.

Pagi harinya, Fatimah memegang lenganku.

“Kamu gemetar.”
“Aku hanya kedinginan.”
“Ini pesantren, Isyah. Kamu tidak pernah kedinginan.”

Aku ingin bilang: aku membeku dari dalam.
Tapi lidahku mengkhianatiku.

Aku mencoba mencari pertolongan dengan cara paling aman: bertanya tanpa menyebut nama, mengadu tanpa menuduh.

“Kalau amanah membuat seseorang merasa hancur, apakah itu masih amanah?” tanyaku pada ustazah pengasuh.

Beliau menatapku lama, seolah menimbang kadar imanku.

“Hancur itu bagian dari dibentuk,” jawabnya.
“Tanah harus dipijak keras agar bisa ditanami.”

Aku keluar ruangan itu dengan satu kesimpulan mengerikan:
tidak ada ruang bagi lukaku untuk diakui.

Malam-malam berikutnya, aku mulai menghitung langkah menuju ndalem seperti orang menuju tiang gantungan. Aku belajar memisahkan tubuh dan pikiranku. Tubuhku hadir, pikiranku pergi jauh—ke rumah, ke ibu, ke masa kecil sebelum kata amanah berubah menjadi pisau.

“Kenapa kamu murung?” tanya Fatimah suatu malam.
“Kalau aku bercerita, kamu akan percaya?”
Dia terdiam.
“Aku santri juga, Isyah. Aku takut salah percaya.”

Kalimat itu memutus harapan terakhirku.

Aku sadar: sistem ini tidak membutuhkan monster.
Ia hanya butuh orang-orang baik yang terlalu takut untuk salah.

Ketika akhirnya aku menolak dipanggil, hukumannya bukan fisik. Hukuman paling kejam selalu bersifat simbolik.

Namaku disebut dalam pengajian.
Tidak sebagai korban.
Tapi sebagai contoh.

“Kesombongan adalah penyakit santri,” kata beliau.
“Merasa paling tersakiti padahal sedang diselamatkan.”

Aku duduk di barisan depan. Semua mata menusuk.
Aku merasa telanjang, bukan karena tubuhku—tapi karena narasi tentang diriku telah direbut.

Malam itu aku muntah. Bukan karena sakit, tapi karena tubuhku menolak kepura-puraan lebih lama.

“Aku ingin pulang,” kataku pada Fatimah.
“Kamu yakin? Orang-orang akan bertanya.”
“Biarlah,” jawabku. “Aku sudah terlalu lama menjawab pertanyaan yang bukan salahku.”

Pulang bukan berarti sembuh.
Di rumah, aku tidak langsung bicara. Aku hanya duduk di kamar, menutup telinga setiap kali suara azan berkumandang. Aku takut. Bukan pada Tuhan—tapi pada ingatan.

Suatu malam, ibu masuk dan duduk di sampingku.

“Kamu tidak perlu menjelaskan dengan rapi,” katanya.
“Kamu hanya perlu jujur.”

Aku menangis seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan takut.

“Bu,” kataku di sela isak, “aku diajari bahwa kalau aku merasa hancur, itu karena imanku kurang.”

Ibu memelukku erat.

“Kalau iman membuatmu membenci dirimu sendiri,” katanya pelan,
“itu bukan iman. Itu kekerasan yang memakai bahasa suci.”

Kalimat itu menyelamatkanku lebih dari seribu ceramah.

Sekarang, aku tahu: luka paling dalam bukan berasal dari apa yang dilakukan pada tubuhku, tapi dari bagaimana pikiranku dipelintir agar menyalahkan diri sendiri. Aku diajari diam, lalu disalahkan karena diam. Aku diajari patuh, lalu dihukum ketika kepatuhan itu runtuh.

Aku masih belajar membangun ulang kepercayaanku—pada Tuhan, pada manusia, pada diriku sendiri. Kadang aku gagal. Kadang aku masih merasa najis tanpa sebab.

Tapi satu hal pasti:
Aku bukan amanah yang rusak.
Aku adalah manusia yang disakiti oleh kuasa yang tak mau diawasi.

Dan sekarang, aku memilih berbicara.
Meski suaraku gemetar.
Meski gelap belum sepenuhnya pergi.

Karena diam tidak pernah suci.
Yang suci adalah keberanian untuk mengatakan: aku terluka, dan itu bukan salahku.


Kamis, 07 Mei 2026

Di Antara Dua Cinta, Satu Nyawa

Di Antara Dua Cinta, Satu Nyawa
https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/bunga-layu-pictures


Aku mencintaimu dengan keyakinan yang sederhana: bahwa kesetiaan akan menemukan jalannya sendiri. Aku lupa bahwa manusia tidak selalu sekuat keyakinannya. Kau membuktikannya dengan ragu yang kau rawat diam-diam.

Kau memiliki masa lalu yang belum selesai. Aku adalah masa kini yang terlalu percaya. Dan di antara kami, kau berdiri tanpa keputusan, berharap waktu akan memilihkanmu jalan keluar.

“Kita bertemu bertiga saja,” katamu suatu malam. Aku tahu, itu bukan penyelesaian. Itu pengakuan bahwa sesuatu telah rusak.

Rumah tua di pinggir kota menjadi tempat terakhir kejujuran diuji. Dia datang dengan tatapan penuh kehilangan. Aku datang dengan harapan yang mulai retak. Kau datang dengan kebingungan yang kau sebut cinta.

Ketika kau berkata mencintai kami berdua, aku tahu tak ada lagi yang bisa diselamatkan. Cinta yang dibagi bukan keadilan, melainkan penundaan luka.

Pisau itu muncul begitu saja. Aku bereaksi tanpa berpikir. Tanganku hanya ingin menghentikan segalanya. Namun cinta yang panik tak pernah mengenal arah.

Pisau itu menancap di dadamu.

Kau jatuh, dan aku melihat seluruh hidupku runtuh bersamamu. Darahmu mengalir, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti bahwa tragedi tidak selalu lahir dari niat jahat.

“Jangan salahkan cinta,” bisikmu sebelum napasmu habis. “Aku yang tak berani memilih.”

Kini aku hidup membawa kenangan sebagai hukuman yang tak pernah selesai. Dan cinta, bagiku, adalah peristiwa yang selalu menuntut keberanian—atau korban.

Minggu, 03 Mei 2026

Aku Membunuhmu Dalam Doa,

 

Aku Membunuhmu Dalam Doa,
https://www.magnific.com/idn/gambar-ai-premium/sepasang-kekasih-duduk-di-dekat-api-unggun-di-pantai-pada-malam-hari-menatap-langit-berbintang_234459587.htm

Aku mencintaimu dengan cara yang membuat kepalaku sering sakit.
Bukan karena bahagia—
melainkan karena terlalu banyak hal yang harus kutahan agar cintaku tetap terlihat suci.

Aku menahan sentuhan.
Aku menahan cemburu.
Aku menahan keinginan paling manusiawi: memiliki.

Dan yang paling menyakitkan—aku menahan kecurigaan.

Kau selalu berkata,
“Jika cinta ini benar, ia tak akan meminta apa pun selain kesabaran.”

Aku mempercayaimu seperti orang bodoh yang mengira luka bisa sembuh hanya dengan doa.

Kau datang ke hidupku seperti bisikan yang terlalu pelan untuk ditolak. Wajahmu tenang, tutur katamu lembut, tapi matamu… matamu seperti ruangan terkunci yang tak pernah sepenuhnya terbuka. Aku mencintaimu justru karena itu—karena aku ingin menjadi orang pertama yang kau izinkan masuk.

“Kau percaya padaku?” tanyamu suatu malam.

“Dengan seluruh hidupku,” jawabku.

Kau tersenyum. Terlalu singkat.
Seolah senyum itu hanya kebiasaan, bukan perasaan.

Setiap malam aku menyebut namamu dalam doa, sementara kau menyebut namaku hanya ketika kita bertemu. Aku tak pernah menuntut lebih. Cinta suci, kataku pada diriku sendiri, memang harus menyakitkan.

Namun ada hal-hal kecil yang mengganggu pikiranku.

Pesanmu sering terlambat dibalas.
Tatapanmu sering kosong.
Dan kau selalu menghindari satu pertanyaan:
tentang masa lalumu.

“Ada hal-hal yang tak perlu dibuka,” katamu.
“Tak semua luka ingin disembuhkan.”

Kalimat itu menempel di kepalaku seperti paku.

Suatu hari, aku melihat bekas lebam di pergelangan tanganmu. Kau menariknya cepat-cepat ke balik lengan baju.

“Itu apa?”
“Tak sengaja.”

Kau berbohong terlalu rapi.

Sejak hari itu, aku mulai kehilangan tidur. Bukan karena rindu—melainkan karena pikiranku dipenuhi bayangan: siapa yang menyentuhmu sebelum aku, dan dengan cara apa?

Aku membenci diriku sendiri karena berpikir seperti itu. Aku memukul dinding, memaki cermin, memohon ampun dalam sujud panjang.

“Aku ingin mencintainya tanpa curiga,” tangisku.
Tapi Tuhan diam.

Malam itu kau mengajakku ke rumah kosong di pinggir kota. Katamu, kita perlu bicara tanpa gangguan. Aku datang dengan dada penuh doa dan kepala penuh ketakutan.

Rumah itu berbau lembap dan tua. Lampunya redup. Bayangan menempel di dinding seperti kenangan yang tak mau pergi.

“Kau kelihatan pucat,” katamu.
“Aku hanya lelah,” jawabku.

Kau duduk berhadapan denganku. Jarak kita hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma ketakutan dari napasmu.

“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.

Kalimat itu seharusnya melegakan.
Tapi justru membuat dadaku sesak.

“Ada seseorang,” lanjutmu.
“Dia tak pernah benar-benar pergi.”

Aku tertawa kecil. Histeris.
“Kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Kau terlalu mencintaiku,” jawabmu lirih.
“Aku takut kau hancur.”

Aku ingin menamparmu.
Aku ingin memelukmu.
Aku ingin mati.

“Kau mencintaiku?” tanyaku.
“Ya.”
“Seperti apa?”

Kau terdiam lama. Lalu berkata,

“Seperti seseorang yang ingin selamat.”

Jawaban itu membunuhku perlahan.

Aku mencintaimu dengan cara orang tenggelam,
menggenggam apa pun meski itu batu.
Jika kau hanya ingin berenang,
aku akan mati lebih dulu.

Tiba-tiba suara langkah terdengar. Pintu berderit. Seorang lelaki masuk—wajahnya dingin, matanya tajam, tangannya membawa pisau kecil yang bersih, terlalu bersih.

“Jadi ini dia,” katanya.
“Orang yang kau doakan setiap malam.”

Aku berdiri. Tubuhku gemetar.
“Kau siapa?”

Dia tertawa.
“Aku yang membuatnya seperti ini.”

Kau menangis. Tapi tangismu aneh—tanpa usaha melawan. Seperti orang yang sudah lama menyerah.

“Dia tak bisa pergi dariku,” katamu padaku.
“Jika aku pergi, dia akan membunuhku.”

“Dan kau pikir aku tidak akan mati?” teriakku.

Lelaki itu melangkah mendekat.
“Dia milikku. Tapi aku tak keberatan berbagi penderitaan.”

Aku menoleh padamu.
“Kenapa kau membawaku ke sini?”

Kau menatapku dengan mata kosong.
“Aku ingin kau melihat.”

Melihat apa?

Bahwa cintaku hanyalah alat.
Bahwa kesucianku hanyalah dalih.
Bahwa aku dipilih bukan untuk dicintai—
melainkan untuk dikorbankan.

Pisau itu menusuk perutku. Pelan. Sengaja. Dia ingin aku merasakannya. Darah mengalir, hangat, lengket. Aku terjatuh berlutut.

Kau menjerit. Tapi tidak menghentikannya.

“Maaf,” katamu.
“Ini satu-satunya cara.”

Aku tertawa dalam darahku sendiri.
“Jadi… aku doa yang kau sembelih?”

Jika cinta harus mati,
mengapa harus aku yang dibunuh?
Bukankah aku sudah cukup suci,
untuk dibiarkan hidup?

Pisau itu menusuk lagi. Dadaku.
Pandangan kabur. Suara menjauh.

Aku menatapmu untuk terakhir kali.
“Kau akan hidup,” bisikku.
“Dengan darahku.”

Aku mati tidak sebagai pahlawan.
Tidak sebagai kekasih.
Tidak sebagai martir.

Aku mati sebagai kesalahan.

Dan cinta suci—
ternyata hanya nama lain dari pengorbanan yang dipaksakan.


Kamis, 23 April 2026

Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota


Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota
https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari


Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak selalu tinggal,
kadang ia hanya singgah—
seperti senja yang berhenti sebentar
lalu pulang tanpa pamit.

Di sini, di batas antara lampu
 jalan dan gelap ladang kosong,
aku pernah menyebut namamu
dengan suara paling pelan
agar angin saja yang mendengarnya.
Kota terlalu sibuk untuk tahu
bahwa dua manusia 
pernah saling menggenggam
tanpa janji, tanpa saksi,
selain waktu yang diam-diam 
menertawakan kita.

Aku ingat langkah kita
menyusuri trotoar retak
di mana rumput kecil tumbuh keras kepala.
Katamu,
“Lihat, bahkan kota yang lelah
pun masih ingin hidup.”
Aku tersenyum,
karena saat itu aku merasa
akulah kota itu,
dan kaulah rumput kecil yang
 memaksaku bertahan.

Lampu kendaraan berlarian seperti ingatan—
datang, menyilaukan, lalu hilang.
Kita berjalan bersebelahan,
tak selalu saling menatap,
tapi tahu keberadaan satu sama lain
lebih nyata daripada cahaya neon
yang berteriak minta diperhatikan.

Aku mencintaimu
dengan cara yang sederhana:
menyimpan tawamu di saku jaket,
menghafal caramu diam saat lelah,
dan menuliskan namamu
di sudut-sudut hati
yang tak pernah kuserahkan pada siapa pun.

Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak harus megah.
Ia cukup duduk di bangku halte tua,
berbagi minuman murah,
dan saling bercerita tentang masa depan
yang bahkan kita sendiri ragu mempercayainya.

Kau pernah berkata,
“Jika suatu hari kita berpisah,
ingatlah aku di tempat ini.”
Aku tertawa waktu itu,
mengira perpisahan adalah 
cerita orang lain.
Ternyata, cinta paling jujur
selalu tahu bagaimana cara berpamitan
jauh sebelum kita siap.

Malam-malam di tepi kota
tidak pernah benar-benar sunyi.
Ada deru mesin,
ada gonggongan anjing jauh,
ada suara rel kereta
yang bergetar seperti dada
saat kau menggenggam
 tanganku lebih erat
karena udara terlalu dingin.

Aku ingat bahumu—
tempat kepalaku pulang
setelah seharian menjadi kuat.
Di sana, aku boleh rapuh,
boleh diam,
boleh menjadi seseorang
yang tidak harus menjelaskan apa pun.

Kita berbicara tentang hal-hal kecil:
kopi yang terlalu pahit,
hujan yang selalu datang tiba-tiba,
dan orang-orang kota
yang berjalan cepat
seolah dikejar waktu.
Namun di balik percakapan
sederhana itu,
aku menyimpan doa:
semoga waktu lupa mengejar kita.

Tapi waktu tidak pernah lupa.
Ia hanya pura-pura ramah
sebelum mencuri segalanya.

Hari ketika kau pergi,
tepi kota menjadi asing.
Trotoar yang sama
terasa lebih panjang,
lampu jalan lebih dingin,
dan angin membawa aroma kehilangan
yang tak bisa kusebutkan namanya.

Aku kembali ke tempat kita biasa duduk.
Bangku itu masih ada,
namun tawa kita sudah pergi.
Aku duduk sendirian,
berusaha mendengar suaramu
di antara bising kendaraan,
namun yang kudapat
hanya gema pikiranku sendiri.

Di tepi kota ini,
aku belajar merindukan
tanpa alamat tujuan.
Sebab kau bukan lagi seseorang
yang bisa kutemui,
melainkan kenangan
yang datang saat aku lengah.

Aku mencintaimu
dalam bentuk yang paling sunyi:
tidak memanggil,
tidak menuntut,
hanya mengingat.
Seperti kota yang tetap berdiri
meski banyak orang datang dan pergi.

Kadang aku melihat bayanganmu
di kaca toko yang tutup,
di halte bus,
di ujung jalan tempat kita dulu berpisah
tanpa pelukan panjang,
tanpa air mata berlebihan—
seolah kita ingin terlihat kuat
di hadapan dunia
yang tak pernah peduli.

Jika cinta adalah kota,
maka kita adalah tepinya:
tidak sepenuhnya masuk,
tidak benar-benar pergi.
Selalu di batas,
selalu menggantung,
selalu menjadi kemungkinan
yang tidak pernah terwujud.

Aku menulis namamu
di udara malam,
biar angin yang membawanya.
Jika suatu saat kau lewat di kota ini,
mungkin kau akan merasa
ada sesuatu yang memanggilmu pulang
tanpa suara.

Di tepi kota ini,
aku berdamai dengan kehilangan.
Aku belajar bahwa mencintai
tidak selalu berarti memiliki.
Kadang, cinta hanya ingin dikenang
agar ia tidak mati sia-sia.

Dan jika suatu hari nanti
aku jatuh cinta lagi,
aku harap ia tahu:
ada bagian dari hatiku
yang akan selalu tinggal di sini—
di trotoar retak,
di bangku halte tua,
di tepi kota
tempat aku pernah menjadi
versi diriku yang paling jujur
saat mencintaimu.

Karena cinta,
meski pergi,
selalu meninggalkan alamat
bagi kenangan untuk pulang.

Dan aku,
masih berdiri di tepi kota,
menunggumu
dalam bentuk yang paling abadi:
sebuah ingatan
yang tidak pernah meminta
untuk dilupakan.

Selasa, 21 April 2026

Cinta yang Membully Diri Sendiri

 

Ilustrasi foto Cinta yang Membully Diri Sendiri
https://sumsel.antaranews.com/berita/341594/patah-hati-bisa-mengakibatkan-berbagai-masalah


Ada cinta yang tidak pernah diucapkan, bukan karena ia kecil, tetapi karena ia terlalu besar untuk ditanggung tanpa risiko. Cinta semacam ini tidak meledak, tidak dramatis, tidak berisik. Ia tinggal diam di dada, tumbuh perlahan, lalu mulai melukai pemiliknya sendiri.

Aku menyebutnya: cinta yang membully diri sendiri.

Ia tidak datang dengan teriakan, melainkan bisikan. Tidak memukul dengan tangan, tetapi menekan dengan pikiran. Tidak melukai lewat kata orang lain, tetapi melalui suara di dalam kepala yang tak pernah mau diam.

Dan anehnya, banyak dari kita hidup di dalamnya tanpa sadar.


1. Cinta yang Tumbuh Tanpa Permisi

Cinta itu tidak pernah meminta izin saat datang. Ia muncul dari hal-hal kecil yang seolah sepele: obrolan yang terlalu panjang, tawa yang terasa lebih hangat dari biasanya, perhatian yang awalnya biasa lalu perlahan menjadi penting.

Awalnya kita menyangkal.
“Ini cuma kagum.”
“Ini cuma nyaman.”
“Ini cuma kebiasaan.”

Namun suatu hari, kita menyadari satu hal yang mengganggu: kita mulai peduli berlebihan. Kita mulai menunggu. Kita mulai berharap—meski tidak pernah mengakuinya secara jujur.

Di titik itulah cinta lahir. Dan bersamaan dengannya, ketakutan pun ikut tumbuh.


2. Diam yang Disalahpahami sebagai Kedewasaan

Banyak orang memuji diam. Diam dianggap matang. Diam dianggap bijak. Diam dianggap bentuk pengendalian diri.

Padahal tidak semua diam lahir dari kebijaksanaan. Ada diam yang lahir dari ketakutan. Ada diam yang lahir dari rasa tidak layak. Ada diam yang lahir dari kelelahan mental karena terlalu banyak mempertimbangkan luka.

Diam dalam cinta sering kali bukan pilihan terbaik—melainkan pilihan yang terasa paling aman.

Kita berkata pada diri sendiri:

“Lebih baik aku yang sakit, asal semuanya tetap baik-baik saja.”

Kalimat itu terdengar mulia. Padahal di dalamnya tersembunyi satu pengorbanan yang kejam: mengorbankan diri sendiri tanpa ada yang meminta.


3. Saat Pikiran Mulai Menjadi Penindas

Cinta yang dipendam tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak di dalam pikiran, berputar-putar, dan perlahan berubah menjadi alat penyiksaan mental.

Setiap hari, ada kalimat-kalimat kecil yang menyerang:

  • “Jangan terlalu berharap.”

  • “Kamu cuma salah paham.”

  • “Dia baik ke semua orang, bukan cuma ke kamu.”

  • “Kalau kamu jujur, kamu akan kehilangan segalanya.”

Tanpa sadar, kita mulai menghakimi diri sendiri karena mencintai. Kita merasa bersalah atas perasaan yang bahkan tidak pernah kita wujudkan menjadi tindakan.

Di titik ini, cinta tidak lagi lembut. Ia menjadi kasar. Ia membully pemiliknya sendiri.


4. Mengungkapkan Terasa Lebih Menakutkan daripada Menyiksa Diri

Orang-orang sering berkata, “Kenapa tidak jujur saja?”

Mereka tidak tahu bahwa bagi sebagian orang, jujur bukan soal keberanian—melainkan soal bertahan hidup secara emosional.

Mengungkapkan cinta berarti membuka kemungkinan:

  • Kehilangan kehadiran yang selama ini menguatkan

  • Kehilangan hubungan yang sudah nyaman

  • Kehilangan harga diri jika ditolak

  • Kehilangan ilusi yang selama ini menenangkan

Maka kita memilih memendam. Kita meyakinkan diri bahwa ini keputusan paling rasional. Padahal sesungguhnya, kita hanya menunda luka dengan cara yang lebih sunyi.


5. Rutinitas Rasa Sakit yang Tidak Pernah Diakui

Inilah bagian paling kejam dari cinta yang dipendam: rasa sakitnya tidak pernah dianggap sah.

Kita tidak bisa cemburu sepenuhnya, karena kita “tidak punya hak”.
Kita tidak bisa marah, karena “tidak ada janji”.
Kita tidak bisa menangis dengan bebas, karena “tidak ada yang salah”.

Padahal hati kita penuh. Penuh rindu. Penuh kecewa. Penuh pertanyaan yang tak pernah berani ditanyakan.

Kita tersenyum di depan orang yang kita cintai, lalu pulang membawa luka sendirian. Kita menjadi aktor terbaik dalam kehidupan kita sendiri.

Dan setiap hari, cinta itu kembali membully kita—tanpa saksi, tanpa hukuman.


6. Saat Cinta Menjadi Penjara

Pada satu titik, kita mulai lelah. Bukan karena mencintai, tetapi karena terus menyembunyikan diri sendiri.

Kita mulai merasa kosong meski tidak sendirian. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional. Kita hidup, tapi tidak sepenuhnya bernapas.

Inilah saat ketika cinta berubah menjadi penjara. Bukan karena orang yang kita cintai jahat, tetapi karena kita mengurung diri sendiri di dalam perasaan yang tak pernah diberi jalan keluar.

Ironisnya, pintu penjara itu tidak terkunci dari luar. Ia terkunci dari dalam.


7. Titik Patah: Saat Diam Tidak Lagi Bisa Dipertahankan

Setiap cinta dalam diam memiliki titik patah. Bisa karena melihat orang yang kita cintai memilih orang lain. Bisa karena kelelahan emosional yang menumpuk. Bisa juga karena satu kalimat sederhana yang membuat kita sadar: aku sudah terlalu lama menyakiti diri sendiri.

Di titik ini, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menyakitkan:

  1. Mengungkapkan perasaan dan menerima apa pun hasilnya

  2. Melepaskan perasaan demi menyelamatkan diri sendiri

Tidak ada pilihan yang sepenuhnya aman. Tetapi satu hal menjadi jelas: diam bukan lagi solusi.


8. Belajar Berhenti Membully Diri Sendiri

Penyembuhan tidak selalu datang dari balasan cinta. Sering kali, ia datang dari keputusan sederhana namun berat: berhenti memusuhi diri sendiri.

Berhenti berkata bahwa perasaan kita berlebihan.
Berhenti merasa bersalah karena mencintai.
Berhenti menganggap rasa sakit sebagai harga mati dari kedewasaan.

Mencintai bukan dosa. Yang menyakitkan adalah memaksa diri bertahan dalam kondisi yang terus melukai.


9. Cinta yang Dewasa Bukan yang Diam Selamanya

Ada kesalahpahaman besar tentang cinta dewasa. Cinta dewasa bukan berarti selalu menahan. Bukan berarti selalu mengalah. Bukan berarti selalu diam.

Cinta dewasa adalah cinta yang jujur pada diri sendiri, entah itu dengan mengungkapkan atau dengan melepaskan. Bukan cinta yang terus menerus menyiksa diri demi menjaga kenyamanan semu.

Karena pada akhirnya, cinta seharusnya membuat kita lebih hidup—bukan lebih hancur.


Penutup: Membebaskan Diri dari Cinta yang Menyakiti

Cinta yang dipendam terlalu lama bisa berubah menjadi kekerasan emosional terhadap diri sendiri. Ia membully secara perlahan, halus, tapi konsisten. Ia tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi meninggalkan luka di cara kita memandang diri sendiri.

Jika kamu sedang berada di dalam cinta seperti ini, ketahuilah satu hal:
kamu tidak lemah karena mencintai, dan kamu tidak egois karena ingin bebas dari rasa sakit.

Kadang, bentuk cinta paling berani bukanlah bertahan—melainkan memilih diri sendiri.

Dan mungkin, di sanalah cinta yang paling jujur akhirnya dimulai.




untukmu di manpun kau berada terima kasih dulu pernah ada,yang membuatku jatuh cinta hingga tau cara melangkah,namun pada akhirnya membuatku patah 

kau tetap menjadi puisi terindah yang pernah tercipta.entah itu tentang doa yang salah menyebut nama atau hati yang salah mengangap rumah


Senin, 20 April 2026

Cinta dalam Diam, Kelam dalam Sunyi Malam

 

Cinta dalam Diam, Kelam dalam Sunyi Malam
https://www.fakta.id/kata-kata-malam-yang-sunyi-dan-sepi-sendiri/


Malam selalu punya cara untuk membuat manusia jujur.
Dan malam itu—di bawah lampu jalan yang berkedip seperti napas orang sekarat—aku akhirnya tahu bahwa cinta dalam diam bisa membunuh lebih kejam daripada kebencian yang berteriak.

Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dengan lantang.
Cinta itu kusembunyikan di balik kebiasaan kecil: menunggumu pulang, memastikan pesanmu terbaca, pura-pura tidak cemburu saat kau menyebut namanya.

Kau selalu berkata,
“Diam itu aman, aku.”

Aku mengangguk.
Padahal diam adalah liang kubur yang pelan-pelan kugali sendiri.

Kau milik dia.
Dan aku—hanya bayangan yang kau ajak bicara saat malam terlalu sunyi untuk ditanggung sendirian.


“Kau tidak lelah mencintai dalam diam?” tanyamu suatu malam.

Aku tertawa kecil.
“Yang lelah itu bukan mencinta, tapi berharap.”

Kau menunduk. Di antara kita, hujan jatuh seperti kalimat yang tak pernah selesai.

Lalu kau berbisik, dan suaramu pecah seperti kaca:


“Jika aku menyebut namamu,

akankah malam menghapus dosaku?”


Aku membalas dengan puisi yang kugenggam terlalu lama di dada:


“Aku tidak ingin menjadi doa,

karena doa selalu meminta.

Aku hanya ingin menjadi diam

yang kau pilih saat semua kata gagal.”


Kau menangis.
Dan di situlah aku tahu—cinta segitiga ini telah berubah menjadi simpul yang tak bisa dilepaskan tanpa darah.


Dia muncul di hidup kita seperti badai yang tak diundang.
Aku menyebutnya dia, karena menyebut namanya terlalu menyakitkan.

Dia kekasihmu.
Resmi. Dikenal semua orang. Dicintai terang-terangan.

Sedangkan aku—
aku hanya ada di malam hari.
Di pesan singkat yang kau hapus.
Di pertemuan singkat yang selalu kau sebut “kebetulan”.

“Aku mencintainya,” katamu suatu malam.
“Tapi aku juga… tidak bisa melepaskanmu.”

Kalimat itu bukan pengakuan.
Itu vonis.


“Cinta yang dibagi tiga

selalu mencari korban,”

bisik batinku.


Malam semakin gelap ketika kau meminta bertemu.
Sendirian.
Di rumah tua di ujung kota—tempat kenangan dan debu bersekongkol.

“Kau harus memilih,” kataku akhirnya.

Kau terdiam lama.
Lalu kau berkata pelan, terlalu pelan untuk disebut keputusan:

“Aku ingin hidup normal… tapi aku tak sanggup kehilanganmu.”

Aku tertawa. Kali ini pahit.


“Kau ingin dua jantung berdetak untukmu,

tanpa bertanya siapa yang akan berhenti lebih dulu.”

Langkah kaki terdengar.
Berat. Marah. Mendekat.

Dia.

Aku tidak tahu sejak kapan dia mengikuti.
Atau sejak kapan cemburu belajar memegang pisau.

“Aku sudah curiga,” katanya sambil menatapmu.
“Dan sekarang aku tahu.”

Kau gemetar.
Aku berdiri di antara kalian, bodoh, seolah tubuhku bisa menjadi dinding bagi luka yang akan datang.

“Kau berbohong padaku,” bentaknya padamu.
“Dan kau—” matanya beralih padaku, “—berani mencuri apa yang bukan milikmu.”

Aku ingin menjawab.
Tapi malam sudah terlalu penuh untuk kata-kata.


Pisau itu berkilat seperti bulan palsu.
Dan sebelum aku sadar, darah mengalir seperti pengakuan yang terlambat.

Dia menikamku.
Sekali.
Di dada.

Anehnya, aku tidak langsung jatuh.
Aku hanya menatapmu.

Kau menjerit.


“Jika ini akhir,

biarlah aku mati sebagai diam

yang pernah kau butuhkan,” 

ucapku, nyaris tak bersuara.

Dia panik.
Kau menangis.
Dan dunia runtuh dalam hitungan detik.

Namun tragedi belum selesai.

Saat dia berbalik hendak lari,
kau mengambil pisau itu.

Aku melihat matamu.
Bukan mata perempuan yang mencinta.
Tapi mata manusia yang lelah menjadi pilihan kedua.

“Kau menghancurkan segalanya,” katamu pada dia.
Dan kau menikamnya.

Sekali.
Lalu sekali lagi.

Darah menyatu di lantai—tak ada lagi milik siapa.


Aku jatuh.
Napas mulai tercekat.

Kau memelukku, tubuhmu gemetar.

“Aku memilihmu,” isakmu.
“Terlambat, ya?”

Aku tersenyum lemah.


“Cinta yang datang terlambat

tetap cinta,

tapi tak pernah sempat hidup.”

Sirene terdengar jauh.
Lampu merah-biru menari di dinding seperti pesta yang tidak kami undang.

“Katakan sesuatu,” pintamu.

Aku mengumpulkan sisa suara.

“Aku tidak menyesal mencintaimu…
Aku hanya menyesal… melakukannya dalam diam terlalu lama.”

Air matamu jatuh ke wajahku.


“Jika aku boleh mengulang malam,

aku akan berteriak mencintaimu,

meski dunia runtuh lebih cepat.”

Aku ingin menjawab.
Tapi gelap lebih cepat dari kata.


Konon, cinta dalam diam itu suci.
Tapi malam itu mengajarkanku satu hal:

Cinta yang tidak diperjuangkan terang-terangan
akan mencari jalan keluar—
dan kadang, jalan itu bernama darah.

Dan kau…
akan selamanya hidup dengan sunyi
yang pernah kupeluk
dalam diam.


Jumat, 10 April 2026

Nama yang Masih Bergema dalam Doa

Nama yang Masih Bergema dalam Doa
Nama yang Masih Bergema dalam Doa
https://id.pinterest.com/aisyahhh3232/kekasih-bayangan/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling kutakuti: diam-diam, tertib, dan penuh kehati-hatian. Tidak ada pelukan sebelum janji, tidak ada sentuhan selain doa yang kusebutkan pelan setiap selesai salat. Aku menyebut namamu seperti orang yang takut bersuara terlalu keras, khawatir Tuhan mengira aku meminta terlalu banyak.

Namun di sela doa itu, selalu ada bayangan yang menyusup. Nama lain. Wajah yang seharusnya sudah pergi, tetapi masih sering mengetuk ingatan tanpa permisi.

Kamulah cinta yang ingin kujaga kesuciannya. Tapi mantanku adalah bayangan yang tak mau mati.

Malam itu, kita duduk berhadapan di teras rumahmu. Lampu jalan redup, dan angin membawa bau tanah basah. Kamu tidak langsung bicara. Kamu selalu begitu—menunggu sampai hatimu siap melukai atau terluka.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” katamu akhirnya.

Aku mengangguk, meski jantungku mulai berlari.

“Kamu pernah benar-benar selesai dengan masa lalumu?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dada.

“Aku sudah berusaha,” jawabku.

Kamu tersenyum tipis. “Aku tidak bertanya apakah kamu berusaha. Aku bertanya apakah kamu sudah selesai.”

Aku menunduk. Diamku adalah jawabannya.

Kamu menarik napas panjang, lalu berkata lirih, seolah membaca puisi untuk dirimu sendiri:

“Aku tidak takut menjadi yang terakhir,
aku hanya takut mencintai
sementara hatimu masih
menoleh ke belakang.”

Kata-katamu menyesakkan. Aku ingin menyangkal, tapi kebohongan akan mencemari cinta yang ingin kujaga tetap suci.

“Aku tidak mencintainya lagi,” kataku cepat. “Tapi kenangannya… masih sering datang.”

Kamu menatapku lama. “Kenangan tidak datang tanpa diundang.”

Kalimat itu menusuk.

Mantan kekasihku adalah luka yang kututup rapi, bukan sembuh yang kuikhlaskan. Kami berpisah dengan cara yang salah—penuh emosi, penuh dosa, penuh janji yang tidak ditepati. Sejak itu aku belajar menata hidup, belajar mencintai Tuhan sebelum manusia, dan di sanalah aku bertemu kamu.

Kamu hadir seperti peneduh. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Kamu mencintaiku dengan cara yang tenang, seolah cinta adalah amanah, bukan nafsu.

Namun justru karena itu, ketegangan tumbuh.

Aku takut kehilanganmu. Kamu takut hanya menjadi pelarian.

Hari-hari setelah percakapan itu terasa berat. Kamu tidak menjauh, tapi tidak juga mendekat. Setiap pesanmu terasa formal, seolah kamu sedang menimbang apakah aku pantas untuk dilanjutkan.

Aku mencoba lebih khusyuk berdoa. Aku mencoba memotong ingatan yang tumbuh liar. Tapi bayangan mantanku seperti bayanganku sendiri—ke mana pun aku pergi, ia ikut.

Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di antara dua pintu. Satu bertuliskan namamu. Satu lagi bertuliskan masa lalu. Aku tahu pintu mana yang ingin kubuka, tapi kakiku gemetar.

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Paginya, pesan darimu masuk.

“Kita perlu bicara.”

Kami bertemu di sebuah masjid kecil selepas isya. Tempat yang seharusnya paling aman, justru menjadi arena paling jujur.

“Kamu kelihatan lelah,” katamu.

“Aku sedang berperang,” jawabku.

“Dengan siapa?”

“Dengan diriku sendiri.”

Kamu terdiam, lalu duduk di sampingku, menjaga jarak yang sopan.

“Aku mencintaimu,” katamu akhirnya. “Tapi aku tidak ingin cintaku berdiri di atas bayangan orang lain.”

Aku menggenggam sajadahku kuat-kuat.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku, hampir menangis.

Kamu memejamkan mata, lalu berkata dengan suara gemetar:

“Jika aku adalah doa yang kau pinta,
jangan sisipkan nama lain
di sela aminmu.
Tuhan mendengar segalanya,
termasuk keraguan.”

Air mataku jatuh. Aku merasa kecil, rapuh, dan bersalah.

“Aku ingin mencintaimu dengan bersih,” kataku. “Tapi bayangan itu datang tanpa izin.”

Kamu menatapku. “Tidak ada bayangan yang lebih kuat dari cahaya. Tapi kamu harus memilih ke mana kamu menghadap.”

Ketegangan mencapai puncaknya beberapa hari kemudian.

Mantan kekasihku menghubungiku. Pesan singkat. Netral. Tapi cukup untuk mengoyak.

“Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.”

Pesan itu seperti membuka pintu yang sudah hampir terkunci.

Aku tidak membalas. Tapi aku gemetar. Dan yang paling menyakitkan: aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut.

Akhirnya, aku datang juga.

“Aku dihubungi olehnya,” kataku jujur.

Kamu terdiam lama. Wajahmu tenang, tapi matamu lelah.

“Dan kamu datang ke sini,” katamu pelan. “Itu berarti sesuatu.”

“Aku memilih jujur,” kataku. “Karena aku tidak ingin cinta ini tercemar.”

Kamu tersenyum kecil, pahit tapi hangat.

“Cinta suci bukan tentang
tidak pernah tergoda,
tapi tentang keberanian
mengaku dan memilih.”

Aku menatapmu dengan mata basah. “Aku memilihmu.”

Kamu berdiri. Mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tercekat.

“Aku tidak akan memintamu melupakan,” katamu. “Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang, bukan tempatmu bersembunyi.”

Aku mengangguk.

Malam itu tidak berakhir dengan janji manis. Tidak ada pelukan. Tapi ada sesuatu yang lebih berat dan lebih jujur: komitmen untuk berjalan pelan, dengan cahaya di depan, bukan bayangan di belakang.

Saat kita berpisah, kamu berkata:

“Jika suatu hari bayangan itu datang lagi,
jangan lari dariku.
Pegang tanganku.
Kita hadapi bersama,
atau kita lepaskan dengan ikhlas.”

Aku pulang dengan langkah gemetar, tapi hati yang lebih tenang.

Cinta suci bukanlah cinta tanpa masa lalu. Ia adalah cinta yang berani mengakui luka, memilih kesembuhan, dan menolak kembali ke kegelapan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa tanpa menyebut nama selain namamu.

Bayangan itu masih ada. Tapi aku tidak lagi berjalan sendirian.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...