Di Antara Takbir dan Luka

 

Di Antara Takbir dan Luka
Ilustrasi Cerita Pendek Di Antara Takbir dan Luka


Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dalam doa dengan suara keras.
Aku hanya membisikkanmu di antara jeda napas dan sujud, berharap Tuhan tidak menganggapku lancang karena menyelipkan manusia di sela ibadah.

Malam itu, tarawih pertama Ramadhan, masjid penuh sesak. Saf rapat. Bau karpet bercampur wangi mukena yang baru disetrika. Aku berdiri di barisan laki-laki, kamu di balik hijab dan jarak yang dihalalkan oleh iman. Tidak ada tatap mata. Tidak ada senyum. Hanya kehadiran yang terasa—seperti getar yang tidak kasat mata.

Takbir pertama dikumandangkan.
Dan entah kenapa, dadaku ikut bergetar.

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menunggumu setiap tarawih. Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku bisa mengenalmu hanya dari caramu berdiri—tenang, lurus, seolah dunia tidak pernah mengganggumu. Kamu selalu datang lebih awal. Selalu di saf yang sama. Selalu dengan mukena abu-abu pucat yang jatuh lembut menutupi bahumu.

Aku belajar mencintaimu dengan cara paling aman:
tidak mendekat, tidak berharap, tidak memiliki.

Namun cinta, bahkan yang paling suci, tetaplah api. Ia hanya memilih tempat bersembunyi.

Setiap rakaat terasa panjang. Setiap ayat seolah menyebut namamu tanpa suara. Aku berusaha fokus pada imam, tapi pikiranku berkeliaran—membayangkan wajahmu di balik mukena itu. Apakah kamu menunduk? Apakah matamu terpejam khusyuk? Atau diam-diam kamu juga merasakan sesuatu yang tak berani diakui?


Aku jatuh cinta pada caramu diam,

pada punggungmu yang tegak dalam shalat,

pada jarak yang tak bisa kupendekkan,

namun selalu bisa kurindukan.


Usai tarawih, kita tidak pernah berjalan bersama. Tidak pernah berbincang. Bahkan tidak pernah saling menyapa. Tapi setiap kali kamu melangkah keluar masjid, aku selalu menunggu beberapa detik—cukup lama untuk memastikan kamu sudah aman, cukup singkat agar tak terlihat mencurigakan.

Malam-malam Ramadhan berjalan seperti itu. Sunyi. Indah. Menyiksa.

Sampai suatu malam, kamu terlambat datang.

Aku langsung tahu. Ada kegelisahan yang menjalar tanpa alasan. Saf perempuan hampir penuh saat kamu akhirnya masuk. Langkahmu tergesa. Mukena abu-abu itu sedikit kusut. Dan saat kamu berdiri, aku melihat bahumu bergetar—seperti seseorang yang menahan tangis.

Takbir dikumandangkan.
Dan aku kehilangan fokus sepenuhnya.

Doaku pecah. Bukan lagi tentang ampunan, tapi tentang kamu. Tentang ingin tahu apa yang terjadi. Tentang ingin memastikan kamu baik-baik saja. Perasaan itu membuatku merasa bersalah—seolah aku telah mencuri kekhusyukan untuk kepentingan hatiku sendiri.

Usai tarawih, kamu tidak langsung pulang. Kamu duduk di sudut masjid, menunduk lama. Aku ragu. Antara mendekat atau tetap menjadi bayangan yang setia.

Akhirnya aku memilih duduk tak jauh darimu. Cukup dekat untuk mendengar helaan napasmu. Cukup jauh untuk tidak melanggar batas.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku pelan.

Kamu terkejut. Menoleh. Untuk pertama kalinya, mata kita bertemu.

Dan dunia runtuh dengan cara paling halus.

“Aku…” suaramu bergetar. “Aku tidak tahu harus bercerita pada siapa.”

Aku menelan ludah. “Jika aku bukan siapa-siapa, kamu tidak harus menjawab.”

Kamu tersenyum tipis. Senyum yang patah.

“Kadang,” katamu, “orang asing justru lebih aman.”

Malam itu, kamu bercerita. Tentang keluarga yang menjodohkanmu. Tentang pernikahan yang akan berlangsung setelah Ramadhan. Tentang hatimu yang belum siap, tapi juga tidak cukup berani untuk menolak.

Aku mendengarkan dalam diam. Karena mencintaimu berarti siap kehilangan bahkan sebelum memiliki.


Jika cinta adalah ujian,

maka aku lulus dalam menahan diri,

namun gagal dalam menyembunyikan rasa,

yang terus tumbuh di setiap doa.


Sejak malam itu, jarak di antara kita berubah bentuk. Tidak menyempit, tapi menjadi lebih berat. Setiap tarawih, aku tahu: waktuku bersamamu terbatas. Setiap rakaat adalah hitungan mundur.

Kita mulai berbincang singkat. Selalu tentang hal ringan. Tentang ayat yang menyentuh. Tentang imam yang suaranya menenangkan. Tidak pernah tentang cinta—karena kita sama-sama tahu, cinta itu ada, dan justru karena itu tak boleh disebut.

“Apa kamu percaya,” tanyamu suatu malam, “bahwa mencintai juga bisa jadi ibadah?”

Aku mengangguk. “Jika tidak melukai.”

“Kita melukai diri sendiri,” katamu lirih.

Dan aku tidak bisa membantah.

Malam ke dua puluh satu Ramadhan, hujan turun deras. Masjid lebih sepi. Kita tarawih dengan saf renggang. Udara dingin. Hatiku panas.

Usai shalat, kamu berdiri lama di teras masjid. Aku mendekat.

“Ini tarawih terakhirku di sini,” katamu.

Aku terdiam.

“Aku akan dibawa keluargaku ke luar kota. Persiapan pernikahan.”

Ada detik panjang yang hancur di antara kita.

“Aku bahagia untukmu,” kataku—kalimat paling munafik yang pernah keluar dari mulutku.

Kamu menatapku. Matamu basah.

“Maaf,” bisikmu. “Aku mencintaimu… tapi aku memilih taat.”

Kata taat menamparku lebih keras dari penolakan.


Aku kalah bukan oleh lelaki lain,

melainkan oleh takdir yang lebih kau takuti,

dan aku mencintaimu justru karena itu.


Keesokan malamnya, aku tetap datang tarawih. Sendirian. Saf kosong di tempatmu berdiri terasa seperti luka yang menganga.

Dan di sanalah kabar itu datang.

Kecelakaan.
Perjalanan malam.
Kamu tidak selamat.

Aku tidak ingat bagaimana aku duduk. Bagaimana aku menangis. Yang aku ingat hanya satu: tarawih malam itu terputus di rakaat ketiga karena tubuhku gemetar hebat.

Di pemakamanmu, aku berdiri jauh. Tidak ada yang tahu siapa aku bagimu. Tidak ada yang tahu bahwa di balik nisan itu terkubur cinta paling suci yang tidak pernah memiliki kesempatan menjadi dosa.

Aku berdoa.
Dengan suara.
Tanpa menyebut namamu—karena Tuhan sudah lebih dulu mengenalnya.

Kini setiap Ramadhan, setiap tarawih, aku berdiri di saf yang sama. Menatap ruang kosong di seberang. Dan aku tahu, tidak semua cinta diciptakan untuk hidup lama.

Sebagian hanya datang
untuk mengajarkan
cara melepaskan
tanpa pernah benar-benar memiliki.

Aku mencintaimu.
Dalam diam.
Dan akan tetap begitu—
sampai doa pun tidak lagi sanggup mengucapkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Lonceng Akhir