Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu

Ilustrasi foto Di Balik Mimbar, Aku Kehilangan Kamu di ambil dari
media AI Untuk mengilustrasikan cerita pendek


Aku mengenalmu pertama kali bukan sebagai kekasih,
melainkan sebagai suara yang berdiri tegak di atas mimbar kayu,
menantang malam dengan pidato tentang perubahan.
Lampu-lampu aula memantulkan bayangmu—tegas, rapi, penuh keyakinan.
Dan entah mengapa, sejak saat itu, aku tahu:
politik akan mencintaimu lebih kejam daripada aku.

Kamu turun dari panggung dengan senyum yang dipelihara baik-baik.
Aku menyambutmu dengan tepuk tangan paling jujur,
sementara di sudut ruangan, dia berdiri—
perempuan dengan jas gelap, mata tajam, dan senyum yang tahu caranya menang.
Namanya sering disebut dalam rapat-rapat tertutup,
bisikannya lebih berbahaya dari teriakan demonstran.

“Dia cuma rekan,” katamu suatu malam.
Aku mengangguk, meski hatiku tidak.

“Jika cinta adalah pemilu,
aku kalah sebelum penghitungan suara,
karena namamu sudah lebih dulu
dipilih oleh ambisi.”

Kita sering bertemu diam-diam.
Bukan karena hubungan kita terlarang,
melainkan karena politik tak pernah suka pada perasaan.
Kamu bilang, jika aku muncul terlalu sering di sisimu,
lawan-lawanmu akan menjadikanku senjata.
Aku mengerti—atau berpura-pura mengerti.

Di balik pintu kantor partai,
aku mendengar namamu dibicarakan seperti barang dagangan.
Mereka menyusun masa depanmu dengan peta kekuasaan,
dan di setiap garis, aku tak pernah ada.

“Aku mencintaimu,” kataku suatu malam,
saat hujan mengetuk jendela seperti saksi yang tak diundang.

Kamu diam terlalu lama.
Diam yang lebih menyakitkan daripada penolakan.

“Aku juga,” jawabmu akhirnya,
“tapi aku sedang berjuang.”

Aku tersenyum,
karena aku tahu, dalam politik,
kata berjuang sering berarti mengorbankan seseorang.

“Jika aku harus gugur,
biarlah bukan oleh kebencian,
melainkan oleh keyakinanmu
bahwa aku memang tak sepenting jabatan.”

Dia mulai muncul lebih sering.
Di baliho, di konferensi pers, di foto-foto yang kau unggah tanpa keterangan.
Tangannya selalu terlalu dekat dengan lenganmu,
senyumnya terlalu yakin.

“Aku hanya strategi,” katanya suatu hari padaku,
saat kami bertemu tanpa sengaja di lorong gedung dewan.
“Kamu harus mengerti.”

Aku tertawa kecil.
Strategi memang selalu meminta pengertian dari yang tersakiti.

Sejak itu, aku dan kamu mulai berbicara dengan jarak.
Pesanmu singkat, sapaanmu dingin.
Kamu sibuk menyelamatkan citra,
sementara aku sibuk menyelamatkan diri dari cemburu.

“Apakah aku masih kamu butuhkan?” tanyaku.

Kamu menatap layar ponsel, bukan mataku.
“Aku butuh semua dukungan.”

Jawaban paling politis yang pernah kudengar.


“Aku bukan konstituen,

aku hanya hati yang berharap,

namun dalam daftar prioritasmu,

aku selalu berada di bawah garis aman.”


Malam menjelang pemilihan, kota ini seperti medan perang tanpa darah.
Spanduk, teriakan, janji-janji yang diulang seperti doa palsu.
Aku berdiri di antara kerumunan, melihat wajahmu di baliho raksasa.
Kamu tampak gagah—
dan asing.

Aku tahu malam itu kamu bersama dia.
Bukan sebagai kekasih, katamu dulu,
tapi sebagai simbol kestabilan politik.
Simbol yang lebih dibutuhkan daripada aku.

Saat hasil diumumkan, sorak-sorai pecah.
Kamu menang.
Aku kalah.

Kamu meneleponku setelah semuanya selesai.
Suaramu bergetar—entah lelah atau menyesal.

“Aku ingin bertemu.”

Kami bertemu di tempat lama,
kafe kecil yang dulu menjadi saksi janji-janji sederhana.
Sekarang, kamu datang dengan pengawal.
Aku datang dengan sisa keberanian.

“Aku tak pernah berniat meninggalkanmu,” katamu.
“Tapi aku terjebak.”

Aku menatapmu lama,
mencari lelaki yang dulu mencintaiku tanpa hitung-hitungan.

“Tidak,” jawabku pelan.
“Kamu tidak terjebak. Kamu memilih.”

“Cinta tak pernah memaksa,
ia hanya menunggu,
lalu pergi ketika tak lagi dipilih.”

Aku berdiri lebih dulu.
Tanganku gemetar, tapi langkahku tegas.
Di belakangku, kamu memanggil namaku—
kali ini bukan sebagai strategi,
melainkan sebagai penyesalan.

Aku tak menoleh.
Karena aku tahu,
jika aku menoleh,
aku akan kembali menjadi suara kecil
yang kalah oleh tepuk tangan kekuasaan.

Di luar, hujan turun lagi.
Seperti malam pertama aku jatuh cinta padamu.
Bedanya, kini aku belajar satu hal:

Di balik politik,
cinta selalu menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan.

“Jika suatu hari kamu menang lagi,
ingatlah ada satu hati
yang pernah kalah demi ambisimu,
dan tak pernah meminta balas suara.”

Aku pulang dengan dada kosong,
namun untuk pertama kalinya,
aku bebas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Cerita Pendek:Lonceng Akhir