Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir

 

Cerita Pendek:Penyesalan Tanpa Akhir


Malam itu hujan turun seperti paku-paku kecil yang ditancapkan ke atap seng rumah kontrakanku. Bunyi dentingannya berulang, kejam, seolah mengingatkanku bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menyalakan dan mematikan bayangan wajahku sendiri di cermin buram.

Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tembok yang dingin. Ponselku tergeletak di depan, layarnya retak, baterainya tinggal dua persen—seperti hidupku.

Pesan itu datang lagi.

“MALAM INI ATAU KAMI DATANG.”

Tanganku gemetar. Aku tertawa pelan, tapi yang keluar justru seperti erangan orang sakit.

“Datanglah,” bisikku. “Bukankah itu yang kamu mau?”

Semua ini berawal dari angka kecil. Dua juta rupiah. Jumlah yang saat itu terasa seperti penyelamat. Ibuku sakit, tagihan rumah sakit menumpuk, dan aku terlalu bodoh untuk berpikir panjang. Aplikasi itu tampak ramah—warna cerah, bunga-bunga, kata-kata manis tentang bantuan dan kemudahan.

Tujuh hari kemudian, dua juta berubah menjadi enam juta. Lalu delapan. Lalu dua belas.

Dan yang paling menyakitkan bukan bunganya—melainkan suaranya.

Suaranya yang pertama kali kudengar lewat telepon, berat, tenang, seolah ia tahu aku sudah kalah bahkan sebelum berbicara.

“Kamu masih punya waktu,” katanya dulu. “Jangan bikin kami repot.”

Malam ini, waktu itu habis.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.47 ketika ketukan itu datang.

Tok. Tok. Tok.

Pelan. Teratur. Sabar.

Aku menelan ludah, berdiri, dan berjalan ke pintu seperti narapidana menuju tiang gantungan. Kunci pintu berderit saat kubuka sedikit.

Dia berdiri di sana.

Jaket hitam, basah oleh hujan. Rambutnya klimis, wajahnya datar, matanya tajam seperti pisau dapur yang terlalu sering diasah. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum orang yang tahu dirinya berkuasa.

“Kamu lama,” katanya.

“Aku… aku belum punya uang,” jawabku lirih.

Dia tertawa kecil. “Aku tahu.”

Dia mendorong pintu dan masuk tanpa izin. Bau rokok dan hujan menyatu, mengisi ruang sempit itu. Dia melihat sekeliling, seolah menilai harga barang-barangku.

“Televisi rusak, kulkas kosong,” katanya. “Hidupmu memang payah, ya?”

Aku mengepalkan tangan. “Aku sudah berusaha.”

“Usaha?” Dia mendekat. “Usaha itu bayar. Bukan cerita sedih.”

Aku menatap lantai. “Beri aku waktu.”

“Waktu sudah kami beri. Sekarang kami ambil.”

Dia duduk di kursi, menyilangkan kaki, lalu menepuk-nepuk meja.

“Kamu tahu apa yang paling aku benci?” katanya.

Aku menggeleng.

“Orang yang berutang tapi masih berharap dikasihani.”

Dadaku sesak. “Aku cuma pinjam. Aku tidak berniat lari.”

“Tidak ada niat baik dalam utang,” katanya dingin. “Hanya kewajiban.”

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, menerangi ruangan sesaat. Dalam kilatan cahaya itu, aku melihat sesuatu di pinggangnya—tonjolan keras di balik jaket.

Aku mundur selangkah.

“Kamu takut?” tanyanya, tersenyum lebih lebar.

“Sedikit,” jawabku jujur.

“Itu bagus. Orang yang takut biasanya lebih patuh.”

Dia berdiri dan mendekat hingga jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa mencium napasnya.

“Kami bisa lakukan banyak hal,” katanya pelan. “Telepon kontakmu. Datang ke tempat kerjamu. Datang ke rumah ibumu.”

Nama ibuku disebut seperti ancaman, bukan sekadar kata.

“Jangan libatkan dia,” kataku cepat.

“Bayar.”

“Aku tidak punya apa-apa lagi!”

Dia menamparku.

Bukan keras, tapi cukup untuk membuat kepalaku terhuyung. Dunia berputar sesaat.

“Jangan berteriak,” katanya. “Tetangga tidak suka drama.”

Air mataku jatuh. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis seperti ini—bukan karena sakit, tapi karena malu.

“Aku menyesal,” kataku. “Setiap hari.”

“Penyesalan tidak bernilai,” jawabnya. “Uang yang bernilai.”

Dia berjalan ke dapur kecilku, membuka laci. Tangannya berhenti di pisau dapur—pisau tua dengan gagang kayu retak.

Aku menahan napas.

Dia mengangkat pisau itu, menimbangnya.

“Ini tajam?” tanyanya sambil menoleh.

“Cukup,” jawabku.

Dia tersenyum. “Bagus.”

Jantungku berdegup liar. “Apa yang akan kamu lakukan?”

“Memberi motivasi.”

Dia melangkah mendekat, pisau itu berkilat di bawah lampu neon yang berkedip. Tanganku refleks meraih gagang sapu di sudut ruangan—satu-satunya benda panjang yang bisa kujangkau.

“Kamu mau melawan?” tanyanya, tertawa. “Kamu lucu.”

“Aku capek,” kataku. “Aku benar-benar capek.”

Dia berhenti tepat di depanku. “Capek itu urusanmu. Utang itu urusanku.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku pecah.

Bukan marah. Bukan benci. Tapi keputusasaan yang begitu padat hingga berubah menjadi keberanian palsu.

“Aku tidak akan bayar,” kataku.

Dia terdiam. Senyumnya lenyap.

“Apa katamu?”

“Aku bilang… aku tidak akan bayar.”

Petir menyambar lagi. Dalam cahaya putih itu, aku melihat matanya menyipit.

“Kamu memilih jalan yang salah,” katanya pelan.

Dia mengangkat pisau.

Aku mengayunkan sapu itu sekuat tenaga.

Sapu itu mengenai pergelangan tangannya. Pisau terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Kami sama-sama terkejut—lalu bergerak bersamaan.

Dia menyerbu. Aku mundur, terpeleset oleh air hujan yang menetes dari jaketnya ke lantai. Kami jatuh. Tubuhnya menindihku, tangannya mencekik leherku.

“Nakal,” desisnya.

Penglihatanku menghitam. Aku meraba lantai, mencari apa saja. Jari-jariku menyentuh gagang kayu yang kukenal.

Pisau.

Dengan sisa tenaga, aku menghujamkannya ke tubuhnya.

Sekali.

Dia mengerang, tapi tidak berhenti.

Dua kali.

Tiga kali.

Tangannya melemah. Cekikannya terlepas. Tubuhnya roboh ke samping, berat, hangat, basah.

Aku terengah-engah, menatap langit-langit, mendengar hujan dan detak jantungku sendiri. Bau besi memenuhi udara.

“Aku… aku tidak mau,” bisikku, meski tahu dia tak lagi mendengar.

Aku bangkit perlahan. Dia terbaring diam, mata terbuka, menatap kosong ke arah lampu yang berkedip.

Pisau itu masih di tanganku. Tanganku gemetar hebat.

Di luar, hujan terus turun, seolah ingin mencuci malam dari dosa-dosa manusia.

Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, kini ada tubuh tak bernyawa beberapa langkah dariku.

Ponselku berbunyi lagi.

Pesan baru.

“SUDAH SELESAI?”

Aku menatap layar itu lama sekali. Lalu aku tertawa—tawa pendek, pecah, nyaris seperti tangisan.

“Sudah,” kataku pada ruangan kosong.

Penyesalan itu datang terlambat. Tidak ada angka yang bisa menghapus darah di lantai. Tidak ada bunga yang bisa menumbuhkan kembali hidup yang hilang—baik hidupnya, maupun hidupku.

Malam itu, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan aplikasi mana pun:

Ada utang yang bisa dibayar dengan uang.
Dan ada utang yang hanya bisa dibayar dengan jiwa.

Dan penyesalan—ia tidak pernah mengenal kata lunas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Puisi:Kenangan di Tepi Meja