Utang yang Tidak Pernah Tidur
Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Bukan sekadar gelap karena listrik di gangku sering redup, tetapi gelap yang seperti menekan dada. Angin malam merayap lewat celah jendela kontrakan yang setengah lapuk, membawa suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Aku duduk sendirian di lantai ruang tamu yang sempit. Lampu kuning yang menggantung di langit-langit berkedip-kedip seperti napas yang hampir putus.
Di depanku, ponselku menyala.
Ada puluhan pesan.
Semua dari nomor yang berbeda.
Semua dengan nada yang sama.
Tanganku gemetar ketika membaca satu pesan terakhir.
“Malam ini kami datang.”
Aku memejamkan mata.
Semuanya bermula dari satu keputusan bodoh.
Dua juta rupiah.
Saat itu ibuku sakit dan aku tidak punya pilihan lain. Bank menolak. Teman-teman menghilang. Aplikasi pinjaman online muncul seperti malaikat penyelamat.
Prosesnya mudah. Terlalu mudah.
Foto KTP. Foto wajah. Klik setuju.
Uang cair.
Tapi yang tidak kutahu adalah harga dari kemudahan itu.
Bunga yang mencekik.
Ancaman yang tidak pernah tidur.
Dan suara laki-laki itu.
Suara yang pertama kali kudengar seminggu setelah jatuh tempo.
Tenang. Dingin. Tidak terburu-buru.
“Selamat malam,” katanya saat itu. “Saya hanya ingin mengingatkan kewajiban Anda.”
Aku menelan ludah.
“Aku sedang berusaha,” kataku.
Dia tertawa kecil di telepon.
“Semua orang bilang begitu.”
Namanya Raka.
Seorang dekoleptor.
Seorang pria yang pekerjaannya mengubah rasa takut menjadi uang.
Dan malam ini… dia datang.
Jam dinding berdetak keras.
22.53.
Hujan mulai turun. Perlahan, seperti seseorang yang mengetuk bumi dengan jari-jari dingin.
Aku mencoba bernapas pelan.
Namun tiba-tiba—
TOK. TOK. TOK.
Ketukan itu datang.
Tidak keras.
Tidak terburu-buru.
Tetapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.
Aku tahu itu dia.
Aku berdiri dengan kaki gemetar. Langkahku terasa berat seperti menyeret batu.
Ketika pintu kubuka sedikit, seorang pria berdiri di bawah cahaya lampu gang.
Jaket hitamnya basah oleh hujan.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Dia tersenyum tipis.
“Selamat malam,” katanya.
Suaranya sama seperti di telepon.
“Raka…” bisikku.
“Ya.”
Dia mendorong pintu dan masuk tanpa menunggu izin. Bau rokok dan hujan masuk bersamanya.
Dia melihat sekeliling ruangan sempitku.
“Kamu hidup seperti ini?” katanya datar.
Aku tidak menjawab.
Dia duduk di kursi kayu tua dan menatapku.
“Jadi,” katanya pelan. “Mana uangku?”
Aku menggenggam tangan.
“Aku belum punya.”
Dia tertawa kecil.
“Aku sudah tahu jawabannya.”
Aku menatap lantai.
“Beri aku waktu lagi.”
Dia menggeleng perlahan.
“Kamu sudah diberi waktu.”
“Sebentar saja…”
Dia tiba-tiba berdiri.
Langkahnya pelan mendekatiku.
“Kamu tahu,” katanya, “aku sudah bertemu ratusan orang sepertimu.”
Aku menelan ludah.
“Orang yang menangis. Orang yang memohon. Orang yang berjanji.”
Dia berhenti tepat di depanku.
“Tapi akhirnya mereka semua sama.”
“Apa maksudmu?”
“Mereka tetap tidak membayar.”
Aku mengepalkan tangan.
“Aku bukan penipu.”
“Utang yang tidak dibayar tetaplah penipuan.”
Aku mulai merasa dadaku panas.
“Aku benar-benar kesulitan.”
Dia mendengus.
“Kesulitanmu bukan urusanku.”
Petir menyambar di luar.
Cahaya putih menerangi wajahnya sesaat. Di pinggangnya terlihat sesuatu—gagang pisau lipat.
Aku menelan ludah.
“Apa kamu akan menyakitiku?”
Dia tersenyum dingin.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung kamu.”
Dia mengeluarkan ponselnya.
“Kalau malam ini kamu tidak bayar, besok aku kirim foto KTP-mu ke semua kontakmu.”
Aku membeku.
“Jangan…”
“Semua orang akan tahu kamu penipu.”
Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam dadaku.
“Aku mohon…”
“Uang,” katanya singkat.
“Aku tidak punya!”
Dia menatapku lama.
Kemudian suaranya berubah dingin.
“Kalau begitu… kita pakai cara lain.”
Dia berjalan ke dapur kecilku. Tangannya membuka laci.
Di sana ada pisau dapur.
Dia mengangkatnya perlahan.
“Lumayan tajam.”
Aku mundur.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Dia mendekat dengan pisau di tangan.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “rasa sakit bisa membuat orang menemukan uang yang tadinya tidak ada.”
Jantungku berdegup keras.
“Raka… berhenti.”
Dia tertawa.
“Kamu takut?”
“Tentu saja!”
“Itu bagus.”
Dia melangkah semakin dekat.
Aku mundur sampai punggungku menabrak tembok.
“Utangmu sekarang lima belas juta,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kamu akan bayar?”
Aku menatap matanya.
Di sana tidak ada belas kasihan.
Tidak ada manusia.
Hanya pekerjaan.
“Aku tidak punya apa-apa lagi,” kataku.
Dia menghela napas panjang.
“Kalau begitu kita buang waktu.”
Dia mengangkat pisau.
Saat itulah sesuatu di dalam diriku pecah.
Semua rasa takut. Semua rasa malu. Semua penyesalan.
Aku melihat gagang wajan di meja dapur.
Refleks, aku meraihnya.
DUAK!
Aku memukul tangannya.
Pisau jatuh ke lantai.
Kami sama-sama terkejut.
Kemudian dia menyerang.
Kami bergulat di lantai.
Tangannya mencengkeram leherku.
“Kamu gila!” bentaknya.
Aku meraba lantai dengan panik.
Tanganku menyentuh sesuatu.
Pisau itu.
Aku menggenggamnya tanpa berpikir.
“Lepaskan aku!” teriakku.
Dia menekan leherku lebih keras.
“Bodoh! Kamu pikir bisa kabur?”
Penglihatanku mulai gelap.
Dengan sisa tenaga yang ada—
Aku menusuk.
Sekali.
Tubuhnya kaku.
Dua kali.
Dia terengah.
Tiga kali.
Tangannya terlepas dari leherku.
Dia mundur beberapa langkah lalu jatuh ke lantai.
Sunyi.
Hanya suara hujan.
Aku duduk terengah-engah. Pisau itu masih di tanganku.
“Raka…?” bisikku.
Dia tidak menjawab.
Darah merembes di lantai.
Matanya terbuka tapi kosong.
Aku baru menyadari apa yang kulakukan.
“Aku… tidak ingin…”
Suaraku pecah.
Tanganku gemetar.
Ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar.
Pesan baru.
“Apakah sudah selesai?”
Aku menatap tubuh di lantai.
Kemudian menatap layar ponsel.
Tiba-tiba aku tertawa.
Tawa yang terasa seperti tangisan.
“Sudah,” bisikku.
Hujan di luar semakin deras.
Malam terasa lebih dingin.
Aku menatap darah di tanganku.
Utangku memang selesai.
Tapi hidupku juga.
Dan penyesalan itu—
tidak akan pernah berhenti menagihku.

Komentar
Posting Komentar