Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat. Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada.
Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu.
Lara jatuh cinta pada Arga.
Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu.
Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda.
Ia tersenyum tipis.
“Aku takut melukai orang yang baik.”
Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum sempat meminta maaf.
Di antara kami, sunyi menjadi bahasa paling jujur.
Aku menulis puisi malam itu, puisi yang tak pernah kubacakan:
Aku mencintaimu dalam diam,
seperti doa yang lupa kusebutkan namanya.
Jika cinta adalah luka,
biarlah aku yang berdarah lebih dulu.
Hari-hari berlalu, dan Lara semakin sering menyebut nama Arga dalam ceritanya. Tertawa yang dulu hanya untukku, kini terbagi. Aku belajar tersenyum tanpa suara.
Suatu malam, hujan turun tanpa aba-aba. Kami berteduh di bawah kanopi halte tua.
“Aku mencintai Arga… tapi aku juga tak ingin kehilanganmu.”
Aku tertawa kecil—tawa yang pecah di tenggorokan.
“Cinta bukan soal tidak kehilangan,” kataku. “Cinta adalah siap kehilangan.”
Aku melangkah pergi sebelum air mataku jatuh lebih dulu.
Malam itu, Arga mencariku.
Aku mengangguk.
Cinta tidak selalu tentang siapa yang lebih dulu datang,
tapi siapa yang lebih dulu menyerah.
Dan malam ini,
akulah yang memilih kalah.
Aku berpikir semuanya akan berakhir di sana—dengan aku yang menjauh, mereka yang bersama. Tapi takdir selalu menyimpan cara paling kejam untuk mengakhiri cerita.
Beberapa minggu kemudian, Lara meneleponku di tengah malam. Suaranya panik, terputus-putus.
“Arga… dia pergi.”
Aku berlari ke rumah sakit dengan dada yang sesak. Bau antiseptik, suara langkah cepat, dan tangisan yang tidak punya arah.
Arga mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya tergelincir di tikungan basah. Dokter berkata terlambat.
Lara duduk di lantai lorong, memeluk lututnya.
Aku tak tahu harus berkata apa. Kata-kata kehilangan maknanya di hadapan kematian.
Aku hanya duduk di sampingnya.
Ada cinta yang mati tanpa sempat hidup,
ada rindu yang tumbuh tanpa pernah disambut.
Jika Tuhan mengambilnya lebih dulu,
mungkin Dia tahu kami tak akan kuat.
Hari pemakaman tiba. Hujan turun pelan, seperti ikut berkabung. Lara berdiri kaku, wajahnya pucat, matanya kosong.
Setelah semua orang pergi, ia menatap batu nisan itu lama sekali.
“Kenapa bukan aku?” katanya pelan.
Ia menoleh padaku, matanya basah.
“Aku tidak tahu bagaimana hidup setelah ini.”
Aku ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa aku masih di sini. Tapi cinta yang tumbuh dari kematian selalu menyisakan rasa bersalah.
“Aku juga tidak tahu,” kataku jujur. “Tapi kita bisa belajar… perlahan.”
Ia menggeleng.
“Aku mencintaimu,” katanya tiba-tiba. “Tapi tidak seperti yang seharusnya.”
Aku tersenyum—senyum paling lelah yang pernah kupunya.
“Aku tahu.”
Cinta tidak selalu ingin dimiliki,kadang ia hanya ingin dimengerti.Dan malam ini,aku memilih mencintaimu tanpa berharap kau kembali.
Beberapa bulan kemudian, Lara pindah kota. Ia meninggalkan pesan singkat:
Terima kasih telah mencintaiku tanpa memaksaku memilih.
Aku menyimpan pesan itu seperti luka yang tidak ingin sembuh.
Karena cinta segitiga kami tidak benar-benar berakhir. Ia hanya kehilangan satu sudutnya—dan meninggalkan dua hati yang belajar hidup dengan kehilangan.
Dan aku tahu, ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk bahagia, hanya untuk dikenang.
Jika suatu hari kau bahagia dengan orang lain,jangan ingat aku sebagai luka.Ingat aku sebagai seseorangyang pernah mencintaimu tanpa syarat.
Komentar
Posting Komentar