Tampilkan postingan dengan label artikelpemerintah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikelpemerintah. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2026

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan

Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan
Luka yang Tidak Memilih Siapa yang Bertahan


Aku mencintai Lara lebih lama dari yang bisa kuingat. Bahkan sebelum ia tahu cara menyebut namaku dengan benar, sebelum ia tahu bahwa tatapan bisa menjadi doa yang tak pernah diucapkan. Aku ada di sana—di balik jarak, di balik diam, di balik semua ketakutan yang kusembunyikan di dada.

Namun cinta, seperti hujan, tidak pernah bertanya siapa yang paling lama menunggu.

Lara jatuh cinta pada Arga.

Arga adalah jenis lelaki yang tidak perlu berusaha keras untuk dicintai. Senyumnya ringan, suaranya tenang, dan kehadirannya seperti rumah bagi mereka yang lelah. Ia sahabatku. Atau setidaknya, dulu.

Kami bertiga sering duduk di kafe kecil dekat stasiun, membiarkan sore larut tanpa agenda.

“Aku percaya cinta itu sederhana,” kata Lara suatu hari, memandangi gelas kopinya.
“Kalau sederhana, kenapa kamu terlihat ragu?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis.

“Aku takut melukai orang yang baik.”

Arga menatapku sekilas. Ada sesuatu di matanya—rasa bersalah yang belum sempat meminta maaf.

Di antara kami, sunyi menjadi bahasa paling jujur.

Aku menulis puisi malam itu, puisi yang tak pernah kubacakan:

Aku mencintaimu dalam diam,

seperti doa yang lupa kusebutkan namanya.

Jika cinta adalah luka,

biarlah aku yang berdarah lebih dulu.

Hari-hari berlalu, dan Lara semakin sering menyebut nama Arga dalam ceritanya. Tertawa yang dulu hanya untukku, kini terbagi. Aku belajar tersenyum tanpa suara.

Suatu malam, hujan turun tanpa aba-aba. Kami berteduh di bawah kanopi halte tua.

“Aku harus jujur,” kata Lara akhirnya. Suaranya bergetar.
“Apa pun itu, aku sudah siap,” jawabku, meski sebenarnya aku tidak.

“Aku mencintai Arga… tapi aku juga tak ingin kehilanganmu.”

Aku tertawa kecil—tawa yang pecah di tenggorokan.

“Cinta bukan soal tidak kehilangan,” kataku. “Cinta adalah siap kehilangan.”

Aku melangkah pergi sebelum air mataku jatuh lebih dulu.

Malam itu, Arga mencariku.

“Kita tak bermaksud menyakitimu,” katanya lirih.
“Aku tahu,” jawabku. “Justru itu yang paling menyakitkan.”

Ia menunduk.
“Aku mencintainya.”

Aku mengangguk.


Cinta tidak selalu tentang siapa yang lebih dulu datang,

tapi siapa yang lebih dulu menyerah.

Dan malam ini,

akulah yang memilih kalah.

Aku berpikir semuanya akan berakhir di sana—dengan aku yang menjauh, mereka yang bersama. Tapi takdir selalu menyimpan cara paling kejam untuk mengakhiri cerita.

Beberapa minggu kemudian, Lara meneleponku di tengah malam. Suaranya panik, terputus-putus.

“Arga… dia pergi.”

Aku berlari ke rumah sakit dengan dada yang sesak. Bau antiseptik, suara langkah cepat, dan tangisan yang tidak punya arah.

Arga mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya tergelincir di tikungan basah. Dokter berkata terlambat.

Lara duduk di lantai lorong, memeluk lututnya.

“Dia belum sempat tahu,” bisiknya saat aku mendekat.
“Tahu apa?”
“Bahwa aku memilihnya… sepenuhnya.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Kata-kata kehilangan maknanya di hadapan kematian.

Aku hanya duduk di sampingnya.


Ada cinta yang mati tanpa sempat hidup,

ada rindu yang tumbuh tanpa pernah disambut.

Jika Tuhan mengambilnya lebih dulu,

mungkin Dia tahu kami tak akan kuat.


Hari pemakaman tiba. Hujan turun pelan, seperti ikut berkabung. Lara berdiri kaku, wajahnya pucat, matanya kosong.

Setelah semua orang pergi, ia menatap batu nisan itu lama sekali.

“Kenapa bukan aku?” katanya pelan.

Aku menahan napas.
“Karena mungkin kamu masih dibutuhkan,” jawabku.

Ia menoleh padaku, matanya basah.

“Aku tidak tahu bagaimana hidup setelah ini.”

Aku ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa aku masih di sini. Tapi cinta yang tumbuh dari kematian selalu menyisakan rasa bersalah.

“Aku juga tidak tahu,” kataku jujur. “Tapi kita bisa belajar… perlahan.”

Ia menggeleng.

“Aku mencintaimu,” katanya tiba-tiba. “Tapi tidak seperti yang seharusnya.”

Aku tersenyum—senyum paling lelah yang pernah kupunya.

“Aku tahu.”

Cinta tidak selalu ingin dimiliki,
kadang ia hanya ingin dimengerti.
Dan malam ini,
aku memilih mencintaimu tanpa berharap kau kembali.

Beberapa bulan kemudian, Lara pindah kota. Ia meninggalkan pesan singkat:

Terima kasih telah mencintaiku tanpa memaksaku memilih.

Aku menyimpan pesan itu seperti luka yang tidak ingin sembuh.

Karena cinta segitiga kami tidak benar-benar berakhir. Ia hanya kehilangan satu sudutnya—dan meninggalkan dua hati yang belajar hidup dengan kehilangan.

Dan aku tahu, ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk bahagia, hanya untuk dikenang.

Jika suatu hari kau bahagia dengan orang lain,
jangan ingat aku sebagai luka.
Ingat aku sebagai seseorang
yang pernah mencintaimu tanpa syarat.


Sabtu, 07 Juni 2025

Raja Ampat: Surga yang Hendak Dijual Demi Tambang Nikel

saverajaampat
Raja Ampat: Surga yang Hendak Dijual Demi Tambang Nikel
ilustrasi Foto by (https://www.google.com/search?=saverajampat&udm=)


Di ujung timur Indonesia, Tuhan mengguratkan surga yang tak ada duanya: Raja Ampat. Gugusan pulau-pulau karst, laut sebening kristal, dan keanekaragaman hayati laut yang menjadikannya salah satu pusat biodiversitas dunia. Namun kini, surga itu tengah dirundung ancaman besar: tambang nikel.

Pemerintah, melalui Kementerian ESDM dan berbagai instrumen perizinannya, membuka jalan bagi perusahaan tambang untuk masuk ke jantung konservasi Raja Ampat. Ironisnya, langkah ini justru diambil saat dunia sedang memuji Indonesia atas kekayaan alam Papua. Apa yang lebih paradoks dari pemerintah yang mempromosikan ecotourism di satu sisi, namun diam-diam menggali kuburan ekologis di sisi lain?



Tambang Nikel: Berkah Siapa, Petaka Siapa?

Dalih pemerintah sederhana: tambang nikel adalah "kebutuhan strategis nasional." Katanya, ini untuk menunjang industri baterai kendaraan listrik, demi transisi energi bersih. Namun, di balik jargon ramah lingkungan itu tersembunyi wajah muram keserakahan.

Pertama, mari kita tanyakan: siapa yang paling diuntungkan dari tambang ini? Rakyat Papua? Jelas bukan. Proyek-proyek besar semacam ini sudah berkali-kali terbukti tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal. Yang didapat warga hanyalah jalan rusak, sungai tercemar, dan tubuh-tubuh lelah akibat menjadi buruh kasar di tanah sendiri. Sementara itu, kekayaan nikel mengalir ke konglomerat dan elite politik di Jakarta.

Kedua, mengapa Raja Ampat? Dari sekian banyak wilayah di Indonesia, mengapa harus kawasan konservasi laut kelas dunia ini yang jadi sasaran? Ini menunjukkan betapa serakahnya penguasa dalam mengeksploitasi sumber daya alam tanpa perhitungan jangka panjang. Raja Ampat bukan hanya milik Papua, tapi warisan dunia. Mengorbankannya demi tambang adalah tindakan kejahatan ekologis yang tak bisa dimaafkan.




Pemerintah: Tuli Terhadap Suara Rakyat

Gelombang penolakan datang dari masyarakat adat Moi Kelim, pemilik hak ulayat atas wilayah tambang yang direncanakan. Mereka dengan tegas menolak eksplorasi tambang nikel. Namun, seperti biasa, suara rakyat Papua hanya dianggap deru angin lalu. Jakarta terlalu jauh untuk mendengar, dan terlalu sibuk menghitung keuntungan.

Pemerintah pusat terus mendorong investasi, memuluskan perizinan, dan menjanjikan kompensasi seolah nyawa, tanah, dan warisan budaya bisa dibeli dengan uang. Ini adalah bentuk kolonialisme gaya baru—dengan corak legalitas yang dirancang sedemikian rupa agar penguasaan tanah oleh korporasi besar tampak sah di mata hukum, walau tidak pernah sah di hati rakyat.

Lebih parahnya lagi, pemerintah daerah pun mulai ikut bermain, tergiur dengan janji bagi hasil tambang. Padahal, pengalaman dari daerah lain seperti Morowali dan Halmahera menunjukkan bahwa dampak sosial dan lingkungan dari tambang nikel jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.



Kerusakan yang Tak Akan Bisa Ditebus

Tambang bukan sekadar lubang di tanah, tapi lubang dalam peradaban. Sekali tanah itu digali, ekosistem akan berubah selamanya. Lumpur dan limbah tambang akan mencemari perairan Raja Ampat yang selama ini menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Penelitian membuktikan bahwa bahkan tumpahan kecil dari aktivitas tambang bisa menyebabkan kematian terumbu karang dalam hitungan minggu.

Apakah pemerintah siap menanggung biaya ekologis ini? Tidak. Karena mereka tidak pernah membayar biaya ekologis. Yang membayar adalah rakyat—dalam bentuk hilangnya sumber makanan, air bersih, dan kebudayaan.

Lebih dari itu, anak-anak Papua akan mewarisi tanah yang terluka, hutan yang gundul, dan laut yang mati. Mereka tak akan tahu bagaimana rasanya berenang di air sebening kristal, atau menyelam bersama ikan-ikan yang dulu memenuhi cerita kakek-nenek mereka. Pemerintah tidak hanya menghancurkan alam, tapi juga menghapus ingatan kolektif sebuah bangsa.



Kritik: Pemerintah Tanpa Kompas Moral

Sudah saatnya kita mempertanyakan arah moral kebijakan negara ini. Di mana logika kepemimpinan ketika pemerintah lebih mendengar suara korporasi daripada jeritan masyarakat adat? Di mana hati nurani ketika kekayaan jangka pendek lebih dipilih daripada kelestarian jangka panjang?

Jika pemerintah benar-benar peduli pada masa depan, mereka seharusnya melindungi Raja Ampat mati-matian. Bukan malah menandatangani kematian ekologisnya dengan izin tambang. Dunia luar tahu betapa berharganya Raja Ampat—mengapa justru pemerintah sendiri yang paling dulu menghianatinya?




Raja Ampat Harus Dilindungi, Bukan Dijual

Raja Ampat bukan komoditas. Ia adalah identitas, sejarah, dan harapan. Menjadikannya ladang tambang adalah bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi, terhadap janji kesejahteraan, dan terhadap martabat bangsa Papua.

Pemerintah harus segera mencabut izin tambang nikel di Raja Ampat. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat: bahwa negara ini pernah menghancurkan surga demi seonggok logam, dan bahwa mereka yang seharusnya melindungi justru menjadi algojo utama kehancuran.


Jika Anda ingin artikel ini disebar di media sosial, blog, atau dikembangkan menjadi naskah video YouTube, saya siap bantu menyesuaikan format dan gaya penulisannya. Ingin dibuat versi viralnya juga?

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...