![]() |
| “Puisi Terakhir Sebelum Darah” |
Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam.
Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati.
“Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku.
Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.”
Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati.
Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam.
Namanya Arman.
Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuka pintu neraka dengan tanganku sendiri.
Hari-hari menjadi aneh sejak itu.
Kau mulai sering menyebut namanya dalam percakapan kita. Tentang bagaimana ia menertawakan kesedihanmu, bagaimana ia menggenggam tanganmu saat kau gemetar. Aku mendengarkan, pura-pura kuat, sementara hatiku mulai retak seperti kaca tua.
Kalimat itu jatuh seperti hujan batu di dadaku.
Aku menjawab dengan puisi—karena hanya itu yang tersisa dariku.
Kau menangis. Tapi tangismu tak memilih siapa yang akan kau peluk setelahnya.
Ketegangan tumbuh. Arman mulai menjauh dariku, tapi mendekatimu. Tatapannya kepadaku berubah: bukan lagi saudara, melainkan pesaing. Setiap pertemuan menjadi arena sunyi penuh pisau tak terlihat.
Hingga malam itu datang.
Rumah itu kosong, lembap, dan berbau kayu lapuk. Lampu redup menggantung seperti saksi yang lelah. Kau berdiri di tengah ruang tamu, wajahmu pucat, matamu merah.
Aku menutup mata. Dalam gelap, aku membaca puisi untuk diriku sendiri:
Pintu terbuka. Arman masuk. Hujan mengalir di rambutnya seperti air mata yang terlambat. Ia menatapmu, lalu menatapku.
“Kau tak bisa memilikinya sendiri,” katanya padaku. “Ia bukan milik siapa pun.”
Kata-kata berubah menjadi teriakan. Masa lalu kami—tawa, janji, persaudaraan—runtuh satu per satu. Kau berusaha menengahi, tapi cinta yang terluka tak pernah mau mendengar.
Di atas meja tua itu, pisau berkilat redup. Entah siapa yang lebih dulu menyentuhnya. Entah kapan logika meninggalkanku. Yang kutahu hanya satu: amarah akhirnya menemukan bentuk.
Ada dorongan. Ada perlawanan. Ada jerit namaku dari bibirmu.
Dan kemudian—darah.
Bukan percikan yang kujelaskan. Bukan detail yang kupuja. Hanya warna merah yang mengotori lantai, seperti mawar yang mekar di tempat yang salah. Arman terhuyung, matanya menatapku dengan keheranan yang lebih menyakitkan daripada kebencian.
Ia jatuh.
Sunyi menyergap ruangan, lebih keras dari teriakan mana pun.
Kau berlutut, tangismu pecah. Tanganmu gemetar menyentuh tubuh yang tak lagi bernapas. Kau menoleh padaku, dan di matamu aku melihat sesuatu mati untuk selamanya.
Aku menjatuhkan pisau. Tanganku merah. Dadaku kosong.
Aku ingin berkata aku mencintaimu. Tapi cinta tak lagi punya bahasa di ruangan itu.
Kini aku menulis ini dari tempat yang tak punya jendela. Setiap malam, aku mendengar hujan dalam kepalaku. Setiap malam, puisimu kembali, menusuk seperti doa yang gagal:

Komentar
Posting Komentar