Langsung ke konten utama

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”

“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”

“Puisi Terakhir Sebelum Darah”


Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam.

Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati.

“Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku.

Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.”

Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati.

Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam.

Namanya Arman.

Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuka pintu neraka dengan tanganku sendiri.

Hari-hari menjadi aneh sejak itu.

Kau mulai sering menyebut namanya dalam percakapan kita. Tentang bagaimana ia menertawakan kesedihanmu, bagaimana ia menggenggam tanganmu saat kau gemetar. Aku mendengarkan, pura-pura kuat, sementara hatiku mulai retak seperti kaca tua.

Suatu malam, di bawah lampu jalan yang berkedip, kau berkata pelan,
“Aku takut mencintai dua orang.”

Kalimat itu jatuh seperti hujan batu di dadaku.

Aku menjawab dengan puisi—karena hanya itu yang tersisa dariku.

“Jika cintamu adalah sungai,
aku rela tenggelam sendirian.
Asal bukan kau yang menenggelamkanku
dengan dua tangan.”

Kau menangis. Tapi tangismu tak memilih siapa yang akan kau peluk setelahnya.

Ketegangan tumbuh. Arman mulai menjauh dariku, tapi mendekatimu. Tatapannya kepadaku berubah: bukan lagi saudara, melainkan pesaing. Setiap pertemuan menjadi arena sunyi penuh pisau tak terlihat.

Hingga malam itu datang.

Kau mengirim pesan singkat:
Temui aku di rumah lama ayahku. Aku tak sanggup menunda pilihan.

Rumah itu kosong, lembap, dan berbau kayu lapuk. Lampu redup menggantung seperti saksi yang lelah. Kau berdiri di tengah ruang tamu, wajahmu pucat, matamu merah.

“Aku mencintaimu,” katamu padaku.
“Dan aku juga mencintainya.”

Aku menutup mata. Dalam gelap, aku membaca puisi untuk diriku sendiri:

“Cinta yang dibagi
adalah luka yang dipelihara.
Ia tumbuh, bernapas,
dan suatu hari akan meminta darah.”

Pintu terbuka. Arman masuk. Hujan mengalir di rambutnya seperti air mata yang terlambat. Ia menatapmu, lalu menatapku.

“Kau tak bisa memilikinya sendiri,” katanya padaku. “Ia bukan milik siapa pun.”

Aku tertawa—tawa patah orang yang sudah kehilangan segalanya.
“Dan kau lupa,” balasku, “bahwa pengkhianatan juga memilih.”

Kata-kata berubah menjadi teriakan. Masa lalu kami—tawa, janji, persaudaraan—runtuh satu per satu. Kau berusaha menengahi, tapi cinta yang terluka tak pernah mau mendengar.

Di atas meja tua itu, pisau berkilat redup. Entah siapa yang lebih dulu menyentuhnya. Entah kapan logika meninggalkanku. Yang kutahu hanya satu: amarah akhirnya menemukan bentuk.

Ada dorongan. Ada perlawanan. Ada jerit namaku dari bibirmu.

Dan kemudian—darah.

Bukan percikan yang kujelaskan. Bukan detail yang kupuja. Hanya warna merah yang mengotori lantai, seperti mawar yang mekar di tempat yang salah. Arman terhuyung, matanya menatapku dengan keheranan yang lebih menyakitkan daripada kebencian.

Ia jatuh.

Sunyi menyergap ruangan, lebih keras dari teriakan mana pun.

Kau berlutut, tangismu pecah. Tanganmu gemetar menyentuh tubuh yang tak lagi bernapas. Kau menoleh padaku, dan di matamu aku melihat sesuatu mati untuk selamanya.

“Kau membunuhnya,” bisikmu.
“Dan kau membunuh cintaku.”

Aku menjatuhkan pisau. Tanganku merah. Dadaku kosong.

Aku ingin berkata aku mencintaimu. Tapi cinta tak lagi punya bahasa di ruangan itu.

Kini aku menulis ini dari tempat yang tak punya jendela. Setiap malam, aku mendengar hujan dalam kepalaku. Setiap malam, puisimu kembali, menusuk seperti doa yang gagal:

“Aku adalah cinta
yang tak belajar memilih.
Maka manusia lain
yang memilih untuk berdarah.”

Aku mencintaimu.
Dan karena cinta itu, aku menjadi kisah yang tak boleh diulang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...