Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
Malam Minggu di Malioboro: Di Antara Denyut Lampu, Angkringan, dan Aroma Kerinduan foto by_ tourjogja.com Di sebuah malam minggu yang lembut, saat langit Yogyakarta menggantungkan bulan separuh luka di atas kepala, langkah kaki saya menjejak lantai kota dengan napas pelan—seperti baru saja selesai berdoa. Bukan menuju masjid, bukan pula ke keramaian pesta. Saya melangkah ke satu tempat yang selalu menyimpan nostalgia: Malioboro . Jantung kota yang tak pernah benar-benar tidur, bahkan saat waktu menua dan lampu-lampu kota kehilangan nyalanya sendiri. Malam itu, Malioboro bukan sekadar nama jalan. Ia menjelma tubuh raksasa : nadi berdenyut di setiap langkah kaki wisatawan, nafas terasa dari gerobak angkringan yang mengepul di sudut trotoar, dan suara—ah, suara!—bercampur antara rintik gamelan dari radio tua dan suara pedagang asongan yang menawarkan gantungan kunci berbentuk andong. Langkah saya berhenti di depan Gedung Agung. Di sana, sekelompok anak muda berseragam SMA duduk bersil...