Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...

Malam Minggu di Malioboro: Di Antara Denyut Lampu, Angkringan, dan Aroma Kerinduan

Malam Minggu di Malioboro: Di Antara Denyut Lampu, Angkringan, dan Aroma Kerinduan foto by_tourjogja.com


Di sebuah malam minggu yang lembut, saat langit Yogyakarta menggantungkan bulan separuh luka di atas kepala, langkah kaki saya menjejak lantai kota dengan napas pelan—seperti baru saja selesai berdoa. Bukan menuju masjid, bukan pula ke keramaian pesta. Saya melangkah ke satu tempat yang selalu menyimpan nostalgia: Malioboro. Jantung kota yang tak pernah benar-benar tidur, bahkan saat waktu menua dan lampu-lampu kota kehilangan nyalanya sendiri.

Malam itu, Malioboro bukan sekadar nama jalan. Ia menjelma tubuh raksasa: nadi berdenyut di setiap langkah kaki wisatawan, nafas terasa dari gerobak angkringan yang mengepul di sudut trotoar, dan suara—ah, suara!—bercampur antara rintik gamelan dari radio tua dan suara pedagang asongan yang menawarkan gantungan kunci berbentuk andong.

Langkah saya berhenti di depan Gedung Agung. Di sana, sekelompok anak muda berseragam SMA duduk bersila, entah berdiskusi tentang cinta pertama atau tugas matematika yang menumpuk. Di balik tawa-tawa itu, saya menangkap satu wajah tak dikenal, entah siapa, entah kenapa, tapi tampak begitu tenang. Mungkin ia, seperti saya, juga sedang mencari sesuatu yang tak bisa disebutkan namanya.


Malioboro, Lorong yang Tak Pernah Lelah

Jika Jakarta punya Sudirman dan Bandung punya Braga, maka Yogyakarta punya Malioboro—tempat segala cerita bersatu: dari cinta pertama, patah hati, pertunjukan jalanan, hingga seorang ayah tua yang menjajakan kaus “I ❤️ Jogja” dengan suara yang serak karena usia. Namun tetap sabar, seolah Tuhan menitipkan harapan padanya tiap malam.

Di kiri-kanan jalan, kios-kios berderet bak puisi yang dibacakan dengan saksama. Ada batik dengan motif Parang Rusak dan Sidomukti, ada blangkon tergantung di tiang, dan sandal-sandal kulit yang harum karena baru dijahit sore tadi. Setiap penjual menawarkan bukan hanya barang, tetapi cerita: “Mau batik Mbak? Ini motifnya dari nenek saya dulu.”

Ah, bagaimana mungkin bisa menolak barang yang membawa sejarah?

Di tengah-tengah jalan, panggung-panggung kecil berdiri. Ada yang memainkan keroncong, ada yang menyanyikan lagu Koes Plus, ada juga yang berakrobat di atas sepeda roda satu. Anak-anak kecil berlarian mengejar balon sabun yang mengambang, sementara ibu-ibu duduk di kursi batu, sesekali membuka tas dan menyelipkan minyak angin ke leher suaminya.

Dan saya, seorang pengelana malam yang tanpa rencana, justru larut dalam semuanya. Apa yang saya cari di Malioboro malam ini? Entahlah. Tapi saya yakin, jawabannya akan ditemukan bukan di ujung jalan, tapi di hati yang bersedia mendengarkan cerita-cerita kecil di sepanjang trotoarnya.


Angkringan: Panggung Sunyi di Tengah Riuh

Saat waktu mendekati pukul sembilan, saya duduk di sebuah angkringan. Tikar digelar, lampu temaram dari bohlam gantung, dan suara mendesis dari wedang jahe yang sedang dipanaskan. Di samping saya, seorang bapak tua—berpeci hitam dan tangan sedikit gemetar—membakar sate usus sambil menyanyikan lagu “Yen Ing Tawang Ono Lintang.”

“Mas, dari mana?” tanyanya tanpa menoleh.

“Dari luar kota, Pak. Lagi jalan-jalan malam minggu.”

Ia tertawa kecil, “Malioboro memang tempatnya yang datang untuk hilang.”

Saya tidak menjawab. Kalimat itu terlalu dalam untuk dibalas dengan jawaban biasa.

Wedang jahe saya habis, sate usus pun tak bersisa. Tapi kehangatan malam itu tak kunjung padam. Di atas kepala, langit menggantung bintang secukupnya—tak mewah, tapi cukup untuk membuat siapa pun diam dan memikirkan banyak hal.

Di Ujung Jalan, Kenangan Menyergap

Malioboro seolah memiliki ujung, tapi sebenarnya tidak pernah selesai. Saya melanjutkan langkah ke arah Pasar Beringharjo yang mulai redup. Di sana, bangku-bangku kayu kosong menatap saya seolah menyuruh duduk. Dan saya menuruti. Di bangku itu, udara terasa lebih berat. Bukan karena polusi, tapi karena kenangan yang menyerbu tiba-tiba.

Dulu, di tempat itu, saya pernah duduk bersama seseorang. Dia yang matanya seperti senja, dan tawanya seperti gamelan yang mengalun dari kejauhan. Kami bicara tentang masa depan, tentang kemungkinan membuka toko batik sendiri, tentang tinggal di Jogja selamanya.

Tapi malam berubah cepat, dan orang-orang sering tak setia pada rencana. Kini saya duduk sendiri, ditemani angin dan suara delman yang tersisa satu-dua.

Namun entah kenapa, saya tidak merasa kehilangan. Karena Malioboro mengajarkan satu hal: setiap kehilangan adalah bagian dari perjalanan.


Pulang dengan Perasaan Penuh

Malam makin larut. Pedagang mulai menggulung tikar, lampu-lampu mulai dimatikan, dan para pengamen terakhir menyanyikan lagu penutup yang seolah menjadi doa. Saya berjalan kembali ke tempat penginapan, melewati Tugu Jogja yang berdiri kokoh dalam cahaya bulan.

Pikiran saya penuh, bukan karena kebingungan, tapi karena kenyang oleh suasana. Ada rasa yang sulit dijelaskan dengan logika: perpaduan nostalgia, rindu, dan kehangatan kota yang sederhana namun menyentuh.

Malam minggu di Malioboro bukan sekadar malam minggu. Ia adalah perjalanan batin. Di sana, kita bukan hanya berjalan di atas aspal, tapi juga menyusuri masa lalu, menyapa orang asing yang terasa seperti sahabat lama, dan menemukan bagian dari diri kita yang sempat hilang.

Dan ketika kaki lelah, kita tahu: tak ada tempat seindah Malioboro untuk sekadar duduk, diam, dan mencintai kota ini tanpa syarat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...