Tampilkan postingan dengan label ff. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ff. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2025

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir
bisnisbandung.com


Namaku Siti Puji Astutik. Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku hidup seperti bayangan—melangkah dalam diam, mencintai dalam sembunyi, dan menangis dalam senyap. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana luka bisa bersembunyi dalam selimut malam yang hangat.

Aku istri dari seorang pria bernama Bayu Rahmatullah. Kami menikah lima tahun lalu, dan dalam lima tahun itu, aku lebih sering bicara pada tembok kamar daripada pada Bayu. Cintanya, yang dulu seperti matahari pagi, kini padam ditelan mendung yang tak mau pergi.

Hingga malam itu datang. Malam ketika aku membuka ponsel Bayu, dan seluruh dunia runtuh di hadapanku.


"Aku ingin jadi pelukan terakhir sebelum tidurmu, meski aku hanya perempuan kedua dalam mimpimu."

 

Pesan itu, dikirim oleh seorang wanita bernama Anita, muncul paling atas. Ada foto—mereka berdua di sebuah hotel. Bayu bersandar santai di sofa, hanya mengenakan handuk. Aku ingin memaki, tapi suaraku tertelan oleh gemuruh di dadaku.

Hatiku tercekat. Jari-jariku gemetar. Tapi aku diam.

Malam itu, aku tak menangis. Aku hanya memandangi langit-langit kamar, membayangkan bagaimana cinta bisa membusuk dalam selimut yang sama. Selimut yang seharusnya menyatukan dua tubuh dalam kehangatan, kini menyembunyikan tubuh ketiga dalam kebohongan.



Keesokan harinya, aku duduk bersamanya di meja makan.

"Aku lihat kamu ke Bandung kemarin," kataku tenang, menatapnya yang sedang mengoleskan selai stroberi di roti.

Bayu tersedak sedikit. "Iya, dinas mendadak."

Aku tersenyum miring. “Apakah tubuhmu mendadak juga mendesah di pelukan sekretarismu?”

Dia membeku. Matanya menghindari tatapanku. Tapi aku hanya menatapnya, senyap. Seperti laut yang tenang sebelum tsunami datang.


"Cintamu bukan luka, tapi kau goreskan pisau tiap malam di punggungku."

 

"Puji, aku bisa jelaskan—"

"Tak perlu," potongku. "Aku tahu sejak tiga bulan lalu. Tapi aku ingin tahu sampai kapan kamu mampu berbohong."



Aku mulai mengikuti mereka. Menguntit dengan jaket hitam dan topi lebar, seperti tokoh utama dalam film yang tak pernah tayang. Aku menunggu mereka di parkiran hotel bintang empat. Saat mereka keluar, berpegangan tangan seperti pasangan muda-mudi, aku ingin melempar batu ke arah mereka. Tapi kutahan.

Malam berikutnya, aku mendatangi Anita.

Aku menyamar jadi klien. Kubooking waktu satu jam konsultasi "bisnis" di kantornya.

"Nama saya Sari," kataku sambil duduk.

Anita tak mengenaliku. Ia hanya mengenal versiku yang hidup dalam luka.

"Bisnis apa yang Anda jalankan?" tanyanya, sopan.

Aku menatapnya lama. "Bisnis mencuri suami orang."

Dia terkejut. Wajahnya mendadak pucat. Aku lepaskan kacamata hitamku.

"Aku istri dari pria yang tidur bersamamu di hotel minggu lalu."

"Kau rebut ciuman yang dulu tumbuh di dahi pernikahanku, kini kau ganti dengan gigitan di tubuh yang bukan hakmu."

Dia berdiri, tampak gelisah. "Aku... aku tak tahu dia masih menikah."

"Bohong. Kau sekretarisnya. Kau tanda tangan surat nikahnya lima tahun lalu."

Dia terdiam. Wajahnya kini bukan lagi wanita cantik, tapi wanita yang ketakutan.

"Aku tak akan laporkan. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa malam-malam kalian tak akan pernah sehangat malamku dulu bersamanya."


Pulang dari sana, aku temui Bayu. Ia sedang duduk di teras, menyesap kopi seperti tak pernah menyakiti siapa pun.

"Aku temui Anita," kataku pelan.

Bayu mengangkat wajahnya, dan ketakutan di matanya adalah musik merdu di telingaku.

"Aku tak akan pisah, Bayu."

Dia bingung. "Maksudmu?"

"Aku akan tetap jadi istrimu. Tapi mulai malam ini, kau tidur di kamar tamu. Kau tetap suamiku, tapi hatiku bukan lagi milikmu."


"Cinta bukan tentang siapa yang memelukmu malam ini, tapi siapa yang bangun esok hari dengan tetap memilihmu."


Dia memohon. Menangis. Tapi tangisan Bayu hanyalah simfoni yang sudah tak layak dinikmati.

Aku tetap hidup bersamanya. Tapi tak pernah lagi menyentuhnya. Ia bangun tiap pagi dengan luka yang ia ciptakan sendiri. Aku, Siti Puji Astutik, menjadi bayangan di rumah sendiri. Tapi aku tetap di sana. Bukan karena cinta, tapi karena aku ingin dia tahu: pengkhianatan tidak butuh pisau—ia hanya butuh selimut dan malam yang gelap.


Lima tahun kemudian, Bayu tua. Anita pergi. Dan aku masih di rumah itu.

Tiap malam, aku menulis diari. Tentang malam-malam yang sepi, tapi penuh kemenangan.


"Aku mencintaimu dulu seperti hujan yang tak tahu arah jatuhnya. Kini aku hanyalah tanah yang menolak basah darimu."


 

Cinta dalam selimut malam bukan hanya kisah pengkhianatan. Ia adalah metafora tentang bagaimana kepercayaan bisa hancur dalam hening. Siti Puji tak memilih pergi. Ia memilih bertahan, bukan karena lemah—tapi karena tahu, keadilan kadang hadir lewat ketegaran yang diam.


Sabtu, 07 Juni 2025

Puisi Romntis:Minggu Cerah di Sudut Kafe Kota



ilistrasi Foto_Puisi Romntis:Minggu Cerah di Sudut Kafe Kota

Minggu pagi menyapa dengan senyum mentari,
angin berbisik lembut, membawa aroma kopi dan mimpi.
Di sudut kafe kota yang sederhana namun berseri,
aku duduk bersamamu—gadis muda berparas rupawan,
seperti bunga yang mekar di tengah keramaian.

Matamu seperti langit biru tanpa awan,
penuh ketenangan dan rahasia
 yang ingin kupecahkan perlahan.
Kita tertawa pada cerita-cerita kecil,
mengenang masa yang baru 
tumbuh dari benih harapan.

Langit bersaksi, waktu seolah berhenti,
saat tanganmu menyentuh cangkir,
dan senyum itu mencuri denyut di dada ini.
Kopi menjadi lebih manis,
bukan karena gula,
tapi karena hadirmu—yang menyulap 
dunia menjadi lebih hangat.

Kau bicara tentang mimpi,
aku mendengarkan dengan mata,
dan di balik tawa, terselip doa semesta:
semoga minggu cerah ini tak hanya singgah,
tapi menetap selamanya—
di hati kita yang saling belajar mencinta.

Jumat, 03 Januari 2025

Cerita Pendek:Di Bawah Langit yang Sama to Indonesia

 

Cerita Pendek:Di Bawah Langit yang Sama to Indonesia
Cerita Pendek:Di Bawah Langit yang Sama to Indonesia(https://pixabay.com/id/photos/jalan-kota-rakyat-malam-perkotaan-7752940/)

Kita selalu percaya bahwa langit adalah satu-satunya saksi yang setia. Ia terbentang tanpa batas, menghubungkan aku dan kamu yang dipisahkan ribuan kilometer oleh daratan dan lautan.

Aku, Ayu, seorang gadis dari Yogyakarta yang jatuh cinta pada Alif, seorang mahasiswa asal Istanbul yang pernah bertukar pelajar di kampusku. Perjumpaan kami dimulai dari sebuah kebetulan, di bawah pohon flamboyan saat ia menolongku mengumpulkan lembaran skripsi yang tertiup angin.

"Ini milikmu, bukan?" tanyanya dengan logat Turki yang kental, namun suaranya terdengar hangat.

Aku tersenyum canggung, mengambil lembaran itu dari tangannya. "Terima kasih, kamu sangat membantu."

Sejak saat itu, kami mulai sering bertemu. Di kantin, di perpustakaan, bahkan dalam perjalanan pulang ke kosan. Entah bagaimana, langkahnya selalu beriringan denganku.

Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk memisahkan. Ketika masa pertukaran pelajarnya usai, Alif harus kembali ke Istanbul. Perpisahan itu terasa begitu cepat, seolah-olah kami baru saja memulai kisah yang belum sempat diukir.

Di bandara, ia menggenggam tanganku erat. "Ayu, aku tahu ini sulit. Tapi aku ingin kita terus berkomunikasi. Aku ingin kita menjaga apa yang sudah kita mulai."

Aku menatap matanya yang menyimpan begitu banyak kerinduan. "Aku juga ingin begitu, Alif. Tapi, apakah cinta bisa bertahan sejauh ini?"

Ia tersenyum tipis. "Langit yang sama akan selalu mengingatkan kita."

Setelah ia pergi, jarak mulai menjadi ujian terbesar kami. Setiap malam aku menatap bintang, bertanya-tanya apakah Alif juga melakukan hal yang sama di sana.

Pesan-pesan dari Alif sering kali menjadi penyelamat hariku.

"Ayu, apa kabar? Di sini musim dingin mulai terasa. Aku harap kamu tetap hangat di sana."

Aku tersenyum membaca pesannya. "Aku baik-baik saja, Alif. Di sini musim hujan, dan aku merindukan secangkir kopi hangat bersama kamu."

"Aku juga merindukanmu. Suatu hari nanti, aku ingin kita duduk di kafe kecil di Istanbul, berbagi cerita tentang semua yang kita lalui."

Waktu berlalu, dan meskipun jarak terus memisahkan, hati kami tetap bertaut. Kami saling menguatkan melalui panggilan video, pesan singkat, dan surat yang sesekali dikirim dengan aroma khas negara masing-masing.

Suatu hari, ketika aku berjalan di Malioboro, sebuah pesan masuk. "Ayu, aku ada kejutan untukmu."

"Apa itu?" balasku penasaran.

"Tunggulah di bawah pohon flamboyan tempat kita pertama kali bertemu."

Dengan jantung berdegup kencang, aku melangkah menuju pohon itu. Angin sore berhembus lembut, membelai wajahku yang dipenuhi rasa rindu.

Dan di sana, di bawah flamboyan, berdiri sosok yang begitu aku rindukan.

"Alif? Bagaimana bisa?"

Ia tersenyum, matanya bersinar hangat. "Aku tak bisa menunggu lebih lama untuk bertemu denganmu lagi. Aku ingin memastikan bahwa cinta ini nyata, meski jarak pernah menjadi tembok."

Aku mendekatinya, merasakan debaran yang telah lama tak kurasakan. "Kamu gila... tapi aku senang kamu ada di sini."

Alif menggenggam tanganku. "Ayu, aku ingin kita berjalan bersama, tak hanya di bawah langit yang sama, tapi juga di jalan yang sama."

Langit sore itu menjadi saksi bisu, menyimpan cerita cinta yang kembali menyatu, seakan jarak tak pernah ada.

"Cinta tidak mengenal batas. Seperti langit yang tak terhitung luasnya, ia menyatukan hati yang berjauhan."

Sabtu, 02 November 2024

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Cerita Pendek:Lonceng Akhir
Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com)


Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung?


Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan.


Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku.


"Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan senyum sinis. Dia adalah salah satu dari penagih yang selama ini menghantuiku. "Kami sudah beri kamu waktu. Tapi kok, kamu masih belum ada itikad baik untuk melunasi utang?"


Aku terdiam, mencoba menelan rasa takut. "Saya sudah berusaha. Tapi, uangnya belum cukup," jawabku lemah, dengan suara bergetar.


"Bukan urusan saya. Yang penting, utang itu harus lunas. Bos kami nggak suka berurusan sama orang yang enggak bertanggung jawab."


Aku berusaha menjaga ketenangan, meski hati ini berdegup kencang. "Tolong beri saya waktu. Saya akan bayar."


Tiba-tiba, dia meraih tanganku dengan kasar. "Dengar, Rini. Kamu punya dua pilihan: bayar atau... kita bakal cari cara lain buat dapetin duitnya."


Tangannya semakin menguat. Rasa sakit menjalar dari pergelangan hingga ke seluruh tubuhku. Aku berontak, namun percuma. Dia lebih kuat, lebih buas, dan lebih kejam.


"Kalau kamu masih bandel, kami punya cara lain buat bikin kamu nurut," lanjutnya, dengan suara yang semakin rendah, penuh ancaman.


Aku berhasil menarik tanganku dan berlari. Keringat dingin membasahi punggungku, dan napasku terengah. Aku tahu, lari bukan solusi, tapi aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Setiap malam, aku terjaga dengan kecemasan bahwa mereka akan muncul lagi, membuat hidupku tak tenang.


---


Hari berganti hari. Aku sudah mencoba meminta bantuan dari teman-teman, tapi mereka pun kesulitan. Tidak ada satu orang pun yang bisa menolongku. Aku merasa terjebak, seolah-olah hidup ini tak lagi memberi pilihan.


Suatu malam, ketika aku sedang berjalan pulang, aku mendengar langkah kaki yang mengikutiku. Aku menoleh dan melihat sosok yang tak asing lagi. Dia adalah pria yang sama, si penagih utang. Dia mendekat dengan wajah yang dingin dan penuh ancaman.


"Kenapa kamu lari, Rini? Kami sudah berusaha baik-baik, tapi kamu malah mengabaikan kami," katanya sambil menyeringai.


"Aku… aku nggak bisa bayar sekarang…" jawabku gemetar.


Dia mendekat semakin dekat, hingga jarak kami hanya beberapa jengkal. Napasnya tercium busuk, penuh kemarahan dan kebencian. "Kalau kamu nggak bisa bayar, kami bakal ambil sesuatu yang lebih berharga."


Aku tidak tahu dari mana keberanian itu muncul, namun tanganku terangkat dan mendorongnya keras. Dia terdorong mundur beberapa langkah, tapi secepat kilat, dia kembali menggapai tanganku dan menarikku dengan kasar.


"Aku sudah sabar, Rini. Tapi sepertinya kamu memang nggak layak diberi kesempatan."


Di saat itulah, aku merasakan benda keras di dalam tasku—pisau kecil yang kupakai untuk memotong makanan. Tangan ini gemetar, namun rasa takut yang menumpuk berubah menjadi keberanian. Tanpa berpikir panjang, aku menarik pisau itu dan menusukkannya ke arahnya.


Dia terkejut, matanya membelalak. Tangannya yang sebelumnya mencengkeramku mulai melemah, dan dia tersungkur di hadapanku, napasnya tersendat-sendat. Darah mengalir deras dari luka di perutnya. Aku melihatnya, terkejut sekaligus bingung.


Namun, bukan hanya darah di tubuhnya yang membasahi jalanan, tapi juga rasa bersalah yang mulai menghantui pikiranku. Aku telah melangkah terlalu jauh. Aku tahu bahwa ini bukan sekadar pelarian dari utang; aku telah melanggar batasan, dan tak ada jalan kembali.


---


Beberapa saat kemudian, sirene polisi terdengar. Mereka tiba dan segera menahan tanganku. Aku tak meronta, tak melawan. Sadar bahwa aku sudah kehilangan segalanya. Saat itu, aku hanya merasakan hampa, kosong. Begitu tragisnya hidup yang kujalani hingga berakhir seperti ini.


Di ruang tahanan, aku termenung, mencoba mencerna semua yang telah kulakukan. Penyesalan datang terlambat, tapi tak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku hanya bisa berharap, dalam dunia yang suram ini, aku bisa mendapatkan kedamaian yang telah lama hilang.

Selasa, 15 Oktober 2024

Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati

Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati
Ilustrasi foto Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati (https://pixabay.com/id/illustrations/gadis-bermimpi-mimpi-melamun-sedih-7356696/)



Aku duduk di tepi jendela kafe kecil yang sering kita kunjungi. Aroma kopi memenuhi udara, mengingatkanku pada perbincangan kita yang dulu penuh canda tawa. Sekarang, kafe ini menjadi saksi bisu atas kebingungan dan kekacauan yang melanda hatiku.


Di sinilah tempat aku pertama kali menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kita, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan. Aku selalu berpikir bahwa aku mengenalmu luar dalam, namun ternyata tidak. Kau menyimpan rahasia yang akhirnya membuatku terjebak dalam cinta segitiga yang tak pernah kuinginkan.


Kita sering bertemu, berdua saja. Saat itu, aku merasa aman. Dunia serasa menyempit hanya untuk kita. Namun, seiring waktu, perasaan itu berubah. Bukan karena aku ingin, tapi karena kehadiran orang ketiga—dia, seseorang yang datang tanpa aku duga, yang merenggut sebagian dari duniamu yang dulu utuh milikku.


"Kamu tahu, ada hal yang harus aku ceritakan padamu," ucapmu suatu hari dengan nada lembut tapi penuh keraguan. Mata cokelatmu yang biasanya tenang kini tampak gelisah, seolah enggan mengungkapkan sesuatu yang akan mengubah segalanya.


"Apa itu?" tanyaku sambil meneguk kopiku, berusaha terlihat santai meskipun aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Kau tahu, ada seseorang yang... aku pikir, aku mulai jatuh cinta padanya." Kalimat itu meluncur seperti belati tajam, menghujam relung hatiku.


Dadaku terasa sesak. Aku tersenyum getir. "Siapa?"


Mata kita bertemu sesaat sebelum kau menunduk, menghindari pandanganku. "Dia... temanku yang baru, Aksa."


Nama itu seperti petir di siang bolong. Aksa? Teman yang baru saja kau kenalkan beberapa minggu lalu? Aku ingat betapa hangatnya caramu berbicara tentang dia, bagaimana kau tertawa setiap kali menceritakan kisah konyol yang kau alami dengannya. Tapi aku tak pernah berpikir ini akan terjadi. 


Kau melanjutkan, "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Rasanya salah, tapi aku tak bisa mengabaikannya. Setiap kali aku bersamanya, aku merasa… berbeda."


Seketika, hatiku terasa hancur berkeping-keping, tapi aku berusaha menahan diri. "Dan aku?" tanyaku dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.


"Kamu selalu istimewa," jawabmu cepat. "Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku tidak bisa kehilanganmu."


Sahabat? Kalimat itu bagai menambah garam di lukaku yang masih basah. Di sini, di antara kopiku yang mulai mendingin dan deru obrolan orang-orang di sekitarku, aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku tidak pernah menjadi lebih dari itu bagimu. Aku hanya sahabat—sementara hatiku mendambakan lebih.


***


Waktu berlalu, dan meskipun aku mencoba melupakan percakapan itu, aku selalu merasa ada sesuatu yang berubah. Pertemuan kita tidak lagi sehangat dulu. Kamu seringkali datang dengan pikiran yang melayang jauh, dan tanpa sadar, setiap kali kita berbicara, Aksa selalu menjadi topik pembicaraan yang tak terhindarkan. Aku mulai membenci namanya, membenci bayangan sosoknya yang entah bagaimana telah merenggutmu dariku.


Suatu hari, kau mengajakku bertemu di tempat biasa. Kali ini, aku datang dengan firasat buruk. Perasaanku tidak pernah salah. Ketika aku tiba, kau sudah duduk di sudut kafe, terlihat gusar.


"Aku ingin bicara lagi," katamu tanpa basa-basi. 


Aku duduk di depanmu, bersiap untuk apa pun yang akan kau katakan. "Apa ini tentang Aksa?"


Kamu mengangguk pelan. "Aku merasa bersalah karena tidak jujur padamu. Aku tahu perasaanmu, aku bukan bodoh. Dan aku sangat menghargai persahabatan kita. Tapi semakin lama aku menghabiskan waktu bersamanya, semakin sulit bagiku untuk mengabaikan perasaanku sendiri."


Aku tersenyum getir. "Jadi, apa yang kamu inginkan dari semua ini?"


"Aku ingin semuanya tetap seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan kamu, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri tentang perasaanku pada Aksa."


Aku menelan ludah, mencoba meredam rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. "Kamu tidak bisa memiliki keduanya," kataku dengan tegas, meskipun hatiku hancur saat kata-kata itu keluar dari mulutku. "Jika kamu memilih dia, aku harus pergi. Aku tidak bisa hanya menjadi teman saat aku tahu aku ingin lebih dari itu."


Suasana hening sejenak, hanya ada suara detak jantungku yang bergemuruh di telinga. Kau terdiam, dan di saat itulah aku tahu jawabannya. Kau tidak perlu mengucapkannya. Pilihanmu sudah jelas.


***


Beberapa minggu kemudian, kita jarang bertemu. Kau mulai semakin sibuk dengan duniamu yang baru, dan aku memutuskan untuk menjaga jarak. Aku berusaha menerima kenyataan, meskipun hatiku tak henti-hentinya mempertanyakan mengapa semua ini harus terjadi.


Namun, suatu sore, ketika aku sedang duduk di kafe yang sama, tiba-tiba kau datang. Matamu sembab, wajahmu penuh dengan ekspresi campur aduk antara penyesalan dan kebingungan.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku ragu.


"Aku... Aku sudah putus dengan Aksa," jawabmu pelan, seperti butiran hujan yang jatuh di kaca jendela.


Aku terdiam. Hatiku berdebar. "Kenapa?"


"Aku salah. Aku pikir aku mencintainya, tapi ternyata tidak. Aku bingung, dan aku menyadari bahwa aku telah menyakiti orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku menyakiti kamu."


Seketika, amarah dan cinta berkecamuk dalam diriku. Bagaimana bisa kau datang lagi, seolah-olah semuanya bisa kembali seperti semula? "Kamu pikir semuanya akan selesai begitu saja?" tanyaku, suaraku bergetar menahan emosi.


"Aku tahu tidak semudah itu," jawabmu lirih. "Tapi aku ingin mencoba memperbaiki semuanya."


Aku menatapmu dalam-dalam, mencoba mencari jawaban di balik mata cokelatmu yang kini dipenuhi penyesalan. Mungkin aku masih mencintaimu, mungkin tidak. Namun yang aku tahu, cinta yang pernah ada di antara kita takkan pernah sama lagi.


Mungkin cinta segitiga ini tidak akan pernah benar-benar selesai.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...