Tampilkan postingan dengan label beritaselingkuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beritaselingkuh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2025

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir
bisnisbandung.com


Namaku Siti Puji Astutik. Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku hidup seperti bayangan—melangkah dalam diam, mencintai dalam sembunyi, dan menangis dalam senyap. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana luka bisa bersembunyi dalam selimut malam yang hangat.

Aku istri dari seorang pria bernama Bayu Rahmatullah. Kami menikah lima tahun lalu, dan dalam lima tahun itu, aku lebih sering bicara pada tembok kamar daripada pada Bayu. Cintanya, yang dulu seperti matahari pagi, kini padam ditelan mendung yang tak mau pergi.

Hingga malam itu datang. Malam ketika aku membuka ponsel Bayu, dan seluruh dunia runtuh di hadapanku.


"Aku ingin jadi pelukan terakhir sebelum tidurmu, meski aku hanya perempuan kedua dalam mimpimu."

 

Pesan itu, dikirim oleh seorang wanita bernama Anita, muncul paling atas. Ada foto—mereka berdua di sebuah hotel. Bayu bersandar santai di sofa, hanya mengenakan handuk. Aku ingin memaki, tapi suaraku tertelan oleh gemuruh di dadaku.

Hatiku tercekat. Jari-jariku gemetar. Tapi aku diam.

Malam itu, aku tak menangis. Aku hanya memandangi langit-langit kamar, membayangkan bagaimana cinta bisa membusuk dalam selimut yang sama. Selimut yang seharusnya menyatukan dua tubuh dalam kehangatan, kini menyembunyikan tubuh ketiga dalam kebohongan.



Keesokan harinya, aku duduk bersamanya di meja makan.

"Aku lihat kamu ke Bandung kemarin," kataku tenang, menatapnya yang sedang mengoleskan selai stroberi di roti.

Bayu tersedak sedikit. "Iya, dinas mendadak."

Aku tersenyum miring. “Apakah tubuhmu mendadak juga mendesah di pelukan sekretarismu?”

Dia membeku. Matanya menghindari tatapanku. Tapi aku hanya menatapnya, senyap. Seperti laut yang tenang sebelum tsunami datang.


"Cintamu bukan luka, tapi kau goreskan pisau tiap malam di punggungku."

 

"Puji, aku bisa jelaskan—"

"Tak perlu," potongku. "Aku tahu sejak tiga bulan lalu. Tapi aku ingin tahu sampai kapan kamu mampu berbohong."



Aku mulai mengikuti mereka. Menguntit dengan jaket hitam dan topi lebar, seperti tokoh utama dalam film yang tak pernah tayang. Aku menunggu mereka di parkiran hotel bintang empat. Saat mereka keluar, berpegangan tangan seperti pasangan muda-mudi, aku ingin melempar batu ke arah mereka. Tapi kutahan.

Malam berikutnya, aku mendatangi Anita.

Aku menyamar jadi klien. Kubooking waktu satu jam konsultasi "bisnis" di kantornya.

"Nama saya Sari," kataku sambil duduk.

Anita tak mengenaliku. Ia hanya mengenal versiku yang hidup dalam luka.

"Bisnis apa yang Anda jalankan?" tanyanya, sopan.

Aku menatapnya lama. "Bisnis mencuri suami orang."

Dia terkejut. Wajahnya mendadak pucat. Aku lepaskan kacamata hitamku.

"Aku istri dari pria yang tidur bersamamu di hotel minggu lalu."

"Kau rebut ciuman yang dulu tumbuh di dahi pernikahanku, kini kau ganti dengan gigitan di tubuh yang bukan hakmu."

Dia berdiri, tampak gelisah. "Aku... aku tak tahu dia masih menikah."

"Bohong. Kau sekretarisnya. Kau tanda tangan surat nikahnya lima tahun lalu."

Dia terdiam. Wajahnya kini bukan lagi wanita cantik, tapi wanita yang ketakutan.

"Aku tak akan laporkan. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa malam-malam kalian tak akan pernah sehangat malamku dulu bersamanya."


Pulang dari sana, aku temui Bayu. Ia sedang duduk di teras, menyesap kopi seperti tak pernah menyakiti siapa pun.

"Aku temui Anita," kataku pelan.

Bayu mengangkat wajahnya, dan ketakutan di matanya adalah musik merdu di telingaku.

"Aku tak akan pisah, Bayu."

Dia bingung. "Maksudmu?"

"Aku akan tetap jadi istrimu. Tapi mulai malam ini, kau tidur di kamar tamu. Kau tetap suamiku, tapi hatiku bukan lagi milikmu."


"Cinta bukan tentang siapa yang memelukmu malam ini, tapi siapa yang bangun esok hari dengan tetap memilihmu."


Dia memohon. Menangis. Tapi tangisan Bayu hanyalah simfoni yang sudah tak layak dinikmati.

Aku tetap hidup bersamanya. Tapi tak pernah lagi menyentuhnya. Ia bangun tiap pagi dengan luka yang ia ciptakan sendiri. Aku, Siti Puji Astutik, menjadi bayangan di rumah sendiri. Tapi aku tetap di sana. Bukan karena cinta, tapi karena aku ingin dia tahu: pengkhianatan tidak butuh pisau—ia hanya butuh selimut dan malam yang gelap.


Lima tahun kemudian, Bayu tua. Anita pergi. Dan aku masih di rumah itu.

Tiap malam, aku menulis diari. Tentang malam-malam yang sepi, tapi penuh kemenangan.


"Aku mencintaimu dulu seperti hujan yang tak tahu arah jatuhnya. Kini aku hanyalah tanah yang menolak basah darimu."


 

Cinta dalam selimut malam bukan hanya kisah pengkhianatan. Ia adalah metafora tentang bagaimana kepercayaan bisa hancur dalam hening. Siti Puji tak memilih pergi. Ia memilih bertahan, bukan karena lemah—tapi karena tahu, keadilan kadang hadir lewat ketegaran yang diam.


Sabtu, 02 November 2024

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Cerita Pendek:Lonceng Akhir
Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com)


Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung?


Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan.


Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku.


"Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan senyum sinis. Dia adalah salah satu dari penagih yang selama ini menghantuiku. "Kami sudah beri kamu waktu. Tapi kok, kamu masih belum ada itikad baik untuk melunasi utang?"


Aku terdiam, mencoba menelan rasa takut. "Saya sudah berusaha. Tapi, uangnya belum cukup," jawabku lemah, dengan suara bergetar.


"Bukan urusan saya. Yang penting, utang itu harus lunas. Bos kami nggak suka berurusan sama orang yang enggak bertanggung jawab."


Aku berusaha menjaga ketenangan, meski hati ini berdegup kencang. "Tolong beri saya waktu. Saya akan bayar."


Tiba-tiba, dia meraih tanganku dengan kasar. "Dengar, Rini. Kamu punya dua pilihan: bayar atau... kita bakal cari cara lain buat dapetin duitnya."


Tangannya semakin menguat. Rasa sakit menjalar dari pergelangan hingga ke seluruh tubuhku. Aku berontak, namun percuma. Dia lebih kuat, lebih buas, dan lebih kejam.


"Kalau kamu masih bandel, kami punya cara lain buat bikin kamu nurut," lanjutnya, dengan suara yang semakin rendah, penuh ancaman.


Aku berhasil menarik tanganku dan berlari. Keringat dingin membasahi punggungku, dan napasku terengah. Aku tahu, lari bukan solusi, tapi aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Setiap malam, aku terjaga dengan kecemasan bahwa mereka akan muncul lagi, membuat hidupku tak tenang.


---


Hari berganti hari. Aku sudah mencoba meminta bantuan dari teman-teman, tapi mereka pun kesulitan. Tidak ada satu orang pun yang bisa menolongku. Aku merasa terjebak, seolah-olah hidup ini tak lagi memberi pilihan.


Suatu malam, ketika aku sedang berjalan pulang, aku mendengar langkah kaki yang mengikutiku. Aku menoleh dan melihat sosok yang tak asing lagi. Dia adalah pria yang sama, si penagih utang. Dia mendekat dengan wajah yang dingin dan penuh ancaman.


"Kenapa kamu lari, Rini? Kami sudah berusaha baik-baik, tapi kamu malah mengabaikan kami," katanya sambil menyeringai.


"Aku… aku nggak bisa bayar sekarang…" jawabku gemetar.


Dia mendekat semakin dekat, hingga jarak kami hanya beberapa jengkal. Napasnya tercium busuk, penuh kemarahan dan kebencian. "Kalau kamu nggak bisa bayar, kami bakal ambil sesuatu yang lebih berharga."


Aku tidak tahu dari mana keberanian itu muncul, namun tanganku terangkat dan mendorongnya keras. Dia terdorong mundur beberapa langkah, tapi secepat kilat, dia kembali menggapai tanganku dan menarikku dengan kasar.


"Aku sudah sabar, Rini. Tapi sepertinya kamu memang nggak layak diberi kesempatan."


Di saat itulah, aku merasakan benda keras di dalam tasku—pisau kecil yang kupakai untuk memotong makanan. Tangan ini gemetar, namun rasa takut yang menumpuk berubah menjadi keberanian. Tanpa berpikir panjang, aku menarik pisau itu dan menusukkannya ke arahnya.


Dia terkejut, matanya membelalak. Tangannya yang sebelumnya mencengkeramku mulai melemah, dan dia tersungkur di hadapanku, napasnya tersendat-sendat. Darah mengalir deras dari luka di perutnya. Aku melihatnya, terkejut sekaligus bingung.


Namun, bukan hanya darah di tubuhnya yang membasahi jalanan, tapi juga rasa bersalah yang mulai menghantui pikiranku. Aku telah melangkah terlalu jauh. Aku tahu bahwa ini bukan sekadar pelarian dari utang; aku telah melanggar batasan, dan tak ada jalan kembali.


---


Beberapa saat kemudian, sirene polisi terdengar. Mereka tiba dan segera menahan tanganku. Aku tak meronta, tak melawan. Sadar bahwa aku sudah kehilangan segalanya. Saat itu, aku hanya merasakan hampa, kosong. Begitu tragisnya hidup yang kujalani hingga berakhir seperti ini.


Di ruang tahanan, aku termenung, mencoba mencerna semua yang telah kulakukan. Penyesalan datang terlambat, tapi tak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku hanya bisa berharap, dalam dunia yang suram ini, aku bisa mendapatkan kedamaian yang telah lama hilang.

Selasa, 10 September 2024

Ada Apa Dengan Arhan Pratama?

Arhan p
https://www.google.com/search?q=berita+tentang+arhan+di+selingkuhin&sa=X&sca


 Berita mengenai dugaan perselingkuhan Azizah Salsha, istri dari pemain sepak bola Timnas Indonesia Pratama Arhan, tengah menjadi topik panas di media sosial. Isu ini bermula ketika Azizah dikabarkan memiliki hubungan dengan Salim Nauderer, yang juga dikenal sebagai mantan pacar selebritas Rachel Vennya

Kabar tersebut mulai viral pada Agustus 2024 dan menimbulkan banyak reaksi dari publik, termasuk selebriti seperti Fuji dan Rachel Vennya, yang turut angkat bicara. Rachel Vennya bahkan memberikan sindiran melalui komentar Instagram Azizah, menggunakan emoji ular dan mengunggah foto yang diiringi lagu "Traitor" oleh Olivia Rodrigo, yang menyinggung tentang pengkhianatan


Tengah ramainya isu ini, tersebar kabar bahwa Pratama Arhan telah menjatuhkan talak tiga kepada Azizah Salsha. Namun, berita ini belum dikonfirmasi secara resmi dan hanya beredar dalam bentuk tangkapan layar dari percakapan seseorang di media sosial. Meskipun demikian, Pratama Arhan tetap menunjukkan profesionalismenya dengan terus melaksanakan tugas di Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih Shin Tae-yong, meskipun isu ini mengganggu kehidupan pribadinya.


Azizah Salsha sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan ini, dan banyak pihak yang menunggu klarifikasi dari keduanya. Sementara itu, PSSI melalui Ketua Umum Erick Thohir menyatakan akan mendampingi Arhan dan memastikan isu pribadi tersebut tidak mempengaruhi performa sang pemain di tim nasional


Meski demikian, reaksi publik terus beragam, dengan dukungan untuk Arhan membanjiri media sosial. Penggemar berharap agar isu ini bisa segera terselesaikan dan tidak memengaruhi karier maupun kehidupan pribadinya.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...