Tampilkan postingan dengan label cerpenperselinkuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenperselinkuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2025

Cerita Pendek:Senja Terakhir di Kos Nomor Tujuh

Cerita Pendek:Senja Terakhir di Kos Nomor Tujuh
Ilustrasi foto Cerita Pendek:Senja Terakhir di Kos Nomor Tujuh by pngtree.com


Aku mengingat betul malam itu. Hujan turun rintik, suara gerimis memukul-mukul atap seng kos nomor tujuh. Aroma tanah basah dan kenangan pahit menyatu menjadi kabut yang menyesakkan dada. Di kamarku, satu lampu kuning menggantung lesu, seperti nyawaku sendiri yang tinggal satu nyala tipis.

Namaku Nadira. Aku sudah lima bulan menjalani hubungan jarak jauh dengan Arya, lelaki yang katanya mencintaiku sepenuh jiwa. Kami bertahan lewat janji, tawa virtual, dan puisi yang kami kirimkan tiap malam.....:


“Aku percaya pada rindu, meski ia tak bertulang,
karena setiap malam ia memelukku lebih erat dari manusia.” 

Tapi ternyata, cinta yang jauh bukan sekadar rindu dan kata-kata. Ada sesuatu yang lebih jahat dari jarak: pengkhianatan.

Hari itu, aku pulang lebih cepat dari kerja. Kos sunyi, hanya suara gemeretak hujan yang menemani. Saat membuka pintu kamarku, kulihat sepasang sepatu yang kukenal: sepatu putih milik Arya... dan satu lagi... hak tinggi hitam milik siapa?

Tanganku gemetar.

Kupelankan langkah menuju kamar sebelah—kamar Anjani, teman kosku yang paling sering meminjam lipstikku, paling rajin bertanya kabar Arya. Kupikir dia hanya teman. Kupikir semua baik-baik saja.

Ternyata aku cuma tokoh cadangan dalam kisah mereka.

Kupelintir gagang pintu perlahan. Terbuka. Tubuh Arya dan Anjani menyatu dalam selimut tipis, nafas mereka saling memburu. Jantungku berhenti berdetak sesaat.

"ARYA!!"

Mereka tersentak. Anjani buru-buru menutupi tubuhnya. Arya berdiri, wajahnya pucat pasi. Tapi aku bukan marah. Aku beku. Suaraku dingin seperti hujan di luar.


"Kau tahu rasanya ditusuk dari belakang oleh dua orang yang kucintai?"

“Aku ini rumah yang kau tinggalkan,
demi tenda yang mudah kau bongkar pasang.”

"Nadira... aku bisa jelaskan," Arya tergagap, tapi aku tertawa.

"Jelaskan? Apa kau akan bilang bahwa ini salahku karena kita LDR? Atau akan kau salahkan waktu karena mempertemukan kalian?"

Anjani menatapku, matanya berkaca-kaca. "Dira, aku nggak bermaksud..."

"Sudah cukup." Aku melangkah mundur. Tapi bukan untuk lari.

Malam itu, aku duduk di kamar, menyalakan lilin, dan menulis. Bukan puisi. Tapi rencana.


Tiga hari berlalu. Arya tak menghubungiku. Anjani bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Kos menjadi teater sunyi. Semua penghuni lain libur pulang kampung. Hanya kami bertiga yang tertinggal.

Malam itu aku menunggu.

Kutaruh dua cangkir kopi di meja. Satu untukku, satu untuknya. Anjani datang mengetuk pintu. Ia duduk, meminum kopi sambil bercerita tentang masa kecil kami. Betapa ia selalu iri padaku—aku yang cerdas, aku yang cantik, aku yang dapat Arya lebih dulu.


“Kau mencuri cahayaku tanpa kau sadari,” katanya.
“Tapi aku tak sadar, kau menyimpan gelapmu sendiri.”

Aku tersenyum padanya. Memaafkan tanpa kata. Tapi di dalam tubuhku, racun sudah bekerja. Aku tahu dosis yang tepat. Dia batuk. Matanya membesar. Tubuhnya kejang-kejang. Dan dalam hitungan menit, ia meregang nyawa di karpetku yang lembut.

Saat Arya datang malam itu—ia melihat mayat Anjani lebih dulu, lalu aku yang duduk di sudut kamar, memeluk boneka beruang hadiah darinya, tersenyum tenang.

"Apa yang kau lakukan, Nadira?!"

"Aku hanya menyelamatkan cinta kita."


“Karena lebih baik dia mati,
daripada terus hidup di hatimu.”

Ia menjerit. Tapi aku sudah siapkan pisau kecil dari dapur. Dan sebelum dia sempat kabur, aku tikam tepat di perutnya. Darah hangat mengenai wajahku. Aku memeluknya erat, seperti pelukan terakhir yang tak pernah ia beri sejak lima bulan lalu.


Sekarang, aku duduk di ruangan putih dengan dinding empuk. Mereka menyebutku gila. Tapi aku waras. Aku hanya terlalu mencinta.


“Cinta itu rumah, tapi juga bisa jadi kuburan,
tergantung siapa yang masuk lebih dulu dan siapa yang dikubur terakhir.”

Mereka menatapku ngeri. Tapi aku masih menulis puisi, setiap malam.

Dan tiap kali hujan turun, aku mendengar suara Arya dan Anjani... memanggil dari balik langit-langit kamar ini.


Jumat, 20 Juni 2025

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir

Cerita Pendek:Cinta dalam Selimut Malam: Perselingkuhan Tanpa Akhir
bisnisbandung.com


Namaku Siti Puji Astutik. Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku hidup seperti bayangan—melangkah dalam diam, mencintai dalam sembunyi, dan menangis dalam senyap. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana luka bisa bersembunyi dalam selimut malam yang hangat.

Aku istri dari seorang pria bernama Bayu Rahmatullah. Kami menikah lima tahun lalu, dan dalam lima tahun itu, aku lebih sering bicara pada tembok kamar daripada pada Bayu. Cintanya, yang dulu seperti matahari pagi, kini padam ditelan mendung yang tak mau pergi.

Hingga malam itu datang. Malam ketika aku membuka ponsel Bayu, dan seluruh dunia runtuh di hadapanku.


"Aku ingin jadi pelukan terakhir sebelum tidurmu, meski aku hanya perempuan kedua dalam mimpimu."

 

Pesan itu, dikirim oleh seorang wanita bernama Anita, muncul paling atas. Ada foto—mereka berdua di sebuah hotel. Bayu bersandar santai di sofa, hanya mengenakan handuk. Aku ingin memaki, tapi suaraku tertelan oleh gemuruh di dadaku.

Hatiku tercekat. Jari-jariku gemetar. Tapi aku diam.

Malam itu, aku tak menangis. Aku hanya memandangi langit-langit kamar, membayangkan bagaimana cinta bisa membusuk dalam selimut yang sama. Selimut yang seharusnya menyatukan dua tubuh dalam kehangatan, kini menyembunyikan tubuh ketiga dalam kebohongan.



Keesokan harinya, aku duduk bersamanya di meja makan.

"Aku lihat kamu ke Bandung kemarin," kataku tenang, menatapnya yang sedang mengoleskan selai stroberi di roti.

Bayu tersedak sedikit. "Iya, dinas mendadak."

Aku tersenyum miring. “Apakah tubuhmu mendadak juga mendesah di pelukan sekretarismu?”

Dia membeku. Matanya menghindari tatapanku. Tapi aku hanya menatapnya, senyap. Seperti laut yang tenang sebelum tsunami datang.


"Cintamu bukan luka, tapi kau goreskan pisau tiap malam di punggungku."

 

"Puji, aku bisa jelaskan—"

"Tak perlu," potongku. "Aku tahu sejak tiga bulan lalu. Tapi aku ingin tahu sampai kapan kamu mampu berbohong."



Aku mulai mengikuti mereka. Menguntit dengan jaket hitam dan topi lebar, seperti tokoh utama dalam film yang tak pernah tayang. Aku menunggu mereka di parkiran hotel bintang empat. Saat mereka keluar, berpegangan tangan seperti pasangan muda-mudi, aku ingin melempar batu ke arah mereka. Tapi kutahan.

Malam berikutnya, aku mendatangi Anita.

Aku menyamar jadi klien. Kubooking waktu satu jam konsultasi "bisnis" di kantornya.

"Nama saya Sari," kataku sambil duduk.

Anita tak mengenaliku. Ia hanya mengenal versiku yang hidup dalam luka.

"Bisnis apa yang Anda jalankan?" tanyanya, sopan.

Aku menatapnya lama. "Bisnis mencuri suami orang."

Dia terkejut. Wajahnya mendadak pucat. Aku lepaskan kacamata hitamku.

"Aku istri dari pria yang tidur bersamamu di hotel minggu lalu."

"Kau rebut ciuman yang dulu tumbuh di dahi pernikahanku, kini kau ganti dengan gigitan di tubuh yang bukan hakmu."

Dia berdiri, tampak gelisah. "Aku... aku tak tahu dia masih menikah."

"Bohong. Kau sekretarisnya. Kau tanda tangan surat nikahnya lima tahun lalu."

Dia terdiam. Wajahnya kini bukan lagi wanita cantik, tapi wanita yang ketakutan.

"Aku tak akan laporkan. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa malam-malam kalian tak akan pernah sehangat malamku dulu bersamanya."


Pulang dari sana, aku temui Bayu. Ia sedang duduk di teras, menyesap kopi seperti tak pernah menyakiti siapa pun.

"Aku temui Anita," kataku pelan.

Bayu mengangkat wajahnya, dan ketakutan di matanya adalah musik merdu di telingaku.

"Aku tak akan pisah, Bayu."

Dia bingung. "Maksudmu?"

"Aku akan tetap jadi istrimu. Tapi mulai malam ini, kau tidur di kamar tamu. Kau tetap suamiku, tapi hatiku bukan lagi milikmu."


"Cinta bukan tentang siapa yang memelukmu malam ini, tapi siapa yang bangun esok hari dengan tetap memilihmu."


Dia memohon. Menangis. Tapi tangisan Bayu hanyalah simfoni yang sudah tak layak dinikmati.

Aku tetap hidup bersamanya. Tapi tak pernah lagi menyentuhnya. Ia bangun tiap pagi dengan luka yang ia ciptakan sendiri. Aku, Siti Puji Astutik, menjadi bayangan di rumah sendiri. Tapi aku tetap di sana. Bukan karena cinta, tapi karena aku ingin dia tahu: pengkhianatan tidak butuh pisau—ia hanya butuh selimut dan malam yang gelap.


Lima tahun kemudian, Bayu tua. Anita pergi. Dan aku masih di rumah itu.

Tiap malam, aku menulis diari. Tentang malam-malam yang sepi, tapi penuh kemenangan.


"Aku mencintaimu dulu seperti hujan yang tak tahu arah jatuhnya. Kini aku hanyalah tanah yang menolak basah darimu."


 

Cinta dalam selimut malam bukan hanya kisah pengkhianatan. Ia adalah metafora tentang bagaimana kepercayaan bisa hancur dalam hening. Siti Puji tak memilih pergi. Ia memilih bertahan, bukan karena lemah—tapi karena tahu, keadilan kadang hadir lewat ketegaran yang diam.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...