Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
Ilustrasi gambar Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu (pixabay.com) Di balik tirai hujan yang menderu ada kisah yang tak pernah berlalu. Rintik-rintik itu mengetuk hati, mengingatkanku pada sepi yang tak henti. Kau hadir dalam tiap tetes yang jatuh, seperti embun di pagi yang penuh jenuh. Kala hujan turun, aku kembali merindu, pada hadirmu yang kini entah di mana berlalu. Hujan adalah pertemuan kita yang abadi, suara gemericiknya seperti suara hati, yang pelan-pelan mengalirkan luka, namun juga menyembuhkan rindu yang ada. Setiap deras, setiap titik, membawaku jauh ke masa lalu yang klasik, saat kita duduk di bawah langit kelabu, berbagi tawa, cerita, dan rindu. Kini hujan datang tanpa tawamu, namun kenangan itu masih kerap menghibur pilu. Kau yang pernah memeluk dalam k...