Tampilkan postingan dengan label fytviral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fytviral. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2025

Cinta Diam-Diam di Balik Layar Chat: Aku, Kau, dan Rahasia yang Tak Terucap

 

Cinta Diam-Diam di Balik Layar Chat: Aku, Kau, dan Rahasia yang Tak Terucap
ilutrasi foto by pixbay.com


Malam itu layar ponselku kembali berpendar, memantulkan cahaya biru yang menusuk mata. Notifikasi dari namamu muncul. Hanya sebuah pesan singkat:

“Kamu lagi apa?”

Seolah sederhana, tapi pesan itu selalu membuat dadaku bergetar. Jari-jariku bergetar menekan tombol balas.

“Aku lagi mikirin kamu,” ketikku, lalu kuhapus cepat-cepat, menggantinya dengan, “Aku lagi baca buku.”

Aku takut. Takut perasaan ini ketahuan, takut rahasia yang sudah lama kusimpan pecah begitu saja.

“Di balik layar biru ini,
aku menyembunyikan rindu yang nyeri.
Kata-kata kutahan mati-matian,
padahal hati ingin berteriak tanpa ampun.”

Kamu membalas dengan cepat.
“Buku apa? Jangan-jangan buku buat curhatin aku ya?”

Aku tersenyum kecut. Kamu selalu bercanda, selalu ringan, seakan semua hal bisa ditertawakan. Padahal bagiku, setiap pesanmu adalah ancaman: aku bisa jatuh lebih dalam lagi.

“Buku tentang perjalanan,” balasku singkat.

Kamu mengirim stiker wajah tersenyum.
“Kayak kita ya, perjalanan yang nggak pernah jelas ujungnya.”

Aku terdiam lama. Kau mungkin bercanda, tapi kata-katamu seperti pisau. Perjalanan kita memang tak jelas ujungnya.


Beberapa hari berlalu, dan malam itu lagi-lagi kita tenggelam dalam percakapan panjang. Kamu cerita tentang hidupmu, tentang dia—seseorang yang menjadi pasanganmu di dunia nyata. Aku hanya bisa mendengar, memberi saran, sambil menelan perih yang tak pernah kamu tahu.

“Aku capek sama dia,” katamu malam itu.

Aku menggertakkan gigi. “Kalau capek, kenapa nggak berhenti saja?” tanyaku, mencoba terdengar netral.

Kamu membalas cepat.
“Aku nggak bisa. Tapi entah kenapa aku selalu nyaman cerita ke kamu. Rasanya… beda.”

Dadaku seketika sesak. Kata-kata itu seperti hadiah sekaligus kutukan. Aku ingin menjawab jujur, ingin berkata bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku hanya bisa menulis:

“Ya, mungkin aku memang pendengar yang baik.”

“Kau datang mengetuk malamku,
tapi pergi saat fajar membawanya padamu.
Aku hanyalah ruang singgah,
bukan rumah tempat kau pulang.”


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Chat kita semakin intens, semakin dekat, semakin berbahaya. Aku merasa seolah-olah kita punya dunia sendiri, dunia yang tidak diketahui siapa pun.

Namun, semakin dekat, semakin besar pula ketakutanku. Apa jadinya kalau suatu hari rahasia ini terbongkar?

Suatu malam, kamu mengirim pesan yang membuat jantungku nyaris berhenti.
“Aku nggak tahu harus bilang ke siapa. Tapi aku… aku jatuh cinta sama kamu.”

Aku menatap layar ponselku lama sekali. Rasanya seperti mimpi. Kata-kata itu, yang selama ini aku pendam, ternyata keluar dari bibirmu lebih dulu.

Tanganku gemetar menulis balasan. “Kamu serius?”

Kamu menjawab singkat.
“Iya. Tapi aku juga takut.”

Aku memejamkan mata, menahan air mata yang hendak jatuh. Aku tahu kita sedang berjalan di tepian jurang. Satu langkah salah, segalanya akan runtuh.

“Cinta ini rahasia,
yang bersembunyi di balik kata.
Jika dunia tahu,
mungkin kita hanya jadi abu.”

Aku mengetik:
“Aku juga cinta kamu. Dari dulu. Tapi kita harus gimana? Kamu sudah punya dia.”

Beberapa menit tidak ada balasan. Detik terasa seperti jam. Lalu akhirnya muncul pesan darimu.
“Aku juga bingung. Tapi aku nggak bisa lagi pura-pura. Aku butuh kamu.”

Sejak malam itu, semuanya berubah. Chat kita tak lagi hanya sekadar tawa, tapi juga penuh rindu, janji, bahkan doa yang terlarang. Kita tahu ini salah, tapi hati terlalu keras kepala.

Namun kebahagiaan itu singkat. Suatu malam, kamu menulis pesan panjang.

“Dia mulai curiga. Dia lihat chat kita. Aku harus berhenti dulu, jangan chat aku beberapa hari.”

Aku merasa dadaku diremas. “Jangan tinggalin aku begitu saja,” balasku cepat.

Kamu hanya membalas:
“Aku janji balik. Tunggu aku.”

Dan setelah itu, sepi.

Hari berganti, notifikasi tak kunjung muncul. Malam-malamku kosong, tanpa cahaya layar biru darimu. Aku menunggu, menunggu, menunggu, sampai akhirnya aku sadar: mungkin janji itu hanya tinggal janji.

“Aku menulis rindu di layar,
tapi tak ada lagi yang membalas.
Kau hilang ditelan ketakutan,
meninggalkan aku bersama rahasia yang tak terucap.”

Aku masih menggenggam ponsel setiap malam, menunggu namamu muncul lagi. Tapi yang tersisa hanya senyap. Dan aku tahu, cinta diam-diam kita berakhir bukan karena kita tak saling mencinta, tapi karena dunia terlalu kejam untuk memberi ruang bagi cinta yang tak semestinya.


Kita Bertemu di Senja, Tapi Kau Pergi Saat Fajar Menyapa

 

Ilustrasi foto Kita Bertemu di Senja, Tapi Kau Pergi Saat Fajar Menyapa

Senja itu datang dengan warna jingga yang mengguncang hatiku. Aku berdiri di tepi pantai, angin laut membawa aroma asin yang menusuk, tapi lebih menusuk lagi adalah kehadiranmu. Kamu berjalan pelan dari arah dermaga, rambutmu menari diterpa angin, wajahmu tenang namun menyimpan sesuatu yang membuatku gelisah.

“Kamu datang juga,” kataku, berusaha menahan getar suara.

Kamu tersenyum samar, sebuah senyum yang seolah dipaksa lahir dari bibir yang enggan. “Aku janji, kan? Aku harus menepatinya.”

Aku menatapmu lekat, menahan desakan perasaan yang ingin meledak. Selama ini aku menunggumu, mengira pertemuan kita akan menghapus jarak, menghapus luka. Tapi entah kenapa, di balik senja ini, aku merasakan ancaman kehilangan yang begitu dekat.

“Senja memeluk langit,
seperti aku memeluk harap.
Tapi apa gunanya,
jika harap itu hanyalah bayangan yang rapuh?”

Aku duduk di pasir, menepuk tempat di sampingku. Kamu ragu, tapi akhirnya ikut duduk. Hening. Hanya suara ombak yang berbicara.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” katamu akhirnya.

“Mulailah dari hatimu,” sahutku cepat, menatap matamu. “Apa yang sebenarnya kamu simpan dari aku?”

Kamu terdiam. Aku melihat tanganmu gemetar, seakan ada rahasia yang terlalu berat untuk dibawa sendirian.

“Besok aku pergi,” ucapmu lirih.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menoleh cepat, menatapmu dengan sorot penuh tanya. “Pergi? Maksudmu… ke mana?”

“Jauh,” jawabmu. “Sangat jauh. Dan mungkin… aku tidak akan kembali.”

“Jangan biarkan fajar merampas senja,
jangan biarkan jarak memutus doa.
Aku ingin menggenggam,
tapi genggamanku selalu terlambat.”

Aku merasa dadaku ditusuk ribuan jarum. “Kenapa kamu tidak pernah cerita sebelumnya? Kenapa harus sekarang?”

Kamu menunduk. “Aku tidak ingin kamu menahanku. Aku tahu, kalau aku cerita lebih awal, kamu pasti akan memohon aku untuk tetap di sini. Dan aku… aku terlalu lemah untuk menolakmu.”

Aku meraih tanganmu, menggenggam erat. “Kalau begitu biarkan aku egois! Biarkan aku yang memohon, biarkan aku yang menangis. Aku tidak peduli kemana pun kamu pergi, asal bukan meninggalkan aku begini.”

Kamu menatapku dengan mata yang sudah basah. “Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu. Justru karena aku mencintaimu, aku tidak ingin kamu menunggu dalam ketidakpastian.”

Air mataku jatuh. Aku benci kenyataan ini. “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kenapa harus pergi?”

Kamu terdiam, lalu berbisik, “Karena kadang, cinta juga butuh dilepaskan agar tidak semakin menyakitkan.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Segalanya terasa seperti permainan kejam takdir.

“Kamu adalah doa yang tak pernah selesai,
kamu adalah luka yang kucintai.
Jika fajar merebutmu dariku,
biarkan senja menjadi saksi terakhir kita.”

Aku bangkit berdiri, menatap langit yang mulai gelap. “Kalau begitu, izinkan aku bersamamu malam ini. Jangan pergi dulu. Biarkan fajar menjemputmu, tapi biarkan senja ini menjadi milikku.”

Kamu tersenyum getir, lalu ikut berdiri. “Baik. Malam ini milikmu. Tapi janji, jangan benci aku setelah aku pergi.”

Aku menggeleng. “Bagaimana mungkin aku bisa membenci orang yang menjadi alasan aku bertahan hidup?”

Kamu menutup jarak, lalu memelukku erat. Aku merasakan detak jantungmu berpacu dengan detakku. Hangat. Rapuh. Terlalu singkat.

“Terima kasih,” katamu pelan di telingaku. “Kamu adalah rumah yang selalu kuimpikan. Meski aku harus pergi, cintaku tidak pernah pergi darimu.”

Aku menahan napas, mencoba menyimpan aroma tubuhmu, seakan itu bisa membuatku bertahan saat kau benar-benar tiada.

“Pelukan ini sementara,
tapi luka ini selamanya.
Jika esok fajar mencuri dirimu,
biarlah aku mati di dalam rinduku.”

Senja benar-benar menghilang. Gelap menutup langit. Aku tahu, waktu kita hampir habis. Dan aku tahu, esok saat fajar datang, kamu akan pergi.

Tapi malam itu, aku tetap memelukmu, menolak melepaskan, seakan pelukan bisa menghentikan waktu.

Namun aku sadar, tidak ada yang bisa menghentikan fajar.


Jumat, 03 Januari 2025

Cerita Pendek:Di Bawah Langit yang Sama to Indonesia

 

Cerita Pendek:Di Bawah Langit yang Sama to Indonesia
Cerita Pendek:Di Bawah Langit yang Sama to Indonesia(https://pixabay.com/id/photos/jalan-kota-rakyat-malam-perkotaan-7752940/)

Kita selalu percaya bahwa langit adalah satu-satunya saksi yang setia. Ia terbentang tanpa batas, menghubungkan aku dan kamu yang dipisahkan ribuan kilometer oleh daratan dan lautan.

Aku, Ayu, seorang gadis dari Yogyakarta yang jatuh cinta pada Alif, seorang mahasiswa asal Istanbul yang pernah bertukar pelajar di kampusku. Perjumpaan kami dimulai dari sebuah kebetulan, di bawah pohon flamboyan saat ia menolongku mengumpulkan lembaran skripsi yang tertiup angin.

"Ini milikmu, bukan?" tanyanya dengan logat Turki yang kental, namun suaranya terdengar hangat.

Aku tersenyum canggung, mengambil lembaran itu dari tangannya. "Terima kasih, kamu sangat membantu."

Sejak saat itu, kami mulai sering bertemu. Di kantin, di perpustakaan, bahkan dalam perjalanan pulang ke kosan. Entah bagaimana, langkahnya selalu beriringan denganku.

Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk memisahkan. Ketika masa pertukaran pelajarnya usai, Alif harus kembali ke Istanbul. Perpisahan itu terasa begitu cepat, seolah-olah kami baru saja memulai kisah yang belum sempat diukir.

Di bandara, ia menggenggam tanganku erat. "Ayu, aku tahu ini sulit. Tapi aku ingin kita terus berkomunikasi. Aku ingin kita menjaga apa yang sudah kita mulai."

Aku menatap matanya yang menyimpan begitu banyak kerinduan. "Aku juga ingin begitu, Alif. Tapi, apakah cinta bisa bertahan sejauh ini?"

Ia tersenyum tipis. "Langit yang sama akan selalu mengingatkan kita."

Setelah ia pergi, jarak mulai menjadi ujian terbesar kami. Setiap malam aku menatap bintang, bertanya-tanya apakah Alif juga melakukan hal yang sama di sana.

Pesan-pesan dari Alif sering kali menjadi penyelamat hariku.

"Ayu, apa kabar? Di sini musim dingin mulai terasa. Aku harap kamu tetap hangat di sana."

Aku tersenyum membaca pesannya. "Aku baik-baik saja, Alif. Di sini musim hujan, dan aku merindukan secangkir kopi hangat bersama kamu."

"Aku juga merindukanmu. Suatu hari nanti, aku ingin kita duduk di kafe kecil di Istanbul, berbagi cerita tentang semua yang kita lalui."

Waktu berlalu, dan meskipun jarak terus memisahkan, hati kami tetap bertaut. Kami saling menguatkan melalui panggilan video, pesan singkat, dan surat yang sesekali dikirim dengan aroma khas negara masing-masing.

Suatu hari, ketika aku berjalan di Malioboro, sebuah pesan masuk. "Ayu, aku ada kejutan untukmu."

"Apa itu?" balasku penasaran.

"Tunggulah di bawah pohon flamboyan tempat kita pertama kali bertemu."

Dengan jantung berdegup kencang, aku melangkah menuju pohon itu. Angin sore berhembus lembut, membelai wajahku yang dipenuhi rasa rindu.

Dan di sana, di bawah flamboyan, berdiri sosok yang begitu aku rindukan.

"Alif? Bagaimana bisa?"

Ia tersenyum, matanya bersinar hangat. "Aku tak bisa menunggu lebih lama untuk bertemu denganmu lagi. Aku ingin memastikan bahwa cinta ini nyata, meski jarak pernah menjadi tembok."

Aku mendekatinya, merasakan debaran yang telah lama tak kurasakan. "Kamu gila... tapi aku senang kamu ada di sini."

Alif menggenggam tanganku. "Ayu, aku ingin kita berjalan bersama, tak hanya di bawah langit yang sama, tapi juga di jalan yang sama."

Langit sore itu menjadi saksi bisu, menyimpan cerita cinta yang kembali menyatu, seakan jarak tak pernah ada.

"Cinta tidak mengenal batas. Seperti langit yang tak terhitung luasnya, ia menyatukan hati yang berjauhan."

Rabu, 30 Oktober 2024

Cerita Pendek Romantis:Jarak Yang Mematikan

Cerita Pendek Romantis:Jarak Yang Mematikan
Ilustrasi foto Cerita Pendek Romantis:Jarak Yang Mematikan (gambar pixabay.com)



Malam sudah beranjak larut. Kota Bandung tampak tenang di bawah cahaya bulan yang samar-samar menyelimuti jalan-jalan sepi. Nadine duduk di balkon apartemennya, menatap layar ponsel yang kosong. Pesan terakhir dari Ray, kekasihnya yang bekerja di luar negeri, tertulis sederhana, penuh kerinduan: “Jaga dirimu di sana, sayang. Aku selalu rindu.”


Hatinya bergejolak. Selalu ada rasa bersalah yang menyelinap ketika ia mengingat Ray. Sejak lima tahun terakhir, mereka menjalani hubungan jarak jauh. Awalnya, semua baik-baik saja; Nadine bersabar menanti kepulangan Ray, sementara Ray berusaha selalu ada meski hanya melalui layar.


Namun, kesendirian memiliki caranya sendiri untuk menyusup dan menciptakan ruang kosong. Nadine tak pernah berniat mengkhianati Ray, tetapi di kota ini, ia tak sepenuhnya sendiri. Muncullah Arya, seorang lelaki misterius yang ditemuinya di sebuah acara kantor. Arya membawa kehangatan yang selama ini tak dirasakan Nadine. Ada percikan yang tak bisa ia hindari, dan dari sekedar obrolan, mereka mulai terjebak dalam pelukan yang salah.


“Besok kita ketemu lagi, kan?” Arya bertanya suatu malam, ketika mereka berdua duduk di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, hanya beberapa blok dari apartemen Nadine.


Nadine menggigit bibirnya, mencoba menekan perasaan bersalah yang selalu hadir setelah bersama Arya. “Entahlah, Arya. Aku merasa bersalah pada Ray.”


Arya hanya tertawa ringan, “Ray jauh di sana. Kau tak bisa terus hidup dalam bayang-bayangnya, Nadine. Lihat dirimu sekarang. Kau bahagia saat bersamaku.”


Kata-kata itu merayap masuk ke dalam pikiran Nadine. Benarkah ia bahagia? Entah kenapa, setiap kali Arya membisikan kalimat seperti itu, keraguan yang membebat hatinya perlahan luluh. Namun, Nadine tak tahu bahwa di balik keromantisannya, Arya memiliki sisi yang gelap. Sisi yang kemudian akan menyeretnya semakin dalam ke dalam dosa.


---


Waktu terus berjalan, dan Nadine semakin sering bersama Arya. Hubungan mereka sudah terlalu dalam untuk dihentikan. Arya seolah-olah menyihirnya, membuatnya lupa akan komitmen yang ia pegang erat dengan Ray.


Namun, di sisi lain dunia, Ray mulai merasakan ada yang janggal. Nadine jarang membalas pesannya secepat dulu. Suaranya terdengar dingin saat mereka menelepon. Ray menekan rasa cemburu yang mulai menggerogoti hatinya.


Suatu malam, Ray memberanikan diri untuk menanyakan langsung.


“Nadine, kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.


“Aku baik-baik saja, Ray,” jawab Nadine cepat, seolah ingin mengakhiri percakapan.


Ray menghela napas panjang. “Kenapa kamu terdengar jauh? Apa ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan padaku?”


Ada jeda dalam percakapan. Nadine merasa dadanya berat. Tapi, ia menutupinya dengan senyum yang tak terlihat oleh Ray. “Tidak, Ray. Mungkin ini hanya karena kita sudah lama tidak bertemu. Aku rindu padamu.”


Perasaan tak nyaman di hati Ray semakin kuat, tapi ia tak ingin menekannya lebih jauh. “Aku akan pulang bulan depan, Nadine. Kita harus bicara.”


---


Ketika Ray akhirnya kembali ke Indonesia, Nadine merasa hancur. Ia tahu ia harus mengakhiri semua kebohongan ini, tetapi kehadiran Arya seperti candu yang sukar ia lepaskan. Setiap kali ingin mengatakan yang sebenarnya, rasa takut dan ragu menghantuinya.


Namun, Ray bukan orang bodoh. Ia mulai menyelidiki, menyadari ada sosok lain dalam kehidupan Nadine. Hingga suatu hari, ia menemukan bukti yang tak terbantahkan. Pesan-pesan singkat yang tertinggal di ponsel Nadine, pesan dari Arya yang sangat mesra, menjadi saksi bisu perselingkuhan yang selama ini ia curigai.


Dengan hati hancur, Ray memutuskan untuk tetap tenang dan mempersiapkan pembalasannya. Ia tak berniat langsung menghadapi Nadine, tetapi pikirannya sudah dipenuhi kebencian dan amarah yang tak terbendung.


---


Malam yang tenang itu berubah kelam ketika Ray meminta Nadine untuk bertemu di sebuah vila tua di pinggir kota. Nadine yang merasa bersalah, datang dengan hati cemas. Ia tahu ini saatnya untuk menghadapi kebenaran.


Di dalam vila yang sunyi, Ray menatap Nadine dengan tatapan tajam, sementara Nadine menundukkan kepala, menghindari pandangan penuh amarah itu.


“Nadine, katakan padaku. Apa benar kau mencintai pria lain?” suara Ray dingin, mengalir seperti racun.


Nadine tersentak, merasa tubuhnya lemas. Ia tak bisa lagi menahan tangisnya. “Maafkan aku, Ray… aku… aku tak tahu bagaimana ini terjadi. Aku kesepian.”


Ray mengepalkan tangannya, matanya memerah. “Jadi, kesepian menjadi alasan untuk menghancurkan segalanya? Aku memberikan segalanya untuk kita, Nadine. Apa kau tahu apa yang kurasakan?”


Nadine terisak, tetapi ia mengangguk, “Aku tahu, Ray. Aku tahu aku salah. Aku tak pantas mendapat maaf darimu. Tapi Arya… dia memberiku perasaan yang berbeda.”


Nama itu—Arya—membuat Ray semakin gelap. Tanpa peringatan, ia mencengkeram bahu Nadine keras-keras, membuat Nadine terkejut.


“Kau tahu, Nadine,” Ray berbisik di telinganya, “Pengkhianatan tak bisa dimaafkan. Dan aku... aku tak akan pernah melupakan ini.”


---


Malam itu berakhir dalam darah dan jeritan. Ray yang tak bisa mengendalikan amarahnya, dengan brutal menyerang Nadine. Jeritan dan rintihannya memenuhi vila tua itu, menyatu dengan malam yang sunyi. Bukan hanya amarah, tetapi kehancuran hati yang begitu dalam, membuat Ray kehilangan seluruh nalarnya.


Pagi harinya, vila itu sepi dan senyap, hanya menyisakan jejak kegelapan yang akan selalu melekat di sana.


Dan Arya? Ia tak pernah mengetahui nasib yang menimpa Nadine. Yang tersisa hanyalah kenangan akan seorang wanita yang pernah ia kenal, sementara Ray pergi, membawa rasa bersalah dan kebencian yang tak akan pernah benar-benar hilang dari hidupnya.

Senin, 28 Oktober 2024

Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu

 

Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu
Ilustrasi gambar Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu (pixabay.com)

Di balik tirai hujan yang menderu  

ada kisah yang tak pernah berlalu.  

Rintik-rintik itu mengetuk hati,  

mengingatkanku pada sepi yang tak henti.  


Kau hadir dalam tiap tetes yang jatuh,  

seperti embun di pagi yang penuh jenuh.  

Kala hujan turun, aku kembali merindu,  

pada hadirmu yang kini entah di mana berlalu.  


Hujan adalah pertemuan kita yang abadi,  

suara gemericiknya seperti suara hati,  

yang pelan-pelan mengalirkan luka,  

namun juga menyembuhkan rindu yang ada.  


Setiap deras, setiap titik,  

membawaku jauh ke masa lalu yang klasik,  

saat kita duduk di bawah langit kelabu,  

berbagi tawa, cerita, dan rindu.  


Kini hujan datang tanpa tawamu,  

namun kenangan itu masih kerap menghibur pilu.  

Kau yang pernah memeluk dalam keheningan,  

meninggalkan jejak yang takkan hilang dalam ingatan.  


Rinainya mengaburkan batas antara realita dan mimpi,  

di dalamnya, aku menemukanmu kembali.  

Mengulang kisah yang pernah kita rajut,  

meski kini kau hanya bayang di sudut kalbu yang larut.  


Andai bisa, ingin kurengkuh dirimu di antara butiran ini,  

menghapus jarak dan waktu yang kini menghampiri.  

Namun takdir tak bisa kuhentikan,  

kau pergi membawa bagian hatiku yang takkan tergantikan.  


Dalam derasnya, kuucapkan selamat tinggal,  

pada kenangan yang kini berangsur pudar,  

tapi tetap tinggal dalam relung yang teramat dalam,  

seperti hujan, kau abadi dalam ingatan yang takkan tenggelam.  


Maka biarlah hujan jadi saksiku malam ini,  

menyampaikan rinduku yang tak bertepi.  

Di tiap rintiknya, kusisipkan namamu,  

sebagai pesan cinta yang tak pernah berlalu.  


---


Semoga puisi ini bisa mewakili tema yang diinginkan.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...