Tampilkan postingan dengan label puisirindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisirindu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2026

Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota


Puisi:Kenangan Cinta di Tepi Kota
https://id.pngtree.com/free-backgrounds-photos/kota-di-malam-hari


Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak selalu tinggal,
kadang ia hanya singgah—
seperti senja yang berhenti sebentar
lalu pulang tanpa pamit.

Di sini, di batas antara lampu
 jalan dan gelap ladang kosong,
aku pernah menyebut namamu
dengan suara paling pelan
agar angin saja yang mendengarnya.
Kota terlalu sibuk untuk tahu
bahwa dua manusia 
pernah saling menggenggam
tanpa janji, tanpa saksi,
selain waktu yang diam-diam 
menertawakan kita.

Aku ingat langkah kita
menyusuri trotoar retak
di mana rumput kecil tumbuh keras kepala.
Katamu,
“Lihat, bahkan kota yang lelah
pun masih ingin hidup.”
Aku tersenyum,
karena saat itu aku merasa
akulah kota itu,
dan kaulah rumput kecil yang
 memaksaku bertahan.

Lampu kendaraan berlarian seperti ingatan—
datang, menyilaukan, lalu hilang.
Kita berjalan bersebelahan,
tak selalu saling menatap,
tapi tahu keberadaan satu sama lain
lebih nyata daripada cahaya neon
yang berteriak minta diperhatikan.

Aku mencintaimu
dengan cara yang sederhana:
menyimpan tawamu di saku jaket,
menghafal caramu diam saat lelah,
dan menuliskan namamu
di sudut-sudut hati
yang tak pernah kuserahkan pada siapa pun.

Di tepi kota ini,
aku belajar bahwa cinta tidak harus megah.
Ia cukup duduk di bangku halte tua,
berbagi minuman murah,
dan saling bercerita tentang masa depan
yang bahkan kita sendiri ragu mempercayainya.

Kau pernah berkata,
“Jika suatu hari kita berpisah,
ingatlah aku di tempat ini.”
Aku tertawa waktu itu,
mengira perpisahan adalah 
cerita orang lain.
Ternyata, cinta paling jujur
selalu tahu bagaimana cara berpamitan
jauh sebelum kita siap.

Malam-malam di tepi kota
tidak pernah benar-benar sunyi.
Ada deru mesin,
ada gonggongan anjing jauh,
ada suara rel kereta
yang bergetar seperti dada
saat kau menggenggam
 tanganku lebih erat
karena udara terlalu dingin.

Aku ingat bahumu—
tempat kepalaku pulang
setelah seharian menjadi kuat.
Di sana, aku boleh rapuh,
boleh diam,
boleh menjadi seseorang
yang tidak harus menjelaskan apa pun.

Kita berbicara tentang hal-hal kecil:
kopi yang terlalu pahit,
hujan yang selalu datang tiba-tiba,
dan orang-orang kota
yang berjalan cepat
seolah dikejar waktu.
Namun di balik percakapan
sederhana itu,
aku menyimpan doa:
semoga waktu lupa mengejar kita.

Tapi waktu tidak pernah lupa.
Ia hanya pura-pura ramah
sebelum mencuri segalanya.

Hari ketika kau pergi,
tepi kota menjadi asing.
Trotoar yang sama
terasa lebih panjang,
lampu jalan lebih dingin,
dan angin membawa aroma kehilangan
yang tak bisa kusebutkan namanya.

Aku kembali ke tempat kita biasa duduk.
Bangku itu masih ada,
namun tawa kita sudah pergi.
Aku duduk sendirian,
berusaha mendengar suaramu
di antara bising kendaraan,
namun yang kudapat
hanya gema pikiranku sendiri.

Di tepi kota ini,
aku belajar merindukan
tanpa alamat tujuan.
Sebab kau bukan lagi seseorang
yang bisa kutemui,
melainkan kenangan
yang datang saat aku lengah.

Aku mencintaimu
dalam bentuk yang paling sunyi:
tidak memanggil,
tidak menuntut,
hanya mengingat.
Seperti kota yang tetap berdiri
meski banyak orang datang dan pergi.

Kadang aku melihat bayanganmu
di kaca toko yang tutup,
di halte bus,
di ujung jalan tempat kita dulu berpisah
tanpa pelukan panjang,
tanpa air mata berlebihan—
seolah kita ingin terlihat kuat
di hadapan dunia
yang tak pernah peduli.

Jika cinta adalah kota,
maka kita adalah tepinya:
tidak sepenuhnya masuk,
tidak benar-benar pergi.
Selalu di batas,
selalu menggantung,
selalu menjadi kemungkinan
yang tidak pernah terwujud.

Aku menulis namamu
di udara malam,
biar angin yang membawanya.
Jika suatu saat kau lewat di kota ini,
mungkin kau akan merasa
ada sesuatu yang memanggilmu pulang
tanpa suara.

Di tepi kota ini,
aku berdamai dengan kehilangan.
Aku belajar bahwa mencintai
tidak selalu berarti memiliki.
Kadang, cinta hanya ingin dikenang
agar ia tidak mati sia-sia.

Dan jika suatu hari nanti
aku jatuh cinta lagi,
aku harap ia tahu:
ada bagian dari hatiku
yang akan selalu tinggal di sini—
di trotoar retak,
di bangku halte tua,
di tepi kota
tempat aku pernah menjadi
versi diriku yang paling jujur
saat mencintaimu.

Karena cinta,
meski pergi,
selalu meninggalkan alamat
bagi kenangan untuk pulang.

Dan aku,
masih berdiri di tepi kota,
menunggumu
dalam bentuk yang paling abadi:
sebuah ingatan
yang tidak pernah meminta
untuk dilupakan.

Jumat, 20 Juni 2025

Puisi Romantis:Untukmu, Siti Puji Astutik, Wanita Bermata Bintang

Ilustrasi foto _Puisi Romantis:Untukmu, Siti Puji Astutik, Wanita Bermata Bintang



Untukmu, Siti Puji Astutik,
namamu seperti mantra yang kupeluk di dada malam,
mengalir dalam nadi, menjelma bisikan tenang
di antara ribuan detak waktu yang berisik dan retak.

Kau wanita dengan mata berbinar,
seperti gugusan bintang yang menolak padam—
matamu tak sekadar menatap,
tapi menuliskan puisi di ruang-ruang sunyi yang kusembunyikan.

Dalam tiap senyummu,
ada gugur hujan yang memilih jatuh perlahan di pelataran hatiku,
lembut, tapi pasti menumbuhkan rindu
seperti tunas kecil yang tak bisa lagi kubendung tumbuhnya.

Kau bukan hanya cantik,
kau adalah definisi dari sabar yang berjalan,
dari luka yang memilih bangkit,
dan cinta yang tak pernah meminta balas tapi selalu memberi cahaya.

"Kau bukan hanya puisi,
tapi pena yang menuliskannya.
Bukan hanya malam,
tapi rembulan yang memeluk gelapnya."

Siti, jika dunia pernah mengecewakanmu,
biarkan aku menjadi taman tempat kau berpijak,
di mana tak ada air mata—
hanya tawa yang kau tabur dengan langkah anggunmu.

Dalam detik dan jeda,
aku ingin selalu memanggil namamu dengan utuh:
Siti Puji Astutik,
sebuah nama yang berarti kekuatan dalam kelembutan,
angin dalam badai,
dan peluk paling hangat dalam sunyi yang dingin.

Aku mencintaimu tak hanya karena kau indah,
tapi karena kau memilih bertahan ketika semesta menyerah.
Kau matahari bagi pagi yang tak tahu arah,
dan aku, hanya lelaki yang bersyukur pernah melihat cahayamu bersinar dari dekat.


Selasa, 20 Mei 2025

Puisi Romantis:Untukmu yang Lahir pada 21 Mei

 

Ilustrasi Foto Puisi Romantis:Untukmu yang Lahir pada 21 Mei


Pada tanggal dua puluh satu bulan kelima,
Langit seolah tahu, bahwa bumi akan kedatangan cahaya.
Bukan dari bintang, bukan pula dari matahari,
Tapi dari seorang wanita—
Yang lahir dengan rahim kekuatan, 
dan hati seluas samudra yang tak pernah surut memberi.

Hari ini, aku tidak hanya mengucap “selamat ulang tahun”
Tapi aku ingin menyampaikan lebih dari sekadar ucapan,
Karena kamu bukan sekadar wanita, bukan sekadar nama,
Kamu adalah rumah, tempat aku pulang dari segala lelah dan luka.

Selamat ulang tahun, wanita tangguh yang kusebut cahaya,
Yang mampu berdiri ketika dunia pun rasanya tak berpihak.
Yang tak menangis di hadapan dunia, 
tapi diam-diam menghapus air mata
Lalu melanjutkan hidup dengan senyum yang membuatku
 ingin percaya lagi pada segalanya.

Kau hebat, sayang.
Lebih dari yang mungkin sempat kuucap dalam keseharian.
Kau kuat, bahkan ketika aku yang seharusnya jadi tempatmu bersandar
Malah kadang jadi alasan bebanmu bertambah.

Maka hari ini, di tanggal kelahiranmu,
Aku tak hanya membawa doa dan cinta,
Tapi juga maaf yang tulus dari hati 
yang selama ini mungkin terlalu sering lalai.

Maaf…
Untuk malam-malam ketika aku memilih
diam daripada mendengarkan.
Untuk detik-detik saat aku lupa bahwa kamu pun butuh dipeluk,
Bukan hanya diminta untuk kuat
 tapi juga dipahami meski tak berkata-kata.

Maaf jika aku belum bisa jadi lelaki sepenuhnya untukmu.
Tapi aku berjanji, aku belajar—dan akan terus belajar—
Agar hari-hari ke depan tak lagi kamu lalui sendiri,
Agar senyummu tak lagi menjadi kamuflase
dari lelah yang kamu telan diam-diam.

Hari ini, aku ingin kau tahu…
Tak ada satu pun versi dirimu yang tak layak dicintai.
Dengan luka, dengan tangis, dengan tawa,
Kau tetap wanita paling luar biasa
yang pernah hadir dalam hidupku.

Dan jika semesta mengizinkan,
Aku ingin menua bersamamu,
Menjadikan tanggal 21 Mei 
bukan hanya hari ulang tahunmu,
Tapi juga hari di mana aku mengulang sumpah:
Untuk mencintaimu lebih baik dari kemarin,
Dengan lebih banyak sabar, lebih banyak pelukan,
dan lebih banyak kata "terima kasih".

Selamat ulang tahun, cinta.
Hari ini, dunia merayakan kelahiran
seseorang yang tak hanya kuat,
Tapi juga layak untuk dicintai, dihargai, dan dijaga…
Seumur hidup.







.........................


puisi ini saya dedifikasikan untuk dia seseorang yang pernah menjadi yang paling spesial dalam hidupku,terima kasih dulu pernah hadir,terima kasih dimanapun kini kau berada ,kau tetap menjadi satu satunya inpirasi di setiap puisiku.

Kamis, 08 Mei 2025

Puisi Romantis:Kau Dilahirkan untuk Kucintai

Puisi Romantis:Kau Dilahirkan untuk Kucintai photo by https://www.google.com/search?q=wanita+berhijab+cantik+hitam


Pada bulan Mei,
ketika hujan menggoda daun muda dan matahari mencumbu pagi,
kau lahir—diam-diam alam bersorak,
seolah semesta tahu,
ada jiwa lembut yang akan tumbuh jadi puisi.

Aku tak tahu persis bagaimana dunia sebelum kau hadir,
tapi sejak mengenalmu,
waktu serasa bersyair,
dan hariku menari dalam wangi namamu.

Hari ini ulang tahunmu,
dan aku ingin mengucapkannya bukan sekadar lewat kata—
tapi lewat getar jantung yang tak pernah berdusta
sejak pertama kau hadir dalam hidupku
bagai musim semi dalam dada yang lama beku.

Selamat ulang tahun, kekasihku,
dengan setiap hela napas yang kusematkan dalam doa,
aku merayakanmu—
bukan hanya karena usiamu bertambah,
tapi karena dunia kembali disirami cahaya lembut matamu.

Kau adalah alasan kenapa aku menunggu bulan Mei
bukan karena bunga mekar,
tapi karena kau—
bunga itu sendiri,
yang mekar dalam setiap kalimat rindu yang tak sempat kukatakan.

Hari ini,
aku ingin mengganti kue ulang tahunmu dengan kecupan di kening,
menggantikan lilin dengan hangat genggaman tangan kita
yang tak pernah lelah menyalakan harapan.

Kau adalah hari istimewa yang berjalan di antara hari-hari biasa.
Dan untukmu, aku bersedia menjadi hujan
yang turun pelan-pelan ke dadamu,
membisikkan bahwa kau layak dicintai
dengan cara paling manusiawi,
paling tulus,
paling tak bisa dijelaskan dengan logika.

Ulang tahunmu adalah puisi yang ditulis langit,
dengan tinta rindu dan pena waktu.
Dan aku,
adalah pembaca setiamu,
yang akan selalu mengeja namamu dengan mata berbinar,
dan mencintaimu dalam diam yang penuh gema.

Selamat ulang tahun, cintaku di bulan Mei—
Semoga setiap detik dalam hidupmu
dipeluk bahagia
seperti aku memelukmu dalam kata-kata ini.


Jumat, 02 Mei 2025

Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian

 

Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian
ilustrasi Foto Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian 
https://pixabay.com/id/photos/gadis-kesepian-matahari-terbenam-5560212/


Di bawah langit senja yang perlahan redup,
kutemukan lagi warna jingga yang menelusup
di sela-sela daun gugur dan angin yang letih.
Setiap lembarnya seakan menyebut namamu—kamu,
yang entah di mana, entah dengan siapa kini berdiri.

Aku duduk di antara bayang dan harap,
menghitung waktu dengan denyut rindu yang tak henti.
Kupikir waktu akan membuatku lupa,
tapi nyatanya setiap detik justru menoreh lebih dalam.
Cintamu belum datang, namun rinduku tak pernah absen.

Penantian ini bukan sekadar waktu yang berlalu,
tapi jiwa yang bertahan di dalam kesunyian,
menyimpan sejuta harap pada yang mungkin tak pernah datang.
Namun tetap saja kutunggu, seperti laut menanti hujan,
seperti malam merindukan pendar bulan.

Kamu—satu kata yang terus terpatri dalam doaku,
meski langit berganti warna, dan dunia terus berlari.
Dalam setiap langkah, bayangmu menjelma
menjadi luka yang lembut, indah namun mengiris.

Dan saat jingga kembali melukis langit senja,
aku masih di sini,
menyulam harapan di antara rerintik sepi,
memanggil namamu dalam diam yang panjang—
cinta yang tak pernah tiba,
namun tetap kutunggu tanpa lelah.



puisi ini saya dedifikasikan untuk dia yang ada dalam setiap langka,namun tak ada dalam kehidupan nyata.

@faiqnada_


Jumat, 28 Maret 2025

PUISI:KERINDUAN RINTIK HUJAN

 

PUISI:KERINDUAN RINTIK HUJAN (https://pixabay.com/id/photos/hujan-jalan-kota-pelabuhan-1479303/)


Hujan menari di atas jendela,
rintiknya menyapa dengan lembut,
seperti bisikan rindu yang terpendam,
menyentuh hatiku dengan lembut.

Setiap tetes yang jatuh,
adalah jejakmu yang hilang di waktu,
mengingatkanku pada senyum yang dulu,
yang kini hanya ada dalam mimpi.

Hujan, bawa aku kembali ke pelukanmu,
bawa aku menelusuri jalan yang pernah kita lalui,
di mana setiap langkah kita penuh tawa,
sekarang hanya ada sepi dan bayanganmu.

Kau tahu, dalam diam aku merindukanmu,
di setiap rintik yang menari,
aku merasa ada bisikanmu yang hilang,
seperti angin yang membawa namamu,
meski tak pernah kembali.

Aku menutup mata,
dan hujan mengalirkan kenangan,
tentang saat kita berlari bersama,
di bawah langit yang menatap kita dengan penuh janji.

Namun kini, hanya rintik yang menemani,
dalam hening yang menyelubungi hati,
kerinduanku yang tak pernah padam,
terpatri dalam setiap tetes hujan ini.

Oh, betapa ingin kutemui kamu,
di bawah hujan ini, dalam sunyi,
seperti dulu, kita berdua—
rintik hujan dan kerinduan, saling mengisi.

 



(untuk siapapun itu yang dulu sempat ada dalam serangkaian buku harian namun kini sudah hilang tanpa kabar.terima kasih)

Rabu, 23 Oktober 2024

Puisi Romantis:Malam Yang Kelabu

 

ilusi foto Puisi Romantis:Malam Yang Kelabu by pixabay.com


Di bawah langit malam yang kelabu,  

Aku menanti, dalam diam yang pilu.  

Angin berbisik di antara bayang,  

Mengantar rindu yang tak pernah pulang.


Bintang-bintang enggan bersinar,  

Menyisakan gelap yang semakin lebar.  

Seperti hatiku yang kian rapuh,  

Merindu cinta yang tak pernah utuh.


Aku bertanya pada bulan,  

Mengapa cinta ini tak kunjung datang?  

Ia tersenyum dalam pudar cahayanya,  

Menyembunyikan rahasia di balik pesonanya.


Malam yang dingin memeluk jiwaku,  

Namun hatiku tetap hangat menantimu.  

Dalam kesunyian yang panjang dan hampa,  

Aku berharap pada cinta yang tak bernyawa.


Ada rindu yang tak terkatakan,  

Terbentang di antara angan dan kenyataan.  

Mungkin cinta tak pernah hadir,  

Namun hati ini tak mampu berakhir.


Di balik kabut malam yang kelabu,  

Aku masih setia di ujung waktu.  

Menunggu cinta yang mungkin tak pernah ada,  

Namun tetap kuharap dalam setiap doa.


Meski kau tak pernah datang,  

Aku tak pernah merasa sendirian,  

Karena di malam yang hening ini,  

Cintaku tetap hidup dalam sunyi.

Puisi:Rintik Hujan Dibawah Kenangan

Puisi:Rintik Hujan Dibawah Kenangan street foto pixabay.com


Rintik hujan jatuh perlahan,  

Membawa sisa kenangan di setiap tetesnya.  

Malam yang sunyi jadi saksi,  

Kala aku dan kamu pernah bersanding,  

Menyulam cinta di bawah langit kelabu.


Setiap rintik yang membasahi tanah,  

Menggema lamat-lamat di hatiku.  

Seolah mengulang kembali hari itu,  

Saat jemarimu menggenggam tanganku,  

Dan aku merasakan hangatnya dirimu di dekatku.


Hujan tak hanya membawa dingin,  

Ia membawa cerita yang dulu kita titipkan,  

Saat cinta masih begitu dekat,  

Seperti pelangi yang menghiasi sore,  

Setelah badai pergi.


Namun kini, di bawah hujan yang sama,  

Aku hanya sendiri meresapi sunyi,  

Menghitung tetes-tetes yang jatuh,  

Mencari bayanganmu di setiap bias air.


Hujan ini, ia masih setia,  

Mengantarkan kenangan tentang kita.  

Walau waktu telah berlalu,  

Cintaku tak pernah surut,  

Seperti hujan yang tak lelah jatuh,  

Menyirami kenangan yang terus hidup,  

Dalam hatiku yang terdalam.


Mungkin hujan adalah pesan,  

Bahwa cinta sejati tak pernah pudar,  

Meski kita tak lagi bersama,  

Cintamu tetap ada,  

Menghujani setiap ruang dalam diriku,  

Tak lekang oleh waktu.

Rabu, 25 September 2024

Puisi:Bango untuk pesta perkawinanmu

 



ini bango hitam gurih itu,

aku persembahkan untuk pesta perkawinanmu,

untuk kau hidangkan pada tamu undangamu,

kau waras bukan main,

yang gila adalah cinta kita berdua,

kau berjanji kita akan bertemu Kembali,

namun kau pergi menghilang tanpa permisi,

 


waktu silir berganti dan kau datang lagi,

namun bukan menjadi kekasih

melaikan sebagai orang asing yang menising hati,

kau memberiku sepucuk surat yang terbungkus rapi,

dengan pita merah merona.

Ada Namamu dan Namanya yang Bersiap untuk mengikat janji suci.

 

Sebab itu,

Aku persembahkan kecap bango hitam gurih,

Untuk pesta perkawinanmu,

Dengan resep nasi goreng hitam itu,

Dengan bahan 300gram nasi putih,25gram bumbu putih,

1 pcs telur ayam,20gram minyak goreng,30gram ayam siwur,

20gram bango hitam,4gram garam.

Itu sudah cukup mengenyangkan perut tamu undanganmu,

Rasanya yang gurih tertatih,

Seperti dahulu kita membayangkan cinta kita akan bersemi abadi,

Warna hitamnya begitu pekat sepekat perih yang kau buat,


 

Namun kini kisah hanyalah kisah

yang patut di syukuri keberadaanya,

dan aku Kembali melangkah meninggalkan pesta perkawinanmu,

menyusuri Lorong penuh gemericik kerinduan,

dan dalam hati terus berdo’a  agar namamu dan Namanya

tetap abadi selamanya

Selasa, 17 September 2024

Kumpulan Puisi Paling Romantis Tentang Rindu

Kumpulan Puisi Paling Romantis Tentang Rindu
Kumpulan Puisi Paling Romantis Tentang Rindu https://pixabay.com/id/photos/pantai-pasangan-matahari-terbenam-7087722/



"Rindu yang Tak Berbisik"


Dalam sepi malam, ku titipkan rindu,  

Pada angin yang melintasi sunyi  

Menyentuh jendela hati,  

Tanpa suara, tanpa isyarat yang pasti.


Rinduku diam, namun tak pernah mati,  

Mengalir halus seperti sungai di dada  

Yang tak henti-hentinya membawa kenangan,  

Tentang tatapanmu yang pernah singgah.


Kau jauh, bagai bintang di langit senja,  

Namun sinarmu tetap hadir di benakku,  

Menghiasi cakrawala rasa  

Yang tak pernah bisa kusentuh.


Aku menahan segala bisik dan getar  

Dalam pertemuan yang tak pernah terjadi,  

Karena rindu ini tak akan pernah usai,  

Meski tak terucap, meski tak terdengar. 


Di antara waktu yang mengulur jarak,  

Kau tetap ada dalam pikiranku,  

Bersemayam diam di sudut kalbu,  

Tempat rindu tumbuh tanpa tahu kapan berhenti.




"Rindu yang Tak Tersuarakan"


Ada rindu yang tak sempat mengucap kata,  

Ia tumbuh dalam sunyi, meniti malam tanpa suara.  

Seperti embun yang jatuh diam-diam,  

Menyentuh rumput, lalu hilang dalam cahaya pagi.  


Dalam hatiku, kau adalah bayangan yang setia,  

Berjalan bersama detik, menyusup di sela udara.  

Aku menghirupmu tanpa sadar,  

Tapi tak pernah mampu memanggil namamu dengan lantang.  


Setiap malam, aku menulis puisi di langit,  

Mencari jejakmu di antara bintang-bintang,  

Namun rindu ini tak ingin menyakiti,  

Ia memilih membisu, tersimpan dalam ruang tanpa penghuni.  


Jika diam adalah bahasa cinta,  

Maka biarlah aku mencintaimu dalam sunyi.  

Rindu ini abadi, meski tak pernah terucap,  

Tertinggal di dalam dada, menjadi rahasia yang tak terjamah.  



"Rindu dalam Diam"


Dalam sepi yang tak kunjung pudar,  

kubiarkan rinduku menari di sudut senja,  

tak tersampaikan, tak terucap,  

hanya berbisik pada angin malam.


Ada namamu yang terukir di langit malam,  

di antara bintang yang redup,  

namun bibirku kelu,  

tertahan di pusaran waktu yang diam.


Setiap detak, setiap hela nafas,  

hanya rindu yang bernyanyi dalam kalbu,  

tanpa suara, tanpa kata,  

terkunci rapat di dalam dada.


Kukenang senyummu dalam diam,  

seperti hujan yang turun pelan,  

membasahi tanah tanpa gemuruh,  

hanya sunyi yang tahu betapa aku merindu.


Aku menunggumu di batas angan,  

di ruang antara mimpi dan harapan,  

namun rindu ini, sayang,  

tetaplah rindu yang tak pernah terucap.


Dan aku,  

adalah kekasih yang mencintaimu dalam diam,  

menyulam rindu dalam bayang-bayang,  

tanpa akhir, tanpa jeda,  

seperti senja yang tak pernah berkata.



"Rindu yang Tak Terucap"


Di dalam senyap, aku merangkai rindu,  

Menarikan hasrat di ujung malam kelabu.  

Dalam bayang, wajahmu melintas perlahan,  

Menyisakan desir halus yang tak pernah padam.


Kata-kata terkurung di ujung bibir,  

Tersesat dalam jantung, terikat tak berakhir.  

Ingin ku sampaikan, tapi aku hanya diam,  

Biarlah rasa ini mengalir seperti hujan, diam-diam.


Kau jauh, namun dekat di setiap detak,  

Rinduku memelukmu, meski tanpa jejak.  

Aku menyimpan bayanganmu dalam sepi,  

Seperti ombak yang tak henti mencumbu tepi.


Oh, betapa ingin kuteriakkan rindu ini,  

Tapi takut, jika angin membawanya pergi.  

Dan akhirnya, biarlah cinta ini tak tersampaikan,  

Seperti langit yang mencintai bintang, dari kejauhan.

Rabu, 04 September 2024

Kumpulan Puisi Romantis

 

ilusi gambarkumpulan puisi
Ilusi gambar kumpulan puisi romantis
(https://pixabay.com/id/vectors/patah-hati-sedih-depresi-jantung-7182718/)

Keping Hati yang Terkoyak


Dalam hening malam yang pekat,  

Aku menyulam kenangan dari sisa-sisa perasaan,  

Merajut mimpi yang pernah kita anyam,  

Di antara bintang-bintang yang meredup pelan.  


Kau adalah bayang yang selalu kupuja,  

Namun kini kau pergi, menyisakan luka,  

Seperti angin yang mencuri nyawa,  

Hilang tanpa jejak, tanpa suara.  


Cintaku padamu bak lautan tak bertepi,  

Tapi kau memilih tenggelam dalam arus lain,  

Meninggalkanku terombang-ambing sepi,  

Di samudra rindu yang tak pernah berakhir.  


Bagaimana bisa kutemui pagi tanpa senyummu,  

Saat embun masih menyimpan sisa air mataku?  

Bagaimana bisa kulewati hari tanpa bayangmu,  

Jika setiap detik adalah gemuruh rindu yang pilu?  


Aku berdiri di ambang senja yang meratap,  

Mencari serpihan cinta yang terburai,  

Namun hanya bayanganmu yang singgah,  

Menghancurkan harap, mengoyak damai.  


Hati ini, sayang, telah kau buat layu,  

Bagai mawar merah yang tak lagi merekah,  

Kau bawa pergi cintaku, namun tak pernah tahu,  

Bahwa dalam ketiadaanmu, hidupku luruh, merekah.  


Aku terjebak dalam lingkaran kenangan,  

Yang tak pernah ingin kau kenang lagi,  

Tapi cintaku padamu, meski dalam kepedihan,  

Akan tetap abadi, di antara serpihan mimpi.




Simfoni Hati yang Merana


Dalam dekapan malam, kutemukan sepiku,  

Terdengar bisikan sunyi dari celah angin pilu.  

Kau, yang pernah menjadi bintang di langitku,  

Kini hanya bayang kabur di tepian rinduku.


Dulu, hatiku berkelana di samudra cintamu,  

Mengarungi gelombang, tak takut terhempas badai.  

Namun kini, perahu kecilku terdampar,  

Di pantai sepi, tanpa jejak langkahmu.


Di setiap hembusan nafas, ada namamu,  

Menyelinap dalam sunyi, menggema dalam hampa.  

Cintaku yang tak tersentuh, terbuang sia-sia,  

Seperti embun yang mencair sebelum mentari tiba.


Oh, betapa aku merindukan tatapmu,  

Yang dahulu menyulut api di dadaku.  

Namun, api itu kini padam, tertelan waktu,  

Meninggalkan hanya abu, bekas cinta yang rapuh.


Kau, kekasih yang kini jauh di angan,  

Menghilang dari genggamanku, hilang dari pandang.  

Aku terperangkap dalam labirin kenangan,  

Mencari jejak cinta yang tak lagi pulang.


Seandainya bisa, ingin kuhapus segala ingatan,  

Namun tiap luka ini justru terukir lebih dalam.  

Cintaku masih bernyawa, meski merana,  

Dalam sunyi yang menggigit, aku terpuruk dalam duka.


Kini aku berjalan sendirian,  

Dalam dunia yang dulu kau terangi.  

Tanpamu, setiap langkah terasa beban,  

Seperti mimpi yang terbangun di pagi buta,  

Kehilangan arah, kehilangan makna.




Di Reruntuhan Cinta


Di malam pekat, aku terjaga,  

Mengais kenangan di sela-sela asa,  

Wajahmu, bayang-bayang tak teraba,  

Hadir dalam sepiku yang hampa.


Cinta yang pernah kau tabur di dadaku,  

Kini layu, berguguran tanpa isyarat,  

Bagai bunga yang mati sebelum mekar,  

Tertinggal hanya tangkai, berduri tajam.


Kata-kata manis yang kau ucapkan,  

Kini menjadi bisikan pilu dalam mimpiku,  

Setiap janji yang kau berikan,  

Tenggelam dalam lautan air mata biru.


Aku menanti di ujung sunyi,  

Namun harapanku memudar,  

Cinta ini terhempas di pantai sepi,  

Tersapu ombak, hilang tak terselamatkan.


Kau adalah puisi yang kutulis di atas pasir,  

Lenyap sebelum sempat terbaca,  

Kini aku hanya penyair yang terluka,  

Menggoreskan kesedihan dalam sajak tanpa suara.


Di reruntuhan cinta yang kau tinggalkan,  

Aku berdiri, menggenggam rindu yang tak pernah terjawab,  

Hati ini, biarlah hancur dan remuk,  

Sebab dari reruntuhan, akan lahir kekuatan yang baru.


Senin, 02 September 2024

Puisi cinta:Rindu yang Tak Terucap

Rindu yang Tak Terucap
Ilusi foto Puisi cinta:Rindu yang Tak Terucap


Rindu ini adalah hujan di musim kemarau,  

Mengalir di setiap sudut hati yang hampa,  

Seperti langit yang menunggu senja datang,  

Aku menantimu dalam sunyi yang tak berkesudahan.  


Di malam yang lengang, bulan pun pudar,  

Bintang-bintang seakan berbisik tentangmu,  

Setiap detik adalah langkah menuju kenangan,  

Dimana senyummu menjadi pelipur lara.  


Kutulis namamu di tiap helai angin,  

Di antara bisikan daun dan gemerisik malam,  

Suaranya melengkung di langit hatiku,  

Menciptakan simfoni yang hanya bisa kudengar.  


Rindu ini, sayang, adalah puisi tak berjudul,  

Diwarnai oleh mimpi-mimpi tanpa ujung,  

Seperti ombak yang tak lelah mengejar pantai,  

Aku mengejarmu dalam benakku yang tak pernah usai.  


Tiada kata yang cukup untuk menggambarkan,  

Seberapa dalam rindu ini mengakar,  

Hanya hati yang tahu dan malam yang paham,  

Bahwa setiap detik tanpamu adalah penantian abadi.  


Aku menanti, seperti mawar menanti embun pagi,  

Seperti matahari menanti ufuk terbit,  

Rindu ini adalah bayangmu yang selalu ada,  

Meski jauh, namun hatimu tak pernah hilang dari rasa.



Kamis, 29 Agustus 2024

PUISI ROMANTIS "TENTANGMU"


https://pixabay.com/id/photos/
ilusi photo (https://pixabay.com/id/photos/)


Pernahkah kau ada
di mana hidupmu begitu teratur,
melakukan segala rutinitas
dengan seragam berharap semua
berjalan degan semestinya,
namun seseorang datang.memporak porandakan hidupmu
dengan teka teki yang masih misteri.

Semestaku sebelum kau datang
adalah repitisi yang membosankan.
aku tak tau bagaimana menghargai mentari
yang membuka plopak pelopak pagi
aku tak tau cara mensiasati rintik hujan
yang menghantarkan kerinduan
aku tak faham mana kalimat indah di bait puisi,
aku lupa bahwa kita diciptakan lebih besar,
dari sekedar rutinitas
dan cinta sepatutnya menjadika kita tetap melangkah.
garis besarnya aku lupa cara menjadi manusia.
Dan kemudian kau datang

Kau menjadi seseorang yang aku agum agumkan.
dengan caramu termanis
kau menuntutku untuk menjalan rutinitas
dengan iklas,dan sabar mensyukuri
segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir.
Maka,izinkan aku mensiasatimu,menulis
tentangmu,meski aku tak tau suratku
tersampaikan di sisi ranjangmu atau terdampar
di perjalanan menuju rumahmu.
izinkan aku menulis perjalanan kita.
agar kau dan aku tak lupa
di antara pertemuan dan perpisahan,
pagi pernah dipenuhi repitis,
senja pernah di penuhi bait puisi
dan malam pernah di penuhi senyuman.
dan tangan kita pernah saling menguatkan
di antara pertemuan dan perpisahan
kita pernah berjuang menyatukan perbedaan.
meski di akhiri saling mengiklaskan.
kau dan aku pernah menjadi kita.





Hidup yang tak di perjuangkan,maka
tak pernah di kisahkan”



Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...