Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa pernah mengatakannya. Bukan karena aku takut ditolak, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan cara paling suci untuk menyebut namamu: dalam doa . Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud. Kau tak pernah tahu. Dan aku berharap, kau tak perlu tahu. — Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri. “Cinta itu ujian,” katamu suatu malam. “Ujian yang bagaimana?” tanyaku. “Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.” Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali. Aku menyembunyikan namamu di antara tasbih d...
Ilustrasi foto _Puisi Romantis:Untukmu, Siti Puji Astutik, Wanita Bermata Bintang Untukmu, Siti Puji Astutik, namamu seperti mantra yang kupeluk di dada malam, mengalir dalam nadi, menjelma bisikan tenang di antara ribuan detak waktu yang berisik dan retak. Kau wanita dengan mata berbinar, seperti gugusan bintang yang menolak padam— matamu tak sekadar menatap, tapi menuliskan puisi di ruang-ruang sunyi yang kusembunyikan. Dalam tiap senyummu, ada gugur hujan yang memilih jatuh perlahan di pelataran hatiku, lembut, tapi pasti menumbuhkan rindu seperti tunas kecil yang tak bisa lagi kubendung tumbuhnya. Kau bukan hanya cantik, kau adalah definisi dari sabar yang berjalan, dari luka yang memilih bangkit, dan cinta yang tak pernah meminta balas tapi selalu memberi cahaya. "Kau bukan hanya puisi, tapi pena yang menuliskannya. Bukan hanya malam, tapi rembulan yang memeluk gelapnya." Siti, jika dunia pernah mengecewakanmu, biarkan aku menjadi taman tempat kau berpijak, di m...