Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Ilustrasi foto _Puisi Romantis:Untukmu, Siti Puji Astutik, Wanita Bermata Bintang
Untukmu, Siti Puji Astutik,
namamu seperti mantra yang kupeluk di dada malam,
mengalir dalam nadi, menjelma bisikan tenang
di antara ribuan detak waktu yang berisik dan retak.
Kau wanita dengan mata berbinar,
seperti gugusan bintang yang menolak padam—
matamu tak sekadar menatap,
tapi menuliskan puisi di ruang-ruang sunyi yang kusembunyikan.
Dalam tiap senyummu,
ada gugur hujan yang memilih jatuh perlahan di pelataran hatiku,
lembut, tapi pasti menumbuhkan rindu
seperti tunas kecil yang tak bisa lagi kubendung tumbuhnya.
Kau bukan hanya cantik,
kau adalah definisi dari sabar yang berjalan,
dari luka yang memilih bangkit,
dan cinta yang tak pernah meminta balas tapi selalu memberi cahaya.
"Kau bukan hanya puisi,tapi pena yang menuliskannya.Bukan hanya malam,tapi rembulan yang memeluk gelapnya."
Siti, jika dunia pernah mengecewakanmu,
biarkan aku menjadi taman tempat kau berpijak,
di mana tak ada air mata—
hanya tawa yang kau tabur dengan langkah anggunmu.
Dalam detik dan jeda,
aku ingin selalu memanggil namamu dengan utuh:
Siti Puji Astutik,
sebuah nama yang berarti kekuatan dalam kelembutan,
angin dalam badai,
dan peluk paling hangat dalam sunyi yang dingin.
Aku mencintaimu tak hanya karena kau indah,
tapi karena kau memilih bertahan ketika semesta menyerah.
Kau matahari bagi pagi yang tak tahu arah,
dan aku, hanya lelaki yang bersyukur pernah melihat cahayamu bersinar dari dekat.
Komentar
Posting Komentar