Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
ilusi foto Puisi Romantis:Malam Yang Kelabu by pixabay.com Di bawah langit malam yang kelabu, Aku menanti, dalam diam yang pilu. Angin berbisik di antara bayang, Mengantar rindu yang tak pernah pulang. Bintang-bintang enggan bersinar, Menyisakan gelap yang semakin lebar. Seperti hatiku yang kian rapuh, Merindu cinta yang tak pernah utuh. Aku bertanya pada bulan, Mengapa cinta ini tak kunjung datang? Ia tersenyum dalam pudar cahayanya, Menyembunyikan rahasia di balik pesonanya. Malam yang dingin memeluk jiwaku, Namun hatiku tetap hangat menantimu. Dalam kesunyian yang panjang dan hampa, Aku berharap pada cinta yang tak bernyawa. Ada rindu yang tak terkatakan, Terbentang di antara angan dan kenyataan. Mungkin cinta tak pernah hadir, Namun hati ini tak mampu berakhir. Di balik kabut malam yang kelabu,...