Tampilkan postingan dengan label puisisenja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisisenja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Juni 2025

Nona Manis Berambut Merah Muda

Nona Manis Berambut Merah Muda



Nona manis berambut merah muda,
warna rambutmu seperti fajar pertama—
menyala lembut, menghapus gelap di dada.
Kau berjalan di antara bayang-bayang keraguan,
namun keyakinanmu selalu lebih terang dari cahaya pagi.

Wajahmu elok seperti lukisan yang belum selesai,
karena setiap hari kau terus melukis dirimu sendiri,
dengan warna-warna impian,
dan garis-garis penuh keberanian.
Kecantikanmu bukan hanya soal rupa,
tapi tentang bagaimana kau menantang dunia
tanpa kehilangan senyum.

Ada kekuatan dalam cara kau tertawa,
seolah hidup tak pernah bisa menundukkanmu.
Kau bangkit setiap kali jatuh,
seperti bunga sakura yang tak pernah takut musim.
Kau percaya bahwa luka hanyalah jeda,
dan kegagalan adalah anak tangga
menuju keberhasilan yang lebih tinggi.

Berambut merah muda,
kau hadir bak musim semi dalam hidupku—
menghidupkan, menyegarkan,
dan membuatku percaya bahwa cinta tak pernah mati.

Kau punya sejuta motivasi di balik matamu,
dan aku jatuh cinta,
bukan hanya pada cantikmu yang memesona,
tapi pada jiwamu yang tak pernah lelah bermimpi.

Nona manis,
di dunia yang sering meremehkan tekad wanita,
kau berdiri seperti nyala,
menerangi jalanmu sendiri
dan menghangatkan langkahku yang pernah beku.










(puisi untuk dia yang ada di dalam do'a namun hilang di dunia nyata,
untukmu yang gelap tapi menjadi terang dalam setiap perjalanan
terima kasih telah hadir aku harap kau tak pergi seperti mimpi)


Jumat, 02 Mei 2025

Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian

 

Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian
ilustrasi Foto Puisi Romntis:Dalam Senyap Penantian 
https://pixabay.com/id/photos/gadis-kesepian-matahari-terbenam-5560212/


Di bawah langit senja yang perlahan redup,
kutemukan lagi warna jingga yang menelusup
di sela-sela daun gugur dan angin yang letih.
Setiap lembarnya seakan menyebut namamu—kamu,
yang entah di mana, entah dengan siapa kini berdiri.

Aku duduk di antara bayang dan harap,
menghitung waktu dengan denyut rindu yang tak henti.
Kupikir waktu akan membuatku lupa,
tapi nyatanya setiap detik justru menoreh lebih dalam.
Cintamu belum datang, namun rinduku tak pernah absen.

Penantian ini bukan sekadar waktu yang berlalu,
tapi jiwa yang bertahan di dalam kesunyian,
menyimpan sejuta harap pada yang mungkin tak pernah datang.
Namun tetap saja kutunggu, seperti laut menanti hujan,
seperti malam merindukan pendar bulan.

Kamu—satu kata yang terus terpatri dalam doaku,
meski langit berganti warna, dan dunia terus berlari.
Dalam setiap langkah, bayangmu menjelma
menjadi luka yang lembut, indah namun mengiris.

Dan saat jingga kembali melukis langit senja,
aku masih di sini,
menyulam harapan di antara rerintik sepi,
memanggil namamu dalam diam yang panjang—
cinta yang tak pernah tiba,
namun tetap kutunggu tanpa lelah.



puisi ini saya dedifikasikan untuk dia yang ada dalam setiap langka,namun tak ada dalam kehidupan nyata.

@faiqnada_


Senin, 28 April 2025

Puisi Romantis:"Anggur Merah di Balik Hijab"

gadis senja
Puisi Romantis:"Anggur Merah di Balik Hijab" 
ilusi foto https://id.pinterest.com/pin/137008013656804641/




Di sudut senja yang perlahan runtuh,
kulihat engkau—gadis berselendang putih abu-abu,
langkahmu lirih, bagai bisikan angin
yang mengendap dalam harum musim gugur.

Di tangan mungilmu, segelas anggur merah berayun,
seperti rahasia yang ingin kau bisikkan pada malam,
seperti cerita lama yang tak pernah selesai
tentang rindu yang mengalir pelan di antara sela-sela doa.

Hijabmu melambai di pipi senja,
putihnya seperti sumpah suci
namun matamu—ya, matamu—
sembunyikan badai yang tak bisa diredam
oleh syahadat ataupun salat maghrib.

Kau teguk pelan anggur berdosa itu,
dan pada tiap tetesnya, kau simpan satu patah harap,
satu serpihan janji yang dulu pernah kau ucapkan
di bawah langit yang kini terasa jauh dan dingin.

Betapa manis dan getirnya kau malam ini,
seperti luka yang dibungkus senyum sabar,
seperti doa yang dikirimkan sambil menggenggam dunia
yang perlahan-lahan membuatmu lupa jalan pulang.

Aku ingin mengabadikanmu malam ini,
bukan dalam catatan surga,
bukan dalam gelas yang retak oleh dosa,
melainkan dalam hatiku—
yang lebih merah daripada anggur itu,
dan lebih suci daripada putih hijabmu yang kini kuyup oleh kenangan.

Wahai gadis berhijab abu-abu,
teruslah berdansa dalam malam yang mabuk ini,
hingga kita lupa siapa yang seharusnya lebih dulu pulang,
kau atau aku,
atau hati kita yang sedari tadi sudah tersesat
di antara anggur merah
dan takdir yang tumpah di tangan Tuhan.


Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...