ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah” Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...
Nona manis berambut merah muda,
warna rambutmu seperti fajar pertama—
menyala lembut, menghapus gelap di dada.
Kau berjalan di antara bayang-bayang keraguan,
namun keyakinanmu selalu lebih terang dari cahaya pagi.
Wajahmu elok seperti lukisan yang belum selesai,
karena setiap hari kau terus melukis dirimu sendiri,
dengan warna-warna impian,
dan garis-garis penuh keberanian.
Kecantikanmu bukan hanya soal rupa,
tapi tentang bagaimana kau menantang dunia
tanpa kehilangan senyum.
Ada kekuatan dalam cara kau tertawa,
seolah hidup tak pernah bisa menundukkanmu.
Kau bangkit setiap kali jatuh,
seperti bunga sakura yang tak pernah takut musim.
Kau percaya bahwa luka hanyalah jeda,
dan kegagalan adalah anak tangga
menuju keberhasilan yang lebih tinggi.
Berambut merah muda,
kau hadir bak musim semi dalam hidupku—
menghidupkan, menyegarkan,
dan membuatku percaya bahwa cinta tak pernah mati.
Kau punya sejuta motivasi di balik matamu,
dan aku jatuh cinta,
bukan hanya pada cantikmu yang memesona,
tapi pada jiwamu yang tak pernah lelah bermimpi.
Nona manis,
di dunia yang sering meremehkan tekad wanita,
kau berdiri seperti nyala,
menerangi jalanmu sendiri
dan menghangatkan langkahku yang pernah beku.
(puisi untuk dia yang ada di dalam do'a namun hilang di dunia nyata,
untukmu yang gelap tapi menjadi terang dalam setiap perjalanan
terima kasih telah hadir aku harap kau tak pergi seperti mimpi)
Komentar
Posting Komentar