Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa pernah mengatakannya. Bukan karena aku takut ditolak, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan cara paling suci untuk menyebut namamu: dalam doa . Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud. Kau tak pernah tahu. Dan aku berharap, kau tak perlu tahu. — Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri. “Cinta itu ujian,” katamu suatu malam. “Ujian yang bagaimana?” tanyaku. “Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.” Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali. Aku menyembunyikan namamu di antara tasbih d...

Puisi Romantis:"Anggur Merah di Balik Hijab"
ilusi foto https://id.pinterest.com/pin/137008013656804641/
Di sudut senja yang perlahan runtuh,
kulihat engkau—gadis berselendang putih abu-abu,
langkahmu lirih, bagai bisikan angin
yang mengendap dalam harum musim gugur.
Di tangan mungilmu, segelas anggur merah berayun,
seperti rahasia yang ingin kau bisikkan pada malam,
seperti cerita lama yang tak pernah selesai
tentang rindu yang mengalir pelan di antara sela-sela doa.
Hijabmu melambai di pipi senja,
putihnya seperti sumpah suci
namun matamu—ya, matamu—
sembunyikan badai yang tak bisa diredam
oleh syahadat ataupun salat maghrib.
Kau teguk pelan anggur berdosa itu,
dan pada tiap tetesnya, kau simpan satu patah harap,
satu serpihan janji yang dulu pernah kau ucapkan
di bawah langit yang kini terasa jauh dan dingin.
Betapa manis dan getirnya kau malam ini,
seperti luka yang dibungkus senyum sabar,
seperti doa yang dikirimkan sambil menggenggam dunia
yang perlahan-lahan membuatmu lupa jalan pulang.
Aku ingin mengabadikanmu malam ini,
bukan dalam catatan surga,
bukan dalam gelas yang retak oleh dosa,
melainkan dalam hatiku—
yang lebih merah daripada anggur itu,
dan lebih suci daripada putih hijabmu yang kini kuyup oleh kenangan.
Wahai gadis berhijab abu-abu,
teruslah berdansa dalam malam yang mabuk ini,
hingga kita lupa siapa yang seharusnya lebih dulu pulang,
kau atau aku,
atau hati kita yang sedari tadi sudah tersesat
di antara anggur merah
dan takdir yang tumpah di tangan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar