Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
![]() |
| Puisi Romantis:Kau Dilahirkan untuk Kucintai photo by https://www.google.com/search?q=wanita+berhijab+cantik+hitam |
Pada bulan Mei,
ketika hujan menggoda daun muda dan matahari mencumbu pagi,
kau lahir—diam-diam alam bersorak,
seolah semesta tahu,
ada jiwa lembut yang akan tumbuh jadi puisi.
Aku tak tahu persis bagaimana dunia sebelum kau hadir,
tapi sejak mengenalmu,
waktu serasa bersyair,
dan hariku menari dalam wangi namamu.
Hari ini ulang tahunmu,
dan aku ingin mengucapkannya bukan sekadar lewat kata—
tapi lewat getar jantung yang tak pernah berdusta
sejak pertama kau hadir dalam hidupku
bagai musim semi dalam dada yang lama beku.
Selamat ulang tahun, kekasihku,
dengan setiap hela napas yang kusematkan dalam doa,
aku merayakanmu—
bukan hanya karena usiamu bertambah,
tapi karena dunia kembali disirami cahaya lembut matamu.
Kau adalah alasan kenapa aku menunggu bulan Mei
bukan karena bunga mekar,
tapi karena kau—
bunga itu sendiri,
yang mekar dalam setiap kalimat rindu yang tak sempat kukatakan.
Hari ini,
aku ingin mengganti kue ulang tahunmu dengan kecupan di kening,
menggantikan lilin dengan hangat genggaman tangan kita
yang tak pernah lelah menyalakan harapan.
Kau adalah hari istimewa yang berjalan di antara hari-hari biasa.
Dan untukmu, aku bersedia menjadi hujan
yang turun pelan-pelan ke dadamu,
membisikkan bahwa kau layak dicintai
dengan cara paling manusiawi,
paling tulus,
paling tak bisa dijelaskan dengan logika.
Ulang tahunmu adalah puisi yang ditulis langit,
dengan tinta rindu dan pena waktu.
Dan aku,
adalah pembaca setiamu,
yang akan selalu mengeja namamu dengan mata berbinar,
dan mencintaimu dalam diam yang penuh gema.
Selamat ulang tahun, cintaku di bulan Mei—
Semoga setiap detik dalam hidupmu
dipeluk bahagia
seperti aku memelukmu dalam kata-kata ini.

Komentar
Posting Komentar