Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
ini bango hitam gurih itu, aku persembahkan untuk pesta perkawinanmu, untuk kau hidangkan pada tamu undangamu, kau waras bukan main, yang gila adalah cinta kita berdua, kau berjanji kita akan bertemu Kembali, namun kau pergi menghilang tanpa permisi, waktu silir berganti dan kau datang lagi, namun bukan menjadi kekasih melaikan sebagai orang asing yang menising hati, kau memberiku sepucuk surat yang terbungkus rapi, dengan pita merah merona. Ada Namamu dan Namanya yang Bersiap untuk mengikat janji suci. Sebab itu, Aku persembahkan kecap bango hitam gurih, Untuk pesta perkawinanmu, Dengan resep nasi goreng hitam itu, Dengan bahan 300gram nasi putih,25gram bumbu putih, 1 pcs telur ayam,20gram minyak goreng,30gram ayam siwur, 20gram bango hitam,4gram garam. Itu sudah cukup mengenyangkan perut tamu undanganmu, Rasanya yang gurih tertatih, Seperti dahulu kita membayangkan cinta kita akan bersemi abadi, Warna hitamnya begi...