Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa pernah mengatakannya. Bukan karena aku takut ditolak, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan cara paling suci untuk menyebut namamu: dalam doa . Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud. Kau tak pernah tahu. Dan aku berharap, kau tak perlu tahu. — Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri. “Cinta itu ujian,” katamu suatu malam. “Ujian yang bagaimana?” tanyaku. “Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.” Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali. Aku menyembunyikan namamu di antara tasbih d...
Ilustrasi foto Kenangan yang Tersisa di Rambutku (by_shutterstock ) Di antara helai rambut yang luruh perlahan, Ada cerita tentang cinta yang ditinggalkan, Saat janji manis terurai bersama angin, Dan kenangan tinggal serpihan yang kian pudar. Rambutku dulu indah, bagaikan mahkota ratu, Namun kini kusam, terbelah oleh debu waktu. Ketombe mengintai, seperti kenanganmu yang tertinggal, Rontok perlahan, tanpa bisa kuhalangi, kurapal. Tapi di balik segalanya, ada Sunsilk, Setia menemani, membersihkan sisa luka dan debu yang menelikung. Ia hapus ketombe, seperti harapan baru, Memeluk helai-helai yang hampir layu. Rontok tak lagi jadi momok dalam hari, Karena Sunsilk hadir, bawa sinar kembali. Bagai cinta baru yang menguatkan hati, Menyuburkan akar, melenyapkan rasa sepi. Kini, meski kau tak lagi di sini, Rambutku berdiri kuat, seperti cinta yang aku pelajari. Tak ada ketombe, tak ada rontok yang tertinggal, Hanya aku, yang melangkah maju, dengan langkah yang kekal.