Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label demopati

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Warga Pati Menolak Kenaikan Pajak 250 Persen: Ketika Pemerintah Buta Terhadap Realitas Rakyat

dokumentasi demo_Warga Pati Menolak Kenaikan Pajak 250 Persen: Ketika Pemerintah Buta Terhadap Realitas Rakyat  kompas.com Pati, Jawa Tengah — Gelombang protes warga Pati kini menjadi sorotan nasional setelah viralnya video dan dokumentasi aksi penolakan terhadap kenaikan pajak bumi dan bangunan (PBB) hingga 250 persen . Ratusan warga dari berbagai desa turun ke jalan, membawa poster dan spanduk yang mencerminkan satu suara: "Kami tidak menolak bayar pajak, tapi tolong jangan aniaya kami dengan kebijakan sewenang-wenang!" Kenaikan pajak yang dianggap tidak masuk akal ini memicu kegelisahan besar di kalangan masyarakat, terutama petani, pedagang kecil, buruh, dan pemilik rumah sederhana. Banyak dari mereka mengaku kaget ketika menerima surat pemberitahuan pajak terbaru, dengan nominal yang tiga kali lipat lebih besar dari tahun sebelumnya. Realitas di Lapangan Tak Seindah Kertas Rencana Ironisnya, meski pemerintah daerah berdalih bahwa kenaikan pajak ini untuk "peny...